Istri Kesayangan Tuan Muda Arrogant

Istri Kesayangan Tuan Muda Arrogant
55. Kecemburuan Via


__ADS_3

Hari ini Via ingin ke kantor suaminya setelah pulang dari kampus. Dia diantar oleh supir pribadinya menuju ke perusahaan.


Dengan membawa bekal yang telah dibelinya untuk makan siang, wanita hamil itu tersenyum cerah dan segera turun dari mobil ketika sampai di depan kantor.


"Nyonya, saya antar ke atas bertemu dengan, Tuan Muda."


"Tidak perlu! Saya bisa sendiri."


Supir pribadinya hanya bisa menganggukan kepalanya, dan tidak berani melawan sedikitpun. Via menarik pintu dan masuk ke dalam sana. Dua satpam membungkuk hormat kepadanya. Walaupun Via sekarang menggunakan pakaian sederhana karena dari kampus, kedua pria itu masih mengingat rupa nyonya muda mereka.


Via menghela napas pelan dan tersenyum ramah, kepada semua pekerja yang berada di sana.


Ketika dia hendak masuk ke dalam lift, seseorang tampak membicarakan dirinya, dan wanita itu mendengarnya dengan sangat jelas.


"Memalukan sekali istri tuan muda. Penampilannya sangat sederhana."


"Iya, nyonya memang cantik. Namun tidak bisa merawat dirinya sendiri."


"Pasti sebentar lagi, tuan muda akan berpaling."


Mereka saling berbisik dengan tatapan sinis, dan tidak menyadari Via memperhatikan itu semua dalam diam, sembari menggenggam kresek bekal yang ia bawa dengan kencang. Tuan muda selalu mendapat klien yang sangat cantik dan seksi.


"Mungkin saja, tuan muda diam-diam melakukannya di belakang nyonya."


"Betul. Istrinya saja seperti itu. Kasihan sekali menjadi istri hanya dalam rumah saja."


Sudah cukup! Mereka sangat keterlaluan hingga memfitnah Rayhan berselingkuh, dan melakukan hubungan terlarang di belakangnya.Via berjalan dengan kepala yang mendongak ke atas, bahkan terlihat sombong dan menahan emosi.


"Coba ulangi apa yang kalian katakan?!" Bentak Via, membuat mereka terkejut dan berbalik menatap Via dengan wajah yang ketakutan.


Mereka kira, istri dari tuan muda itu tidak bisa melawan kepada mereka,karena dianggap terlalu baik dan bahkan lemah.


"Kalian berani sekali menjelekkan saya dan suami saya, huh?Bahkan menuduh suami saya berselingkuh. Bagus sekali, pemikiran kalian itu."


"Nyonya! Maafkan kami!" Mereka menunduk, dan hampir terjatuh dari kursi masing-masing karena ketakutan kehilangan pekerjaan.


Pasti setelah dipecat, mereka selamanya tidak akan mendapatkan pekerjaan, karena tuan muda sangat berkuasa di daerah ini.


"Kalian angkat kaki dari perusahaan ini!Saya berhak melakukan nya! Bahkan bukan suami saya saja yang memiliki saham besar di sini, namun saya juga, sebagai istrinya!"


Via menekan dadanya yang terasa sakit. Akhir-akhir ini, memang tubuhnya selalu seperti ini. Terasa lemas, namun kuat apabila memarahi orang Tanpa belas kasih. Via berbalik dan tidak peduli melihat karyawan yang sombong itu kini menangis sesenggukan.

__ADS_1


Via masuk ke dalam lift. Wajahnya kini kembali menampilkan senyuman manis dan tulus, karena ia tidak ingin suaminya nanti khawatir kepadanya. Dia bukan wanita lemah.


Ketika telah sampai di depan pintu ruangan, wanita itu melihat bekal yang ia bawa untuk dimakan bersama siang ini. Dirinya sangatlah merindukan Rayhan, walaupun beberapa jam tidak bertemu. Ceklek!


Via sengaja tidak memberitahu suaminya, dirinya ke kantor agar menjadi kejutan.


Namun apa yang dilihatnya sekarang, membuat darahnya kembali mendidih bahkan lebih.


Di sana, tampak klien suaminya dengan pakaian seksi tengah mencoba menggoda suaminya. Walaupun Rayhan tampak tidak peduli. Namun hal tersebut membuat gejolak dalam diri Via mendendam. Apalagi sekarang dirinya sedang hamil anak Rayhan.


Brak!!


