
Rayhan memeluk pinggang ramping sang istri dan menghirup aroma vanilla yang sangatlah menenangkan untuk dirinya.
"Ray! Nanti masakannya tumpah."
Via sedang menghidangkan sebagai masakan di atas meja. Sejak subuh ia mempersiapkannya. Papa nya akan datang pagi ini sebelum dirinya berangkat kuliah.
Via kuliah jam sepuluh. Jadi aman! Tidak akan terlambat. Walaupun sebenarnya Rayhan ingin istrinya istirahat terlihat dahulu selama dua hari. Namun wanita itu menolak dengan tegas, karena dirinya akan banyak ketinggalan mata kuliah.
"Terakhir kamu masuk!"Via tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Mungkin ia juga jarang memiliki waktu untuk urusan dapur, karena dirinya sibuk kuliah.
Mereka berdua duduk berdekatan sembari menunggu sang tamu datang.Glen sudah berada di samping mereka untuk meninjau semua keperluan tuan mudanya.
Menjadi patung seperti biasanya dan dilarang makan bersama dengan Rayhan karena hal itu tidak sopan untuk bawahan.
"Kenapa Glen hingga saat ini tidak diajak makan bersama di meja makan?"Tanya Via dengan wajah iseng,menggoda suaminya.
"Jangan membahasnya! Itu sudah peraturan. Glen! Bukan anggota keluarga."
Via mengerti. Kasihan dengan Glen, namun sudah peraturan seperti itu. Mungkin untuk membatasi orang asing agar tidak seenaknya. Walaupun memang Glen lama bekerja dengan suaminya.
"Maaf, Tuan Muda. Sepertinya Alfredo sudah datang."
Via yang mendengar hal tersebut langsung berdiri dan beranjak untuk menjemput papa nya di depan. Namun Rayhan dengan sigap meraih tangannya agar tetap berada di sampingnya.
Via hanya bisa mematuhi nya dan akhirnya berjalan bersama dengan sang suami yang kini merubah
raut wajahnya dengan tegas dan datar. Selalu saja seperti itu.
Alfredo dipersilahkan masuk oleh Glen. Pria paruh baya itu menunduk, memberikan hormat kepada Rayhan. Bukan sebagai menantu, namun atasannya.
"Papa!" Akhirnya wanita itu memanggilnya. Membuat Alfredo kini beralih menatap putri semata
wayangnya itu.
"Ray! Aku ingin menyambut Papa," ucap Via meminta izin.
Rayhan melepaskan tangan istrinya perlahan dan memberikan wanita itu akses menuju ke Alfredo.
Via memeluk papa nya dengan erat. Dia sangatlah merindukan orang tua yang satu-satunya masih
ada di bumi ini. Wanita itu hanya memiliki papa nya, tempat untuk menyalurkan kasih sayang. Alfredo terkesiap dengan pelukan hangat itu. Dia kira Via akan marah besar kepada nya karena dirinya memang tidak pantas untuk dipanggil papa, karena
selama ini tidak pernah mengurus Via dengan baik.
Perlahan tangannya terangkat untuk membalas pelukan putrinya itu. Hatinya sesak, bahkan ia
berulangkali bergumam maaf dalam hati kepada putrinya bahkan almarhumah istrinya yang telah lama meninggalkan nya.
"Via, merindukan Papa."
"Papa . Maafkan Papa, Via. Tolong jangan pergi lagi."
Via melepaskan pelukannya dan menganggukkan kepalanya langsung. "Via pergi, tapi ada hikmahnya, kan?"
Alfredo mengangguk, karena sejak saat itu rasa khawatirnya menyadarkan dirinya selama ini bahwa putrinya lebih berharga dari apapun itu.
"Hmm." Rayhan berdehem dengan keras untuk menyadarkan mereka. Dirinya terlihat tidak dianggap.
Mereka akhirnya makan bersama di meja makan. Bahkan Glen menjaga tuan mudanya agar tidak menyerang Alfredo karena tidak suka melihat pria tua itu berada di rumahnya.
"Bagaimana, Pa? Masakan Via enak, kan?" Tanya Via sembari mengunyah makanannya.
"Enak," jawab Rayhan. Membuat Alfredo hanya bisa terdiam sesaat dan menganggukkan kepalanya.
Via tersenyum manis, karena masakanya lumayan bisa diandalkan. Walaupun sebenarnya masih banyak kekurangan dan nanti ia akan kursus memasak bersama dengan bibi tua.
***
"Via!" Mira memanggil sahabat nya dengan raut wajah yang heboh.
"Lo kenapa sih, Mir? Baru aja gue datang, udah ribut aja."
Mira mengambil napas panjang membuat Via semakin heran dengan kelakukan sahabatnya itu.
"Semua orang udah pada tahu, Lo istri dari tuan muda."
