Istri Kesayangan Tuan Muda Arrogant

Istri Kesayangan Tuan Muda Arrogant
43. Masih Berusaha


__ADS_3

"Mengapa gadis itu ketakutan?" gumam mereka semuanya menatap punggung Via yang telah menjauh.


"Mungkin dia ketakutan hingga pergi."


"Bagaimana ini, Bos? Kita belum juga menemukan jejak nyonya muda."


Mereka menghembuskan nafas kasar. Tidak ada penduduk desa yang pernah melihat gambar yang mereka tunjukkan.


Dalam gambar itu. Via mengenakan dress mahal berpose dengan wajah yang dipoles dengan make-up yang terkesan natural, namun menampilkan wajah manis Via.


Sedangkan ketika Via berada di desa. Gadis itu memakai kaos biasa dengan wajah yang jarang dirawat.


Maka sangat tampak berbeda dari gambar itu. Dan Via sengaja melakukannya,agar tidak ada yang mengenalinya.


"Kita langsung ke kantor desa."


Mereka mengangguk dan langsung masuk ke dalam mobil menuju ke kantor desa.


Andi dapat melihat lima pria dewasa memakai jas masuk ke dalam kantor kepala desa. Kebetulan dia berada di sana untuk sebuah urusan.


'Mungkin mereka adalah suruhan dari suami non Via?' batin Andi menduga-duga.


Mereka terlihat sangat kasar, dan juga mengintimidasi setiap orang yang dilewati.


"Mohon maaf! Anda ada keperluan apa ke tempat ini?" Andi bangkit dan mengajak mereka berbicara karena satpam di sana tampak tak berani.


"Kami mencari kepala desa. Di mana dia?"


"Ada di ruangannya. Mari saya antar!"


Mereka saling memandang dan mengikuti Andi dan masuk ke dalam ruangan kepala desa.


"Silahkan duduk!" ujar Andi. Mereka duduk dan menatap kepala dengan dengan wajah datar, membuat ayah Andi menatap bingung ke arah putranya itu.


"Ada yang mencari Ayah."


Pria itu menghela nafas pelan dan mengerti akan kode yang diberikan Andi.


"Ada yang bisa saya bantu?"


"Kami mencari seorang gadis kota yang baru-baru ini menatap di desa ini. Ini poto nya."


Mereka menunjukkan wajah yang membuat Andi benar-benar merasakan detak jantungnya berpacu dengan cepat. Itu Via, gadis yang berada di rumah nenek nya.


"Kalian pernah melihatnya?" Mereka menatap Andi dan kepala desa dengan tatapan tajam.


"Mohon maaf! Kami tidak menerima penduduk baru di desa ini. Kalian telah mengetahui jawabannya. Dengan beredarnya berita di media sosial."


"Baiklah! Terima kasih atas waktu Anda. Kami permisi untuk mengundurkan diri."


Andi dan kepala desa mengangguk akhirnya bernafas lega, ketika mereka keluar dari sana.


"Kamu tidak pernah mengatakan, bahwa suami dari gadis itu orang berada."


Andi mengernyitkan dahinya bingung. Tidak paham dengan perkataan ayah nya.


"Mereka adalah utusan darii keluarga Crowel. Keluarga konglomerat yang sangat berbahaya."


Tubuh Andi menegang. "Terus bagaimana nasib gadis itu, Yah?"

__ADS_1


"Cepat atau lambat, gadis itu akan ditemukan."


"Walaupun kita menyembunyikannya?"


Sang ayah mengangguk. "Mereka berbahaya. Sebaiknya kamu jangan ikut campur. Tidak mungkin,keluarga itu akan menyakiti pasangannya."


Dari mana pria paruh baya itu mengetahuinya?Jawabannya adalah karena dia pernah ada pertemuan dengan para konglomerat ketika membahas mengenai bisnis perhotelan.


"Sebaiknya kamu jangan ikut campur dengan urusan mereka. Membantu sekedarnya, namun tidak membahayakan kita."


Andi menghela nafas pelan dan mengangguk. "Baik, Ayah."


***


Tubuh Via keringat dingin ketika dia masuk ke dalam rumah.


Bahkan gadis itu segera mengunci pintu dengan sangat rapat. Lantas duduk di meja makan, dan segera menuangkan air. Via meneguknya hingga tak


tersisa. Semua itu tak luput dari perhatian nenek Imah, yang terlihat bingung melihat nya.


