
"Kenapa belum tidur?" Tanya Rayhan ketika masuk ke dalam kamar, dan menemukan Via, yang sekarang menatap ke langit-langit kamar tersebut serta melamun. seperti memikirkan sesuatu.
Gadis itu menggelengkan kepalanya dan membuyarkan lamunannya yang tadi. Rayhan masuk ke dalam kamar mandi, untuk membersihkan diri sebelum tidur. Sedangkan Via, memperhatikan Rayhan dalam diam.
"Kenapa ketika gue merasakan perasaan kenyamanan untuk pertama kalinya,namun salah sasaran."
Via mendengus kesal, karena dirinya tidak bisa mengontrol perasaannya. Bahkan besok pagi, ia akan diajak untuk mengenang gadis kecil yang ditemui oleh Rayhan, di danau itu.
"Lebih baik gue waspada sama Tuan Muda. Dia tidak menghukum gue selama beberapa hari ini, bukan karena tidak akan kejadian lagi, kan? Tuan muda itu akan jahat sampai kapanpun."
"Siapa yang jahat?" ucap seorang pria yang kini menatapnya datar.
"Eh, Tuan Muda. Sudah selesai ternyata?"
Via hendak bangkit, menuju ke kamar mandi. Bukan tanpa alasan, dia hanya ingin bersembunyi beberapa menit agar tidak dimarahi oleh tuan muda.
Rayhan menarik pergelangan tangan Via dan menariknya kasar, hingga tubuh gadis itu terjatuh ke pangkuannya.
Jantung Via berdetak sangatlah kencang. Tatapan tuan muda terlihat berbeda dari biasanya. Mungkinkah, Rayhan memang telah jatuh hati kepadanya?
Rayhan sangat senang, melihat raut wajah Via yang tampak berpikir keras.Dia memiringkan kepalanya,hendak menjangkau benda kenyal yang berada di hadapannya.
Mengerti akan hal itu, Via tidak ingin tuan muda melakukan sesuatu kepadanya, dan nantinya akan sangat ia sesali. Via memberontak dengan pelan,
untuk melepaskan diri. Rayhan mengangkat sebelah alisnya, karena Via terlihat ketakutan.
Padahal dirinya hanya ingin mengecupnya. Rayhan memeluk Via, dan mengusap bahu gadis itu dengan
lembut. Dia mengecup punggung Via berulang kali, hingga Via berhenti memberontak.
"Tu-tuan muda..."
"Apakah aku terlihat seperti orang jahat, Via?" tanya Rayhan dengan lembut. Hal itu bukannya membuat Via terpana, namun merinding seketika.
Rayhan melonggarkan pelukannya. Dia kini memandang Via dengan tatapan teduh nya, tidak lagi menampilkan ekspresi kejam seperti biasanya.
"Kenapa Tuan Muda melakukan semua ini?"
"Aku tidak pernah melakukan sesuatu kepadamu selama beberapa hari ini, kan?"
Bagi Via, dia lebih baik melihat tuan muda menyiksanya secara fisik. Tidak dengan hati, yang akan terpikat dengannya dan sakit hati secara berulang-ulang.
Bagaimana Via akan mempertahankan hatinya. Bahkan suaminya, memiliki gadis idaman lain sejak dulu, dan bukan dirinya.
"Lebih baik, Tuan Muda bersikap biasa saja. Sama seperti dulu."
Via lebih baik tidur di sofa kalau seperti ini atau di kamar pembantu, itu lebih baik. Dari pada tersiksa batin dan perasaannya seperti sekarang ini.
"Kamu ingin aku menyiksamu? Seperti dulu, Via?"
***
Via memperhatikan ujung danau yang terlihat sangatlah jauh di sana.Dia merentangkan kedua tangannya, dan mulai menghirup udara yang sangatlah segar.
Gadis itu tersenyum, hingga tidak menyadari Rayhan sedari tadi memperhatikan tingkah lakunya.
