Istri Kesayangan Tuan Muda Arrogant

Istri Kesayangan Tuan Muda Arrogant
50. Ketulusan Rayhan


__ADS_3

"Cantik ya, pengantinnya? Pakai hijab dan mahkota gitu?" tanya Via kepada suaminya, yang sekarang duduk menatap ke sekeliling orang yang menatapnya kagum dan juga terpesona.


Tidak ada sahutan dari Rayhan, membuat Via mengernyitkan dahinya bingung.


"Kamu lihat siapa, Ray?" tanya Via menatap suaminya itu.


"Tidak ada, Sayang. Acaranya sudah selesai?"


"Belum, baru salaman itu. Ayo kita ke mereka. Kasih selamat gitu."


Rayhan bangkit bersama denga sang istri, mengundang perhatian semua orang menatapnya lebih intens kembali.


"Siapa pria itu? Tampan sekali."


"Pasti itu istrinya. Cantik dan tampan."


"Sepertinya mereka orang kota. Dan mendapatkan undangan dari pak kades."


"Iya, mereka terlihat putih dan wangi."


"Namanya juga orang kota." Via dapat mendengar bisik-bisikan dari semua orang, baik dari ibu-ibu bahkan anak gadis mereka.


"Selamat, Andi. Semoga Secepatnya mendapatkan


momongan yang lucu."


"Terima kasih, Non Via. Ternyata Non Via datang juga. Ini suami kamu?" tanya Andi, memandang


Rayhan yang sekarang menatapnya datar tak ingin


bersentuhan dengannya.


"Iya, kenalin suami aku namanya Rayhan."


"Saya Andi, teman Non Via di desa."


"Hem." Hanya deheman, setelah itu mereka menuruni singgasana pengantin itu.


"Kamu cemburu?" tanya Via, ketika mereka hendak keluar dari sana.


"Tidak!" balas Rayhan dengan wajah datar.


Via mengulas senyum dan menarik suaminya menjauh dari kerumunan pesta. Dia ingin berkeliling desa itu dengan berjalan kaki dan bersenda gurau.


"Mas bawa ponsel, kan?" tanya Via, ketika melihat pemandangan di belakang nya sangat indah dan Juga asri.


"Kenapa?"


Via memutar bola matanya malas dan langsung mengambil ponsel yang suaminya bawa.


"Kita selfi, ayo mendekat."


Rayhan akhirnya mendekat


punggung Via dan mengambil mengambil gambar


sebanyak-banyaknya.


"Ihh, kok gak senyum, sih?" kesal Via dengan wajah yang cemberut.


"Bagus itu."


"Bagus dari mananya? Kamu gak sayang ya sama aku?" tanya Via mendongak menatap suaminya.


"Aku sayang kamu."


"Makanya senyum. Ayo!"


Mereka kembali mengambil gambar sebanyak-banyaknya. Via berjingkrak ketika mendapatkan hasil gambar yang sangat bagus.


"Harus dicetak besok ini."


"Iya," balas Rayhan datar.


"Sekarang kamu yang ambil gambar aku lewat kamera belakang."


Rayhan mengangguk, dia memposisikan kamera tepat di depan via yang sedang berpose dengan kebaya yang dia kenakan terlihat elegan dan sangat cantik.


Hanya butuh tiga detik untuk mengambil lima gambar yang bagus. Via langsung mengambil alih ponsel itu dan menganga lebar, namun segera dia tutupi.


"Bagus banget. Kamu sepertinya bakat menjadi fotografer, Ray."


"Hem.


"Kamu belajar di mana? Sepertinya ilmu kamu sangat mahal, deh."


"Amerika, aku kuliah di sana."


"Aku baru tahu sekarang kamu kuliah disana. Kenapa nggak kasih tahu aku dari dulu."


"Kamu tidak bertanya."


"Ya, gak harus ditanyakan, kalau itu adalah hal yang penting untuk disampaikan."


"Aku tidak akan kembali kesana. Jadi tidak ada yang harus dijelaskan tentang negara itu. "


"Iya, Ray. Ayo kita kembali ke pesta, sebentar lagi acara makan-makan. Aku sudah lapar ini."


Mereka saling merangkul dan kembali ke pesta pernikahan Andi untuk menikmati makanan khas


desa ini.


****


"Kamu makan yang banyak.Katanya mau jadi pasangan aku," ujar Mira terkekeh ketika melihat Glen yang duduk di dekatnya.


Melihat Glen yang mengikutinya kemana-mana, membuat gadis itu iba dan akhirnya mengajak pria itu makan.