Jelas mendengar hal tersebut membuat Via terkejut bahkan melototkan matanya.
"Aduh! Bagaimana ini? Siapa yang nyebarin? Kan hanya Lo yang tahu, Mir."
"Terus Lo fitnah gue gitu?" Ujar Mira ngegas sembari berkacak pinggang. Yang benar saja dirinya melakukan nya. Kan tidak lucu sama sekali.
"Ya, maaf! Terus siapa?" Gumam Via berfikir dengan keras. Namun tiba-tiba seseorang datang dari belakang dan mendorongnya dengan kasar.
"Argh! Siapa yang berani dorong gue?!" Teriak Via karena terkejut juga tubuhnya hampir tersungkur
ke tanah.
Via dan Mira berbalik. Menemukan senior mereka yang terkenal garang sekarang tengah menatap mereka tajam seakan ingin menyerang. Lah, mereka
kenapa? Mengamuk kepadanya.
"Kalau jalan lihat pakai mata dong?! Jangan asal nabrak. Atau Lo bertiga sengaja, ya?" Ucap Mira dengan berani menantang senior mereka itu. Menahan rasa takut karena ketiga gadis itu memiliki
pangkat yang tinggi di universitas tersebut.
"Lo berani sama kita?" Salah satu dari mereka melangkah maju. Mereka memang sangat cantik,
jadi jangan salahkan menjadi idola kampus ini.
"Lo yang namanya Via, kan?" tanya Davina dengan wajah datar dan tenang. Davina adalah bos dari geg itu.
Via menganggukkan kepalanya dengan polos. Membuat Mira menepuk jidatnya karena melihat kelakukan sahabatnya yang tiba-tiba bodoh.
Bisa-bisa mereka habis hari ini menjadi bahan bullying karena sekarang melawan Davina dan kedua temannya. Ahh! Sudah terlanjur juga Via mengakuinya.
"Jadi lo istri dari tuan muda Rayhan?"
"Terus apa urusannya sama lo?" balas Via tidak ingin kalah. Sok kecantikan sekali wajah gadis di
depannya ini. Dia pikir, Via akan takut. Sungguh membingungkan.
"Wow," bisik Mira memberikan semangat ternyata Via berani .
"Udah sering dipakai?" Via mengetahui arus pembicaraan dari Davina. Bahkan kedua temannya menyunging senyum miring, tidak sabar mempermalukan juniornya itu.
__ADS_1
"Setiap malam!" Ucap Via dengan wajah bangga memamerkan suaminya yang tampan dan berkuasa itu.
Davina menggepalkan tangannya dan menarik paksa pergelangan tangan Via menuju ke toilet.
Banyak mahasiswa yang memperhatikan hal tersebut namun tidak berani menolong. Bisa-bisa, nanti mereka yang akan dibully oleh Davina. Dari pada hal tersebut terjadi, lebih baik mencari aman, namun dengan sigap mereka semua kejadian itu.
Mira dipegang oleh kedua teman Davina. Sedangkan Via memberontak dengan keras, namun cengkraman Davina sangatlah kuat. Bahkan sekarang pasti tangannya keram dan merah karena Davina berhasil menyiksa fisiknya.
"Argh!" Tubuh Via dihempaskan ke lantai toilet. Dengan wajah murka Davina mengangkat
tangannya untuk menampar junior yang kurang ajar tersebut.
Plak!
Belum sempat menghindar, wajah Via terasa panas akibat tamparan keras itu, hingga membuat tubuhnya melemah.
Tidak tahan dengan kemurkaannya, Davina
membenturkan kepala Via di tembok, membuat Mira yang mendengar hal tersebut dari luar histeris.
"Kak Davina, kalau Kakak berani menyakiti Via. Maka tuan muda akan murka dan tidak akan segan-segan untuk menyingkirkan kak Davina dari kampus ini."
"Diam lo! Via, adalah istri buangan tuan muda. Mana mau dia membela."
Mira meringis ketika rambutnya dijambak dengan keras. Sakit sekali! Namun ia lebih takut sahabat nya di dalam sana kenapa-kenapa karena Davina adalah sering sekali membullly juniornya tidak manusiawi.
Di dalam, Via merasakan cairan kental mengalir dari kepalanya. Tubuhnya ambruk begitu saja membuat Davina tersenyum miring melihat pemandangan
tersebut.
"Lo berhak mendapatkannya. Tuan muda hanya milik gue."
Davina langsung keluar dari sana dan memberikan perintah kepada teman-teman nya untuk segera pergi.
Mira langsung berlari dan menangis histeris meminta bantuan, namun tidak ada yang kunjung membantu mereka karena tidak berani ke Devina.
"Bertahan, Vi!" Mira mengusap air matanya dan meletakan kepala Mira di pahanya.
