Istri Kesayangan Tuan Muda Arrogant

Istri Kesayangan Tuan Muda Arrogant
26. Pilihan yang Sulit


__ADS_3

"Via!"


Via tidak biasanya terlalu lama di dalam kamar mandi.Dari setengah jam gadis itu bahkan tidak mengeluarkan suara apapun.Membuat Rayhan bangkit dan memanggil Via.


"Tuan Muda!"


"Ada apa denganmu?"


Tidak ada sahutan kembali dari gadis itu. Rayhan hendak membuka pintu kamar mandi. Namun langkahnya terhenti ketika melihat cairan merah di ujung lantai kamar mandi. Membuat Rayhan perlahan mundur dan mengamatinya.


"Buka Via! Atau aku akan mendobraknya!" desis Rayhan.


Membuat Via yang berada di dalam kembali mendekati pintu dan membukanya. Kepala Via menonjol, tanpa memperlihatkan tubuhnya.Membuat Rayhan mengangkat sebelah alisnya.


"Darah apa itu?"


"Hem, tamu bulanan. Maaf!"


"Tamu bulanan? Laki-laki atau perempuan?"


Astaga! Ada apa dengan pria ini? Itu saja tidak tahu. Atau memang pura-pura tidak tahu, agar dia modus ke Via?


"Ya, menstruasi yang datang ketika jadwalnya. Tidak berjenis kelamin perempuan ataupun laki-laki."


"Terus kenapa dengan cairan merah itu?"


"Coba Tuan Muda mencarinya di internet. Saya tidak percaya Tuan Muda tidak mengetahuinya."


"Saya tidak pernah mengurus perempuan. Membuang waktu saja."


Via mendengus kesal. Masih dengan posisinya yang semula.Tidak berani keluar dari kamar mandi.


"Kau kenapa masih di sana?"


"Beliin!" pinta Via memelas.


"Kau berani memerintahku?" sentak Rayhan tidak terima.


Via segera menggelengkan kepalanya. "Tidak! Suruh bibi tua yang membelikan nya."


"Beli saja sendiri."


Via menghela nafas pelan. Dia menjangkau handuk dan keluar dari kamar mandi untuk mencari roknya. Karena rok yang dia gunakan telah basah.


Rayhan memperhatikan gerak-gerik Via dengan wajah datar. "Perempuan memang sangat menyusahkan."


'Apa katanya? Menyusahkan? Seperti dilahirkan oleh kerbau saja.'


"Saya permisi Tuan Muda. Mau ke mini market."


"Sudah malam. Sebaiknya besok saja."


Via melebarkan matanya. "Mana bisa seperti itu, Tuan Muda? Saya membutuhkannya sekarang!"


"Kau berani melawanku?"


Via sejenak terdiam namun kembali mendongak. "Saya mohon Tuan Muda. Kalau saya tidak


membelinya sekarang. Maka saya akan sakit besok pagi." Semoga saja dia mempercayainya, walaupun Via menipu.


"Baiklah!"


"Kalau seperti itu, saya permisi."


"Tunggu!"


Via berbalik dan menatap Rayhan dengan wajah kesal. "Ya, Tuan Muda."


"Kau pergi bersamaku."


Via sebenarnya terkejut. Namun gadis itu langsung mengangguk. Tidak kenapa-kenapa kalau bersama dia. Tidak rugi juga.


***


Mereka masuk ke dalam minimarket. Via langsung


mengitari rak-rak untuk mengambil kebutuhannya.


Bersama dengan Rayhan.


"Itu apa?" tanya Rayhan dengan sangat polos ketika Via memasukkan kebutuhannya ke troli.


"Kebutuhan perempuan, stok untuk dua bulan ke depan."


"Kau seperti orang miskin saja. Stok benda murahan seperti itu."


"Tuan Muda saja yang paling kaya dan berkuasa. "


"Siapa yang bilang aku miskin?"


Semakin Via menjunjung tinggi, maka Rayhan akan semakin bangga dan sombong.


Via tidak lagi menggubris perkataan Rayhan. Dia mencari makanan untuk ngemil malam ini.


Biasalah, perempuan ketika datang bulan, moodnya akan buruk dan makan bertambah. Namun itu untuk Via. Tidak tahu kalau perempuan lain.


"Apa itu?" tanya Rayhan kembali.


"Kinder Joy." Via mengambil sebungkus kinder joy dan memasukkannya ke dalam troli.


"Kembalikan ke tempatnya!"


"Kenapa? Kan, saya yang bayar."


"Makanan tidak sehat. Jangan membangkang Via."


"Tapi kan ..."


"Via!" desis Rayhan. Membuat Via menghentakkan kakinya dan kembali mengangkat kinder joy dari troli.

