
Via merapikan dasi suaminya dengan lembut, walaupun sekarang dirinya naik ke atas kursi berukuran kecil, untuk menjangkau leher sang suami.
"Tinggi banget kamu, Ray. Aku jadi kesusahan, kan?" Ucap Via mengerucutkan bibirnya.
"Kan, sudah aku kasih tahu dari awal. Aku bisa sendiri, Sayang Untung, kamu tidak jatuh."
"Kalau terjatuh bagaimana?" Tanya Via.
"Aku akan menangkap mu. Sesuai janjiku, selalu menjagamu,Sayang."
Via menghela napas panjang, dan menganggukkan kepalanya. Pujian penuh cinta dipagi hari,dari sang Suami tercinta dan tertampan.
"Ray! Bu Salsa masih kerja sama kamu?" Tanya Via tiba-tiba penasaran karena wanita itu terlihat sangat suka dengan suaminya. Mungkin,cinta mati atau terobsesi dengan Rayhan.
"Masih, lama.
"Terus kapan selesainya?"
Rayhan menyentuh surai sang istri dengan lembut. "Kapanpun, kalau kamu mau aku membatalkannya.
Maka hubungan kerja sama kita akan berakhir. Apapun untuk kamu, Via."
"Tapi, kalau dipikir-pikir. Kamu jalani saja, Ray. Aku yakin sama kamu,karena suamiku akan selalu jatuh dipelukan aku, Via."
"Iya, Sayang. Selalu seperti itu. Ya sudah, aku berangkat dulu. Untuk saat ini, kamu akan tetap berada di rumah dengan pengawasan mereka. Jangan kabur seperti kemarin karena paketan."
Via menahan senyumnya dan memberikan hormat, agar tidak kembali melanggar aturan suaminya itu.
Semuanya demi kebaikannya juga. Rayhan mengecup keningnya,lantas keluar dari kamar menuju ke lantai dasar. Via mengikutinya dari belakang hingga pintu utama,dengan saling menggenggam erat tangan satu sama lain.
Setelah melihat mobil suaminya meninggalkan rumah. Via bernapas lega dan melambaikan tangannya setelah jauh.
"Huh! Gini ya rasanya jadi istri orang kaya. Hanya bertugas melayani suami saja. Semua kebutuhan telah terpenuhi."
"Oke Ibu ratu Via. Sekarang kita kembali ke atas dan tidur."
Wanita itu terkekeh dengan hidupnya yang seperti Cinderella.
Dulu kehidupannya sangat sulit dan menderita, bahkan untuk bernapas saja sangat berat. Dan sekarang, tinggal memetik hasilnya.
Kebahagiaan akan selalu bersamanya begitupun dengan suaminya. Semoga sampai akhir hayatnya dan tidak terhindar dari masalah apapun.
"Akan selalu mencintaimu Rayhan selamanya."
****
Rayhan sibuk dengan beberapa dokumen kantor yang akan dirinya periksa dan tanda tangani untuk hari ini.Sangat banyak,dan juga akan membutuhkan waktu yang tidak singkat.
__ADS_1
Pria itu tersenyum ketika melihat foto dirinya dengan sang istri yang ia letakkan di atas meja kerjanya, tempat di sampingnya. Sebagai penyemangat dirinya, ketika kelelahan dan juga tidak bisa mengontrol emosi nya.Via, istrinya yang cantik itu akan selalu menjadi obat seorang Rayhan.
Tok! Tok!
Suara ketukan pintu terdengar. Glen yang berada di sana, langsung mendekat ke arah suara tersebut.
Dia mempersilahkan seorang wanita untuk masuk, dan siapa lagi kalau bukan Salsa dengan penampilannya yang elegant.
"Selamat pagi, Tuan Muda."
Dengan senyum ramah, wanita itu berjalan mendekati Rayhan dan duduk di hadapan pria datar itu.
Rayhan bahkan tidak menatapnya sama sekali, hanya memperhatikan dokumen yang dikerjakannya saat ini.
"Mohon maaf. Ada keperluan apa Anda ke ruangan Tuan Muda?"
Salsa masih mempertahankan sikapnya yang sopan. Dia membawa makanan untuk mereka dan sekarang memperlihatkannya kepada Glen.
"Izinkan saya untuk memberikan Tuan Muda,masakan saya untuk hari ini.Khusus untuk Tuan Muda."
Salsa meletakan kotak makan di atas meja Rayhan. Dia hampir menggeser foto Rayhan dan Via,namun Rayhan langsung menatapnya tajam dan menahan tangannya agar tidak menyentuh wanita itu, dan nantinya akan mencekiknya hingga mati.
"Maafkan saya, Tuan Muda. Saya tidak bermaksud untuk melakukan kesalahan. Saya hanya...
