Istri Kesayangan Tuan Muda Arrogant

Istri Kesayangan Tuan Muda Arrogant
32. Perhatian Tuan Muda


__ADS_3

"Aku yang akan mengantarkan mu ke kampus."


Via mengangguk dan mengambil tas punggungnya.Mereka masuk ke dalam satu mobil. Glen menyalakan mobil, dan melajukannya dengan kecepatan sedang.


"Jangan dekat dengan manusia berjenis kelamin laki-laki."


"Kalau dosen?" tanya Via.


"Kecuali tenaga pengajar. Namun, apabila mereka berani macam-macam. Maka mereka akan tahu akibatnya."


"Ya, Tuan Muda. Tidak ada dosen yang seperti itu."


"Mereka bosan hidup, kalau berani melakukannya."


Siapa juga yang ingin berurusan dengan keluarga Crowel. Sebaiknya mereka segera menjauh,agar tidak mendapatkan masalah yang sangat besar.


"Bagaimana dengan, Chika?" cicit Via takut.


"Kenapa kau bertanya tentang dia?"


"Saya hanya ingin Chika tidak memutuskan masa depan nya, Tuan Muda. Chika tidak akan melakukannya kembali."


"Kau berani menjaminnya?"


Via mengatupkan mulutnya. Chika tipe gadis yang keras kepala dan pembangkang


"Bagaimana?"


"Saya...."


"Sudahlah, Via. Jangan mengurusi kehidupan orang yang menyakiti mu. Mereka pantas mendapatkannya. Bahkan mom, menyetujuinya."


"Mom Paula?" gumam Via.


"Ya, Mom bahkan menyuruhku untuk membuat keluarga mereka menderita selamanya."


"Jangan melakukannya!"


"Kau ingin menentang perkataan mom?"


Via mengigit bibir bawahnya dan menggelengkan kepalanya. "Tidak, Tuan Muda."


"Fokus dengan kuliahmu. Nyonya muda Crowel harus memiliki pendidikan yang tinggi, tidak hanya lulusan SMA."


Via menghela nafas pelan dan mengangguk.Via tahu mom Paula wanita yang sangat hebat. Melanjutkan S2 ke salah satu universitas di Amerika.Dan masuk ke dalam jajaran wanita hebat setiap tahunnya.


"Boleh saya melanjutkan S2 ke Amerika?"


"Aku sudah menyiapkan semua kebutuhan pendidikanmu Via.Tidak dengan ke luar negeri.Kau ingin bertemu dengan Raja di Sana?"


"Tidak, Tuan Muda. Kan, Raja tidak berada di sana."


"Jangan berani kembali menyebut namanya di depan ku!"


Bukannya tadi, dia sendiri yang lebih dulu menyebut nama Raja,huh.


"Kau masih mengingat ajaran tata krama, Via?" tekan Rayhan. "Atau ingin bersekolah kembali?"


"Masih, Tuan Muda. Tidak boleh melawan dan menampilkan wajah kurang sopan di hadapan suami."


"Glen, mengajarkanmu sangat baik. Tidak sia-sia kau belajar selama ini."


"Ya, Tuan Muda. Saya kan, cerdas." Via berbangga diri.


Membuat Rayhan menatapnya datar kembali.


***

__ADS_1


Via turun dari mobil Rayhan. Namun ia tiba-tiba merasakan suasana kampus terasa sangat aneh. Mereka tidak berani sekedar mengeluarkan suara, ketika dirinya berjalan di hadapan mereka.


"Ada apa dengan mereka? batin Via merasa canggung kalau seperti ini.


Bahkan dosen yang melewati Via, sangat menghormati gadis itu. Membuat dirinya tidak suka. Pasti ini karena masalah kemarin. Setiap langkah Via melewati kerumunan. Pasti mereka tidak berani bersuara. Dan ketika Via telah melewati nya. Baru mereka melanjutkan obrolannya.


"Eh, Via!" panggil teman kelasnya.


"Kursi untuk lo!" Via mengangguk dan duduk di dekat Mira, yang kini sibuk mencatat.


"Mereka semua aneh." Via menaruh tasnya di atas meja, dan menangkup wajahnya lesu.


"Tapi gue suka lihatnya. Nggak ada yang berani sama lo lagi."


"Ngak seperti ini juga, Mir. Risih gue lama-lama."


Lihat saja ekspresi mereka semua di kelas ini, ketika Via memandang mereka. Mereka langsung menunduk, dan tidak lagi bersuara.


"Siapapun yang menjadi istri tuan muda, maka otomatis telah menjadi seorang ratu."


"Berlebihan," sinis Via. Membuat Mira terkekeh geli, melihat raut wajah Via yang cemberut.


***


"Makanan apa itu?" tanya Rayhan, ketika melewati Via di ruang tengah. Gadis itu asik memakan jajanan luar, yang terlihat tidak sehat dan bergizi.


"Gorengan, seblak, sama es Boba rasa coklat."


Rayhan menghampiri nya, dan menatap Via dengan wajah datar.


"Dimana kau membelinya? Tidak higienis pastinya."


