
Pandangan Via kosong, bahkan memutih.Melihat berita di televisi mengenai kekacauan pesta tadi malam.
Jantung Via memompa jauh lebih kencang. Bahkan di tayangan berita lokal terdapat beberapa korban dan banyak tamu yang luka-luka.
"Kenapa?"
Via tersentak. Dengan wajah pucat dan bibir bergetar. Dia berbalik memandang tuan muda yang sekarang berdiri di belakangnya, rapi dengan jas kerja.
"Tuan Muda jahat, hiks. Kenapa?" racau Via menangis sesegukan. Rayhan menghela nafas pelan dan menghampiri Via jauh lebih dekat.
"Mereka yang bodoh."
"Dit-Dita ngak apa-apa, kan?" tanya Via menatap Rayhan menuntut penjelasan.
"Keluarganya selamat."
Via bisa bernafas lega. Namun bagaimana dengan mereka yang menjadi korban dan terluka? Via tidak habis pikir dengan Rayhan. Via bisa bernafas lega. Namun bagaimana dengan mereka yang menjadi korban dan terluka? Via tidak habis pikir dengan Rayhan. Egois!
"Pasti Tuan Muda telah mengetahui semuanya, kan?
Makanya kita pulang lebih cepat. Dan kejadian penyerangan itu terjadi beberapa menit setelahnya."
Via menghapus air matanya sangat kasar. Penyerangan terjadi oleh anggota mafia, musuh dari keluarga Angkasa yang menjadi pesaing bisnis mereka.
Berita telah menyebar luas. Namun keluarga Angkasa selamat, tanpa ada luka sedikitpun.
Mereka semuanya sangat egois dan mementingkan diri sendiri.
Banyak sekali manipulasi dalam dunia bisnis, kebodohan yang tiada gunanya, akan terperangkap
dalam ruang lingkup mereka.
"Via! Aku telah melihat tanda-tanda mereka mengawasi kita dan akan melakukan penyerangan."
"Tapi kenapa Tuan Muda tidak memberitahu kan semuanya? Bukannya Tuan Muda penguasa?"
"Tidak semudah itu, Via. Jumlah kita terbilang sedikit. Mereka telah merencanakannya sangat matang."
Rayhan tidak ingin mengambil resiko, dimana Via berada di sampingnya. Hingga tidak ingin ikut campur. Menyerang mafia tidaklah mudah. Mereka terlatih, Rayhan harus menyiapkan semuanya dengan sangat matang terlebih dahulu, agar anak
buahnya tidak terluka.
"Kau menginginkanku terluka?"
"Bukan seperti itu, Tuan Muda. Tapi mereka pasti kesakitan."
Sebenarnya, dari awal memasuki aula dan ketika dia menyampaikan sambutan,. Rayhan telah mendeteksi semuanya akan terjadi.
"Mereka bergabung bersama kita. Setiap keluarga, dua orang yang mengawasi."
Via terpaku mendengarnya.
"Bagaimana Tuan Muda mengetahuinya?"
"Tato dileher mereka."
"Berarti kita di awasi oleh dua orang?"
Rayhan mengangguk, membuat tubuh Via menegang hebat
Kemanapun mereka melangkah, tidak luput dari pengawasan mereka.
"Mereka tidak mengejar kita?"
"Pasti tidak mudah terlepas dari mereka semuanya.
Glen! Telah membereskan semuanya."
Setelah mobil mereka keluar dari area gedung. Glen membuntuti dari belakang. Namun tidak lama,
suara pistol menghantam kaca mobil yang di kendarai Glen dan anak buah Rayhan.
Glen berhenti dan melawan mereka berdua. Sedangkan Rayhan segera melajukan mobilnya lebih kencang. Karena Via tidak boleh mengetahuinya.
"Terus Glen selamat?"
"Kau meragukan dia?"
"Tidak! Saya hanya takut Glen terluka."
"Kau peduli kepadanya?"
"Dia kan, sekretaris dan asisten Tuan Muda. Apakah Tuan Muda tidak khawatir?"
"Dia baik-baik saja."
Via bernafas lega. "Syukurlah kalau seperti itu." Via mengulas senyum.
"Kau tahu, Via. Ungkapanmu semalam membuatku tidak fokus dalam bekerja."
"Maksudnya?" Via mengerenyitkan dahinya bingung.
"Lupakan."
__ADS_1
"Tuan Muda!" Via ingin bertanya kembali.
