
"Sebaiknya, Anda secepatnya masuk ke dalam kamar, Nyonya.Sebelum tuan muda menyadari Anda meninggalkannya."
"Meninggalkannya? " gumam Via.
Via sekarang duduk di salah satu bangku di taman samping rumah besar itu. la merenungkan hidupnya yang sangat terlihat sempurna, namun sebenarnya
secuilpun, tidak ada objek yang membuatnya bahagia.
"Bisa tidak, jangan menggangguku?!"
"Anda akan menerima konsekuensinya."
Via memutar bola matanya malas.
"Saya tidak takut. Kau saja yang menemaninya tidur. Saya ingin menghabiskan waktu."
"Nyonya! Tuan muda tidak sebaik yang Anda pikirkan."
"Saya tahu, Glen. Kau sudah mengajarkan saya tata krama bukan? Jadi, saya telah mengetahui semuanya."
Dan tidak ada larangan untuk meninggalkan pria kejam dan tidak memiliki hati itu, ketika telah terlelap.
"Pergilah!" usir Via dengan nada kesal dan mimik wajah yang merah padam.Menyebalkan! Manusia
robot seperti Glen ini tidak patut untuk dicontoh apalagi dijadikan kekasih hati. Pasti wanita yang menjadi jodohnya akan stres setiap hari.
"Nyonya! Anda melupakan isi buku tata krama yang terakhir. Mengatakan.."
Via segera bangkit dari duduknya, sebelum Glen membacakan isi buku itu yang pastinya akan memakan waktu yang sangat lama.
Via memicingkan matanya dan langsung masuk ke dalam rumah.
Menyisakan Glen yang sekarang berdiri dengan postur tubuh tegak dan merapikan jasnya.
"Benar kata tuan muda. Nyonya tidak patut untuk dikasihani."
Via dengan perlahan masuk ke dalam selimutnya. Gadis itu sekilas melirik ke arah tempat tidur dengan pandangan sayup-sayup karena penerang yang minim.
"Syukurlah kalau dia masih tidur." Via segera memejamkan matanya dan berbalik. Besok ia akan
berangkat ke kampus pagi-pagi.
Jadi sebelum itu, Via harus menyelesaikan semua pekerjaannya.
Jujur! Via merasa dirinya memang dijadikan pembantu, bukan seorang nyonya seperti yang mereka semua berikan gelar kepadanya.
Via menepuk kepalanya berulang kali ketika ia masih memikirkan perkataan manusia kejam itu.
Siapa lagi kalau bukan Rayhan Crowel. Kepala Via tergeletak lemah di atas meja. Tidak luput dari perhatian seorang gadis yang kini memperhatikannya sedari beberapa menit yang telah berlalu.
"Via! lo kenapa?" celetuk Mira.
Via mengangkat wajahnya, dengan pandangan sayu menatap Mira yang kini mengangkat sebelah alisnya. Seperti ingin menanyakan suatu hal dan harus Mira dapatkan.
"Jangan kepo lo."
"Ya, ya, lo ada masalah sama ibu tiri lo?" tanyanya.
Via menggeleng kepalanya. Kurang kerjaan banget hidupnya ada urusan dengan wanita ular itu.
"Ngak ada, ngapain? masalah gue banyak ngak harus tentang dia doang."
"Hem. Terus lo sedih karena apa? lo... seperti ...." Mira memicinkan matanya. "Orang yang lagi galau."
"Galau kenapa?" kilah Via lemah.
Gadis itu juga tidak tahu, mengapa dirinya masih memikirkan perkataan Rayhan kemarin.
Padahal pria kejam itu sudah terbiasa membuatnya sakit hati, baik fisik maupun batin.
"Via! Via!" Mira menggoyang tubuh Via.
"Iya," balas Via masih terlihat lesu.
Ahh! dasar pria kejam dan angkuh. Berulang kali Via mengumpat dalam hati, agar melupakan perkataan pria itu. Tapi ... tidak bisa. Itu sangat menyakitkan dan membuat Via merasa tidak pernah diinginkan di dunia ini.
