Istri Kesayangan Tuan Muda Arrogant

Istri Kesayangan Tuan Muda Arrogant
38. Dibalik Semua Ini


__ADS_3

Via yang baru selesai bersih-bersih, dan bersiap keluar rumah, untuk jalan-jalan langsung dikejutkan dengan suara pintu diketuk.Lantas Via segera mendekatinya.


"Siapa?


Ceklek!


Via membuka pintu kayu itu secara perlahan, dan menemukan seorang pria muda seumuran dirinya menatapnya, dengan wajah memicingkan mata.


"Kamu siapa?" tanya Andi.


"Aku manusia."


"Maksudnya kamu itu siapa? Aku kira Mira tadi. Kenapa kamu berada di sini?"


"Aku sahabat Mira. Sekarang tinggal di sini, untuk sementara waktu."


Andi mengangguk dan meneliti penampilan Via, yang ciri khas seperti orang kota dan kaya raya.


Mungkin gadis ini berasal dari keluarga konglomerat.


"Andi, kamu sudah datang?"


Andi melepaskan pandangannya dari Via, dan menatap nenek nya baru keluar dari dapur.


"Ayo masuk. Kita sarapan dulu."


Mereka akhirnya masuk ke dalam, dan menutup pintu.


Via duduk di dekat nenek Imah dengan wajah yang ceria, dan semua itu tidak lepas dari perhatian Andi.


"Ini namanya Non Via dari kota."


"Saya Andi, cucu Nenek Imah."


Via mengulas senyum ramah dan mengangguk. "Kamu yang akan mengantar saya jalan-jalan?


"Iya, Nenek sudah mengatakan hal itu. Kamu pasti suka dengan suasana di desa ini."


"Aku tidak sabar untuk mengelilingi desa."


"Nanti kamu antar Via ke toko besar di sana, katanya mau ke mesin uang itu."


"ATM, Nek!" sanggah Andi, membuat nenek Imah tertawa.


"lya, iya, maaf!"


Mereka melanjutkan sarapan dengan hikmat. Via menghela nafas pelan, inilah kehidupan barunya dan Via harus mensyukurinya.


***


Kamu mau kemana dulu?"


"Aku rencananya ingin membeli motor."


"Boleh. Ada toko di pinggir jalan punya orang kota. Ada juga bengkel di sana."


Mereka berjalan mendekati jalan raya, dengan Andi yang sedari tadi menjawab ramah semua sapaan


penduduk desa yang melewati mereka menuju perkebunan.


"Kamu sangat terkenal."


"Tidak! Kalau kamu penduduk desa ini, juga akan disapa seperti itu."


Via mengangguk dan mengerti.


Jadi kalau orang kota yang tidak dikenal akan di cuekin? Kenapa Via berpikir hal itu? Dia segera


menggelengkan kepalanya.


"Kenapa?"


"Tidak ada. Ayo menyeberang."


Mereka akhirnya sudah sampai di depan toko besar itu.


Via dan Andi masuk ke dalamnya, dan langsung disambut ramah oleh pegawai di sana.


"Ada yang bisa kami bantu?"


"Hem, saya ingin membeli motor. Bisa?"


"Sangat bisa. Dibayar kredit atau langsung?"


"Langsung saja dan segera selesaikan surat-suratnya, saya akan langsung menggunakannya."


"Baiklah. Silahkan pilih motor yang Anda inginkan, Mbak."


Via mengangguk dan kembali menatap Andi, yang kini memperhatikan toko besar itu.


"Kalau motor Beat terbaru gimana?" tanya Via menyentuh body motor, yang terlihat ramping

__ADS_1


dan cocok untuk perempuan.


"Iya, itu juga bagus kalau kamu suka."


Via mengangguk dan telah menunjuk pilihannya, membuat pegawai itu langsung mendatanya.


"Anda bisa menunggu untuk beberapa menit di sana."


"Oke." Via dan Andi duduk di salah satu sofa memanjang di sana, sembari menunggu pembelian motor di proses.


Mereka mengeluarkan motor itu, dan menulis semua perlengkapannya.


"Kamu tidak pernah ke sini?" tanya Via.


