Istri Kesayangan Tuan Muda Arrogant

Istri Kesayangan Tuan Muda Arrogant
42. Hampir Tertangkap


__ADS_3

Semua karyawan langsung menunduk tak berani bergerak sedikitpun, ketika Rayhan masuk ke dalam kantor dengan wajah yang bahkan lebih kejam,dan menyeramkan dari sebelumnya.


Banyak wartawan yang ingin melakukan wawancara, namun Glen langsung mengusir mereka sehingga mereka tak berani mendekat.


Rayhan menyapu pandangannya ke segala penjuru kantor besar itu. Lantas kembali melanjutkan langkahnya, menuju ruangan pimpinan pusat.


Glen mengikuti dari belakang dan segera menyuruh mereka kembali bekerja.Mereka membubarkan diri dan mematuhi perintah dari Glen.


"Wajah tuan muda, terlihat sangat berbeda dari biasanya."


"Katanya beliau sakit selama dua hari, hingga tak masuk."


"Bukan hanya itu. Katanya, istrinya kabur dari rumah."


Entah siapa yang menyebar rumor hangat itu di seluruh media.Hingga semua wartawan memburu Rayhan, untuk memberikan penjelasan.


"Mungkin beliau sangat kejam, dan sering memukuli sang istri."


"Kalian ingin bekerja? atau saya akan laporkan, tingkah kalian ke tuan muda?"


Mereka terperangah dan langsung menatap komputer, setelah manajer menegur mereka dengan mata melotot dan memerintah.


"Kalau sampai divisi kita tercemar, karena kalian semuanya. Awas kalian!"


"Ma-maafkan kami, Pak. Kami tidak akan mengulanginyaa kembali."


"Apa yang kalian tunggu? Berani bersuara kembali?!"


Mereka benar-benar terdiam dan sibuk memeriksa pekerjaan hari ini.Tak berani mengangkat kepala, sebelum manajer pergi dari hadapan mereka.


***


"Lapor, Tuan Muda.Pembangunan hotel yang dipersembahkan untuk nyonya muda telah selesai digarap. Kapan tuan muda akan mengunjunginya?"


"Setelah istriku ditemukan. Aku akan menghabiskan waktuku, dengannya di sana."


Glen mengangguk namun cukup prihatin dengan harapan majikannya, yang sangat menyedihkan itu.


"Saya sudah mengecek terminal tempat nyonya muda diprediksi melaluinya."


"Terus?"


"Tidak ada nama nyonya di sana."


Rayhan mengepalkan tangannya. Via sangat cerdik mengelabuinya.Tidak! Rayhan tidak akan pernah membiarkan ini semuanya terjadi. Apalagi semua ini ada campur tangan dari kedua orang tua nya untuk menguji mental dirinya.


"Segala apapun informasi keberadaan istriku. Segera laporkan kepadaku, Glen."


"Baik, Tuan Muda."


"Nek! Via mau izin untuk menjual susu yang telah dikemas, ya?"


"Hati-hati di jalan! Di sebelah barat banyak pedagang di sana."


"Baik, Nek."


Via mengulas senyum dan menyemangati dirinya untuk bekerja. Walaupun sebenarnya uangnya tidak akan habis walaupun dia hanya rebahan.


Namun Via ingin menggerakkan tubuhnya agar tidak kaku dengan beraktivitas. Via menghidupkan motornya setelah membawa semua keperluan datang. Dia akhirnya berkeliling desa untuk menawarkan susu ke pedagang di sana.


Ketika melihat banyak pedagang seperti yang dikatakan oleh nenek Imah sebelum berangkat.Via menepi dan turun dari motornya.


"Permisi, Ibu. Bisa saya menawarkan barang dagangan Saya?"


"Apa yang dibawa, Mbak?"


"Susu sapi.Saya mengemasnya sendiri dan dijamin kebersihannya."


"Ada diskon gak?" tanya ibuu pedagang itu, membuat Via mengulas senyum dan mengangguk.


"Ada, soalnya saya baru pertama jualan."


Mendengar itu, para pedagang lainnya berkumpul dan membeli dagangan Via.Gadis itu mengucap syukur karena dagangan untuk percobaan pertama laris manis walaupun untungnya sedikit.


"Terima kasih! Saya permisi.Mereka mengangguk sambil membawa kemasan susu sapi yang Via bawa untuk di jual.


"Eh, Mbak?"


Via kembali menengok dan memutar tubuhnya. "Iya, ada apa?"


"Mbak pacarnya putra pak kades, ya?"


Via mengernyitkan dahinya bingung. Namun dia teringat bahwa Andi adalah anak pak kades di desa ini. Mungkin yang dimaksud Andi kali ya.


"Tidak, Bu! Maksud Ibu ... Andi, ya?"


"Iya, nak Andi yang tampan dan hebat itu."