Gadis itu tidak tinggal diam. Dia terpaksa harus menghubungi Glen, untuk memberikan informasi
tersebut kepada suami Via.
"Kenapa kau menangis?! Jawab Mira?!" Bentak Glen ketika mendengar Mira yang terisak ketika menelponnya.
"Via terluka, hiks. Kamu ke kampus sekarang!"
Via mengerjabkan matanya berulangkali, untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya.
Pasti dirinya sekarang berada di rumah sakit. Wanita itu menyentuh kepalanya, namun seseorang langsung menegurnya membuat Via tersentak dan
mematuhinya.
"Jangan menyentuh kepalamu!"
"Ray? Kamu?" Via menyipitkan matanya karena suaminya sekarang telah berada di sampingnya dengan wajah datar dan terlihat menyembunyikan
sesuatu.
"Minum!"
Via menganggukkan kepalanya dan langsung meminumnya.
"Sudah. Hmm, tentang...
"Jangan banyak pikiran, fokus dengan kesehatan mu."
Via mengatupkan mulutnya dan mengukir senyum tipis, walaupun sebenarnya sangatlah terpaksa. Kan dia hanya penasaran saja mengenai suaminya yang sudah berada di sampingnya. Walaupun
dirinya sudah mengetahui bahwa sebelum wanita itu pingsan, Mira menelan Glen.
Tapi mereka berdua kemana? Kenapa tidak ada? Mira juga, tidak menunggunya sadar. Sahabat
macam apa itu.
"Lapar?"
Suaminya kembali bersuara dan bertanya mengenai keadaan perutnya.
"Iya. Tapi jangan makanan rumah sakit. Hambar ....
"Sebutkan makanan apa yang kamu inginkan?"
Dengan mata yang berbinar, Via langsung merekap semua nama yang berada di kepalanya. Pasti sangatlah lezat kalau makan makanan yang pedas.
"Ayam goreng, kentang goreng, hamburger, stek dan minumnya es ada Boba nya dan juga jus
strawberry."
"Glen akan menyiapkan nya segera."
"Terima kasih, Ray."
Rayhan menganggukkan kepalanya. Via dalam keadaan baik, benturan yang ada di kepalanya tidaklah terlalu parah, hingga pria itu mengizinkan
istrinya untuk menikmati makanan kesukaannya.
"Seminggu sekali!" Ucapan Rayhan membuat Via menghela napas panjang dan menyetujuinya.
Pasti besok ia akan makan sayur mayur dan juga buah-buahan.
Rayhan telah mengatur pola makanan nya agar sehat. Karena penasaran, Via menatap Rayhan dalam yang kini tengah sibuk memperhatikan ponselnya.
"Ray?"
"Hmm...."
"Mira mana?" Tanya Via, dirinya tidak sabar untuk mendengarkan cerita dari sahabat nya itu. Dari pada di dekat Rayhan yang tidak asik, hanya diam saja sedari tadi.
"Bersama Glen. Aku ada di sini, jangan mencari orang lain."
"Oh gitu," lirih Via pada akhirnya.
Namun jiwa kepo nya masih meronta-ronta.
Dirinya ingin mengetahui bagaimana nasib dari pembuli itu, mungkin saja Rayhan usir dari kampus atau menghukum mereka berat, kan?
Kalau seperti itu, sangatlah romantis pastinya. Via jadi merasa terlindungi, biarkan saja mereka menderita, manusia seperti itu tidak boleh dimaafkan. Sudah banyak korban, bukan dirinya saja.
__ADS_1
Catat! Via buka gadis yang mudah kasihan dengan orang lain. Jadi, dia akan bersorak ria kalau mereka
mendapatkan hukuman yang setimpal.
"Apa yang kamu pikirkan?" Tanya Rayhan.
"Tidak ada. Kenapa memangnya?"
"Jangan terlalu banyak berpikir. Istirahatlah sejenak."
"Kan aku sudah pingsan. Dan orang pingsan itu kan istirahat?"
"Beda!"
"Apa bedanya?" Gumam Via dengan wajah polos.
"Makanannya telah datang!"
Via beralih menatap pintu ruang inap yang terbuka. Di sana ada Glen dan Mira yang tengah membawa makanannya.
"Akhirnya lo muncul juga, Mir."
Mira hanya tersenyum tipis sembari menganggukkan kepalanya, membuat Via mengerenyitkan dahinya bingung.
'Kenapa dengan tuh anak, batin Via menatap Mira dengan intens membuat sahabatnya itu menundukkan kepalanya. Dalam hati Via, pasti tidak ada yang beres dengan semua orang yang berada di sini sekarang. Semuanya aneh.
"Ray! Aku ingin berbicara dengan Mira."
Rayhan menganggukkan kepalanya namun tidak keluar dari sana, membuat Via mendengus kesal.
