
"Mohon maaf Nyonya, apakah boleh saya meminta nomor pribadi Anda?" Ucap Salsa dengan senyuman manis dan menatap Via lembut.
Ketika hendak menganggukkan kepalanya, dan membacakan nomornya. Rayhan, langsung menghalanginya dan menatap dingin wanita itu. "Anda lebih mengerti, arti kata pribadi dan privasi."
"Bu Salsa, hanya ingin berteman, Ray.
Via menghela napas pelan karena yang meminta nomor nya bu salsa,seorang wanita karir yang sangatlah hebat.Bukan juga seorang pria yang ingin merayunya. Kenapa Rayhan marah kepada wanita baik itu.
"Istri saya, tidak memiliki banyak waktu untuk berteman dengan orang asing."
Salsa begitu sakit hati mendengarnya. Bagaimana,seorang Rayhan begitu menjaga wanita nya dari siapapun. Dia mempertahankan wajah ramahnya dan menganggukkan kepalanya karena mengerti.
"Mohon maafkan saya, Tuan Muda. Saya tidak akan lancang kembali."
Rayhan tidak menanganggapinya dan memberikan Glen isyarat untuk memberikan ruang kepada mereka keluar dari sana.
Waktu pertemuan mereka telah habis. Glen, menggiring Salsa dan asistennya keluar dari ruangan itu.
Ketika hendak menutup pintu, Salsa kembali memperhatikan pasangan itu dalam diam,dan menundukkan kepalanya.
'Wanita itu sangat beruntung mendapatkannya.'
Setelah suasana sepi, Rayhan mengecup bibir sang istri lama,membuat Via tersentak dan menetralkan detak jantungnya yang tiba-tiba memompa begitu cepat.
"Nakal," lirih Via dan tersenyum kearah suaminya.
"Apa yang kamu pikirkan Sayang?" Tanya Rayhan. Via tidak boleh banyak pikiran, apalagi memikirkan sesuatu yang tidak penting.
"Tidak ada, Ray. Hanya kagum saja dengan Bu Salsa. Dia sangat elegant dan cerdas."
Rayhan mengusap wajah sang istri dan menatap manik mata Via lebih dalam. "Sayang! Apapun yang
kamu lihat sekarang, semuanyabbutuh proses yang panjang".
"Kan sekarang, kamu sedang kuliah dan menuntut ilmu. Jadi, besok kamu akan menjadi lebih dari siapapun."
Via yang tadinya merasa terpukul, jadi lebih bersemangat karena suaminya sangatlah pengertian kepadanya.
"Ray sangat bijak."
"Jangan memikirkan hal apapun yang membuatmu, merasa bersedih. Sebab, aku tidak menyukainya."
"Sekarang, kamu ingin makan apa, hmm? Sebentar lagi makan siang."
Via berpikir sejenak dan mengusap perutnya yang masih rata. "Hanya ingin makan-makanan yang sehat.
"Aku serahkan kepadamu, Ray." Rayhan memeluk Via dengan erat, karena dia sungguh sangat mencintainya.Namun,mengapa istrinya selalu saja, membandingkan dirinya dengan orang lain yang tidak seberapa dengannya.
Via itu cantik dan manis. Via peri kecilnya yang kuat dan penyayang. Via wanitanya yang cerewet namun selalu rendah hati.
"Ray! Perlakuan mu sangat manis sedari tadi. Ada apa?" Tanya Via bingung
"Hanya ingin menyakinkan, bahwa semuanya baik dan akan selalu baik hingga akhir. Tidak ada yang akan berubah. Baik, hati dan perasaanku selamanya, Sayang..
"Aku jadi terharu mendengarnya."
"Kata-kata ku memang serius dan tidak akan bisa diragukan lagi."
"Bukan karena itu."
Rayhan menatap Via dengan alis yang terangkat. "Kenapa?" Tanya pria itu singkat.
"Sangat panjang."
