
Sedari tadi,Via mencengkram sendok yang ia gunakan untuk memakan mie ayam,bersama dengan Mira di kantin kampus.
"Keterlaluan banget nih, anak."
Mira melihat wajah Via terpampang jelas di berita kampus, sebagai istri dari tuan muda karena berhasil memikat tuan muda dengan pelet.
"Cantik, sih. Tapi mainnya dukun," cibir mereka merendahkan Via.
"Gue gak nyangka banget. Karena harta bisa melakukan berbagai macam cara untuk mengejar tuan muda."
"Gue aja yang suka sama tuan muda, semenjak dia menghadiri seminar kampus gak gitu amat."
"Jangan-jangan, Via telah mengandung sebelum nikah."
"Kan, gatel."
Via mengatur nafasnya, sedari tadi untuk menahan emosi nya.
"Eh, kalian semua. Kalian gak takut Via melaporkan perbuatan kalian ke tuan muda?" Mira memicingkan matanya dan menatap mereka sangat tajam.
"Gue hafal satu persatu wajah kalian semuanya. Nanti gue yang lapor kalau Via ngak mau, huh."
Mereka mendadak bungkam dan saling memandang. Kalau hal itu terjadi, maka hidup mereka tidak akan aman kembali.
"Diem kan lo semuanya?! Asal lo tahu, mereka menikah atas dasar suka sama suka. Kalian tahu juga kan, keluarga Pratama? Via sudah kaya dari lahir. Jadi, jangan bandingin sama kalian, yang hanya remahan rengginang. Cocoklah sama tuan muda. Sama-sama kasta tinggi."
Mereka merenung dan berpikir dengan logis. Benar juga, Via keturunan orang kaya. Jadi pantas bersanding dengan tuan muda.Tidak seperti mereka yang hanya bermodal pas-pasan.
"Sudah, Mir. Jangan tanggapi mereka. Mungkin sudah bosan kuliah di sini. Nanti gue lapor ke suami gue."
Mira tersenyum miring. Mereka merinding dan gemetar mendengarnya.
"Vi! Gue gak ikutan, ya? Jangan laporin gue."
"Gue minta maaf! Gak bermaksud."
"Kita hanya bercanda saja. Jangan dibuat serius."
Bolehkah Via bersedih mendengarnya? Mereka memiliki dua wajah yang sangat bertolak belakang. Manusia tidak berguna walaupun berpendidikan tinggi.
"Kok mereka minta maaf ke, Via?" gumam Chika.
"Istri tuan muda. Siapa yang berani lawan."
"Sia-sia dong, gue ngembuat berita untuk dipublikasikan ke berita kampus."
Chika mengepalkan tangannya ketika melihat Via, meninggalkan kantin bersama dengan sahabatnya. Wajah sombongnya mendongak seakan menjadi ratu.
"Ikut gue!" sentak Chika.
"Mau kemana?" tanya dua temannya.
"Gue mau kasih pelajaran ke Via."
Mereka tersenyum miring dan mengangguk. Ketiga gadis itu keluar dari kantin, dan mengejar Via bersama dengan Mira.
"Menikah dengan tuan muda karena pelet aja, bangga. Mata duitan dan murahan."
Via tidak menggubris perkataan Chika. Dia membasuh wajahnya dan telapak tangannya dengan cepat.
"Lo denger gak, sih?!" bentak Chika.
"Lah, kenapa lo yang ngegas? Biasanya, iri tanda tak mampu. Kalau seperti itu, bilang... babu!"
Chika mengepalkan tangannya. Sedangkan Via tersenyum miring melihat wajah Chika yang kesal.
Tiba-tiba dua temannya datang, dan telah mengosongkan kamar mandi.
"Main keroyokan?" ujar Via seakan mengejek mereka.
"Lo gak pantes di lawan sendiri, Via. Gue benci banget sama lo."
"Alasannya?"
"Karena lo hampir sempurna. Lo memiliki segalanya dan sekarang semua orang menganggap lo ratu,
karena menikah dengan tuaan muda Rayhan Crowel."
Via menatap Chika dengan tatapan datar. "Gak ada yang sempurna. Lo hanya melihat dari luar."
Chika menggelengkan kepalanya dan langsung menyerang Via, dengan menjambak rambut gadis
itu. Via tidak mau kalah dan menjambak kembali dengan cukup kasar.
Tenaga Chika terkuras banyak.
Hingga Via berhasil mendorongnya sangat kasar. Via menyeringai.
"Udah, gue mau pergi." Via hendak keluar, namun sesuatu seakan menghantam kepalanya. Salah
satu teman Chika melempar sepatu ke kepala Via.
Via berbalik dan mengeram. Dia hendak menyerang, namun kalah telak ketika dua teman Chika
memegang tangannya. Dan berakhir Chika yang menguasai permainan.
Plak!
"Itu karena lo sok cantik."
Plak!
"Karena lo, Raja jauh dari gue."
Plak!
"Gue benci semua tentang lo."