"Kamu lucu kalau makan, belepotan."


Dengan sangat lembut, Mira menjangkau tisu di samping mereka dan mengusap sudut bibir pria itu.


Glen menoleh ke arah gadis itu dan memegang tangan Mira dengan sangat lembut.


"Gak enak, ayo lanjutkan makanannya."


"Iya, terimakasih."

__ADS_1


"Sama-sama."


Sebenarnya Mira sangat nyaman dan merasa terlindungi berada di dekat Glen. Namun ia tak boleh


luluh dengan begitu muda, jual mahal sedikit, harus.


"Kamu sangat baik kepada, Mira."


"Aku baik ke semua orang, tidak dengan kamu saja."


"Ya."


"Wah! Calon pengantin yang akan segera menikah telah hadir lebih dulu, nih," ucap Via duduk bersama dengan Rayhan berhadapan dengan keduanya.


"Hanya kasihan saja, karena Glen tak ada yang dia kenal. Makanya gue makan sama dia."


"Gak percaya, huh."


"Terserah lo, deh."


"Kamu mau makan apa, Sayang?" tanya Via kepada suaminya.


"Aku tidak lapar."


"Kita belum makan, Ray. Kita ke Sana ambil makanan."


Akhirnya mereka kembali bangkit dan segera masuk ke dalam barisan orang-orang yang sedang


mengantri.


"Ambil, Ray!"


"Hem." Pria itu mengambil piring dan mulai mengikuti istri nya untuk mengambil makanan.


Setelah selesai, mereka kembali duduk di dekat Glen dan Mira yang kini makanan mereka sudah setengah.


"Kenapa?" tanya Via ketika melihat Ray enggan untuk memakan nya. Terlalu banyak minyak."


"Mana ada? Itu namanya rendang, gak ada minyaknya kok. Makan! Enak!"


"Baiklah." Rayhan memakannya begitu pula dengan Via yang juga menikmati makanan khas desa itu.


"Pelan-pelan, Sayang."


Rayhan mengusap sudut bibir istrinya dengan sangat lembut, membuat Via mengulas senyum.


Semua itu tidak luput dari perhatian kedua insan yang sekarang saling memandang, namun Mira langsung mengalihkan pandangannya, agar tak gugup menatap Glen. "Kamu ingin seperti Tuan Muda dan Nyonya Muda?" tanya Glen, membuat Mira refleks menggelengkan kepalanya.


"Tidak! Aku pergi ke kak Andi dulu mau mengobrol."


Glen tidak bisa menarik Mira kembali kepadanya dan duduk berdua seperti tadi. Jadi, dia hanya pasrah dan duduk di sana tanpa bergerak untuk bangkit.


"Sabar, Glen."


"Iya, Nyonya Muda."


Via mengulas senyum. Mira memang sangat hebat membolak-balikan hati seorang pria. Apalagi Glen yang terlihat sangat berharap.


'Bolehkah? Gue tertawa?' batin Via sebisa mungkin mempertahankan sikap dan penampilan elegannya.


***


Mereka sekarang berkumpul di rumah Andi, begitupun dengan kepala desa yang sekarang berada di sana ikut dalam rencana


menguntungkan itu.


"Kapan rencananya akan dimulai?" tanya Andi kepada suami Via.


"Secepatnya," balas Rayhan dengan nada rendah dan juga datar, membuat mereka semua membeku karena Rayhan sangat berwibawa dalam menyampaikan hal yang serius.


"Ray! Jangan membuat kami takut." Via mengusap punggung tangan suaminya.


"Kami akan mengirimkan dana besar untuk pembelian tanah dan Juga pembangunan peternakan."


"Kami akan secepatnya menginfokan semua ini ke warga, agar mereka secepatnya memberikan tanggapan yang baik."


"Secepatnya akan saya terima informasi tersebut. Silahkan menghubungi sekretaris saya, Glen. Untuk lebih lanjut."


"Terima kasih atas kerjasamanya. Dan untuk perencanaan pembangunan ekonomi di desa yang sangat menjanjikan untuk kami semua."


"Sama-sama."


Akhirnya Via mengulas senyum lebar, ketika mendengarkan semua urusan peternakan akan segera dipersiapkan.


'Semoga berkah ya, Tuhan,' batin Via penuh harap untuk membagi rezeki dan kebahagiaannya ke


semua orang.


***


Setelah segala rangkaian acara di desa selesai. Rayhan dan Via akhirnya memutuskan untuk pulang ke kota, bersama dengan Glen yang sekarang menjadi supir pribadi mereka.


