Istri Kesayangan Tuan Muda Arrogant

Istri Kesayangan Tuan Muda Arrogant
11. Melarikan Diri


__ADS_3

"Tuan Muda! Hem, ponsel saya. Soalnya saya ingin mengabari ..


"Pacarmu itu?" tanya Rayhan.


"Tidak! Sahabat saya pasti sekarang tengah mencari saya dari


kemarin. Mereka akan khawatir."


"Diamlah! Kau sangat berisik!"


Via mengatupkan mulutnya.


Bagaimana ini? Pasti Mira dan


Raja akan marah besar kepadanya.


Via menghela napas kasar. Syukur tubuhnya telah kembali sehat.


Sehingga sekarang bisa berdiri dan


bergerak leluasa.


"Tuan Muda! Apakah semalam ada


seseorang yang masuk ke dalam


kamar ini?" tanya Via. Melihat punggung tegap Rayhan yang


membelakanginya.


"Kau mengganggu pekerjaanku Kemari!"


Via melangkah ke arah Rayhan


yang sekarang mengetik di depan


laptop.


"Kerjakan semuanya!"


"Ah?" ujar Via melongo mendengarnya. "Tapi, Tuan Muda.


Saya tidak bisa melakukannya."


Yang benar saja, dirinya


menyelesaikan pekerjaan kantor.


Via masih belajar dan baru semester lima.


"Duduk!" tegas Rayhan.


Via duduk disampingnya. Rayhan


menyeringai kala melihat tanda


kepemilikan itu berjumlah tiga


buah. Sepertinya Via telah


mengetahuinya, namun tidak


berani bertanya jauh kepadanya


dan bahkan mengatakan dirinya


melakukan itu.


Via mulai memperhatikan diagram pemasaran di layar laptop. Dengan


ragu Via mulai memeriksanya dan


mematuhi perintah Rayhan.


"Jangan sampai salah!"


"Tapi, saya belum mengerti


mengenai perusahaan seperti ini.


Karena.."


"Kalau seperti itu, jangan


berkuliah. Menghabis kan waktu."


Via melototkan matanya. "Kan yang kuliah saya, bukan Tuan Muda. Yang biaya saya sendiri. Yang belajar saya, yang.."


"Yang memiliki otak kecil dan bodoh memang kamu."


Dasar menyebalkan. Via tidak ingin berdebat terlalu jauh. "Tuan Muda, saya sepertinya bisa menyelesaikannya."


Rayhan tidak menanggapi ucapannya. Rayhan memperhatikan jari-jari Via yang


mulai bekerja dengan sangat lancar. Sepertinya gadis ini memang pintar dan cerdas.


Namun Rayhan tidak ingin menjunjung tinggi gadis itu.


Ternyata sangatlah mudah.


Sebentar lagi selesai."


Drtt! Drtt!


Rayhan bangkit dari duduknya dan mengangkat telepon. Via fokus mengerjakan tugas nya dari Rayhan.


"Mom!" ujar Rayhan.


"Iya, bagaimana keadaan istrimu,


Rayhan?"


"Sudah membaik, Mom."


"Syukurlah. Dimana dia sekarang?" tanya wanita itu masih terdengar sangat khawatir.


"Sedang menjalankan tugasnya."


"Tugas apa?! Kenapa kau menyuruhnya bekerja Rayhan?!


Anak nakal sepertimu harus dihukum."


"Mom, Rayhan tidak suka dengan


gadis manja."


"Gadis?"


"Iya," balas Rayhan datar.


"Kau tidak pernah melakukannya,


Rayhan?! Bagaimana bisa?!"


"Cukup, Mom. Dia masih kecil harus kuliah dan baru semester lima."


"Kasih ponselmu ke Via!! Mom mau bicara dengannya."

__ADS_1


"Sinyal memburuk Mom. Rayhan matikan."


Sambungan terputus. Rayhan menghela nafas kasar. Untung


mereka berada di luar negeri.


Kalau tidak! Maka Rayhan akan


merasakan hidup di dalam sangkar


emas yang selalu diperintah.


"Tuan Muda, pekerjaan telah selesai." Via menghampiri Rayhan


dengan bangga dan mengulas


senyumannya.


"Hem!"


Via mendengus kesal. Tidak ada ucapan terima kasih gitu? Atau


hadiah untuk nya? Via duduk di pinggir ranjang dan menatap


punggung tegap Rayhan yang


terlihat sangat berwibawa.


Rayhan memilih tubuh yang tinggi


dan atletis, bahkan dada bidangnya pasti nyaman ketika Via menaruh kepalanya berlama-lama di sana.


"Kenapa aku memikirkannya?"


gumam Via menggelengkan kepalanya. Walaupun tampan kalau dia kejam dan juga kasar, bukan tipe Via sama sekali.


***


"Nyonya Nacita."


Nacita mengulas senyumannya.


Dengan penampilan elegan dan tampak sangat seksi membawa


sebuah kotak kue untuk Rayhan.


"Tuan Muda ada? Saya telah mencarinya di kantor, namun tidak menemukannya di sana."


"Tuan Muda tidak ada janji bertemu dengan, Anda."


"Tidak perlu membuat janji. Saya pokoknya ingin bertemu dengannya."


"Silahkan angkat kaki dari sini!!" usir Glen dengan tegas.


Nacita mendengus kesal karena


Glen mengusirnya. Namun dilihat


dari jarak dekat, Glen terlihat berbeda, wajahnya penuh dengan


lebam.


"Wajahmu kenapa?"


Glen menyeringai. "Hukuman ringan dari tuan muda. Apabila tuan muda marah, dia tidak memandang bulu. Bahkan Anda contohnya."


Nacita merinding mendengarnya.