__ADS_1


Demi Tuhan! Via sangat menyesal berbelanja dengan pria ini. Terlalu kuno dan mengatur hidup Via.


Mungkin dipikirannya hanya ada bisnis, perusahaan, kekuasaan dan bahkan insting mendeteksi bahaya


seperti kemarin malam.


"Tuan Muda, saya mohon jangan melarang saya memakan ini."


"Makanan apa itu?"


"Keripik dan juga jajan."


"Ambil sepuasmu."


Mata Via berbinar dan langsung memasukkan sepuluh bungkus snack berbagai varian di dalam


troli.


"Tuan Muda, tidak mau membeli Sesuatu?"


"Apa yang akan kubeli? Tidak ada yang menarik di sini."


Via mendengus kesal. Dasaar menyebalkan. Contoh pria yang tidak patut untuk dicontoh. Sudah berwajah dingin dan datar, tidak romantis lagi.


Mereka mengitari rak-rak yang berisi berbagai macam makanan dan lainnya. Rayhan memperhatikan sesuatu yang membuat langkahnya terhenti. Membuat Via juga ikut berhenti.


"Kenapa, Tuan Muda?" Tidak ada. Pergilah membayar belanjaan mu."


Via mengangguk dan mengedikkan bahunya. Dia meninggalkan Rayhan yang kini mendorong troli


ke kasir.


"Berapa, Mbak?"


"Total nya 400 ribu, Mbak."


Via hendak mengeluarkan kartu yang Rayhan berikan. Namun Rayhan langsung menghalanginya,


membuat Via mendengus kesal.


Rayhan mengeluarkan uangnya dan memberikannya kepada kasir perempuan itu. Bahkan kasir itu sempat terpesona dengan wajah


tampan dan tubuh tinggi Rayhan, hingga tidak berkedip melihatnya.


"Biasa aja dong, Mbak kalau naksir dengan suami saya!"


Kasir itu segera mengangguk tidak enak. "Maaf, Mbak. Saya kira kakaknya. "


"Suami saya!" Via merangkul tangan Rayhan.


"Cincin pernikahannya juga tidak ada. Hati-hati, Mbak kalau memang suaminya tidak mau digoda."


Via menghela nafas berat dan melepaskan tangan Rayhan.


Dengan langkah kasar, Via keluar dari sana. Rayhan segera mengejarnya dengan menatap tajam kasir itu. Kenapa Via tidak sadar diri dengan posisinya. Sejak awal, Rayhan melarangnya untuk memakai


cincin pernikahan mereka. Agar semua orang tidak mengetahuinya.


"Via!"


Rayhan mengangguk. Dia ingin menjelaskannya kepada Via. Namun sepertinya gadis itu tengah sedih. Mereka masuk ke dalam mobil.


Rayhan sempat mencuri pandang ke arah Via yang kini membuang pandangannya ke arah lain.


Biar bagaimanapun. Rayhan sudah menerima takdirnya bersama dengan Via. Rayhan mencintai


gadis itu.


"Nanti aku akan memasangnya."


"Tidak usah. Gak guna juga."


"Via! Siapa yang mengajarkanmu berkata tidak sopan denganku?" desis Rayhan.


Via menatap Rayhan dengan wajah berani. "Kenapa? Tuan Muda marah? Ayo hukum saya! Saya sudah kebal dengan segala kesakitan, yang Tuan Muda berikan."


Rayhan meredam emosinya. Dia memukul stir mobil. Membuat Via tersentak dan kembali memandang jendela mobil.


Tidak mungkin Rayhan akan lepas kendali dan akan berakhir menyakiti Via kembali. Dia sudah berjanji untuk menjaga Via mulai saat ini.


Sepanjang perjalanan. Hanya keheningan yang menyelimuti. Via tidak bersuara seperti biasanya.


Rayhan juga memilih diam dan fokus menyetir.


**


"Mau nonton tv." Setelah keheningan. Via mengangkat suara karena merasa bosan saling mendiamkan seperti ini. Juga tidak biasanya, tuan muda tidak memberikannya hukuman. Kalau seperti ini, Via merasa di manja.


"Tapi jangan berisik." Rayhan yang sibuk dengan ponselnya, mengangguk dan menatap Via.


Via mengulas senyumannya. Dia membawa cemilannya di atas meja. Dan bersiap menonton acara televisi.


Via membuka keripik kentang dan memakannya.


"Tuan Muda? Apa tidak terganggu?" tanya Via berbalik.


Tidak."


"Oke. Tuan Muda, tidak uhuk!"


Via tersedak membuat Rayhan refleks bangkit dan


menghampirinya.


"Gadis bodoh!"