"Higienis kok, Tuan Muda. Memangnya kenapa?" tanya Via polos. Dia dari dulu suka dengan jajanan seperti ini. Murah namun nikmat.


"Di pinggir jalan. Sama sopir pastinya, ketika pulang tadi."


Via melebarkan matanya. "Tuan Muda, mau? Dari pada marah-marah tidak jelas."


Rayhan menatap gorengan yang Via sodorkan kepadanya. Terdapat banyak minyak, bahkan sampai tumpah ditangan Via.


"Kau makan saja sendiri."


Via mengangguk dan memasukkannya ke dalam mulutnya, beserta cabe hijau yang masih segar. Membuat matanya menyipit, karena merasakan gurih dan pedas secara bersamaan.


"Jangan memakannya lagi, Via. Ini untuk yang terakhir kalinya."


"Nggak mau."


"Besok aku akan menyuruh bibi tua, membuat kan mu salad buah untuk kau makan."


"Nggak suka."


*Via!" desis Rayhan dingin. Via memutar bola matanya malas dan mengangguk.


"Kau masih mengingat ajaran tata krama?"


"Hem. Maaf, kalau saya kurang sopan. Bukannya sesuai perjanjian, Tuan Muda tidak akan mencampuri urusan saya yang lain?"


"Tidak untuk sekarang. Alfredo benar-benar menjualmu kepadaku."


"Bisa tidak, Tuan Muda jangan mengatakan kalimat menjual. Saya bukan barang."


"Itu fakta, Via. Dan jangan lagi menangisi pria tua serakah itu di hadapanku."


Via menghela nafas pelan. Benar kata Rayhan, Alfredo tega menjualnya dan Via tidak menerima kenyataan pahit itu selama ini. Dia menangisi Alfredo karena merindukannya. Namun Alfredo tidak peduli sama sekali.


"Kau memakan makanan pedas?" sungut Rayhan kembali bersuara.

__ADS_1


"Iya, Tuan Muda. Biasanya kalau sedang tamu bulanan, makanan ini menjadi nutrisi."


"Cepat habiskan dan segera beristirahat. Aku harus


mengerjakan beberapa berkas-berkas penting."


"Baik, Tuan Muda."


Rayhan bangkit dan meninggalnya. Via kembali dengan semangat menyantap makanannya, sembari menonton acara televisi.


"Cerewet sekali tuan muda."


****


"Bibi Tua," panggil Via menghampiri wanita tua itu, yang terlihat menyiapkan makan malam.


Gerakannya terhenti dan menoleh ke arah Via, yang kini berdiri di


sampingnya.


"Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?"


"Mau bertanya saja, mengenai bibit bunga yang akan segera dikirim besok pagi."


"Besok pak sopir yang akan membantu Nyonya menaruhnya di taman."


Via mengulas senyum dan bernafas lega. "Bibi Tua, apakah keluarga Crowel di bolehkan berpoligami?"


Wanita itu menatap Via dalam.


"Itu akan mustahil terjadi." Suara bibi tua tiba-tiba dingin.


"Melanggar buku tata krama keluarga Crowel."


"Tapi, tuan muda kan memiliki Seorang gadis idaman lain."


Bibi tua mengetahui segalanya mengenai keluarga Crowel. Jadi Via tidak canggung menceritakan semuanya. Walaupun raut wajah bibi tua terlihat tidak suka dengan perkataannya sedari tadi.


"Apabila hal itu terjadi, lebih baik salah satu di antara kalian mengalah."


"Kenapa?" tanya Via parau.


"Tuan besar dan nyonya, sudah menyetujui pernikahan tuan muda Rayhan dan Nyonya Via. Apabila ada yang mengusik, maka orang itu akan disingkirkan secepatnya."


Tubuh Via menegang hebat. Via mengigit jarinya dan bergerak gelisah. Via tidak mau Rayhan berpisah dengan peri kecil yang bertahun-tahun dia cari


keberadaan nya, hanya karena dirinya. Orang baru yang masuk di antara mereka.


"Nyonya tidak kenapa-kenapa?"


"Tidak, Bi. Terimakasih."


Bibi tua melanjutkan pekerjaannya. Sedangkan Via mengambil air dingin di kulkas dan meminumnya


hingga kandas. Tiba-tiba tenggorokannya terasa kering mendengar fakta itu.


'Apakah Via harus mengalah? Walaupun perlahan hati nya kini telah diambil alih oleh tuan muda. Gue ngak mau membuat mereka pisah dan menderita karena kehadiran gue. Gue tahu, semua kebahagiaan ini hanya bersifat sementara. Karena semuanya bukan milik gue. Termasuk suami gue sendiri.'


Hingga gelas yang ia genggam tiba-tiba terjatuh, membuat semua orang terkejut. Tanpa menunggu


siapapun, Via langsung berjongkok dan membersihkan beling gelas yang berserakan.


Namun karena melamun. Tiba-tiba Via tersentak, karena merasakan ujung jarinya seperti tersengat, hingga aliran darah nya menurun.


"Argh!" Via meringis merasakan nyeri di ujung jarinya.


"Apa yang terjadi?!" bentak Rayhan tiba-tiba. Membuat para pekerja memucat.

__ADS_1


__ADS_2