"Tempat ini sangat nyaman.Sepi dan juga tidak banyak orang yang menginjakkan kakinya di sisi danau ini."
Via tersenyum dan berbalik menatap Rayhan. Pria itu segera memalingkan wajahnya, dan segera mengubah ekspresi wajahnya yang tadinya kagum,dan sekarang terlihat datar kembali.
__ADS_1
"Sebenarnya kenapa Tuan muda mengajak saya ke sini ?" tanya Via dengan perasaan yang tidak enak.
Memang sedari semalam, ia memikirkan hal tersebut.Takut tuan muda melakukan sesuatu kepadanya.
"Memangnya kenapa? Takut mengingat masa lalumu?"
Via mengerenyitkan dahinya bingung dengan perkataan tuan muda.Pria ini tidak sadar diri atau bagaimana? Jelas-jelas dia sendiri yang tidak bisa melupakan masa lalunya, sejak dulu.
"Kenanganmu dengan Raja. Kamu pernah ke danau sebelah sana, kan? Dekat dengan taman itu."
"Ya, terus kenapa? Hanya jalan-jalan saja."
"Tapi aku hampir, melihatmu berpelukan, dengannya."
Karena tidak ingin memperbesar masalah. Akhirnya Via lebih baik mengalah dan membenarkan itu semua. Yang penting, dirinya dan Raja tidak memiliki hubungan apapun selain kata sahabat sejati.
"Katanya mau cerita, kenapa sudah ada di sini malah ngajak bertengkar?" gumam Via menatap lekat Rayhan.
Pria itu mengambil napas panjang dan menganggukkan kepalanya.Dia mulai mempersiapkan segala kenangan singkat itu di bayangannya. Dan ingin terbuka dengan gadis di hadapannya ini.
"Awal pertemuanku dengan gadis kecilku itu, di danau ini. Tempat kita berdiri dan menghirup udara segar sekarang. "
Dalam hati Via, tumben sekali tuan muda berkata manis. Namun ia langsung menggelengkan kepalanya, karena ingin fokus mendegarkan cerita dari tuan muda. Nanti mengamuk kan bahaya baginya.
Rayhan melangkah, mendekati sebuah akar pohon yang merambat di dekat sisi danau tersebut. Dia menaiki akar itu, seperti kenangannya dulu sewaktu kecil.
"Awas Tuan muda, nanti terjatuh ke dalam danau itu. Kalau ada buaya bagaimana? Terus kalau Tuan muda tenggelam siapa yang menolong? Kan, saya tidak bisa berenang."
"Tinggal meminta bantuan kan gampang. Kalaupun aku mati, kamu juga akan terbebas dari Jeratan pernikahan ini."
Firasat Via sejak semalam benar adanya, tuan muda ke danau ini dan memilih tempat yang sepi hanya ingin menakutinya, dengan mengatakan bunuh diri. Gadis itu merinding,dan mendekati Rayhan.
Rayhan tidak ingin mendengarkan ocehan gadis itu. Dia menepis tangan Via yang hendak menjangkaunya.
Namun, hal tersebut membuat keseimbangan gadis itu bermasalah, dan akhirnya hampir terjatuh.
Rayhan yang menyadari hal tersebut, langsung meraih tubuh Via.Kakinya sudah menyentuh pinggir danau,tanah yang lembab diinjaknya.Jantung Via berdetak sangatlah kencang. Dia melirik ke arah danau, yang hampir menenggelamkannya.
Syukur ada tuan muda yang menyelamatkannya.Namun,kalau dipikir-pikir tuan muda juga kan yang membuatnya hampir terjatuh ke sana.
"Jangan dipikirkan kembali."
Via menganggukkan kepalanya dan menetralkan detak jantungnya, yang berdegub sangatlah kencang. Tapi, kenapa dirinya terlalu takut untuk tenggelam. Mungkin karena trauma, pernah tenggelam waktu itu.
"Sudah?" tanya Rayhan.
Via menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Dia tidak sabar, mendengarkan kisah dari tuan muda soalnya.