"Mira tidak ingin ikut pulang bersama kamu, Glen? Kan lumayan, agar kamu tidak jadi obat nyamuk di dalam mobil."


Via terkekeh sembari mendongak menatap Rayhan yang kini hanya memasang wajah datarnya sejak


masuk ke dalam mobil. Namun tangannya menelusup memeluk pinggang sang istri dengan erat. Seakan gemas dengan tubuh mungil Via yang sangat membuat nya selalu bergairah. Waktunya


tidak mendukung! Itulah yang ada di dalam pikiran pria tampan dan dingin itu.


Kalau Rayhan meminta jatah sekarang. Maka Via akan marah dan pastinya tidak akan nyaman


berada di pelukannya. Dan semua itu tidak luput dari perhatian Glen yang mengerti akan siksaan yang tengah dihadapi oleh tuan mudanya itu.


"Mira menolak, Nyonya Muda."


"Kenapa tidak dipaksa?" Tanya Via kembali. Rayhan hanya bisa menghela napas pelan mendengar perkataan sang istri.


Kalau Glen memaksa Mira. Maka gadis itu akan semakin menjauhinya. Sekarang saja, tampaknya Mira tengah menguji cintanya agar dikejar oleh dirinya.


Namun Glen tidak mempermasalahkan hal tersebut.


Memang kodrat seorang wanita harus seperti itu. Hingga pria akan merasa tertantang dan akan segera memiliki nya seumur hidup nya besok.


"Jangan melamun, Glen! Nanti kamu tidak keburu nikah karena kita kecelakaan!"


"Sayang.... Rayhan memberikan peringatan dengan memberikan usapan lembut di kepala sang istri.

__ADS_1


Via mengulas senyum dan memeluk lebih erat sang suami.


Perjalanan mereka begitu jauh, jadi lebih baik dirinya tertidur.


Namun tiba-tiba sekelebat bayangan yang terlintas di kepalanya karena memikirkan seseorang. Dan Rayhan mulai menyadari keanehan istrinya dan


memperhatikan Via yang melamun di dada bidang nya.


"Kenapa?" Tanya Rayhan. Via mencoba mengelak dan menggelengkan kepalanya. Namun Rayhan tidak gampang untuk dibohongi apalagi ini soal istrinya. Akhirnya Via menatap manik mata suaminya dengan pandangan sayu. Dan mulai mengeluarkan suaranya. Berbeda dengan beberapa menit yang lalu.


"Ray! Papa ...." Lirih Via dengan suara pelan. Rayhan menarik napas panjang. Kenapa istrinya selalu saja mengingat pria tua itu, yang jelas-jelas sudah menyakiti hati Via begitu dalam sejak kecl.


"Ray!" Gadis itu memanggil Rayhan yang tampak menahan amarah. Via tahu sang suami tidak suka dirinya menyebut nama itu.


Rayhan tidak mungkin memperlihatkan amarahnya di depan istrinya. Biar bagaimanapun dirinya sangatlah menyayangi Via, dan tidak akan berbuat kasar seperti dulu lagi.


"Istirahatlah."


Via yang tidak ingin memperpanjang masalah akhirnya mengangguk. Ia masih mengingat bagaimana acara pernikahan yang dihadirinya di desa. Seorang mempelai wanita yang terlihat sangat cantik dan didampingi oleh kedua orang tua nya.


Kedua orang tua nya terlihat terharu menyaksikan putri cantik mereka menikah, dan sudah siap dan ikhlas untuk merelakan nya, bersama sang suami.


Bayangan dulu ketika dirinya menikah, segera terlintas di otaknya. Via hanya menikah paksa


dengan Rayhan, yang sekarang ininmencintai nya. Namun dirinya tidak mudah percaya hingga akan


membuktikan sampai sejauh mana Rayhan akan mempertahankan dirinya.


"Tidur, Sayang."


Via memejamkan matanya dan perlahan terlelap. Membuat tubuh Rayhan yang sekarang dipeluk erat


oleh sang istri merasa lega.


Sungguh! Melihat tatapan Via yang tampak tak yakin dengan cinta dan kasih sayang nya, membuat Rayhan merasa bersalah karena dulu selalu menyiksa istrinya. Bahkan tak segan-segan untuk mendorong kasar tubuh mungil yang berada di pelukannya.


Pria itu menyadarinya. Via, istri kesayangannya masih meragukan dirinya. Dan Rayhan akan membuktikan nya dengan cara apapun. Bahkan untuk mengancam Alfredo bersikap baik kepada Via, walaupun harus menyuap pria tua itu agar


melaksanakan tugasnya. Yang Rayhan inginkan hanya membuat istri nya tersenyum dan bahagia.