Namun Glen memanggil tuan muda. Membuat Via kembali menelan ucapan yang akan keluar dari mulutnya.
Mereka meninggalkan Via yang kini sendirian duduk di sofa ruang tengah, di depan televisi.
Namun Via langsung bangkit dan berlari untuk mengejar mereka. Via harus mengantarkan suaminya hingga keluar pintu utama.
"Hati-hati, Tuan Muda, Glen." Via melambaikan tangannya.
Membuat mereka saling memandang.
"Hem."
Mereka masuk ke dalam mobil dan keluar dari gerbang utama. Via bernafas lega. Namun biasanya
kalau dia tidak mengantar tuan muda hingga ke pintu utama, pasti dia akan marah. Namun sekarang
mengapa berbeda? Bahkan hidup Via terasa membosankan karena semua tugasnya dihapuskan.
Bayangkan saja, betapa anehnya tuan muda.
"Nyonya, akan berangkat ke kampus?" tanya supir pribadi tuan muda yang baru.
Tapi untuk apa tuan muda mencari sopir pribadi? Bukannya sudah ada Glen, yang mengantarkannya kemana-mana?
"Nyonya!" panggil pria paruh baya itu.
"Iya, Pak. Ada apa, ya?"
"Tuan Muda memerintahkan saya, untuk mengantarkan Nyonya kemanapun."
Via terperangah mendengarnya. Jangan bilang, sopir pribadi itu untuknya? Kalau seperti ini, Via tidak bebas merencanakan sesuatu dan kabur.
"Say-saya bisa sendiri, Pak. Jadi"
"Mohon maaf, Nyonya. Saya tidak ingin mengambil resiko Anda kenapa-kenapa. Jadi jangan memberatkan pekerjaan saya."
"Saya ke dalam dulu, mau ambil tas dan buku."
"Saya menunggu di depan."
Via mengulas senyum dan mengangguk. Dia berbalik dan langsung berjalan menuju kamar.
***
Sedari tadi, Via tidak mengalurkan suara. 'Supirnya kok galak banget, batin Via melirik pria paruh baya
itu yang tengah fokus menyetir.
"Hem, Tidak. Memangnya kenapa?"
"Maafkan saya, kalau saya lancang memaksa, Nyonya. Sebenarnya saya tidak berniat melakukannya. Namun saya membutuhkan pekerjaan ini. Kedua anak saya akan segera masuk sekolah."
"Tidak apa-apa, Pak. Saya mengerti posisi seorang ayah yang bekerja keras mencari nafkah untuk anak-anak nya."
"Terima kasih atas pengertian nya, Nyonya."
"Sama-sama. Hem, nanti saya akan bicara ke suami saya, mengenai gaji pertama Bapak. Biar dikasih dua kali lipat."
Pria bayuh baya itu mengucap syukur berulang kali dan terharu mendengar nya. Walaupun istri dari tuan muda, terlihat masih belum dewasa. Namun rasa empatinya kepada seseorang sangat besar.
'Andai papa gue sebaik bapak ini. Rela bekerja keras demi anak-anaknya, batin Via menghela nafas pelan.
"Sepertinya para wartawan ingin mengklarifikasi mengenai pernikahan Anda, Tuan Muda."
Banyak wartawan berada di depan perusahaan. Mereka menunggu Rayhan keluar dari mobilnya. Glen keluar lebih dulu dan mengitari mobil, membuka pintu untuk tuan muda.
Melihat tuan muda yang keluar dari mobil. Mereka langsung berlarian menyerbunya. Glen menghalangi mereka untuk menyentuh tuan muda dan menghalangi jalan masuk.
"Tuan Muda, apakah Nyonya Via benar istri, Anda?"
"Nyonya Via masih kuliah, kan, Tuan Muda?"
"Umur Anda terpaut jauh dengan istri, Anda."
"Tuan Muda!" Mereka berteriak ketika Rayhan tidak
menanggapinya.
"Glen jelaskan kepada mereka."
Glen mengangguk. Rayhan masuk ke dalam kantornya dikuti oleh dua satpam yang berjaga dan
segera menutup pintu.
"Memang benar, Tuan Muda dan Nyonya Via dari keluarga Pratama telah menikah."
"Dan mengenai umur. Tidak seperti yang kalian bayangkan."
"Ada yang perlu diperjelas?!"
"Tuan Glen, apakah tuan muda telah lebih dulu mengetahui penyerangan yang terjadi semalam di pesta keluarga Angkasa?"
