Istri Kesayangan Tuan Muda Arrogant

Istri Kesayangan Tuan Muda Arrogant
22. Terkena Pukulan dan Berdarah


__ADS_3

"Raja!" teriak Via dan Mira ketika Raja tidak lagi ingin bertemu dengan mereka berdua.


"Lo kenapa, sih?" geram Mira memegang sebelah tangan Raja dengan kasar.


Raja menghembuskan nafas kasar. Membuat dua gadis itu lama menatapnya.


"Gue gak bisa dekat sama kalian, mulai saat ini. Jadi, gue mohon menjauhlah!!"


"Lo berubah, Ja. Mana janji lo akan selalu bareng-bareng, ah?!" bentak Mira menunjuk wajah Raja dengan geram.


Via tidak memasang ekspresi apapun. Dia terlalu shock mendengar Raja tidak akan lagi ingin dekat dengan mereka. Via membuang pandangannya ke lain arah. Tak kuasa membendung air matanya.


Percayalah! Kehilangan sahabat jauh lebih menyakitkan daripada cinta sejati.


"Dan terutama untuk lo, Via. Jangan nyusahin semua orang lagi."


Plak!!


Mira melayangkan tamparan ke wajah Raja, karena berani menyalahkan Via.


Raja memegang wajahnya dengan pipi yang terlihat merah karena bekas tamparan keras Mira.


"Kita kecewa sama lo, Ja. Lo kenapa tega banget ngatain Via seperti itu? Kalau lo gak ikhlas, jangan nampakin wajah sok penolong lo di hadapan kita!"


"Gue emang gak ikhlas nolongin Via dari dulu, karena gue cinta sama dia. Tapi apa? Yang gue dapetin, dia bohongin kita dan menikah dengan pria kejam itu."


"Ja! Maksud lo apa?" tanya Via menatap Raja dan menghapus air matanya.


"Gue cinta sama lo. Jadi, kalau lo gak bales cinta gue. Gue memutuskan untuk pergi selamanya dari hidup lo."


"Lo kenapa maksa Via, ah?!" tandas Mira merasa benar-benar geram dengan Raja.


"Lo gak usah ikut campur." Seperdetik, Raja mendorong Mira sehingga mundur beberapa langkah dan menjangkau tangan Via dengan kasar.


"Lepasin, Ja!"


"Lo harus ikut gue!" bentak Raja.


Mira hendak menolong Via, namun tidak berdaya ketika Raja kembali mendorongnya hingga tersungkur ke bawah.


"Lo mau bawa gue kemana?" tanya Via was-was.


"Diam!" bentak Raja.


"Mira!" teriak Via dari dalam mobil.


Mira bangkit dan langsung mengejar Via. Namun terlambat, mobil melaju dengan kecepatan penuh.


"Ja! Lo jangan seperti ini. Gue takut."


Raja tidak mempedulikan rengekan Via. Dia fokus dengan jalanan yang akan mengantarkan mereka ke apartemen.


Sedangkan Mira, segera menelpon suami Via, karena ponsel Via terjatuh di bawahnya, disebabkan


memberontak tadi.


"Tuan muda! Saya sahabat Via. Istri Anda, di bawah oleh sahabat kami, Raja."


***


Tubuh Via dihempaskan di atas tempat tidur. Disusul dengan Raja yang sudah menutup pintu


apartemen dan langsung mengunci pergerakan Via.


Hembusan nafas kasar menerpa wajah Via. Hanya tinggal sedikit saja, mereka akan bersentuhan.


"Ja! Jangan seperti ini!" pinta Via ketakutan.


Raja bukannya mengiba, dia malah menghirup aroma mawar dan vanilla, khas dari Via yang sering gadis itu gunanakan.


Via tertegun ketika lehernya basah karena sesuatu yang menetes. Raja menangis dan terisak.


"Ja!" panggil Via.


Raja bangkit dan melepaskan Via dari kurungannya. Raja berjalan menjauh, dengan Via yang kini mulai bangun dan duduk di pinggir tempat tidur.


"Ini buat kalian berdua. Nanti sampaikan maaf gue ke Mira."


Via menatap Raja lama. Laki-laki itu telah menghapus air matanya. Dan sekarang menyodorkan dua kotak perhiasan yang berisi kalung dengan lambang bintang, bulan dan matahari.


Via mengambilnya. Raja bernafas lega melihatnya dan mengukir senyuman tipis.


"Ini hari terakhir gue di sini. Jadi, maafin gua kalau selama ini gue ada salah sama kalian berdua."