Begitu kejamnya tuan muda Rayhan itu? Namun Nacita tidak


sama sekali merasa ketakutan.


"Glen!"


Nacita berbinar ketika mendengar


suara berat Rayhan. Nacita segera


menghampiri Rayhan yang sekarang menatapnya sangat datar.


"Selamat pagi, Tuan Muda."


Tidak ada balasan dari Rayhan.


Namun Nacita tidak gampang putus asa. Semakin


Rayhan bersikap dingin kepadanya. Maka Nacita semakin terpancing untuk menaklukannya.


"Kita ke kantor sekarang!!" tegas Rayhan. Ada janji dengan Alfredo


hari ini untuk memindahkan hak kekuasaan perusahaan kembali.


"Baik, Tuan Muda."


Rayhan merapikan jas kerjanya dan berlalu tanpa menoleh sedikitpun ke arah Nacita.


"Tuan Muda Rayhan!" panggil


Nacita ketika melihat mereka meninggalkan nya.


Nacita menghentak kan kakinya


dengan sangat kasar. Dirinya


bolak-balik dari kantor ke rumah


Rayhan, namun pria itu tidak peduli sama sekali.


Nacita menghela nafas. Namun ia


tidak luput memperhatikan rumah


besar Rayhan. Sangat mewah dan


tertata rapi dengan barang-barang


mahal lainnya.


Pokoknya Nacita harus berkeliling!


Wanita itu menaruh kotak kue di


atas meja dan mulai memperhatikan sekitarnya seraya menaiki anak tangga perlahan.


"Kamar Tuan Muda di mana, ya?"


gumam Nacita.


"Sepertinya di sini." Nacita memegang handle pintu, dan ingin


membukanya, namun sebuah suara membuat dirinya mengurungkan niatnya.


"Siapapun dilarang masuk ke dalam kamar tuan muda sembarang, termasuk orang asing!"


Nacita berbalik dan mendapati pembantu tua yang sekarang berani melarangnya kepadanya.


"Eh, pembantu tua! Kamu tidak memiliki hak untuk marah kepada

__ADS_1


saya. Saya ini calon nyonya muda


di rumah ini."


Bibi tua tidak menggubris perkataan nya. Dia telah memanggil satpam atas perintah tuan muda sebelum pergi untuk menyeret tubuh wanita itu.


"Lepaskan!" bentak Nacita ketika dua satpam memegang tangannya.


"Apa yang kalian lakukan?!"


"Kami hanya menjalankan tugas dari tuan muda. Jangan memberontak atau kami akan


bertindak dengan kasar!"


"Bawa wanita itu keluar!" perintah


bibi tua dengan suara yang sangat


berbeda.


Nacita di bawa keluar dengan diseret sangat kasar. Untuk terakhir kalinya Nacita diizinkan


menginjakkan kakinya di rumah besar itu.


Di sisi lain. Via yang sekarang berada di dalam kamar, karena


masih masa hukuman mendengar


semuanya dari balik pintu.


Walaupun suaranya sayup-sayup,


namun Via mengenali suara itu.


"Itu suara wanita yang pernah


bertengkar dengan gue? Namun,


kenapa bibi tua terdengar marah


besar? Tidak biasanya bibi tua


bertindak sangat kasar."


Semuanya aneh. Via menghela


nafas ketika sebelah tangan nya


menyentuh pintu tersebut.


"Sangat membosankan berada di kamar ini!" keluh Via memukul


pintu itu dengan kasar dan keras.


***


Dengan cekatan Alfredo menandatangani berkas pemindahan kekuasaan perusahaan itu kembali kepadanya. Senyum pria tua itu mengembang. Membuat Rayhan muak melihatnya. Pria tua serakah dan mata duitan. Mengorban putrinya demi harta kekayaan.


"Terima kasih, Tuan Muda."


Alfredo menjulurkan tangannya.


Namun Rayhan tidak berminat


sama sekali membalas jabatan tangan Alfredo, sehingga tangan


Alfredo mengayun di udara, membuatnya sedikit malu.


"Tuan Muda memang menantu idaman."


"Hem. Silahkan keluar dari ruanganku!" perintah Rayhan.


Tanpa banyak menghabiskan waktu. Alfredo segera beranjak


dari tempatnya dan permisi keluar


ruangan itu.


"Dia memang pria tua tidak memiliki urat malu, Tuan Muda.


Anda tidak ingin memberikannya


pelajaran berharga?"


"Ada waktunya, Glen. Bahkan jauh


berkali lipat."


Glen tahu, tuan muda tengah merencanakan suatu hal yang


besar untuk memberikan pelajaran


kepada Alfredo.


"Bagaimana perkembangan pembangunan wisata di dekat danau, Glen?"


"Proyek berjalan dengan sangat


lancar Tuan Muda. Bahkan banyak investor yang mengajukan diri


untuk bekerja sama menyuntikan


dana."


"Katakan pada mereka. Aku tidak


ingin menerima campur tangan orang asing. Karena proyek itu


khusus untuk ku membuatnya."


"Baik, Tuan Muda. Akan segera saya sampaikan."


"Kau bisa diandalkan, Glen!"


Glen mengangguk. Bekerja bertahun-tahun lamanya dengan


Rayhan membuatnya menjadi


pribadi yang disiplin dan harus


cekatan dalam bekerja karena


Rayhan tidak pernah ingin


membuang waktu nya barang


sedikitpun.


Drrrt!! Drttt!


Ponsel Glen berdering. Dia langsung mengangkatnya dihadapan Rayhan.


"Tuan Muda, Nyonya Via mencoba


melarikan diri dengan memanjat


balkon dan berhasil keluar dari gerbang utama."

__ADS_1


"Gadis nakal dan pembangkang!!"


Mata Rayhan berkilat sangat tajam.


__ADS_2