Via tertegun mendengarnya. Jadi, semua masyarakat mengatakan Andi hebat bahkan para ibu-ibu ini.

__ADS_1


"Saya masih memiliki ikatan keluarga dengan Andi. Jadi tidak mungkin."


"Oh, ya, kirain. Soalnya nak Andi terlihat cocok sama Mbak nya. Sama-sama ganteng dan cantik."


"Say-saya permisi dulu, ya?"


Mereka mengangguk dan kembali berdagang. Via menghidupkan mesin motornya,dan putar arah menuju ke rumah nenek Imah. Semua orang berpikir dia memiliki hubungan dengan Andi. Via harus menjaga jarak mulai saat ini. Pria itu juga masih marah kepadanya.


Jadi baguslah. Tidak berlangsung lama.Via telah kembali ke rumah nenek Imah. Dia memasukkan motor ke dalam rumah tepat di samping nya.


Dia tidak sengaja menemukan Andi yang sekarang megunjungi nenek Imah dan membawa makanan. Via melewatinya tanpa menyapa.


Andi mengerutkan keningnya bingung, dan ikut masuk ke dalam rumah.


"Nek! Ada titipan dari ibu."


"Taruh di atas meja makan. Nanti non Via lapar kalau sudah pulang."


"Non Via sudah pulang, Nek. Langsung ke Kamarnya tadi."


"Tumben kalian tidak bergurau."


"Tidak tahu, Nek. Sebenarnya Andi kesini mau minta maaf sama non Via, karena Andi kasar kemarin. Tapi non Via marah ke Andi."


"Tidak apa-apa. Nanti bicara lagi."


Andi menghela nafas pelan. Dia menatap pintu kamar Via dengan raut wajah yang masih merasa bersalah.


Andi tahu Via banyak masalah. Dan dengan teganya dia menyalahkan Via, dan tidak mengerti perasaan gadis itu.


Ceklek!


Karena merasa lapar. Via menuju meja makan dan di sana Andi memperhatikannya.


"Non Via!" panggilnya, ketika Via menyendok nasi dan lauk.


"Kenapa?" tanya Via tanpa menoleh membuat Andi merasa canggung.


"Saya minta maaf untuk yang kemarin kasar ke, Non Via."


Via menatap Andi yang kini menundukkan kepalanya. "Ya, aku sudah memaafkan mu. Aku juga


sangat menyusahkan kalian. Rencananya besok aku akan mencari kost an sendiri."


Andi terkejut mendengar.


"Maafkan saya, Non Via. Pasti nenek akan sedih mendengarnya."


"Non Via sebaiknya tetap tinggal di sini."


Via mengangguk dan memakan makanannya dengan telaten. "Iya."


Andi merasa aneh dengan perilaku Via.Dulu dia sangat ramah dan selalu melemparkan candaan kepadanya. Sekarang kebanyakan diam dan tak lagi mengejeknya.


"Sudah memaafkan?"


"Iya. Ada apa lagi?" Via tak ingin menatap Andi. Biar bagaimana pun dia harus menjaga jarak, karena masih memiliki suami.


'Apa gue pergi aja nyari kontrakan kalau seperti ini? Atau nyari villa gitu? Ah! Masak gue bawa sapi-sapi ke villa?'


****


Plak!


"Mom kecewa sama kamu Rayhan. Kamu tidak becus menjadi seorang suami. Gini kan jadinya? Via kabur gara-gara sikap egois kamu."


Padahal mereka sendiri juga yang sekarang, menyembunyikan menantunya. Namun semua ini memang salah dirinya.


Rayhan menghembus nafas kasar, ketika merasakan panas di wajahnya akibat tamparan keras mama nya.


Kedua orang tua nya menepati perkataannya pulang hari ini juga.


Membuat Rayhan harus siap untuk selalu dimarahi oleh mama nya.


"Kamu apakan menantu Mama, hingga berani mengambil tindakan nekad seperti itu?"


Rayhan tidak menjawabnya. Membuat wanita itu menatap Glen yang berada di samping putranya.


"Glen! Jelaskan semuanya!"


"Baik Nyonya. Terhitung nyonya muda telah pergi dari rumah sekitar seminggu yang lalu. Kami telah melakukan pencarian besar-besaran di seluruh penjuru kota. Namun nyonya muda belum menampakkan jejak sedikitpun."


"Terus belum ketemu sampai sekarang ini?!"


"Iya, Nyonya. Maafkan kami yang tidak becus."


"Kalian memang tidak becus dan tidak pernah mengerti perasaan menantu saya. Kaian semuanya


tidak ada guna nya."

__ADS_1


Melihat kemarahan sang istri, Papa Rayhanmendekati Paula dan mengusap bahu wanita itu dengan lembut.


