Istri Kesayangan Tuan Muda Arrogant

Istri Kesayangan Tuan Muda Arrogant
59. Hampir Tersingkirkan


__ADS_3

Rayhan membuka pintu mobil untuk sang istri. Via tersenyum dan keluar dari mobil tersebut.


Hari ini Via diantar oleh suaminya ke kampus, karena Rayhan tidak ingin terjadi sesuatu kepada istri kesayangannya itu.


"Makasih, Ray. Semangat kerjannya."


"Iya, Sayang. Ingat! Jangan macam-macam."


Via menganggukan kepalanya dan berlalu meninggalkan sang suami setelah berpisah.


Rayhan menatap lama punggung Via, yang telah masuk ke dalam fakultas nya.


Pria itu menghela napas pelan dan masuk kembali ke dalam mobilnya, yang kini Glen menemaninya.


Setelahnya, mobil melaju dengan kecepatan kencang, menuju ke tempat proyek mereka yang akan dibangun untuk tahun ini.


"Nyonya Salsa, telah menunggu Anda di sana, Tuan Muda."


***


"Sudah sarapan, Vi?" Tanya Mira memperhatikan wanita hamil itu, yang kini memandangi foto suaminya sedari masuk ke dalam kelas.


"Lo cinta banget ya? Sama tuan muda? Sudah melebihi batas maksimal seperti nya."


Via mengalihkan pandangannya ke arah Mira, dan menatap sahabatnya itu dalam. "Pastilah, kan suami sendiri, Mir. Lo, seperti nggak punya pacar aja."


"Bedalah, suami sama pacar. Jauh...."


Via memicingkan matanya curiga. "Lo mau nikah gitu sama Glen? Oh! Jangan-jangan lo kasih gue


kode, agar nanti Glen tahu gitu?"


"Nggak ada! Gue masih kecil Belum siap menikah dan nggak sekuat lo. Tahan banting."


"Lah, kan gue nggak pernah kerja. Kalau lo nikah sama Glen, pasti juga seperti itu. enang aja. Orang


kaya gitu loh."


"Terserah Lo deh, Vi. Gue belum Siap untuk saat ini."


Via sejenak mengingat sesuatu. Membuat Mira ikut diam, karena wanita itu tidak lagi cerewet dan bersuara.


"Lo sebenarnya cinta nggak sih sama, Glen? Kasihan sekretaris suami gue kasih harapan palsu."


Mira terdiam dan tidak menjawabnya. Dia hanya tidak ingin salah bicara, dan nantinya akan berakibat fatal untuk kehidupannya. "Kemarin, gue ikut ke kantor dan rekan kerja suami gue cantik banget. Apalagi bawa asisten yang hebat, cocok tuh sama Glen."


"Biarin aja. Gue mau fokus kuliah, nggak mau ribet mikirin laki-laki."


"Nggak cemburu nih?" Ucap Via kembali menggoda sahabat nya itu.


"Tadi gue denger, kan rekan kerja suami lo cantik. Sebenarnya, yang takut dan harus hati-hati itu lo, Vi.


Jangan sampai...


Mira menggantung ucapannya, membuat Via mengerenyitkan dahinya bingung. "Suami lo selingkuh."


Via mengambil napas panjang.


"Gue sebenernya, bukan tipe orang yang terlalu positif sama orang. Tapi, gue percaya sama suami


gue.


Dari gelagatnya, Bu Salsa itu suka kepada suaminya. Namun, Via pura-pura polos saja. Kenapa harus takut, suaminya saja menyeramkan gitu. Sekali sentuh mau bunuh orang.


"Kalau dia memiliki niat buruk.Maka, dia juga yang akan memetik hasilnya. Siapa suruh, punya niat jahat."


"Gue suka pemikiran lo, Vi. Huh! Mama muda sangat cerdas."


"Hanya berlaku untuk suami setia, Mir. Dan gue yakin, Ray setia sama gue,"


"Kalau nggak setia bagaimana?"


Tanya Mira hati-hati, takut menyinggung sahabat itu.


"Nggak apa-apa, gue hilang aja. Nanti, kalau dia nyesel baru tahu rasa."