__ADS_1
Selama ini Alfredo tidak pernah menyayanginya. Via tidak pernah diberikan kasih sayang sedari kecil.
Dan sekarang suaminya sendiri.
"Via! Kalau ada apa-apa. Lo cerita sama gue. Ngak harus seperti ini," ujar Mira dengan suara parau.
Mira tahu hidup Via tidak pernah baik-baik saja selama ini. Tidak sepertinya yang memiliki orang tua lengkap yang menyayanginya.
"Makasih, Mir." Via tersenyum dan memeluk bahu Mira dengan lembut.
"Jangan sedih lagi, dong."
Via mengangguk, namun terbesit rasa bersalah di hatinya yakni merahasiakan pernikahannya dengan pria itu. Via menghela nafas. Suatu hari nanti, pasti Via akan menceritakan nya.
"Oh ya, lo ngak merasa aneh sama Raja?" tanya Mira.
"Kenapa emangnya?"
"Sepertinya Raja suka deh sama lo."
Sontak membuat bola mata Via melebar sempurna. "Jangan ngarang deh, lo. Mana ada? Mungkin ... dia suka sama lo."
"Kok jadi gue, sih?"
"Lo duluan."
"Gue serius, Vi."
"Dahlah, ngak lucu tahu."
"Via! Lo aneh, deh."
"Aneh kenapa lagi sih, Mir?" Ingin sekali Via mengeplak kepala Mira yang tiada henti nya mengeluarkan kata-kata yang membuatnya sangat kesal.
"Kemarin sebenernya gue lihat lo masuk ke dalam mobil mewah. Kalau gak salah mobil warna hitam, terus ada dua pria dewasa memakai jas hitam."
Deg! Jantung Via berdetak lebih kencang. Jangan bilang. Mira telah mengetahui rahasianya? Ahh!
Apakah sekarang sudah waktunya? Menceritakan semuanya?
****
menatapnya dengan wajah merah padam dan tatapan tajam.
"Kenapa kau melakukannya? Bukannya itu berada di luar perjanjian kita?!" sentak Alfredo mengatur kesabarannya.
Dia tahu, Rayhan bukan pria baik hati yang akan membiarkan mangsanya lepas ketika marah kepada orang lain, sekalipun itu mertuanya sendiri. Rayhan sangat kejam dan tidak akan segan-segan menghancurkan hidupnya.
"Kau menentangku?"
Alfredo bungkam. Glen yang sekarang berada di samping Rayhan segera menyodorkan sebuah berkas kepadanya. Dengan ragu Alfredo mengambilnya.
"Tuan Muda telah menyiapkan semua berkasnya. Anda memiliki waktu tiga detik dari sekarang."
Alfredo mengepalkan tangannya. Namun ia segera menandatangani nya dan memberikannya kembali
kepada Glen. Dengan senang hati, Glen menerimanya.
"Tuan Muda memiliki saham yang lebih besar di perusahaan itu. Jadi, kau jangan seenaknya menguasainya. Apabila perusahaan dilaporkan merugi. Maka, kau sendiri yang akan menerima konsekuensi nya, Tuan Alfredo yang terhormat."
Alfredo segera mengangguk, walaupun sebenarnya ia sangat keberatan dengan keputusan ini.
Jelas-jelas itu perusahaan berada di tangannya sejak kematian sang istri.
"Bukannya, saya adalah mertuamu, Tuan Muda?"
"Tuan Muda telah berbaik hati memberikan Anda kesempatan bekerja di perusahaan itu. Dengan jumlah saham yang sangat minim."
Alfredo tidak bisa berkutik.
Namun setelah ini ia akan menelpon Via untuk membujuk suaminya agar perusahaan itu kembali atas miliknya seorang.
'Lihat saja! Aku akan menguasai perusahaan ku kembali.'
"Hallo, Pa?"
__ADS_1
Malam ini, Alfredo menelpon. Membuat hati Via menghangat. Sejak pernikahannya, Alfredo tidak
pernah mengabarinya. Dan Via tidak memiliki keberanian hanya untuk sekedar menekan tombol untuk menelepon Alfredo.