Kepala Via sudah pening dan pusing. Darah merembes keluar dari hidungnya, tanpa henti.
Membuat mereka bertiga panik. Via tersungkur ke lantai karena pingsan.
"Gue takut!"
__ADS_1
"Kabur!"
Mereka bertiga langsung berlari ke luar untuk kabur. Tanpa sepengetahuan mereka. Dua anak buah yang menjaga Via, melihatnya. Mereka mendeteksi
keberadaan Via dari ponselnya. Benar dugaan mereka. Nyonya tengah pingsan di dalam kamar
mandi. Dan itu perbuatan mereka. Mereka langsung menggendong Via yang sudah lemas. Mira yang
melihat sahabatnya di bawa keluar dari kamar mandi, melototkan matanya karena panik.
"Via kenapa?!" bentak Mira kepada kedua anak buah itu.
"Anda sebaiknya menyingkir! Jangan menghalangi langkah kami."
Mira mengangguk dengan air mata yang menetes. Banyak mahasiswa yang memperhatikan mereka.
Banyak juga yang berempati serta penasaran dengan apa yang terjadi.
"Siapa yang melakukannya? Gak takut sama tuan muda?"
"Bener banget. Gua aja merinding lihatnya."
"Semoga saja, kita gak terlibat karena kasus ini."
"Bener, tuh."
Mereka membubarkan diri ketika para dosen menyuruh mereka masuk kelas. Tidak berkeliaran
seperti anak SMA yang sulit diatur. Yang tidak memiliki kelas, disuruh untuk menjauh dari kerumunan.
*
*
*
Tuan Muda! Anda, baik-baik saja?" tanya Glen melihat raut wajah gelisah Rayhan.
Rayhan mengangkat tangannya.
Dia kembali menjelaskan presentasi proyek yang akan di bangun secepatnya.
Setelah semuanya usai. Anggota direksi membubarkan diri. Rayhan duduk dan meminum segelas air putih, bersama dengan Glen di sampingnya.
"Tuan Muda, salah anak buah yang...."
"Intinya, Glen!"
Glen mengangguk dan memberikannya kepada tuan
muda. Rayhan menempelkan ponsel ke telinganya.
Selang beberapa detik. Wajah Rayhan merah padam. Dia langsung meninggalkan Glen.
"Ada apa?" tanya Glen di balik telpon.
"Kami menemukan nyonya terkapar di dalam kamar mandi. Dengan tiga gadis yang pasti menjadi tersangka."
Glen meremas ponselnya. Bagaimana tuan muda tidak marah. Istrinya, diperlakukan seperti itu.
Mereka belum tahu saja, betapa berartinya Via dalam kehidupan tuan muda sekarang.
Glen harus menyusul tuan muda. Dia berjalan dengan langkah lebar dan keluar dari ruang rapat.
Bugh!
"Bodoh! Bagaimana bisa, kalian tidak bisa menjaga istriku?!" bentak Rayhan menghajar kedua anak buahnya.
Mira menangis sesegukan di samping mereka yang telah babak belur, karena hantaman
bertubi-tubi dari tangan Rayhan yang keras dan kuat.
"Dan untukmu!" Rayhan menunjuk Mira. "Sahabat tidak becus. Kau berjanji akan menjaga istriku, namun kau sama saja dengan mereka. Jangan pernah bertemu dengan Via kembali!"
Rayhan masuk ke dalam ruangan tempat Via dirawat. Glen menjaga di depan pintu. Tidak mengizinkan siapapun untuk masuk.
Dengan nafas memburu. Rayhan menghampiri Via yang kini telah dipakaikan selang oksigen di
hidungnya. Membuat hati Rayhan sesak melihatnya.
Rayhan menunduk dan menyesali semuanya. Betapa kejam nya Rayhan, menyiksa istrinya sedari
dulu. Bahkan hampir membuat Via kehabisan nafas. Namun Via selalu memaafkan nya.
"Via! Bangun!" lirih Rayhan menggenggam erat tangan kecil istrinya.
Siapapun yang melakukan hal ini. Mereka akan hancur hingga ke akar-akarnya. Kalau sampai Paula
mengetahuinya, maka Rayhan yang akan diberikan peringatan keras oleh Paula. Dan papa nya
akan menyuruh Rayhan bertindak langsung tanpa rasa kasihan sebagai sesama manusia.
"Permisi Tuan Muda."
Rayhan melepaskan genggamannya. Dia berdiri dan
menghadap ke dokter.
"Bagaimana keadaan istri saya?"
"Jadi seperti ini, Tuan Muda. Memang keadaan nyonya Via tidak berbahaya. Namun apabila hal ini
sering terjadi. Maka, nyonya Via bisa saja kekurangan darah."
"Ini laporan pemeriksaan tubuh Nyonya Via sejauh ini, Tuan Muda."
Rayhan mengambilnya. Bahkan ia selama ini menyembunyikan semuanya. Via pernah terlibat
kecelakaan, pada masa kecilnya ketika hendak menyeberang jalan. Via terlalu sering terluka sejak
kecil hingga sekarang. Namun tubuh kecil itu tumbuh dengan baik, hingga umur Via yang kedua
puluh satu tahun.