"Dan kembali ke kisah kemarin. Mau kabur-kaburan seperti film romantis gitu, kan?"


"Ide bagus."


****

__ADS_1


Salsa merapikan penampilan nya,ketika Rayhan telah berada di dekatnya, untuk meninjau proyek


yang akan dikerjakan oleh mereka.


"Tuan Muda, Anda sangat hebat bisa menghandle pekerjaan yang begitu banyak."


Rayhan terdiam dan tidak berinisiatif sedikitpun untuk memalingkan wajahnya, menatap wanita itu.


"Semoga proyek kita berhasil ya, Tuan Muda?"


Masih tidak ada tanggapan dari pria itu, dan kini sibuk dengan berkas yang berada di tangannya.


"Saya tidak sabar, untuk...."


"Nyonya Salsa, kalau Anda ingin proyek berjalan lancar. Maka, lebih baik jangan terlalu banyak berbicara," ucap Glen menjelaskan.


"Tuan saya, tidak suka dengan orang yang berisik."


Ketika Salsa hendak menanggapi, Rayhan dan Glen segera menjauh dan berkomunikasi dengan kepala


pekerja yang berada di sana. Salsa menahan napas, dan mengeluarkannya dengan pelan, agar kecantikannya tidak terpengaruh karena dirinya harus bersikap feminim.


"Semakin kamu menjauh, kamu semakin menarik, Rayhan."


Salsa tersenyum dan ikut membantu memeriksa proyek tersebut, lebih serius lagi berada di lapangan.


Namun ketika dirinya hendak berjalan mendekati Rayhan, sebagian dari pekerja berteriak kencang, membuat Salsa tersentak dan juga bingung.


"Bu Salsa! Awas!"


Hingga, dirinya berinisiatif untuk beralih ke tempat yang terbuka, dan membuat alat-alat berat yang akan jatuh kepadanya, tidak mengenai wanita itu.


Jantung Salsa berdetak sangatlah kencang. Wanita itu dikerumuni oleh orang-orang, termasuk asistennya yang Sigap membawakan air mineral.


"Nyonya tidak kenapa-kenapa, kan?" Tanya asistennya itu.Salsa menatap kosong bangunan di


hadapannya. Dia hampir saja merenggang nyawa, karena dirinya yang tidak memperhatikan jalan dan dekat dengan benda-benda berat itu.


"Saya tidak apa-apa," lirihnya memejamkan mata, dan menghalau rasa ketakutannya yang menyerang.


"Sebaiknya, Anda istirahat terlebi dahulu, Nyonya."


Salsa menganggukan kepalanya. Matanya, mencari celah untuk melihat reaksi Rayhan kepadanya. Pria itu berdiri jauh dengannya bersama dengan Glen, orang kepercayaannya.


melihat Rayhan mengeluarkan ekspresi di hadapannya.


Dan setelah kejadian yang hampir merenggut nyawanya.


"Kenapa dia menatapku seperti itu?" Gumam Salsa, merasa ketakutan.


"Kenapa, Nyonya?" Tanya asistennya. Salsa menyadarkan dirinya, dan memutuskan kontak matanya dari Rayhan.


"Kita pulang sekarang!"


****


Rayhan merubah ekspresinya, ketika layar ponselnya menampilkan wajah sang istri yang sekarang sedang terhubung dengannya.


Wanita kesayangannya itu belum pulang kuliah dan mengelubh lelah, namun ingin menjadi wanita sukses katanya.


"Sudah dimakan makanannya?" Tanya Rayhan menatap istrinya itu, walaupun di dalam ponsel.


Terlihat di sana, Via menunjukkan bekalnya yang kosong hanya tersisa air minum hanya setengah.


"Sudah, Ray. Ternyata makan makanan sehat, sangat enak dan membuat tubuh lebih ringan."


"Iya, Sayang.


"Ray! Kamu sekarang berada di tengah-tengah proyek pembangunan, ya?" Tanya Via.


Cuacanya terlihat sangat panas. Kasihan suaminya kepanasan.


"Turun lapangan. Peninjauan proyek."


"Tidak capek, kan?"