Mereka berdua duduk rapi di tepi danau tersebut. Mencoba untuk ikut dalam suasana yang tenang dan sunyi di tempat tersebut.
"Waktu aku kecil, lebih tepatnya bersekolah di jenjang sekolah dasar. Diriku ke tempat ini."
"Waktu itu, aku kesepian dan merasa jengah dengan kedua orang tua ku yang sibuk dengan pekerjaannya."
"Sekolah dasar? Baru?"
"Aku sekolah di rumah terlihat dahulu. Ketika kelas lima, baru aku dipindahkan ke sana."
"Kenapa?"
__ADS_1
Rayhan mengingatnya, karena kedua orang tua nya tidak mengizinkannya. Disebabkan banyak musuh keluarganya yang berkeliaran, karena waktu itu
proyek besar sedang dilaksanakan.
"Besok kamu akan mengetahuinya, setelah kita memiliki keturunan."
Via menatap Rayhan dalam, biar apa coba berkata seperti itu.
Tidak ada romantis nya. Tapi jujur, dalam hati Via sangatlah mengiginkan hal itu. Namun mustahil bukan baginya.
"Lanjut."
"Aku memanipulasi pengasuhku agar pergi, dan membiarkan aku sendiri di sini. Dan akhirnya berhasil."
Via hanya menganggukkan kepalanya, dan berpikir keras bagaimana anak seusia tuan muda dulu, sering sekali menipu orang yang lebih tua. Tidak sopan bukan.
"Aku berdiri di sana." Rayhan menunjuk, akar pohon yang hampir membuat nya jatuh.
"Ternyata akar pohon itu sudah tua,"
"Hmm. Akar pohon itu, yang membuatku bertahan berdiri menikmati desir angin, namun akar pohon itu juga yang membuatku terjatuh dan tenggelam."
Via terkejut mendengarnya. Jadi tuan muda pernah jatuh di danau ini? Dan tenggelam.
"Sepi dan sunyi. Aku hampir kehilangan nyawa karena tidak ada yang melihatku tenggelam."
"Namun, seorang gadis kecil yang aku perkirakan baru menempuh taman kanak-kanak itu, yang pertama kali melihatku."
"Bagaimana bisa?" Tanya Via bingung mendengarnya.
"Dia bersama dengan pengasuhnya meminta bantuan ke penduduk sekitar. Dan pada akhirnya, aku selamat."
Via menyimpulkan semua cerita itu. Jadi, itulah awal pertemuan tuan muda dengan gadis kecil itu?
Karena hampir tenggelam dan diselamatkan oleh penduduk,karena peri kecil dan pengasuhnya ribut meminta bantuan.
"Kisah pertemuan kalian berdua sangatlah indah. Pernah kenalan?"
"Hmm,aku meminta izin untuk memanggilnya dengan sebutan peri kecil dan dia tersenyum menerimanya."
"Namanya indah."
"Kamu tidak cemburu?" Tanya Rayhan. Sepertinya gadis ini sangatlah antusias mendengarkan setiap bait ceritanya.
"Tidak! Kenapa harus cemburu? Tuan muda berhak bahagia dengan pilihan Tuan muda sendiri."
Rayhan meraih tangannya tiba-tiba. Dia menggenggamnya erat dan lembut. Via hanya pasrah dengan perlakuan pria itu kepadanya.
"Bagaimana, kalau gadis di depanku ini ternyata peri kecil yang sedang aku cari? Apakah kamu percaya?"
Via mengerenyitkan dahinya bingung. Dia melepaskan paksa tangannya.
"Jangan mempermainkan saya, Tuan muda!"
"Via!" Rayhan memanggil dengan lirih, ketika gadis itu mulai memegangi kepalanya.
Rayhan sebaiknya tidak memaksa waktu untuk berjalan begitu cepat.
Dia lebih memilih, agar semuanya terungkap seiring berjalannya waktu.
__ADS_1
"Kita pulang sekarang!"