"Keluar dulu, Ray."
Rayhan menghela napas pelan dan menganggukkan kepalanya.
Namun tatapannya mengarah ke Glen dan Mira, entah apa artinya. Setelah mereka berdua keluar, kini menyisakan Mira dan Via berada di sana.
"Nih, makanan lo."
Via megambil keresek putih yang berisi makanannya. Namun setelah itu, ia menarik Mira agar lebih dekat dengan nya.
"Cerita sama gue sekarang!" ujar Via dengan raut wajah memaksa menatap Mira serius.
Mira gelagapan, membuat jantungnya berdetak sangatlah kencang, dan Via bisa menangkap raut wajah khawatir dari gadis itu.
"Ayo cerita, setelah gue pingsan apa yang terjadi. Gue penasaran sama.."
"Via!" Tiba-tiba Mira menegur penuh akan peringatan, membuat Via tersentak karena terkejut akan perubahan sikap Mira yang berlebihan.
"Lo kenapa, sih? Atau Lo diancam sama mereka berdua? Jawab gue, Mir!"
Mira menghela napas panjang. Dia hanya terdiam lama tanpa penjelasan apapun.
"Tuan muda suami lo, jadi hormati beliau."
"Lo aneh. Malas gue bicara sama lo, Mir. Gue mendingan makan."
Mira menganggukkan kepalanya. Sungguh melihat sahabatnya seperti ini membuat dirinya juga merasa semakin lapar, karena tenaganya terkuras habis. Baru saja dirinya bangun dari pingsannya.
"Gue permisi Vi."
"Mau ketemu sama manusia robot itu? Lo sama dia dah pacaran?"
Mira tidak menjawabnya dan langsung pergi begitu saja. Via memakan makanannya dengan sangat lahap, bodo amat dengan kelakukan Mira, mungkin dia belum siap cerita.
***
"Kamu menceritakannya?" Tanyaa Glen menatap Mira yang kini berada di hadapannya. Mereka
sedang berada di sebuah restoran dekat dengan rumah sakit.
Suasana tempat itu sangatlah sunyi, tidak ada suara berisik karena memang restoran tersebut adalah tempat makan elite yang biasa dikunjungi oleh orang berada.
"Tidak." Mira menjawabnya dengan singkat, membuat Glen tersenyum miring. Ternyataa gadisnya telah patuh kepadanya.
"Gadis yang pintar."
"Iya."
Sebenarnya Mira sangatlah takut berdekatan dengan Glen. Wajah pria itu memang sangatlah
tampan, namun baginya menyeramkan dengan segala tipu daya yang pria itu tampilkan di hadapannya.
"Aku ingin segera memilikimu."
"Aku masih kuliah."
Glen menggepalkan tangannya, karena dia tidak suka penolakan.
Namun untuk saat ini, Glen tidak akan memaksa Mira, seperti dirinya mengancam gadis itu untuk menjadi kekasihnya.
"Aku akan menunggumu hingga Wisuda."
"Tidak perlu!"
"Kenapa?!" ujar Glen dengan nada yang mendesak. Sepertinya Mira ingin bermain-main dengan nya saat ini.
"Ak-aku... ingin melanjutkan S2. Iya, S2 di ... luar negeri."
Dengan gelagapan Mira langsung menjelaskan tujuannya, yang tidak tentu arah itu. Dan sebenar-benarnya dia hanya mengarang saja, tidak pernah berkeinginan untuk pergi ke sana. Glen menatap Mira dan menganggukkan kepalanya. Dia cukup bangga dengan gadisnya, karena berkeinginan untuk melanjutkan studinya. Berarti
Mira serius dengan pendidikannya. Jadi, Glen akan
mendapatkan gadis yang cerdas untuk menjadi istri dan ibu dari anak-anaknya kelak.
"Aku akan mendukung mu. Selain cantik kamu juga cerdas."
Bukannya tersanjung, Mira merasakan bibirnya kering karena terlalu takut, untuk bereaksi apapun saat ini.
Semoga saja, besok dirinya di luar negeri dapat terbebas dari pria ini. Dia berharap seperti itu, Mira
tidak mencintai Glen, dan hal tersebut tidak akan pernah terjadi sampai kapanpun.
"Jangan pernah berpikir untuk berpisah denganku, Mira. Karena sampai ujung dunia pun kanu bersembunyi. Aku akan mendapatkan mu."
Itulah suara bisikan dari Glen, membuat sekujur tubuh Mira membeku.
"Iya, Glen. Aku tidak akan melakukan nya. Kamu tenang saja."
__ADS_1
"Baiklah gadisku yang penurut." Glen mengusap wajah Mira dengan ibu jarinya. Dan gadis itu tidak bisa untuk menolak sentuhan itu.