"Pernah, ketika ayah saya membeli motor di sini."


"Kenapa kamu nggak pakai jugak?"


"Saya biasanya hanya memakai motor, kalau benar-benar dalam jarak yang jauh. Kalau masih ke


rumah nenek, memakai sepeda."


Tapi aku lihat, kamu tidak pakai sepeda tadi."


"Saya menaruhnya di belakang rumah."


Via mengangguk dan mengerti.


Jujur! Andi memang terlihat sangat baik dan juga tampan. Tapi lebih tampan suaminya, yang seperti dewa Yunani itu, namun sayangnya telah berlabuh ke gadis lain.


"Ini surat-suratnya, Mbak dan ini juga kartu Anda."


Via menerima nya dan mengangguk. Memasukkan semua itu ke dalam tas nya.


"Terimakasih."


"Anda bisa langsung menggunakannya berkendara hari ini."


"Ayo, Andi!" ajak Via ketika Andi hanya diam, menatapnya mendekati motor itu.


"Hem, saya yang membonceng kamu?"


Via mengangguk.


"Terus siapa lagi? Aku mana mau bonceng kamu. Berat tahu."


Ya, walaupun Via bisa memakai motor. Namun kalau membonceng orang lain, apalagi itu laki-laki Via tidak kuat.


Andi akhirnya mendekati motor dan membonceng Via, meninggalkan toko itu untuk berkeliling desa.


"Kamu tidak memiliki kekasih, kan?" tanya Via dengan suara lumayan tinggi, karena berada di


atas motor.


"Tidak. Memangnya kenapa?"


"Takut saja kekasihmu cemburu. Padahal kan, kamu hanya mau mengantar aku saja."


"Tenang saja. Saya tidak memilikinya, untuk saat ini."


"Semoga saja kamu secepatnya memilikinya, Andi. Jangan terlalu banyak memilih. 'Tidak baik, nanti


kalau sudah tua. Mana mau gadis cantik nikah, sama kamu."


Andi tertawa mendengarnya.


"Insyaallah itu tidak akan terjadi. Karena cepat atau lambat, saya akan segera menikah."


"Ya, ya, aku hanya ingin memberi tahu saja. Jangan terlalu mahal jadi laki-laki."


***


"Keberadaan nyonya muda tidak dapat dideteksi, karena nyonya muda membuang sim dalam


ponselnya, begitupun dengan ATM yang Tuan muda berikan."


"Nyonya muda, seperti sedang disembunyikan oleh seseorang yang membantunya. Sehingga, kita akan kesulitan untuk menjangkaunya, Tuan Muda."


Rayhan berpikir keras, untuk mengetahui dalangnya dari semua ini. Tidak ada yang jauh lebih berkuasa di sini selain papa nya. Hanya pria paruh baya itu, yang


bisa mengalahkannya.


Rayhan menduganya, karena papa nya tidak suka dengan dirinya yang selalu menyiksa Via dulu, dan


tidak menyadari bahwa peri kecil itu adalah istrinya sendiri.


Sepertinya, papa nya akan memberikannya pelajaran karena kebodohannya.


Papa nya mengetahui hal tersebut, laporan dari anak buahnya yang patuh dengannya.


Rayhan menggenggam kasar ponsel dan menelpon papa nya, namun seperti biasanya mama nyayang mengangkatnya.

__ADS_1


"Tumben kamu menelpon pagi-pagi, boy."


"Papa!"


"Papa kamu biasanya, sibuk bekerja. Kamu apa kabar, sayang?"


"Baik. Rayhan hanya ingin berbicara dengan papa, mengenai perusahaan. Jadi, berikan ponselnya, ma."


Tiba-tiba sambungan terputus, mama nya mematikannya dengan alasan kurang sinyal. Semakin mencurigakan, namun Rayhan tidak akan menyerah untuk mencari istrinya itu.


Rayhan mengeram dan menatap tajam Glen, yang sekarang menunduk tak berani mengangkat kepala. Aura tuan muda sangat menekannya di dalam ruangan itu. "Bodoh! Apa gunanya otakmu


selama ini, Glen?!"


