
"Tuan Muda! Hem, ponsel saya. Soalnya saya ingin mengabari ..
"Pacarmu itu?" tanya Rayhan.
"Tidak! Sahabat saya pasti sekarang tengah mencari saya dari
kemarin. Mereka akan khawatir."
"Diamlah! Kau sangat berisik!"
Via mengatupkan mulutnya.
Bagaimana ini? Pasti Mira dan
Raja akan marah besar kepadanya.
Via menghela napas kasar. Syukur tubuhnya telah kembali sehat.
Sehingga sekarang bisa berdiri dan
bergerak leluasa.
"Tuan Muda! Apakah semalam ada
seseorang yang masuk ke dalam
kamar ini?" tanya Via. Melihat punggung tegap Rayhan yang
membelakanginya.
"Kau mengganggu pekerjaanku Kemari!"
Via melangkah ke arah Rayhan
yang sekarang mengetik di depan
laptop.
"Kerjakan semuanya!"
"Ah?" ujar Via melongo mendengarnya. "Tapi, Tuan Muda.
Saya tidak bisa melakukannya."
Yang benar saja, dirinya
menyelesaikan pekerjaan kantor.
Via masih belajar dan baru semester lima.
"Duduk!" tegas Rayhan.
Via duduk disampingnya. Rayhan
menyeringai kala melihat tanda
kepemilikan itu berjumlah tiga
buah. Sepertinya Via telah
mengetahuinya, namun tidak
berani bertanya jauh kepadanya
dan bahkan mengatakan dirinya
melakukan itu.
Via mulai memperhatikan diagram pemasaran di layar laptop. Dengan
ragu Via mulai memeriksanya dan
mematuhi perintah Rayhan.
"Jangan sampai salah!"
"Tapi, saya belum mengerti
mengenai perusahaan seperti ini.
Karena.."
"Kalau seperti itu, jangan
berkuliah. Menghabis kan waktu."
Via melototkan matanya. "Kan yang kuliah saya, bukan Tuan Muda. Yang biaya saya sendiri. Yang belajar saya, yang.."
"Yang memiliki otak kecil dan bodoh memang kamu."
Dasar menyebalkan. Via tidak ingin berdebat terlalu jauh. "Tuan Muda, saya sepertinya bisa menyelesaikannya."
Rayhan tidak menanggapi ucapannya. Rayhan memperhatikan jari-jari Via yang
mulai bekerja dengan sangat lancar. Sepertinya gadis ini memang pintar dan cerdas.
Namun Rayhan tidak ingin menjunjung tinggi gadis itu.
Ternyata sangatlah mudah.
Sebentar lagi selesai."
Drtt! Drtt!
Rayhan bangkit dari duduknya dan mengangkat telepon. Via fokus mengerjakan tugas nya dari Rayhan.
"Mom!" ujar Rayhan.
"Iya, bagaimana keadaan istrimu,
Rayhan?"
"Sudah membaik, Mom."
"Syukurlah. Dimana dia sekarang?" tanya wanita itu masih terdengar sangat khawatir.
"Sedang menjalankan tugasnya."
"Tugas apa?! Kenapa kau menyuruhnya bekerja Rayhan?!
Anak nakal sepertimu harus dihukum."
"Mom, Rayhan tidak suka dengan
gadis manja."
"Gadis?"
"Iya," balas Rayhan datar.
"Kau tidak pernah melakukannya,
Rayhan?! Bagaimana bisa?!"
"Cukup, Mom. Dia masih kecil harus kuliah dan baru semester lima."
"Kasih ponselmu ke Via!! Mom mau bicara dengannya."
__ADS_1
"Sinyal memburuk Mom. Rayhan matikan."
Sambungan terputus. Rayhan menghela nafas kasar. Untung
mereka berada di luar negeri.
Kalau tidak! Maka Rayhan akan
merasakan hidup di dalam sangkar
emas yang selalu diperintah.
"Tuan Muda, pekerjaan telah selesai." Via menghampiri Rayhan
dengan bangga dan mengulas
senyumannya.
"Hem!"
Via mendengus kesal. Tidak ada ucapan terima kasih gitu? Atau
hadiah untuk nya? Via duduk di pinggir ranjang dan menatap
punggung tegap Rayhan yang
terlihat sangat berwibawa.
Rayhan memilih tubuh yang tinggi
dan atletis, bahkan dada bidangnya pasti nyaman ketika Via menaruh kepalanya berlama-lama di sana.
"Kenapa aku memikirkannya?"
gumam Via menggelengkan kepalanya. Walaupun tampan kalau dia kejam dan juga kasar, bukan tipe Via sama sekali.
***
"Nyonya Nacita."
Nacita mengulas senyumannya.
Dengan penampilan elegan dan tampak sangat seksi membawa
sebuah kotak kue untuk Rayhan.
"Tuan Muda ada? Saya telah mencarinya di kantor, namun tidak menemukannya di sana."
"Tuan Muda tidak ada janji bertemu dengan, Anda."
"Tidak perlu membuat janji. Saya pokoknya ingin bertemu dengannya."
"Silahkan angkat kaki dari sini!!" usir Glen dengan tegas.
Nacita mendengus kesal karena
Glen mengusirnya. Namun dilihat
dari jarak dekat, Glen terlihat berbeda, wajahnya penuh dengan
lebam.
"Wajahmu kenapa?"
Glen menyeringai. "Hukuman ringan dari tuan muda. Apabila tuan muda marah, dia tidak memandang bulu. Bahkan Anda contohnya."
Nacita merinding mendengarnya.
Begitu kejamnya tuan muda Rayhan itu? Namun Nacita tidak
sama sekali merasa ketakutan.