Mata Via memerah karena tenggorokannya sakit. Rayhan menghembuskan nafas kasar dan


segera keluar dari kamar.

__ADS_1


Via menunggu Rayhan sembari mengusap lehernya. Via entah mengapa meneteskan air matanya karena membuat Rayhan kembali marah.


Selang beberapa menit. Bibi tua membawa dua gelas sesuatu. Yakni air putih dingin dan susu.


Rayhan duduk di sampingnya. Via meminum air putih dengan rakus.


Sehingga tenggorokannya terasa nyaman.


"Saya permisi, Tuan Muda, Nyonya."


"Terima kasih, Bi."


Bibi tua menutup pintu dengn rapat. Menyisakan Via yang kini menunduk seperti anak kecil yang takut kepada ayahnya.


"Ceroboh!"


"lya, maaf!"


Rayhan menghela nafas dan mengambil remote tv. "Kenapa kamu menonton acara seperti itu Memperburuk mental seseorang."


"Kan, seru. Siapa tahu menjadi referensi melawan pelakor."


Rayhan beralih memilih acara tv yakni sebuah berita. Membuat Via kembali menjangkau cemilannya dan memakannya.


"Tuan Muda, tidak mau?"


"Makanan tidak sehat."


"Terus dari dulu, Tuan Muda makan apa, sebagai cemilan?"


"Tidak ada."


Via mengangguk walaupun sebenarnya dia tidak percaya.


"Tuan Muda, kan besok saya mau semester tujuh sebentar lagi. Boleh tidak, magang di perusahaan,


Tuan Muda?"


"Kapan?"


"Hem satu tahun lagi."


"Masih lama."


"Tapi kan, sebentar lagi. Boleh tidak?"


"Glen yang akan menyeleksi kelayakan karyawan."


"Kan, Tuan Muda yang punya perusahaan."


"Itu urusan bawahan. Atasan tugasnya memerintah."


"Semoga saja diterima. Kan, saya pintar dan berpenampilan menarik."


Rayhan memicingkan matanya.


"Nanti aku akan menyuruh Glen, tidak menerima mu."


"Kok seperti itu, Tuan Muda? Memangnya ada yang salah dengan penampilan saya?"


"Kau ingin menjadi gadis penggoda?"


"Tidak, tapi biasanya berpenampilan menarik, kan?"


"Memang benar. Dan kau bukan salah satu kriterianya."


Via mendengus kesal. "Pokoknya saya besok akan masuk seleksi penerimaan karyawan baru. Glen


Juga yang mengurus, tidak Tuan Muda."


"Saya yang memiliki perusahaan."


Sudahlah! Via lama-lama darah tinggi berbicara dengan pria ini.Memang sekarang tidak kejam, namun menyebalkan.


Via memperhatikan tayangan di tv sebuah destinasi wisata yang sangat indah untuk berbulan madu. Apalagi di sana sekarang di bangun sirkuit yang terkenal ke mancanegara.


Rayhan melirik Via yang kini sudah terlihat mengantuk. Pandangan gadis itu sayu dan berair.


"Ngantuk!"


Via tertidur di punggung sofa dengan wajah damai. Rayhan menghela nafas pelan. Dia mendekati Via dan menggendongnya. Sangat ringan seperti kapas.


Rayhan dengan hati-hati menidurkan Via di atas tempat tidur, senyaman mungkin dan menyelimutinya.


Rayhan mematikan lampu dan ikut berbaring. Namun kali ini, dia memeluk Via sangat erat.


Menghirup aroma tubuh Via dengan rakus seakan Via akan pergi meninggalkannya.


"Kamu hanya milikku, Via. Selamanya!" tekan Rayhan mengecup sekilas bibir mungil itu.


Sebelum Rayhan terlelap. Dia menjangkau ponselnya untuk menelpon Glen. Walaupun Glen


tinggal bersamanya. Dia biasanya berinteraksi secara virtual.


"Semuanya sudah siap, tuan muda."


"Batalkan, Glen. Dia belum siap untuk melakukannya. Walaupun aku sangat ingin nmengikat peri kecilku selamanya."


"Baik, tuan muda."


"Pastikan tidak ada yang mengetahuinya. Termasuk Via sendiri."


"Apakah nyonya tidak akan curiga dengan kedatangannya?"


"Aku yang akan mengurus permasalahan itu. Kau tinggal menunggu perintah dariku."


"Baik, tuan muda."


Sambungan terputus. Rayhan menyeringai dan meraba wajah Via dengan sangat lembut. Gadis itu telah terlelap dan sulit dibangunkan.

__ADS_1


"Aku akan mengikat keduanya. Kalau memang itu yang terbaik."


__ADS_2