Rayhan mendekati Glen dan memberikan tendangan kasar, di kedua kaki pria itu hingga Glen hampir saja linglung dan akan terjatuh. Namun dia segera


menahan dirinya, agar tidak mendapatkan hukuman yang lebih berat lagi.


Glen tahu, apabila dia terjatuh karena tendangan dari Rayhan. Akan membuatnya tidak lagi diizinkan, untuk mengabdi kepada tuan muda selamanya.


"Cari istriku sampai dapat. Aku bersumpah akan mengurungnya, apabila telah ditemukan."


"Baik, Tuan Muda." Glen akhirnya mundur dan segera keluar dari ruangan itu.


Menyisakan Rayhan yang kini murka dengan kehilangan gadisnya. Via adalah peri kecil yang selama ini Rayhan nantikan kedatangannya. Dan setelah semua terungkapp gadis itu kembali meninggalkannya.


Dan lebih parahnya, papa nya sendiri dalang dari semua ini.


Menghapus jejak Via, bahkan tanpa sepengetahuan gadis itu. Andai, tidak ada campur tangan papa nya. Mungkin sejak kemarin,


Rayhan akan menemukan istrinya dengan mudah.


"Ini semua salahku!" Rayhan menarik kedua sisi kepalanya, dengan sangat kasar dan meninju


kaca berulang kali di hadapannya.


Rayhan tidak peduli tangannya mengeluarkan darah. Sedikitpun, bahkan tidak ada raut wajah


kesakitan yang pria itu tampilkan. Rayhan tersenyum miring dan menghajar meja, dan semua


barang-barang yang berada di ruangan itu tanpa tersisa.


"Kenapa kamu meninggalkan aku?" gumam Rayhan terduduk di pojok ruangan seperti kehilangan


kewarasan membayangi Via, sang istri yang kabur darinya.


Ceklek!


"Astaga Tuan Muda! Apa yang telah terjadi?!" Bibi tua dan para pembantu lainnya masuk karena mendengar suara keributan.


"Angkat Tuan Muda ke kamarnya!"perintah bibi tua kepada sopir yang berada di sana.


"Baik." Dia segera membawa Rayhan yang sudah tak sadarkan diri dengan tumbuh yang lemas.


"Bersihkan semuanya tanpa tersisa. Atau saya akan


memberikan hukuman kepada kalian."


"Baik, Bibi Tua."


Bibi tua segera menyusul tuan muda ke kamarnya dan menelpon dokter pribadi keluarga Crowel


secepatnya.


"Apa tanggapan tuan besar kalau mengetahui ini semuanya?" gumam bibi tua, merasa khawatir


dengan keadaan yang semakin menegangkan.


Sudah dua kali, tuan muda menyakiti dirinya sendiri. Semenjak kepergian nyonya muda dari rumah besar ini.


***


"Pa! Bagaimana ini? Mama takut, putra kita kenapa-kenapa."


"Jangan terlalu memanjakannya, Ma. Papa hanya ingin Rayhan berusaha keras untuk memperjuangkan, apa yang telah menjadi miliknya, agar ia lebih menghargainya."


"Dan semua ini sejak awal, permainan Papa. Jadi, apa salah putra kita?"


Pria paruh baya itu menatap istrinya dengan lekat. Meyakinkan bahwa, hanya dengan cara ini untuk membentuk jiwa Rayhan agar tidak lemah, dan lebih setia kepada pasangannya.


"Keluarga kita tidak butuh pewaris yang lemah bahkan arogan. Jadi, biarkan Rayhan menanggung


segala kebodohannya itu, dalam beberapa bulan ini."


Suaminya pergi meninggalkannya. Wanita paruh baya itu merasa cemas dengan putra semata


wayangnya itu, karena sejak lahir memang Rayhan memiliki sifat yang arogan dan tidak bisa dibantah kemauannya.


"Pasti sekarang, Rayhan sedang mengamuk di sana. Semoga saja kamu bisa, meyakinkan papa mu, sayang. Agar semuanya kembali ke semula."


Tbc

__ADS_1


Jan lupa ritual, hari senin vote Abang Rayhan masih kosong astaga 💔💔


__ADS_2