"Maksud lo apa, Ja?!" bentak Via dengan natas memburu. Via menggelengkan kepalanya. Via tidak mau orang yang dia sayang menjauh darinya dan pergi.


Via menaruh dua kotak perhiasan itu di sampingnya dan menuntut penjelasan dari Raja.


Raja menarik nafas panjang. "Tuan muda mengancam untuk menghancurkan perusahaan


keluarga gue. Karena gue dekat sama lo."


Raja mendongak dan kembali meneteskan air matanya, membuat kedua netra Via terpancing karena melihat raut wajah tertekan dari Raja, dan ikut terisak pelan.


"Kita akan selamanya bersama sebagai sahabat."


"Ja!"


"Gue akan pindah kampus ke luar negeri dan menetap di sana, bersama dengan Oma."

__ADS_1


"Ini pilihan gue dan gak ada yang bisa menentangnya!"


"Raja, Hiks. Jangan tinggalin kita. Jauh banget tahu nggak." Via bangkit dan langsung memeluk Raja dengan sangat erat. Via telah menganggap Raja seperti saudaranya. Mereka bertiga bersaudara walaupun berbeda orang tua.


"Gue akan tetap ngabarin kalian. Jangan lupain gue, ya?"


"Hiks, hiks." Via semakin terisak keras.


"Kenapa? Semua orang yang gue sayang harus pergi. Besok lo dan besoknya lagi Mira. Terus gue


sama siapa?! Jawab gue, Ja?!"


Punggung Raja basah karena air mata Via yang mengalir deras. Via menggelengkan kepalanya. Hanya mereka yang Via punya, hanya mereka. Dan sekarang menyisakan Mira.


Brak!!


Setelah pintu berhasil dibuka. Dengan rahang yang mengeras, Rayhan menatap tajam dua insan


yang tengah menumpahkan air mata dan berpelukan sangat erat. Seakan telah terjadi sesuatu.


Bugh!


"Saya sudah memperingatkan ke kamu. Jangan pernah, mendekati Via!" bentak Rayhan memukul wajah Raja membabi buta setelah pelukan mereka terlepas.


"Tuan Muda!" teriak Via. Dia segera memisahkan mereka. Lebih tepatnya menghalangi Rayhan untuk menghajar Raja yang sudah tak berdaya.


"APA YANG KAU LIHAT, GLEN?!


"TOLONG RAJA!"


Sayangnya, pria itu tidak bereaksi.


Karena Raja berhak mendapatkannya.


Mira tidak bisa berbuat apapun. Dia masih berdiri di ujung pintu dengan tubuh yang gemetar, karena salah paham dan menimbulkan keributan.


"Sudah! Jangan memukul Raja kembali."


Rayhan yang seperti kesetanan tidak memperdulikan perkataan Via dan akhirnya.


"VIA!" teriak mereka ketika Rayhan tidak sengaja memukul hidung Via, sehingga banyak darah yang menetes dan semakin deras.


Mira berlari dan menolong Via menyumpal darah di hidung sahabat nya dengan tangan dan tisu.


Rayhan menyingkirkan tubuh Mira dan langsung menggendong Via keluar dari apartemen itu.


Menyisakan Raja yang terkapar tidak berdaya di bawah lantai.


Di luar apartemen. Banyak pasang mata yang kasihan melihat ke arah Via yang kini sudah memejamkan matanya dan jatuh pingsan di gendongan suaminya.


Glen ikut berlari dan menyiapkan mobil untuk segera ke rumah sakit.


"Bertahanlah!"


Sepertinya tuan muda Rayhan Crowel telah berhasil ditaklukkan.


***


Sejak satu jam yang lalu. Rayhan tidak pernah meninggalkan Via yang masih memejamkan matanya.


"Saya telah membeli makan malam untuk Tuan Muda."


"Kapan dia akan sadar, Glen?"


"Sepertinya besok pagi, Tuan Muda. Mungkin Nyonya, ingin beristirahat lebih lama."


"Kau mendoakan dia membuka mata besok pagi?"


"Bukan seperti itu, Tuan Muda. Saya hanya memprediksinya."


"Keluarlah, Glen!"


Glen menghela nafas lelah. Memang sulit kalau berbicara dengan tuan muda. Dia selaluu serba salah.


"Tuan Muda, apakah Anda akan bermalam di sini? Saya bisa memesan hotel di dekat rumah sakit."


"Aku ingin menemaninya."


"Tapi, Tuan Muda. Anda bisa .."