"Via!"
"Iya, Pa. Via sangat merindukan papa. Via...."
"Kamu harus membantu, papa!!
Mendadak hati Via tidak enak. Bantuan apa lagi? Bukannya Via telah mengorbankan dirinya untuk
perusahaan? Pasti ini masalah besar.
"Via akan melakukannya kalau Via mampu, pa."
"Bagus! Kamu harus membujuk Rayhan agar memberikan papa surat kuasa kepemilikan perusahan yang papa tandatangani tadi pagi."
"Maksud papa bagaimana?" tanya Via dengan suara lemah."
"Kamu kuliah menghabiskan banyak biaya untuk apa? Kalau hanya berpikir mengenai ini saja tidak bisa."
Via tidak sakit hati mendengarnya. Karena dia sudah terbiasa mendengarnya. Bahkan dulu Alfredo selalu mengatainya bodoh dan anak tidak berguna. Hanya merepotkan nya dan tidak membanggakan.
Padahal dari dulu Via selalu saja mendapatkan juara kelas dan sekarang masuk ke universitas
terbaik di daerahnya.
"Via!" bentaknya, membuat Via segera tersadar.
"la, pa. Via akan membujuk Rayhan nanti malam."
"Baiklah! Papa menunggu kabar baiknya."
"Pa! Via merindukan papa." Sambungan telah terputus. Via menghela nafas pelan. Kenapa?
Via harus merasakan hidup sesakit ini? Via tidak memiliki siapapun di dunia ini.
"Kenapa mama tidak bawa Via saja? Kenapa harus mama yang berkorban."
"Via!" Suara serak nan basah itu kembali menyapanya. Via segera berbalik dan bangkit dari sofa dan menghampiri suaminya yang sekarang telah pulang bekerja.
Rayhan menatapnya tajam. Via dengan telaten menunduk dan membuka jas suaminya. Setelah
itu berjongkok untuk menaruh sepatu Rayhan di rak paling bawah.
"Saya telah menyiapkan air hangat untuk, Tuan Muda." Rayhan tidak mengeluarkan kata-kata. Pria itu melangkah dan masuk ke dalam kamar mandi.
Via mengatur debaran jantungnya. Dan merapikan pakaian suaminya. Setelah itu mencari pakaian yang bersih.
Via merasakan sesak di dadanya. Tak sengaja ia meneteskan air matanya ketika hendak menutup pintu lemari kaca itu.
Kedua netra itu mengembun mengeluarkan cairan bening. Via segera menyeka air matanya dengan cukup kasar dan berbalik. Namun pria itu sudah berdiri di depannya dengan tubuh yang menjulang tinggi hampir menabrak tubuh mungil Via.
"Minggir!" Tubuh Via terdorong dengan kasar.
"Saya telah menyiapkan pakaian untuk, Tuan Muda."
Rayhan hanya menatapnya sekilas dan mengambil pakaiannya sendiri. Tumpukan pakaian yang telah ia susun dengan rapi sekarang telah berantakan
dibuatnya.
Via tahu. Rayhan sengaja melakukannya. Apalagi telah memergokinya menangis. Pasti Rayhan akan semakin semangat mengguncang kehidupannya lebih menyakitkan lagi.
"Jangan mengeluarkan air mata palsu mu untuk membujukku melakukannya."
Deg! Via menatap Rayhan dalam.
"Maksud Tuan Muda apa?"
"Alfredo telah menyuruh putrinya yang tidak diharapkan. Membujuk suaminya agar memberikan kuasa kembali kepadanya."
"Tuan Muda! Saya .."
"Jangan harapkan aku akan mengabulkannya! Ingat posisimu kalau kau lupa."
__ADS_1
Posisi Via tidak sebagai nyonya muda dan istri Rayhan. Namun hanya mainan yang bebas pria itu siksa dan akan dibuang setelah bosan.
"Baik, Tuan Muda."