"Glen!"
Nacita berbinar ketika mendengar
suara berat Rayhan. Nacita segera
menghampiri Rayhan yang sekarang menatapnya sangat datar.
"Selamat pagi, Tuan Muda."
Tidak ada balasan dari Rayhan.
Namun Nacita tidak gampang putus asa. Semakin
Rayhan bersikap dingin kepadanya. Maka Nacita semakin terpancing untuk menaklukannya.
"Kita ke kantor sekarang!!" tegas Rayhan. Ada janji dengan Alfredo
hari ini untuk memindahkan hak kekuasaan perusahaan kembali.
"Baik, Tuan Muda."
Rayhan merapikan jas kerjanya dan berlalu tanpa menoleh sedikitpun ke arah Nacita.
"Tuan Muda Rayhan!" panggil
Nacita ketika melihat mereka meninggalkan nya.
Nacita menghentak kan kakinya
dengan sangat kasar. Dirinya
bolak-balik dari kantor ke rumah
Rayhan, namun pria itu tidak peduli sama sekali.
Nacita menghela nafas. Namun ia
tidak luput memperhatikan rumah
besar Rayhan. Sangat mewah dan
tertata rapi dengan barang-barang
mahal lainnya.
Pokoknya Nacita harus berkeliling!
Wanita itu menaruh kotak kue di
atas meja dan mulai memperhatikan sekitarnya seraya menaiki anak tangga perlahan.
"Kamar Tuan Muda di mana, ya?"
gumam Nacita.
"Sepertinya di sini." Nacita memegang handle pintu, dan ingin
membukanya, namun sebuah suara membuat dirinya mengurungkan niatnya.
"Siapapun dilarang masuk ke dalam kamar tuan muda sembarang, termasuk orang asing!"
Nacita berbalik dan mendapati pembantu tua yang sekarang berani melarangnya kepadanya.
"Eh, pembantu tua! Kamu tidak memiliki hak untuk marah kepada
__ADS_1
saya. Saya ini calon nyonya muda
di rumah ini."
Bibi tua tidak menggubris perkataan nya. Dia telah memanggil satpam atas perintah tuan muda sebelum pergi untuk menyeret tubuh wanita itu.
"Lepaskan!" bentak Nacita ketika dua satpam memegang tangannya.
"Apa yang kalian lakukan?!"
"Kami hanya menjalankan tugas dari tuan muda. Jangan memberontak atau kami akan
bertindak dengan kasar!"
"Bawa wanita itu keluar!" perintah
bibi tua dengan suara yang sangat
berbeda.
Nacita di bawa keluar dengan diseret sangat kasar. Untuk terakhir kalinya Nacita diizinkan
menginjakkan kakinya di rumah besar itu.
Di sisi lain. Via yang sekarang berada di dalam kamar, karena
masih masa hukuman mendengar
semuanya dari balik pintu.
Walaupun suaranya sayup-sayup,
namun Via mengenali suara itu.
"Itu suara wanita yang pernah
bertengkar dengan gue? Namun,
kenapa bibi tua terdengar marah
besar? Tidak biasanya bibi tua
bertindak sangat kasar."
Semuanya aneh. Via menghela
nafas ketika sebelah tangan nya
menyentuh pintu tersebut.
"Sangat membosankan berada di kamar ini!" keluh Via memukul
pintu itu dengan kasar dan keras.
***
Dengan cekatan Alfredo menandatangani berkas pemindahan kekuasaan perusahaan itu kembali kepadanya. Senyum pria tua itu mengembang. Membuat Rayhan muak melihatnya. Pria tua serakah dan mata duitan. Mengorban putrinya demi harta kekayaan.
"Terima kasih, Tuan Muda."
Alfredo menjulurkan tangannya.
Namun Rayhan tidak berminat
sama sekali membalas jabatan tangan Alfredo, sehingga tangan
Alfredo mengayun di udara, membuatnya sedikit malu.
"Tuan Muda memang menantu idaman."
"Hem. Silahkan keluar dari ruanganku!" perintah Rayhan.
Tanpa banyak menghabiskan waktu. Alfredo segera beranjak
dari tempatnya dan permisi keluar
ruangan itu.
"Dia memang pria tua tidak memiliki urat malu, Tuan Muda.
Anda tidak ingin memberikannya
pelajaran berharga?"
"Ada waktunya, Glen. Bahkan jauh
berkali lipat."
Glen tahu, tuan muda tengah merencanakan suatu hal yang
besar untuk memberikan pelajaran
kepada Alfredo.
"Bagaimana perkembangan pembangunan wisata di dekat danau, Glen?"
"Proyek berjalan dengan sangat
lancar Tuan Muda. Bahkan banyak investor yang mengajukan diri
untuk bekerja sama menyuntikan
dana."
"Katakan pada mereka. Aku tidak
ingin menerima campur tangan orang asing. Karena proyek itu
khusus untuk ku membuatnya."
"Baik, Tuan Muda. Akan segera saya sampaikan."
"Kau bisa diandalkan, Glen!"
Glen mengangguk. Bekerja bertahun-tahun lamanya dengan
Rayhan membuatnya menjadi
pribadi yang disiplin dan harus
cekatan dalam bekerja karena
Rayhan tidak pernah ingin
membuang waktu nya barang
sedikitpun.
Drrrt!! Drttt!
Ponsel Glen berdering. Dia langsung mengangkatnya dihadapan Rayhan.
"Tuan Muda, Nyonya Via mencoba
melarikan diri dengan memanjat
balkon dan berhasil keluar dari gerbang utama."
__ADS_1
"Gadis nakal dan pembangkang!!"
Mata Rayhan berkilat sangat tajam.