Via melempar bekal tersebut sembarangan arah, hingga makanan yang tadi dibelinya berceceran di lantai. Sontak hal tersebut membuat ketiga manusia itu berbalik.


Glen yang memang menyadari kehadiran nyonya muda sedari tadi, tampak diam karena pertunjukan seru akan dimulai.


Biarkan saja nyonya muda yang memberikan hukuman kepada wanita itu, karena sedari tadi memperlambat pekerjaan mereka.


"Sayang," panggil Rayhan tampak khawatir dan langsung bangkit, untuk mendekati istrinya yang tampak marah.


Rayhan takut istrinya salah paham dan meninggalkannya.


Via menolak sentuhan suaminya dan mendekati wanita yang kini menatapnya mengejek, dengan senyum miring di wajahnya yang penuh dengan polesan makeup tebal itu.


Via menjambak rambut wanita yang lebih tinggi dirinya itu, hingga membuat wanita itu histeris dan meminta tolong kepada Rayhan dengan nada manjanya, membuat Via semakin dilanda sakit hati.


"Tuan Muda, tolong saya. Argh! Sakit kepala saya."


Via mendorong wanita itu dan mencekiknya. Rayhan langsung memisahkannya, dan memeluk istrinya dengan erat. Pria itu tidak ingin istri dan kandungannya kenapa-kenapa.


"Sudah, Sayang. Nanti, kamu terjatuh."


"Kamu ingin membela wanita itu, hah?!"


"Bukan seperti itu, Sayang. Aku takut, bayi kita kenapa-kenapa."


"Lepas!" Via berhasil melepaskan dirinya dari sang suami dan segera pergi dari ruangan itu, dengan menangis sesenggukan karena suaminya melarang dirinya menyakiti wanita itu.


Setelah Via pergi. Tatapan Rayhan menggelap, bahkan dia menyuruh Glen untuk membawa wanita itu ke tempat biasanya ia menyiksa korbannya.


Rayhan dengan wajah datarnya langsung mengejar sang istri, yang kini sudah berada di lantai bawah.

__ADS_1


"Sayang," lirih Rayhan dengan mengacak acak rambutnya hingga berantakan karena tidak berhasil


menghentikan Via masuk ke dalam mobil.


***


Untuk kesekian kalinya, Rayhan mengetuk pintu kamarnya, karena sang istri tidak mengizinkannya


masuk ke dalam sejak tadi siang dan sekarang sudah malam.


"Sayang, nanti kamu sakit. Buka ya? Pintunya."


Hanya suara isakan terdengar dari dalam sana. Via menangis tanpa henti, membuat Rayhan semakin


takut istrinya nanti sesak napas dan pingsan.


Sebenarnya, Rayhan ada kunci di dalam laci sebelahnya. Namun, ia ingin memberikan sang istri waktu untuk menenangkan diri karena salah paham kepadanya. "Bagus! Kamu apakan lagi menantu, Mama?" Tanya Paula berkacak pinggang menatap


putranya itu datar tanpa ekspresi, karena geram dengan Rayhan yang tidak bisa mengatasi itu semua.


"Hanya salah paham, Ma. Via mengira Rayhan selingkuh. Padahal, Rayhan hanya mencintai Via."


"Mama, mendapatkan laporan tadi dari Glen. Kamu membela wanita itu, kan? Hingga membuat Via


menangis di dalam."


Glen sialan!


"Bukan membela, Ma. Namun Ray melindungi Via, karena Via menyerang wanita itu tanpa henti. Ray takut istri Ray kenapa-kenapa."


Paula tidak salah dengar, Via menyerang wanita itu berutal. Wah! Seru sekali pasti. Karena dulu ia juga pernah melakukannya, bahkan lebih dari itu. Ternyata mereka memliki kesamaan.


"Sudahlah! Kamu sama saja dengan Papamu. Selalu menyakiti wanita hamil. Dulu, Papa mu juga seperti itu."


"Balik ke kamar sekarang!"


Perintah suaminya, menarik tangan Paula untuk dihukum.


Setelah kepergian kedua orang tuanya. Tiba-tiba, suara pintu terdengar. Via, istri kesayangannya


dengan mata yang sembab menenteng tas ranselnya dan melewatinya.

__ADS_1


Sebenarnya, Rayhan ingin marah. Namun, Via semakin diberikan kemarahan, maka akan lebih keras kepala. Karena kehamilannya yang membuat istrinya seperti itu.


"Aku sudah menelepon Mira. Aku ingin menenangkan diri terlebih dahulu. Kamu jahat, Ray."


__ADS_2