"Nyonya! Sebaiknya Anda beristirahat." Bibi tua memapah Paula untuk ke kamarnya sesuai dengan perintah Alfred.


Paula menghembuskan nafas pelan dan mengangguk. "Iya, Bibi."


Akhirnya mereka bernafas lega dan sekarang Alfred menatap tajam putranya itu.


"Papa tidak akan memberi tahu keberadaan Via, selama kamu tidak sungguh-sungguh untuk mencarinya."


"Boleh aku bantu?"


Via terlihat kesulitan menjangkau ember yang berada di sampingnya. Gadis itu menatap Andi dan tak menyahut. Dia memilih berdiri dan mengambilnya sendiri.


Andi berulang kali bersabar menghadapi Via agar gadis itu tak cuek kepadanya. Namun tidak ada hasilnya, wajah Via semakin datar dan tak bersahabat.


"Aku permisi pulang"


Percuma dia berada di sana kalau tidak di perlu kan. Via mengangguk dan tak lagi menoleh kepadanya. Andi akhirnya benar-benar pulang menuju rumahnya.


Via mendengus dan mengisi ember dengan air susu hingga penuh dan sebentar lagi dia akan segera mengemasnya kalau sudah di proses.


"Capek juga tenyata memeras susu sapi saja."


Via bangkit dan mengerakkan tubuhnya yang terasa pegal. Dia melangkah membawa ember berisi susu dan menaruhnya di atas kursi lantas meninggalkan nya.


"Sepertinya sapi-sapi gue kelaparan."


Via mengambil keranjang rerumputan dan menaruhnya di depan sapi-sapi itu. Mereka terlihat antusias memakan nya.


"Gue mau nanya sama kalian semuanya. Harus dijawab oke!"


Mereka terdengar menyahut membuat Via tertawa.


"Kenapa kalau orang tidur dan ngak bangun-bangun itu di samain sama kalian semua? Seperti tidur kayak kebo gitu. Ngerti nggak sih kalian?"


Tidak ada lagi sahutan seperti yang tadi membuat Via mengerti jawabannya. "Gue tahu, kalian


semua kan kalau tidur lama, ya?"


"Lah, kenapa gue jadi gila seperti ini?" Via menggelengkan kepalanya dan langsung masuk


kembali ke dalam rumah.


***


"Ayah, ada yang ingin Andi bicarakan." Pria itu menghampiri ayahnya ke kantor desa.


"Tumben kamu datang ke sini? Pasti ada masalah yang serius, kan?"


Andi menghela nafas pelan dan mengangguk. Membuat ayah nya itu duduk berhadapan dengannya dan menatap putranya itu.


"Ayah telah mengetahui gadis yang tinggal bersama dengan nenek, kan?"


"Sudah! Ibu mu yang bercerita. Dia sahabat Mira, kan?"


"Iya, Ayah. Namun ada satu permintaan Andi agar Ayah bisa membantu."


"Apa itu, Nak?"


"Kalau ada yang bertanya esok maupun nanti, seseorang mengenai gadis itu. Atau gadis kota yang tinggal di desa ini. Ayah jangan menanggapi mereka."


"Kenapa memangnya?"


"Non Via adalah seorang istri yang tidak pernah disentuh oleh suaminya, selama pernikahan. Keadaan rumah tangga mereka tidak baik karena perjodohan. Dan suaminya akan menikah kembali,


sehingga non Via kabur karena merasa tersiksa. Gadis itu juga anak yatim, Yah."


"Ayah mengerti. Kamu tenang saja Andi. Besok Ayah akan memberitahu semua karyawan."


"Terima kasih, Ayah."


"Sama-sama. Kasihan gadis itu juga, nasibnya sungguh malang."


***


Via telah bersiap untuk pergi mengantar dagangannya ke semua pedagang di desa itu. Gadis itu menghirup nafas panjang, dan mengulas senyum.


"Kita berangkat!"


Dia sudah berpamitan di dalam tadi ke nenek Imah. Jadi Via berjualan diiringi doa dan juga keberkahan.


Laju motor Via berjalan tidak terlalu cepat menuju ke jalan beraspal. Namun tubuh nya langsung menegang ketika di sana, terlihat seorang pria memakai jas dan bertanya ke penduduk sekitar sebuah foto.


"Jangan-jangan, mereka adalah anak buah utusan tuan muda? Ya ampun! Kenapa bisa mereka sampai ke sini."


Ketika mereka berbalik dan menatapnya. Via langsung menunduk dan membelokkan motornya. Syukurjarak mereka lumayan jauh, dan wajahnya tidak akan terlihat dengan jelas.


"Gue harus kabur sebelum mereka menangkap gue."

__ADS_1


"Hei! Tunggu!" Mereka memanggil. Via tidak peduli dan langsung pergi dari sana.


__ADS_2