"Panjang?"
"Iya, penjelasan mu sangat panjang, Ray. Biasanya singkat sekali, dan aku senang dengan hal itu."
__ADS_1
Kepada orang lain suaminya cuek. Namun, kepadanya sangat baik dan banyak bicara. Sungguh
beruntung, Via mendapatkan suami seperti Rayhan, walaupun menyadarkan pria itu mencintainya menerjang badai yang sangat panjang
"Jodoh tidak kemana."
***
"Kenapa mereka memperhatikanku seperti itu? Aku
tidak nyaman, Ray. Apakah aku gendut karena hamil? Atau karena terlihat kusam dan tidak cocok
duduk berhadapan denganmu yang tampan?"
Via mendengus karena suaminya terlihat sangat tampan dan juga berwibawa. Sedari tadi, banyak pengunjung restoran yang mencuri pandang ke arah mereka, khususnya ke suami tampannya.
"Aku tidak selera makan. Terserah."
Derita memiliki suami tampan, banyak naksir dan merasa tersaingi. Padahal Via telah resmi terikat dengan Rayhan, namun tetap saja dirinya takut suaminya akan berpaling kepadanya. Via menekuk wajahnya di meja tersebut.
"Aku tidak suka berada di sini. Mau di kamar saja,
makannya."
"Glen! Kosongkan restoran ini! Istriku tidak nyaman di keramaian."
Via menatap suaminya tidak percaya. Maksudnya, ingina mengusir mereka semuanya gitu? Karena dirinya tidak suka dilirik sinis oleh kaum wanita yang menyukai suanminya.
Glen segera menjalankan perintah Rayhan. Pria itu berjalan dengan langkah lebar menuju ke manager
restoran tersebut, dan memberikan perintah tegas dalam dua puluh menit menjalankan tugas. Manager terlihat ketakutan dan mengumpulkan semua satpam.
Tidak berselang lama, restoran tersebut akhirnya sepi dan sunyi. Menyisakan Rayhan dan Via yang
duduk di tengah-tengah meja yang tidak terisi.
"Masih ingin menolak makanan?" Tanya Rayhan lembut, dan menyuapi sang istri dengan telaten.
"Mantap, Ray. Besok, sekalian beliin restoran besar ini untuk kita makan berdua saja."
Via hanya bercanda. Namun Rayhan menanggapinya dengan wajah serius.
"Glen! Siapkan berkas untuk pembelian restoran ini."
"Sudah aku duga. Pasti akan berakhir seperti ini." Via
tersenyum manis tanpa merasa bersalah.
"Besok sekalian, aku ingin memelihara buaya. Pasti kamu akan beli kan, Ray? Untuk ku," tanya Via percaya diri.
"Apapun itu untuk kamu, Sayang. Ide yang bagus, untuk bersama-sama memberikan makan buaya baru."
"Bercanda, Ray. Jangan menganggapnya serius."
"Aku tidak pernah, menganggap apapun keinginan mu bercanda, Sayang.
"Aku mau makan, Ray. Jangan gombal lagi. Kamu terlihat sangat menyeramkan, walaupun tampan."
"Iya, Sayang."
***
"Katakan padaku, apakah wanita itu lebih cantik dariku?" Tanya Salsa melihat pantulan dirinya di cermin.
Asistennya hanya bisa menghela napas pelan, dan menatap nyonyanya lembut. "Nyonya lebih cantik dan elegan. Namun, wanita itu terlihat lebih muda."
"Dari dulu, aku berusaha untuk merubah semuanya, namun tetap saja usahaku sia-sia. Aku tidak akan pernah bisa mendapatkannya."
__ADS_1
Salsa menarik napas dalam-dalam dan menundukkan kepalanya.
"Kecantikan, bisa membuat seseorang terpikat. Namun, kenapa dia tidak?"
Entah dengan cara apalagi Salsa untuk menunjukkan dirinya, bahwa wanita itu pantas
bersanding dengan pria itu.
