Istri Kesayangan Tuan Muda Arrogant

Istri Kesayangan Tuan Muda Arrogant
53. Kehamilan


__ADS_3

"Tiba-tiba, saya pengen makan nanas. Pasti enak kan, Bik?" tanya Via menatap bibi tua dengan pandang tidak terlepas dari buah nanas di hadapannya.


"Sebaiknya, Nyonya makan buah yang lain," balas wanita tua itu.


Via mengerenyitkan dahinya bingung, dengan ucapan bibi tua.


Memangnya, ada larangan makan nanas di kelurga ini? Perasaanbnggak ada yang bilang seperti itu.


Terus kenapa nanas ada di dapur kalau tidak untuk di makan? Via menarik napas panjang karena tidak diizinkan untuknmemakannya.


"Kalau Bibi tidak mau mengupasnya, biar saya sendiri." Via hendak mengambil nanas tersebut, namun dihalangi oleh bibi tua.


"Jangan, Nyonya."


"Tapi, Bik. Sedikit saja. Soalnya,kepengen."


Via merengek dan berusaha untuk tidak mengindahkan peringatan dari bibi tua, yang entah apa gunanya. Sangat terlihat jelas, nyonya muda


sangat keras kepala, tidak seperti biasanya yang akan lemah lembut dan penurut.


"Ada apa ini?" Tiba-tiba mertuanya datang, karena


mendengar keributan dan suara menantunya, membuat wanita itu khawatir terjadi sesuatu kepada Via. Bahaya kalau menantunya kenapa-kenapa, karena Rayhan pasti akan marah besar dan berakibat kepada semua orang di rumah.


"Nyonya muda ingin memakan nanas, Nyonya Besar."


Karena mengerti kode dari nenek tua, Paula tersenyum cerah dan langsung menarik Via menuju ke kamarnya yang berada di lantai atas.


Via hanya mengikuti mertuanya saja, tanpa tahu arti dari tatapan mereka sejak tadi.


"Apakah ada yang salah dengan penampilannya?" Gumam Via tanpa dapat di dengar oleh Paula.


"Masuk, Sayang. Kunci pintu rapat-rapat."


Untuk pertama kalinya, Via masuk ke dalam kamar mertuanya. Tidak jauh beda, namun kamar mertuanya lebih didominasi oleh warna abu dan gelap.


Paula mengambil sesuatu dan memberikannya kepada Via.


"Untuk apa ini, Ma? Mama hamil?" Tanya Via tanpa pikir panjang ketika diberikan testpack.


Paula menggelengkan kepalanya dan menunjuk menantunya, membuat Via tampak terkejut namun, segera menganggukkan kepalanya.


"Ma! Tapi belum ada tanda-tandanya. Via, takut kecewa."


"Kamu telat tidak kemarin?" Via berpikir sejenak, dan mulai mengingatnya. Paula kembali tersenyum dan mendorong Via agar mengeceknya di kamar mandi.


"Mama tunggu di luar. Kamu tahu caranya, kan?"


"Iya, Ma. Via, tahu, walaupun ini pengecekan yang pertama."


Paula menutup pintu kamar mandi, agar Via segera


melakukannya dan tidak menghabiskan banyak waktu, karena dia orang yang tidak sabaran.


Di dalam kamar mandi, Via ingin menangis rasanya. Bukan karena terharu, namun ia terlalu takut untuk memiliki bayi di usianya yang sekarang.

__ADS_1


Bukan tanpa alasan, dirinya hanya belum siap. Masa depannya masih panjang dan juga dirinya ingin wisuda, sebelum terjadi semua ini.


Dengan jantung yang berdetak kencang. Wanita itu mencoba untuk mengeceknya. Dia menutup mata, ketika hendak melihat hasilnya.


Via tidak sanggup! Dia menggenggam erat tespack itu dan segera keluar, sebelum melihat hasilnya. "Bagaimana, Sayang?" Tanya Paula.


Via masih menyembunyikan benda itu dan memberikannya kepada Paula. Dengan senang hati, wanita paruh baya itu mengambilnya.


Seketika Paula mengucap syukur ketika mengetahui hasilnya positif. Sebentar lagi, dirinya akan menjadi seorang nenek dan memiliki cucu.


"Selamat, Sayang. Kamu akan menjadi seorang ibu."


Paula memeluk Via dengan erat, menyalurkan rasa bahagianya yang tiada tarannya. Ia tidak sabar, untuk memberitahu semua orang karena menantunya sekarang tengah mengandung.


Namun di balik semua itu, Via meneteskan air mata kesedihan, karena dia telah berada di dalam perutnya, tanpa disadarinya. Jujur! Via belum siap dengan semua ini.


Paula tahu, Via menangis karena terharu, disebabkan hasil tespack positif hamil. Dirinya juga dulu seperti itu, karena bahagia.


"Mama, akan menelpon Rayhan agar pulang sore ini."


"Iya, Ma."


