Istri Kesayangan Tuan Muda Arrogant

Istri Kesayangan Tuan Muda Arrogant
15. Warisan yang Dicuri


__ADS_3

Setelah pulang kuliah. Via bergegas singgah ke rumah pengacara almarhumah mamanya Anjani. Untuk membicarakan lebih lanjut perkara warisan atas namanya.


"Selamat siang, Pak." Via mengulas senyuman ketika Febrian sudah berada di hadapannya. Duduk di Single sofa, seraya membetulkan kacamatanya.


"Jadi seperti ini, Dek Via. Semua aset dan properti telah sah atas nama Dek Via."


Via mengangguk. "Jadi, kapan saya boleh menggunakannya, Pak? Soalnya saya membutuhkannya untuk pendidikan." Katakan Via berbohong untuk mendapatkan haknya secepatnya. Karena Alfredo telah membayar semua biaya kuliahnya hingga lulus. Ketika dia mau menikah dulu.


Febrian menghela nafas pelan. Membuat hati Via mendadak tidak enak. "Apakah ada masalah lain, Pak?"


Pria paruh baruh baya itu mengangguk, membuat Via was-was. "Benar yang Dek Via katakan. Beberapa hari yang lalu, semua berkas kepemilikan aset dan properti telah diambil oleh suami Dek Via."


"Bagaimana bisa, Pak?!" Jelas Via sangat terkejut.


Bagaimana Rayhan mengetahui ini semuanya? Pasti Rayhan akan menyegel semua warisannya itu.


Via bergerak gelisah dengan bibir bergetar tidak bisa mengatakan apapun.


"Tuan Muda, mengancam saya melalui sekretarisnya. Agar memberikan berkas-berkas itu."


Satu nama yang ada di benak Via. Pelaku nya adalah Glen. Via menghela nafas berat, bahkan ia sekarang menahan mati-matian gejolak pada dirinya agar tidak marah ke pak Febrian. Biar bagaimanapun, mereka tidak bisa berkutik berhadapan dengan


keturunan Crowel.


"Maafkan saya, Dek Via."


"Tidak apa-apa, Pak. Bapak, tidak bersalah di sini. Maafkan saya yang selama ini merepotkan Bapak."


Febrian sangat setia mendampingi almarhumah mamanya sedari dulu. Itu yang Via dengar dari


semua orang. Bahkan hingga saat ini, menunggu Via dewasa untuk memberikan gadis itu haknya.


Jadi Via tidak akan marah karena warisan yang sekarang berada di tangan Rayhan dan semua


berkas-berkas pentingnya.


"Saya pamit ya, Pak."


Febrian mengangguk dan mengantarkan Via keluar dari rumahnya. Via menghela nafas dan segera berjalan dengan sangat cepat ketika telah berada di ujung gerbang untuk mencari taksi.


"Apapun yang terjadi. Gue harus menyelinap masuk ke dalam ruang kerja pria kejam itu. Pasti berkas-berkas gue ada di sana.


"Enak saja, menyegel warisan orang lain."


***


"Glen!" panggil Via.


Glen yang hendak masuk ke dalam ruang kerja pria kejam itu langsung berhenti, dan berbalik menundukkan kepalanya sedikit rendah dan berdiri dengan tegak kembali.


"Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?"


"Banyak!" ketus Via.


"Anda bisa..."


"Jangan banyak basa-basi, Glen. Kau kan yang mengambil berkas-berkas milikku dari pak Febrian?!" sentak Via kejam.


"Iya, Nyonya. Saya yang mengambilnya dan memberikan berkas-berkas itu ke tangan tuan muda. Apakah ada masalah dengan, Nyonya?"


Ingin sekali Via mencengkram wajah menyebalkan Glen, yang tampak tidak merasa bersalah sedikitpun. Dari raut wajah pria itu bahkan terlihat meremehkan nya.


"Jelas saya memiliki masalah, Glen. Itu semuanya warisan dari almarhumah mama saya."


Dan Glen dengan seenak jidatnya memberikannya kepada Rayhan yang tidak memiliki hati nurani itu.


"Sebuah perintah harus di patuhidan di selesaikan segera mungkin,Nyonya."


"Kapan kau mengambil nya?"


"Kemarin!"


Jadi Via telat sehari saja? Ahh! Kepala Via ingin meledak rasanya.


Menyebalkan mereka berdua, sangat.


"Kembalikan semuanya kepadaku, Glen!" pinta Via.