"Sebaiknya Anda keluar, dari tempat ini!" Tegas Glen yang tidak suka dengan tindakan ceroboh wanita itu. Lebih tepatnya mencari perhatian kepada tuan muda.
Glen menyeret wanita itu dengan paksa, hingga Salsa memilih untuk mengalah. Namun,dia tidak mengambil kotak makanan nya dan membiarkan Rayhan untuk memakannya. Itu kan makanan kesukaannya semoga dia suka.
Dengan tersenyum senang, Salsa keluar dari ruangan Rayhan. Dia menghela napas panjang, karena tidak sia-sia belajar masa untuk sang pujaan hati.
"Kamu boleh menolakku sekarang, Rayhan. Namun tidak untuk besok. Kamu akan mencintaiku."
Di dalam ruangan. Rayhan menatap tajam kotak makan tersebut.
"Singkirkan benda itu, Glen!"
Glen langsung mengambilnya dan membuangnya ke bak sampah.
Bahkan, dari aromanya saja, sudah dipastikan bahwa makanan itu tidak layak makan.
Salsa menekan pintu lift dan masuk kedalamnya sendirian. Biasanya, kalau jam kerja selalu ramai, namun sekarang terasa sepi di perusahaan Rayhan. Mungkin hanya perasaannya saja.
Dia sembari menunggu lift turun, menuju ke lantai dasar. Namun tiba-tiba lampu di dalam lift mati,hingga lift terasa berhenti di tengah jalan.
Jantung Salsa berdetak kencang. Dia sungguh sangat ketakutan,hingga kini panik dan berteriak nyaring dari dalam.
"Tolong! Saya terjebak di dalam." Salsa tidak putus asa,dirinya merogoh ponselnya dan menelpon seseorang,namun tidak bisa karena tidak ada sinyal yang menyambung.
__ADS_1
"Aku bisa kehabisan napas di sini. Ya ampun! Kenapa bisa seperti ini. Padahal, perusahaan ini sangat elite dan terkenal."
Salsa mencoba untuk berteriak kencang dan menggedor pintu lift,namun tidak ada seorang pun yang berniat menolongnya di luar sana.
Mereka pada kemana? Tidak mengetahui orang berada di dalam.
Salsa sudah lemas, dengan kaki yang tidak bisa menopang tubuhnya. Wanita itu, akhirnya pingsan
dan entah apa yang terjadi selanjutnya dengan dirinya yang malang itu.
Untuk pertama kalinya, dalam hidup nya dia terjebak sendirian di dalam lift, dengan pencahayaan yang minim.
"Tolong," lirihnya lemas dan menutup matanya.
***
Mira membuka matanya perlahan, setelah terbangun dari pingsannya.Dia memperhatikan ke
sekelilingnya, ruangan asing yang terlihat indah namun menyeramkan baginya, karena yakin bahwa tempat ini bukan rumahnya.
Sembari menyentuh kepalanya.Gadis itu bangkit dengan hati-hati dan mendekati jendela. Tengah hutan.
Mira mendekati pintu dan mencoba untuk membukanya,namun tidak bisa karena terkunci. Sekelebat bayangan nya ketika ia sedang berada di rumah nya dan bertengkar dengan Glen waktu itu dan entah apa yang terjadi selanjutnya.
"Aku harus menelpon Glen."
Mira berbalik dan mencari ponselnya. Dia menemukannya di atas meja, namun anehnya semua kontak telah terhapus dengan sim ponsel yang kosong.
Tubuh gadis itu semakin lemas dan ingin menangis, karena dia tidak bisa berbuat apapun sekarang.
"Vi! Tolong gue. Gue entah berada di mana."
Tanpa dasar, gadis itu meneteskan air matanya dan menyebut nama sahabat nya itu, entah nalurinya
yakin bahwa Via yang bisa menolongnya.
***
Via membuka matanya dengan cepat, ketika hatinya mendadak gusar dan tidak enak. Dia tiba-tiba kepikiran dengan sahabatnya,walaupun baru tadi saling mengabari lewat chat.
"Perasaan, belum satu jam gue chatan sama, Mira. Tapi kenapa sekarang kembali kepikiran, ya?"
"Coba gue telpon. Takut ada apa-apa sama sahabat gue itu.Soalnya gue sayang sama, Mira."
Berulang kali Via menelpon namun tidak diangkat. Namun giliran dirinya mengirim pesan,malah dibalas. Namun tidak seperti biasa, singkat padat dan jelas.
"Pasti ada sesuatu. Gue harus bertemu dengan Glen. Tanpa sepengetahuan Rayhan. Awas saja, kalau Glen macam-macam dengan Mira. Gue nggak akan restuin dia sama Mira."
__ADS_1
"Aduh, Mir. Sebenarnya apa sih yang terjadi sama lo? Gue jadi khawatir kan?"