***


Meja makan telah penuh dengan berbagai macam hidangan makanan. Rayhan bahkan Alfred terlihat menatap Paula dengan wajah bingung, karena makanan sebanyak ini, siapa yang akan memakannya. Terlalu berlebih-lebihan.


"Kenapa menatap Mama seperti itu? Nggak boleh gitu, Mama menyuruh bibi memasak banyak-banyak."


"Terus siapa yang akan memakannya?"


Mereka berdua saling menatap, namun kembali menstabilkan tekanan hidup masing-masing, karena memiliki wanita seperti Paula di dunia ini. "Kalian tidak ingin menghabiskannya? Beneran?"


Sedangkan Via yang melihat pemandangan itu hanya memilih diam dan tidak bersuara. Itu jauh


lebih baik, karena dirinya masih terkejut dengan apa yang telah terjadi.


"Ini buah-buahan untuk menantu kesayangan Mama. Dan ini juga ada ikan, sebagai sumber protein."


"Makasih, Ma." Via mengambilnya dan tersenyum kepada mertuanya.


"Sama-sama, Sayang. Ayo,


m dimakan semuanya." Rayhan mengusap wajah sang istri, yang terlihat kurang sehat membuatnya sedikit khawatir. Via tidak banyak bicara seperti


biasanya dan hal tersebut membuatnya terusik.


"Kenapa, hmm? Apa yang kamu pikirkan, Sayang?"


Via menghela napas panjang dan menggelengkan kepalanya. "Tidak ada, Ray. Hanya ingin makan buah


saja."


"Biarkan aku yang menyuapimu."


Via tersenyum dan menyetujuinya, karena tubuhnya sangat lemas. Semua itu, diperhatikan oleh Paula dan juga Alfred. Mereka melanjutkan makannya.

__ADS_1


Ketika Rayhan hendak menyuapi Via. Wanita itu, tiba-tiba menggelengkan kepalanya dan menutup mulutnya, karena perutnya bergejolak, ingin


memuntahkan sesuatu.


Karena masih memikirkan tata krama dalam keluarga suaminya.


Via segera menjauh dari meja makan, dan berlari menuju ke dapur.


"Sayang!" Karena khawatir, Rayhan langsung mengejar sang istri menuju ke dapur. Alfred melihat suasana yang kacau,dengan wajah datarnya dan tidak lagi melanjutkan makannya.


"Sudah, kan menantu kita terlihat tidak enak badan, Pa. Papa jangan marah seperti itu. Nanti menyesal!"


Pria paruh baya itu menatap sang istri dengan mengangkat sebelah alisnya. Kenapa dia akan menyesal? Tidak ada faedahnya sama sekali.


Sedangkan di dalam kamar mandi, Via menyalakan wastafel dan memuntahkan cairan bening, yang


sedari tadi ditahannya. Rayhan segera memijat


permukaan leher sang istri dengan lembut, dan sesekali mengusap kepalanya, agar Via bisa rileks dan mengeluarkan semuanya.


Setelah selesai, Rayhan menjangkau tisu dan menyeka bibir serta wajah Via, yang terkena muntahannya, tanpa tersisa dan bersih.


"Sudah, Sayang?" Tanya Rayhan khawatir. Pria itu takut, sang istri kenapa-kenapa tanpa memberitahu penyakitnya kepadanya.


Rayhan tidak ingin kehilangan Via sampai kapanpun. Dia hanya ingin Via menemaninya hingga akhir


hayat mereka berdua.


"Perut aku sakit." Wanita itu mengeluh sembari meraba perutnya yang rata.


Rayhan akhirnya memutuskan untuk menggendong sang istri, hingga melewati meja makan. Dan semua itu, tidak luput dari perhatian kedua orang tuanya


yang menunggu mereka kembali.


"Via kenapa, Ray?" Tanya Paula.


"Sakit, Ma. Rayhan akan menelpon dokter pribadi kita untuk memeriksa Via."


Paula menganggukkan kepalanya, sebenarnya ia ingin memberitahu mereka sekarang, namun biarkan saja nanti dokter pribadi keluarga yang menyampaikannya agar tidak salah.


Rayhan dan Via menuju ke kamar mereka. Via memejamkan matanya, untuk menghalau rasa


sakit di sekujur tubuhnya. Membuat sang suami tidak tega untuk melihatnya.


"Dalam sepuluh menit, Anda tidak berada di sini. Lihat! Hukuman apa yang akan saya berikan."


Rayhan mematikan ponselnya, setelah mengancam dokter pribadi keluarga itu agar segera ke rumah.


"Sakit, Ray. Apa seperti ini rasanya mengandung?" Gumam Via, membuat Rayhan menatapnya lama, dengan jantung yang berdetak kencang.


"Mengandung?" Gumam Rayhan tanpa sadar.


"Kamu hamil, Sayang?" sambung Rayhan dengan senyum terukir di wajahnya, dan untuk pertama


kalinya.

__ADS_1


__ADS_2