"Semua berkas-berkas itu telah disimpan oleh tuan muda. Jadi silahkan memintanya langsung ke suami Anda, Nyonya."


Sebelum Via membalas ucapan Glen. Pria itu meninggalkannya tanpa permisi. Via menghentakkan kakinya kesal dan menendang tembok di depannya.


"Sakit banget." Via dengan kaki yang pincang berbalik berjalan ke arah kamarnya.


***


Malam menjelang. Via sekarang berada di dapur. Menuangkan airdingin untuk suaminya. Namun pandangannya terusik ketika melihat sebuah kotak susu familiar membuat langkahnya mendekati hal yang membuatnya penasaran.

__ADS_1


Via mengambil kotak susu itu. Bukannya ini susu untuk persiapan hamil?


Jangan bilang, yang tadi pagi Via meminum itu adalah isi dari kotakini? Via membekap mulutnya dan menggelengkan kepalanya.


"Nyonya!" panggil bibi tua.


Kotak susu itu terjatuh, membuat bibi tua menunduk dan segera berjongkok mengambilnya.


"Tuan muda yang memberikan perintah!" ujar bibi tua, membuat tubuh Via menegang.


"Tapi, saya tidak akan lama tinggal di sini, Bi."


"Sepertinya, tuan muda menginginkan keturunan."


Pikiran Via menerawang mengenai kejadian kemarin. Ketika Rayhan setuju dirinya ke dokter kandungan dan diantar langsun olehnya.


"Bibi Tua, saya mohon jangan kasih saya minuman itu! Rasanya aneh. Saya tidak menyukai itu."


"Ini sebuah perintah, Nyonya. Kemungkinan besar, sebelum Anda keluar dari rumah ini. Akan mengandung darah daging tuan muda."


Hati Via mencelos mendengarnya. Via tidak mau meninggalkan kenangan apapun untuk priakejam itu ketika dirinya angkat kaki dari rumah ini.


"Nyonya, tuan muda tengah menunggu Anda. Jangan sampai dia marah kepada, Nyonya."


Via mengangguk dan langsung mengambil segelas air yang telah ia tuangkan.


"Saya permisi, Bibi Tua."


Via menghela nafas dan langsung meninggalkan dapur. Menyisakan wanita tua itu yang sekarang


menatap punggungnya, dan berbalik menaruh kembali kotak susu itu pada tempatnya.


"Hanya Nyonya, yang berhak menyandang gelar nyonya muda Rayhan Crowel."


"Lambat seperti siput!"


Rayhan segera mengambil segelas air dingin untuk nya. "Kenapa kau diam?"


"Tidak ada. Hanya mau diam saja."


"Kemari lah!"


Via melangkah mendekati Rayhan. Sekarang jarak di antara mereka lumayan dekat.


"Minumlah!"


Via tidak mau. Melihat Via yang tidak mau. Rayhan menatap nya sangat tajam.


"Kau berani menentangku?"


Via menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Tapi kan, itu bekas Tuan Muda."


Tanpa ada bantahan. Rayhan memegang tengkuknya dan mengarahkan bibir gelas yang tadi


ia gunakan.


"Habiskan!"


Via menghabiskan sisa air putih itu hingga tidak tersisa. Gila! Benar-benar tidak memilikiperasaan. Via dipaksa melakukan semua hal yang menurut manusia kejam ini menarik.


Via ingin memuntahkan air itu sebenarnya. Namun melihat Rayhan yang akan berbuat kasar kepadanya. Via mengurungkan niatnya.


"Bagaimana, manis?!" tanya Rayhan menyeringai.


"Boleh jujur?"


"Katakan!!"


"Airnya manis kalau di minum sendiri. Tapi kalau diminum bersama. Rasanya ... aneh."


"Kau mengataiku aneh?"


Via segera menggelengkan kepalanya. "Tidak, Tuan Muda."


"Bagaimana dengan pergelangan tanganmu?"


Via mematung mendengarnya.


"Perlahan membaik. Sudah di obati dan diurut sama bibi tua."


Mendadak dia sangat perhatian. Membuat atensi Via lama memandangnya. Kenapa Via mendadak baper seperti ini?


"Tidurlah!"


"Oke." Via berjalan ke arah sofa. Namun Rayhan menatapnya tajam, membuat Via mengernyitkan dahinya bingung. Dia salah apa lagi?

__ADS_1


"Tidurlah bersamaku!!" tegas Rayhan tanpa ada bantahan.