Semuanya terlambat. Usahanya sia-sia. Rayhan, pria yang dikaguminya bertahun-tahun, kini telah memiliki tambatan hati yang sangat dicintainya, dan bahkan dijaganya sepenuh hati.
Salsa sangat iri. Wajah wanita yang menjadi istri Rayhan memang cantik, namun wanita itu bahkan berpenampilan sederhana tidak elegan dan mewah.
"Kenapa aku selalu gagal? Apapun keinginan ku tidak pernah terpenuhi."
"Nyonya, Anda jangan menyalahkan diri sendiri. Bahkan, Tuhan telah memberikan hampir semuanya. Kecantikan dan harta. Jangan menyalahkan takdir, hanya karena satu keinginan Anda tidak terwujud."
"Tuan muda Rayhan memang tampan dan berwibawa. Namun, di dunia ini bukan dia saja pria
yang seperti itu. Anda, bisa mencarinya."
"Sejak dulu aku menginginkannya. Namun, disaat waktu nya telah tiba. Takdir, kembali membuatku
terjatuh karena dia telah menikah."
"Nyonya! Saya berharap. Apapun yang Anda pikirkan sekarang. Jangan sampai, membuat Anda
nekad utuk merusak kebahagiaan seorang wanita yang tengah mengandung dan merebut suaminya."
Salsa menggepalkan tangannya mendengar asistennya berkata seperti itu. "Aku harus
mengikhlaskannya? Setelah berkorban banyak?"
"Bahkan, tuan muda Rayhan tidak pernah menyuruh Anda berkorban, Nyonya. Jadi, apa yang harus Anda tuntut untuk membayar semuanya?"
Asistennya memang berani kepadanya dan tegas, karena telah lama bersamanya dan mengerti dirinya.
"Silahkan Anda beristirahat, Nyonya. Saya permisi."
Setelah kepergian asistennya. Salsa menumpahkan air matanya karena tidak bisa ditahannya.
"Sangat sakit, Ray. Bahkan, tatapan itu selalu terlihat asing kepadaku. Sampai kapanpun."
***
Rayhan menatap tajam dokumen yang diserahkan Glen kepadanya. Malam ini, pria itu mendapatkan
informasi, yang tidak dipedulikan oleh nya. Namun, ia penasaran dengan kerjaan Glen, karena memberikan kertas itu kepadanya.
"Sejak awal, saya mencurigai Nyonya Salsa ada kaitannya dengan Tuan Muda. Dan semua itu benar, Tuan Muda."
Dari tatapan nyonya Salsa yang begitu berbeda dari yang lainnya. Hingga, mengulik informasi tentang wanita itu.
Rayhan terlihat tidak perduli sama sekali. Dia melepas kasar kertas tersebut di mejanya.
"Tidak ada pengaruh sedikitpun. Lanjutkan perkerjaanmu yang lebih bermanfaat."
"Mohon maaf, Tuan Muda. Anda, tidak takut, nyonya Salsa ada maksud sesuatu menemui Anda dan terlihat sangat percaya diri."
"Apapun yang dilakukan wanita itu, tidak ada urusannya denganku. Kecuali dia menyentuh istriku. Maka, sebelum hal itu terjadi, wanita itu akan
mendapatkan penderitaan yang tidak pernah dibayangkannya."
Glen lega mendengarnya. Kesetiaan tuan muda tidak bisa diragukan lagi. Tuan mudanya sangat mencintai nyonya muda. Dan hal itu akan berlaku
selamanya. Walaupun siapapun yang datang di kehidupan mereka.
"Apapun yang kanmu pikirkan sekarang, Glen. Semua itu, bisa dilakukan oleh semua orang, kalau
__ADS_1
dia bersyukur memiliki seseorang dalam hidupnya."
"Sesuatu yang telah ku miliki. Tidak akan pernah aku lepas selamanya, dan itu istriku."