"Sejak kapan kau sangat cerewet?


"Keluarlah! Sebelum wajahmu penuh dengan lebam."


Glen mengatupkan mulutnya. Dia mirip seperti Via kalau seperti ini.


"Saya permisi, Tuan Muda."


"Kau sangat berisik! Pergi!"


Glen segera keluar dari ruangan itu dan menutup pintu kembali dengan rapat.


"Eugh!"


Perlahan, mata indah itu terbuka. Via memegang kepalanya yang terasa pusing.


"Kau sudah sadar?"


"Dimana Raja?"

__ADS_1


Sialan! Rayhan mengumpat dalam hati, ketika Via dengan lancang menyebut nama laki-laki lain di


hadapannya.


"Dia sudah mati."


Via melebarkan matanya. "Tidak! Saya mau bertemu dengan Raja."


Via memberontak. Namun Rayhan langsung memegang kedua bahunya dan memaksanya


berbaring kembali.


"Dia bersama dengan sahabatmu."


"Di rumah sakit ini?"


"Kau banyak bertanya. Pikirkan kesehatanmu, baru memikirkan orang lain."


'Lo yang buat gue seperti ini, batin Via merasa kesal dengan Rayhan yang tampak tidak merasa bersalah.'


"Tidurlah! Dan istirahat. Sahabatmu itu mungkin sudah pergi dari negara ini."


"Tuan Muda sangat jahat."


"Diamlah, Via. Atau aku akan menyakitimu kembali."


Via mengangguk dan tidak bersuara kembali. Dia


memperhatikan wajah Rayhan yang tampak sayu melihatnya.


"Hidungmu tidak lagi sakit?"


"Via menganggukkan kepalanya. "Sedikit."


"Kau tidak lapar?"


Kenapa dia banyak bertanya? Via menautkan kedua alisnya merasa bingung dengan sikap perhatian Rayhan.


"Lapar.


Rayhan menghela nafas pelan.


"Glen, telah membawa makanan untukku. Kau boleh


memakannya."


"Ya."


Via duduk dan bersandar di kepala berangkar. Rayhan memberikannya sekotak makanan dan air putih.


"Hidungmu banyak mengeluarkan darah. Apa tidak habis nanti?"


"Tidak. Kan darah saya banyak."


Rayhan menatapnya datar, membuat Via terkekeh geli. Rayhan tidak sadar, dirinya menyukai suara cekikikan Via yang sangat mirip dengan seseorang.


"Kau sangat mirip dengannya, Via."


Bisa tidak pria ini tidak menyamakannya dengan


perempuan lain. Dasar tidak peka. Hati Via sakit dan sesak mendengarnya.


"Hem."


"Kau cemburu?"


"Tidak. Percuma juga, Tuan Muda sudah ada yang memiliki. Cepat atau lambat, saya akan dihempaskan."


"Aku tidak suka kau berkata seperti itu, Via!"


"Memang benar adanya, kan? Tuan Muda juga membuatkan taman di danau untuk peri kecil Tuan Muda."


Sudah membuktikan bahwa dia sangat istimewa dari segalanya.


"Via! Cepat habiskan makananmu."


"Baik, Tuan Muda. Terima kasih sudah berbaik hati


memberikannya."


"Hem."


Via memperhatikan wajah tampan Rayhan yang sekarang sibuk dengan ponselnya. Dia sudah


selesai makan. Dan menaruh bekas kotak makanan di atas meja. Via mengembung kempiskan kedua pipinya, terlihat sangat lucu. Namun sebenarnya dia


sangat bosan berdua dengan Rayhan. Mungkin, kalau gue nikah karena dasar cinta sama nih orang.


Gak akan bahagia juga. Orangnya gak peka, kasar, sibuk sendiri dan masih banyak lagi:'


Semoga saja kalau Rayhan menceraikannya nya. Dia dipertemukan dengan seorang pangeran yang baik hati dan memperlakukannya sangat spesial.


"Kau sangat lancang memikirkan pria lain di dekatku?"


"Lah? Tuan Muda tahu?" tanya Via bingung


"Benar dugaanku."


"Memangnya kenapa? Saya juga tidak pernah marah ketika Tuan Muda berduaan dengan nyonya Nacita."

__ADS_1


Rayhan memicingkan matanya tajam. "Kau mulai takluk padaku?" ejek Rayhan membuat darah Via berdesir.


"Jangan mimpi. Mungkin Tuan Muda yang jatuh cinta ke saya."


__ADS_2