Sepertinya perkataan bibi tua memang ada benarnya. tuan muda akan melakukan sesuatu kepada nya.


***


Sejak beberapa menit yang lalu. Via memperhatikan wajah Rayhan yang sudah terlelap terlebih dahulu. Tidak ada penghalang di antara mereka. Hanya jarak


beberapa senti yang Via sisakan.


"Pasti peri kecil akan sangat beruntung apabila bisa


menaklukan tuan muda. Katanya cowok dingin akan sangat baik dan setia kalau sudah menemukan


kekasih hatinya."


Via terlentang dan menatap langit-langit kamar itu. Sebentar lagi, dia akan pergi dari rumah ini. Via menghela nafas dan melirik Rayhan kembali. "Sebenarnya gue gak dendam sama dia. Mungkin kalau anak gue di posisi tuan muda. Akan kesal dan marah ke orang serakah seperti papa dan akan membalasnya ke putrinya."


"Kapan papa akan sadar, keberadaan Via berarti di hidup papa?"


"Apa papa gak merindukan aroma Via di rumah itu?"


Ini sudah seminggu, semenjak perusahaan ada di tangan papa. Tidak pernah mengabari Via."


Via kembali memejamkan matanya perlahan dan mulai ikut terlelap.


Setelah Via terlelap. Rayhan membuka matanya lebar dan memperhatikan gadis itu yang berada di sampingnya.


Entah perasaan apa yang ada di hati Rayhan. Sangat nyanman melihat gadis kecil yang berada di


sampingnya ini tidur di dekatnya. Terlihat sangat menggemaskan.


"Apa kamu telah sebesar gadis ini?" gumam Rayhan.


Apapun akan Rayhan lakukan untuk mendapatkan peri kecilnya itu. Dia telah menyelamatkan Rayhan dari musibah.


Mungkin sekarang Rayhan telah tiada kalau tidak ada dia.


Peri kecil cinta pertama Rayhan. Sementara Via hanya figuran di hidup Rayhan.


Rayhan menggeser dirinya lebih dekat dengan Via. Tangan besar Rayhan terangkat dan meraba wajah Via dengan sangat hati-hati.


"Kamu memang sangat cantik Via. Namun hidupmu harus menderita di tangaku selamanya."


Biar bagaimanapun. Rayhan sangat membenci Alfredo. Maka, Via harus menanggung akibatnya.


Rayhan bukan pria yang gampang ditaklukkan oleh siapapun. Hingga saat ini, Via belum berhasil mengambil setengah dari hatinya.


Karena terdapat nama seorang gadis kecil yang berada di hatinya, hingga bertahun-tahun lamanya.


***


"Saya sudah menemukan lokasi peri kecil, Tuan Muda."


"Katakan dia berada di mana, Glen?" tanya Rayhan dengan tangan yang terkepal, karena tidak sabar bertemu.


"Gadis itu pernah tinggal di sini, Tuan Muda."


"Masih sekitaran Jakarta."


Glen mengangguk. "Sebaiknya kita bergerak cepat, Tuan Muda."


Mereka berdua memutuskan untuk pergi mencari gadis itu ke alamat yang Glen dapatkan.


Semua itu, tidak luput dari perhatian Via yang berada di ujung pintu, hendak masuk mengantar


kopi untuk tuan muda. Sebenarnya Via merasa senang mendengarnya. Namun disisi lain, ia tidak bisa membohongi hatinya, karena posisi nyonya akan segera tergeserkan.


"Saya ingin mengantarkan kopi."


Kedua pria itu tidak memperdulikan keberadaan Via


dan segera keluar dari ruangan itu. Menyisakan Via yang kini mencelos melihatnya.


"Mereka sudah pergi, kan? Sekarang giliran gue untuk mencari berkas-berkas itu."


Via segera menaruh kopi di atas meja kerja dan berputar mencari miliknya yang disembunyikan oleh tuan muda.


"Pasti ada di sini. Tapi ... ada kode nya."


Via mengatur pernafasan nya dan mencoba memencet tombol itu.


Kode pertama salah. Via ingin menyerah, namun ia mengingat sesuatu sehingga kembali mencoba nya.


"Tuh, kan bisa. Hem, dia memang sangat istimewa."


Via mengecek semua berkas. Tidak berlangsung lama, karena berkasnya ada paling atas. Dengan wajah yang berbinar Via segera keluar dari sana. Dan kembali menutup pintu kamar.

__ADS_1


"Gue harus langsung ke bank, buat mengurus tabungan mama."


__ADS_2