"Non Via! Kenapa?" tanyanya lantas duduk di samping gadis itu.


Peluh terlihat jelas di kening Via, karena masih ketakutan dan juga terkejut dengan semua ini.


Via tidak ingin ditangkap dan pulang ke kota. Dia sudah nyaman berada di sini.


"Tadi, Via bertemu dengan anak buah yang ditugaskan menangkap Via, Nek."


Raut wajah nenek Imah seketika berubah. "Non Via tidak apa-apa?"tanyanya khawatir.


Via menggelengkan kepalanya dan memeluk nenek Imah dengan erat.


"Via tidak ingin kembali ke kota, Nek. Mereka semua jahat. Hanya Mira yang baik dan keluarga nya."


Nenek Imah mengusap bahu gadis itu dengan lembut. "Mereka tidak akan membawa Non Via. Tenangkan diri Non Via."


Via melepaskan pelukan itu dan menatap nenek Imah, lantas mengangguk. "Iya, Nek. Makasih sudah peduli dengan Via."


Nenek Imah mengangguk."Sekarang Non Via bersih-bersih lalu istirahat."


"Baik, Nek." Via bangkit dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, lantas masuk ke dalam kamarnya. Dia harus menelpon Mira secepatnya.


Via duduk di atas ranjang sembari mengigit bibir bawahnya. "Semoga Mira ngak sibuk kuliah. Udah mau siang jugak."


"Ya, Vi. Ada apa?" tanya Mira langsung mengangkat telepon dari Via membuat gadis itu bernafas lega.


"Gue takut."


"Takut kenapa? Jangan buat gue panik, deh."


"Tadi pas gue keliling untuk menaruh dagangan ke warung pinggir jalan. Gue ketemu sama anak buah tuan muda."


"Astaga! Terus lo gak ketahuan, kan?"


"Ngak, Mir. Tapi gue takut aja. Gimana bisa, mereka


mendeteksi gue di desa ini."


Ya, mereka telah memanipulasi semuanya. Hingga Via sulit ditemukan sampai sekarang. Namun sedikit lagi, Via akan tertangkap membuatnya takut.

__ADS_1


Dan tanpa sepengetahuan mereka, mertua Via juga membantu untuk menyembunyikannya.


"Sekarang lo tenang saja. Mereka gak akan tangkap lo kok."


"Iya, untuk hari kedepannya. Gue memutuskan untuk gak keluar rumah dulu."


"Itu ide yang bagus. Lo mandiin sapi-sapi aja dulu."


Via menghembuskan nafas kasar. Bisa-bisanya, sahabatnya itu bercanda ketika dia lagi dalam ketegangan seperti sekarang ini.


"Gila lo."


Mira terkekeh ketika membayangkan raut wajah


cemberut Via di belahan dunia sana.


"Ya sudah, lo sekarang istirahat dan pejamkan mata lo agar rileks,"


"Oke. Gue tutup, ya?"


"Oke."


Sambungan benar-benar terputus.


Meninggalkan Via yang kini menatap ponsel itu masih dalam keterpurukan.


Via meletakkan ponselnya di atas nakas dan dia mulai berbaring, lantas memejamkan matanya.


***


"Bagaimana kabar di sana?" tanya Glen menelpon anak buah nya.


"Tidak ada data seorang gadis dari kota tinggal di sini, Bos."


"Cari hingga ketemu. Bisa saja mereka menipu."


"Baik, bos. Kami akan mendapatkan nyonya muda


hingga ketemu."


"Harus! Atau kalian akan menerima akibatnya."


Glen memutar tubuhnya dan menatap tuan mudanya yang terlihat terpuruk dan putus asa, hingga sekarang istri nya belum ditemukan.


"Aku takut, Glen."


"Nyonya muda akan segera ditemukan, Tuan Muda. Anda jangan seperti ini. Yakinlah!"


"Aku takut dia kenapa-kenapa, Glen."


Pandangan Rayhan kosong membuat Glen tak sanggup melihat nya. Tuan muda yang dulu selalu mengangkat kepala dengan angkuh, sekarang sangat berbeda. Dia sangat rapuh dan lemah.


"Nyonya muda tak akan kenapa-kenapa, Tuan Muda."


"Dia tidak kelaparan, kan?"


"Tidak, Tuan Muda."


"Dia masih ada, kan?" Pertanyaan Rayhan semakin melantur.

__ADS_1


"Saya berjanji akan menemukaan nyonya muda bagaimanapun caranya."


__ADS_2