__ADS_1
Dokter berpamitan dengan Rayhan yang kini meraup wajahnya kasar karena tidak becus. Dia berbalik memandangi Via yang masih memejamkan matanya dengan wajah pucat.
Terhitung dua kali. Via mimisan dengan mengeluarkan banyak darah. Pertama karena
kesalahannya, dan kedua Rayhan tidak becus menjadi seorang suami.
Dengan wajah datar. Rayhan membuka pintu ruangan itu. "Siapa yang melakukannya?"
Mira menghampiri Rayhan dan menyebutkan namanya. Rahang Rayhan mengeras. Sangat mudah
untuk menghancurkan mereka.
"Jaga istriku."
"Glen! Ikut denganku!"
Mira mengangguk dan segera masuk. Ketika Rayhan
mengizikan nya. Rayhan dan Glen segera keluar dari area rumah sakit.
"Sepertinya tuan muda cinta banget sama lo, Vi. Lo yakin mau meninggalkan dia? Gak mau memperjuangkan rumah tangga kalian?" gumam Mira.
Via masih setia memejamkan matanya. Ada bekas tamparan di wajah Via. Bukan hanya satu, kedua pipi gadis itu merah dan bahkan lebam, sangat terlihat jelas.
"Chika! Sebentar lagi, hidup lo gak akan tenang lagi."
"Eugh!"
Mira terkesiap ketika Via perlahan membuka kedua netranya, untuk menyesuaikan cahaya ruangan.
Mira bisa bernafas lega, ketika Via kini menatapnya.
"Dimana?"
"Rumah sakit."
Via mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan, yang didominasi oleh warna putih.
"Lo nyari tuan muda?"
Via menggelengkan kepalanya.
"Nggak. Siapa yang nolongin gue?"
"Anak buah suami lo."
Sontak Via terkejut mendengarnya. Pasti mereka akan mendapatkan hukuman karena tidak becus menjaganya.
"Mereka dihukum?"
"Konsekuensinya. Gue aja tadi pas tuan muda marah, gak di izinin masuk. Syukur beberapa menit
berlalu, tuan muda tanya ke gue siapa pelakunya."
"Terus lo kasih tahu?" sentak Via.
Dengan polos, Mira mengangguk. Membuat jantung Via berdetak sangat kencang.
"Ini bahaya."
Mira mengernyitkan dahinya bingung. "Bahaya kenapa?" celetuk Mira.
"Lo ngak tahu, betapa kejamnya tuan muda. Gue takut Chika dan keluarganya kenapa-kenapa."
"Biarin aja. Bagus juga kan?"
Via hendak bangkit dan membuka selang oksigen yang terpasang di hidungnya. Namun Mira langsung
menghentikannya.
"Jangan membesarkan masalah, Vi. Tuan muda bisa marah ke semua orang kalau lo keras kepala
seperti ini."
"Tapi..."
"Dengan lo nekad. Hukuman untuk Chika akan semakin berat."
Via menatap Mira lama dan mengangguk. Dia membetulkan selang oksigen yang terpasang di
hidungnya, dan kembali berbaring dengan nyaman.
Ceklek!
Glen tiba-tiba masuk ke dalam ruangan Via. Sebenarnya dia ragu untuk mengatakannya, namun ini juga demi mereka semua.
"Ada apa denganmu, Glen?"
"Nyonya, sebaiknya Anda ikut dengan saya bertemu dengan tuan muda."
"Memangnya kenapa?" tanya Via lirih.
"Sahabat gue kan lagi sakit, baru bangun."
Glen tidak menghiraukan perkataan Mira. Membuat gadis itu mendengus kesal.
"Nyonya tahu, kan? Tuan muda memiliki emosional yang tinggi. Bukan tanpa sebab, namun keturunannya. Siapapun yang mengusik milik mereka. Akan menerima akibatnya."
Via mencengkram kuat selimutnya. Dan Via tahu itu.
Betapa kejamnya seorang Rayhan Crowel.
Tuan muda bisa saja dengan mudah menghancurkan keluarga pelaku hingga ke akar-akarnya, bahkan sampai dengan keturunannya. Namun tidak hanya itu, tuan muda pasti akan melakukan sesuatu kepada mereka."
"Cukup, Glen! Jangan melanjutkannya." Via mengambil nafas panjang dan mengangguk.
"Kita pergi sekarang!"
"Vi! Lo masih sakit."
"Gak, Mir. Gue gak mau Chika dan keluarga nya kenapa-kenapa. Ini hanya masalah sepele."
"Sepele?! Lo mimisan dan kalau gak ada yang nemuin lo tadi. Lo bisa mati kehabisan darah."
__ADS_1
"Glen! Bantu saya!"
Glen mengangguk. Via tidak menghiraukan larangan dari Mira, membuat gadis itu menghela nafas panjang.