Rayhan tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


Sepertinya, sang istri khawatir dirinya kelelahan.


"Tidak, Sayang. Kamu?"

__ADS_1


"Capek, Ray. Capek belajar. Capek mikir."


"Aku akan menjemputmu. Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat."


***


Rayhan telah menjemput sang istri, dan sekarang hanya mereka berdua yang kini berada di dalam mobil tersebut.


"Ray! Kita mau kemana?" Tanya Via karena merasa takut, disebabkan mobil mulai masuk ke dalam kawasan hutan.


"Ingin menghilangkan rasa penat, kan?" Tanya Rayhan. Via menghela napas pelan dan memejamkan matanya karena merasa lelah.


"Aku kira tadi, mau ke danau Ray."


"Lebih indah dari itu, Sayang."


Via hanya bisa menurut dan sekarang mobil telah berhenti di sebuah mansion tengah hutan.


Wanita itu menahan napas, karena melihat bangunan begitu megah di hadapannya dan juga terawat.


"Siapa yang memilikinya?" Tanya Via menatap suaminya yang sekarang berdiri di dekatnya.


Rayhan menjangkau tangan sang istri dan masuk ke dalam mansion tersebut.


"Aku jelaskan di dalam."


Penjaga bangunan itu menundukkan kepalanya memberikan hormat kepada tuan muda, yang sekarang menjadi pewaris satu-satunya dari keluarga berkuasa itu.


"Mansion ini miliki keluarga kita."


"Kita?" Gumam Via tampak tak mengerti.


"Kita, Sayang. Kamu dan aku."


Via menganggukkan kepalanya, karena dirinya telah resmi menjadi bagian keluarga Rayhan.


Mereka menuju ke lobi, dan sekarang tengah menikmati pemandangan hutan yang tampak lebat dari atas sana.


"Di sana jurang yang sangat dalam," ucap Rayhan, menunjuk tempat yang terlihat suram dengan penggununugan yang mengapitnya.


"Tempat ini indah, namun menyeramkan."


Via menghirup udara segar sebanyak-banyaknya, sebelum kembali ke rumah mereka nanti.


Sungguh menyejukkan, dan pikirannya kini kembali tenang.


"Mansion turun temurun. Lebih tepatnya, menjernihkan pikiran."


Via mulai paham, karena banyak pekerjaan yang pastinya membuat stres, jadi butuh ke tempat yang


indah, seperti mansion besar ini.


"Makasih ya, Ray," ucap Via menatap dalam suaminya.


Rayhan menarik Via dalam pelukannya, dan menghirup aroma tubuh wangi sang istri.


"Andai kau tahu, Sayang. Apapun akan aku lakukan untuk membuatmu bahagia."


Via menghela napas dan mengeratkan pelukannya kepada sang suami. "Ray! Kalau seandainya dulu, kamu tidak menemukan peri kecil. Apakah kamu akan bisa mencintai wanita lain?"


Rayhan mengusap surai Via dengan lembut. "Bertahun-tahun aku menunggu waktu yang tepat,


untuk menemukanmu. Hingga, apabila memang kita tidak ditakdirkan bersama, maka aku tidak akan pernah bisa mencintai lagi."


"Bukannya, sebelum kamu menemui peri kecil, kamu telah jatuh hati padaku?"


"Aku tidak yakin dengan hatiku. Hingga, semuanya terungkap. Bahwa kamu gadis kecil itu, dan hati ini bertekad untuk mencintaimu selamanya."


"Ray! Kenapa kamu begitu sangat mencintai ku?"


"Kamu yang pertama dan terakhir Via. Jadi, jangan pernah bertanya mengenai hati. Jangan meragukanku."


"Iya, Ray. Aku juga sangat mencintai mu. Terima kasih telah membalas cintaku, Sayang


Via tersenyum manis dan mengecup bibir sang suami sekilas.


"Bagaimana dengan Bu Salsa?" Tanya Via.


"Wanita tidak penting sepertinya, kenapa tidak berakhir saja, kan?" Ucap Rayhan menyeringai


membuat Via bingung.

__ADS_1


"Sudah, Ray. Jangan membuat semua orang semakin takut kepadamu."


__ADS_2