Dan Via tidak akan pernah dirinya lepaskan, hingga maut memisahkan mereka. Rayhan mengeram dan memeluk posesif tubuh mungil Via secara paksa.


Membuat gadis itu melenguh dan hampir terbangun.


"Tidurlah!" Sebuah perintah yang harus Via lakukan. Membuat gadis itu melanjutkan alam mimpinya.


Glen melihat itu semua dari kaca spion mobil yang berada di depannya. Apakah seorang wanita harus dipaksa terlihat dahulu, hingga akan patuh kepada seorang pria? Bila hal itu dibenarkan, maka Glen ingin mencobanya kepada Mira.


Glen tersenyum miring, karena dipikirannya sekarang hanya ada nama gadis yang telah berhasil


memikat hatinya itu.


"Lakukan apapun yang kau inginkan, Glen. Sebelum


terlambat."


Glen menganggukkan kepalanya, karena tuan muda nya memang selalu mampu menebak apa yang berada di pikirannya, bahkan sangatlah mudah.


***


Rayhan menyuapi Via dengan telaten, seperti seorang ayah kepada putri kecilnya. Memang Via memiliki tubuh yang kurus dan juga kecil, hingga membuat Rayhan ingin melihat istrinya itu sedikit berisi.


"Lambung aku sudah penuh. Jangan dipaksa lagi, Ray," rengek Via menutup mulutnya yang sekarang masih mengunyah suapan dari Rayhan.


Pria itu mengangguk dan menyuapi dirinya sendiri. Via mengambil air minum dannmeneguknya hingga kandas.


Sekarang mereka sudah berada di dalam rumah. Beberapa jam yang lalu baru sampai dari sana. Tubuh Via tidak terlalu lelah, karena selama perjalanan tidur lelap hingga tidak menyadari bahwa sudah sampai.


Drttt! Drtt!


Ponsel Via menyala dirinya langsung mengangkatnya dan ternyata itu dari papa nya,membuat Via tersenyum dan senang sekali. Kata Rayhan juga papa nya akan bercerai dengan


nenek lampir yang selalu menghasut papa nya.


Rayhan memperhatikan itu dalam diam. Betapa senangnya sang istri mendapatkan telepon dari si tua yang menjual Via kepadanya demi harta yang dikumpulkan nya.


"Pa.. Papa .."


"Bagaimana kabar kamu, Via?" Tanya pria paruh baya itu diujung telepon.


Jantung Via berdetak sangatlah kencang. Bahkan ia meneteskan air mata karena terharu papa nya akhirnya peduli dan bertanya tentang kabarnya.


"Via... dalam keadaan baik, Pa. Via, merindukan papa .."


"Besok papa akan menjenguk mu."


Via menganggukkan kepalanya. Hingga sambungan telepon akhirnya terputus. Via mengusap wajahnya dan sekarang menatap sang suami yang kini berada disampingnya.


"Kenapa menangis?" Tanya Rayhan datar.


Tanpa Rayhan duga, Vía langsung menerjang tubuh kekarnya dan memeluk pria itu dengan erat.


Menyalurkan perasaan yang kini tengah dirasakan nya.


"Hiks, papa bertanya mengenai kabarku, Ray. Papa, selama ini tidak pernah peduli denganku .."


Rayhan menarik napas panjang. Sebenarnya ia paling tidak suka Via menangis karena orang lain.


Namun ia sadar, bahwa sekarang istri kecilnya sedang terharu karena sikap pria tua itu yang


mulai berubah.


"Papa merindukan aku kan, Ray?" tanya Via terisak pelan. Rayhan mengeratkan pelukannya dan menganggukkan kepalanya.


"Aku ingin memasak untuk papa besok pagi. Boleh, kan?" Wajah yang tadinya sedih kini menampilkan keceriaan barang sejenak untuk mengutarakan


keinginannya.


"Iya. Lakukan apapun yang kamu inginkan, Sayang."


"Terima kasih, Ray. Ayo!" Rayhan mengerenyitkan dahinya bingung dengan perkataan Via.


Hingga sang istri memberikan kode dan akhirnya pria itu mengerti padahal ia kira istrinya ini sedang kelelahan.


"Untuk malam ini sepuasnya," ucap Via mengalungkan kedua tangannya di leher suaminya.


"Semoga kamu hamil, setelah ini....."

__ADS_1


Tbc


Jan lupa ritual, hari sabtu vote, like and comment Abang Rayhan masih kosong astaga 💔💔


__ADS_2