__ADS_1
Glen tidak menjawab pertanyaan mereka. Dia mundur perlahan dan masuk ke dalam kantor.
Membiarkan mereka semuanya berteriak memanggilnya. Menjawab pertanyaan mengenai
penyerangan, di luar kuasa Glen.
Karena Glen juga belum mengetahui bagaimana bisa tuan muda memprediksi bahaya yang mengancam.
Insting Glen sangat lemah. Membuatnya harus banyak berlatih. Untung tuan muda memiliki insting yang sangat kuat sedari dulu.
Di sisi lain. Rayhan menjauhkan ponselnya tatkala Paula menelepon dengan suara yang membuat telinga Rayhan sangat sakit.
"Kami selamat, mom. Jangan membesarkan masalah."
"Syukurlah, kalau menantu kesayangan mom selamat. Tapi bagaimana bisa?"
"Jangan mempertanyakan hal yang sudah mom tahu jawabannya."
"Iya, iya, kamu ini. Terus Via tidak sakit atau demam karena terkejut dengan berita itu?"
"Tidak, mom. Walaupun sedikit marah kepada Rayhan."
"Kasihan menantu mom. Kamu juga, jangan menakuti istrimu."
"Kenapa mom hanya khawatir dengan Via? Tidak dengan Rayhan?"
"Kamu baik-baik saja, kan? Kamu juga tidak pernah terluka kalau kasusnya seperti ini."
"Iya, mom."
"Ya sudah, semangat kerjanya sayangnya mom. Jangan lupa cucu."
"Baik, mom."
Sambungan terputus. Helaian nafas berat Rayhan terdengar. Apapun akan dia lakukan untuk Via, karena Via segalanya untuknya.
"Apakah sudah saatnya menjelaskan semuanya kepada Via?"
****
"Lo udah siapin semuanya?" tanya Mira.
Via mengangguk lesu. "Tapi, tuan muda udah ngak lagi nyari dia. Ngak tahu jugak."
Akhir-akhir ini, Via tidak mendengar peri kecil disebut oleh Glen lagi. Mungkin sudah ketemu namun mereka mempersiapkannya.
"Lo cinta sama tuan muda?" tanya Mira menyelidik.
"Siapa yang gak sayang sama suaminya, Mir. Sekarang dia bersikap sangat manis sama gue.
Jujur, gue memang ada perasaan sejauh ini."
"Lo yang sabar, Vi. Andai peri kecil itu nggak ada. Pasti hubungan lo sama tuan muda sangat sempurna."
"Gak boleh ngomong gitu. Biar bagaimanapun, peri kecil yang menyelamatkan tuan muda. Seperti berhutang nyawa."
Mira mengangguk. "Terus gimana?" tanya Mira lagi.
"Gue memutuskan untuk meninggalkan tuan muda dan kembali ke rencana awal. Biar bagaimanapun, gue gak mau perasaan gue semakin besar."
Mira mengangguk. "Lo sudah persiapkan semuanya?"
"Sudah, dari tempat tinggal dan juga usaha yang akan gue bangun esok."
"Emang lo mau bangun usaha apa?"
"Hem, sapi perah dan juga peternakan ayam."
Mira membekap mulutnya karena menahan tawanya. "Beneran? Lo mau usaha itu semua? Gak
nyangka gue hahaha."
"Ada yang lucu?" desis Via menatap Mira tajam.
"Ya, nggak sih. Tapi kan bau."
"Sudahlah. Lo besok temenin gue ke terminal kalau sudah semuanya siap."
"Huaaa... gue sama siapa terus?Raja dah pergi."
"Untuk sementara waktu. Hingga keadaan aman."
"Terus kuliah lo gimana?"
"Lewat online. Gue nanti lapor ke universitas."
Mira menganggukkan kepalanya.
"Sayang banget sama lo, Vi. Andai lo saudara kandung gue. Pasti hidup lo gak akan semenyedihkan ini."
Via menghela nafas berat. "Sudah takdir, Mir. Jaga diri baik-baik, kalau gue pergi. Ini keputusan gue. Dan ngak akan ada yang bisa ganggu gugat. Gue tahu, ngak ada yang mengharapkan gue selama ini.
Hanya Raja dan Mira. Semoga tuan muda bahagia kalau memang benar telah menemukan dia."
__ADS_1
Mira memeluk Via sangat erat.
"Semoga tuan muda nyesel, kalau lo telah pergi dari sisinya. "