
Dapat Via perhatikan banyak pasang mata yang memperhatikan mereka berjalan beriringan.Via
perlahan menjaga jarak.Namun Rayhan langsung menariknya dengan kasar sehingga tubuh Via tersentak dan sekarang berada di samping pria itu.
Memang mereka melihatnya.Namun tidak berani bersuara barang sedikitpun.Bahkan jarak tempat mereka berpijak sangatlah jauh.Via tahu,bagaimana besarnya kekuasaan Rayhan. Sehingga kemanapun pria itu akan pergi.
Maka... semua orang akan berhati-hati.
Mereka masuk ke dalam ruangan dokter kandungan. Bahkan dokter wanita itu terlihat kaku dan memperhatikan mereka dengan wajah tertunduk, sangat menjaga kesopanan.
Satu yang ada dibenak Via. Mereka semuanya sangat berlebihan.
"Silahkan, Nyonya!'" ujar dokter wanita itu menyuruh Via berbaring di atas brankar.
Rayhan memilih keluar kembali, membuat Via bernafas lega.
"Dokter!" panggil Via.
"lya, Nyonya. Ada yang bisa saya bantu?" tanya nya hati-hati.
"Dokter, bisa tidak mengecek saya?" Via menjelaskannya dengan gerakan di tangannya menyentuh pakaian yang ia kenakan.
Dokter wanita itu sempat terkejut. Namun ia langsung mengangguk kaku.
"Nyonya bisa membukanya sedikit saja." Via mengangguk namun merasa malu. Namun Via harus melakukannya untuk memastikan sesuatu.
Lama dokter memeriksanya dan telah mengantongi hasilnya.
"Nyonya, Anda masih tersegel. Apakah Anda tidak pernah melakukannya, dengan tuan muda?"
Via mengangguk dengan polos, Namun dokter wanita itu sangat mengerti melihat wajah Via yang
memelas dan juga tubuh Via yang mungil. Via masih terlihat belum siap melakukannya.
Jadi, gue ditipu habis-habisan oleh pria kejam dan jahat itu?
Sialan!' batin Via mengumpat sangat kesal. Dadanya ingin meledak karena menahan amarah.
Bisa-bisanya, Via mengamuk dan menangis di hadapan Rayhan. Jangan bilang, Rayhan telah
merekamnya di otak pria itu dan akan selalu memojokkan nya dengan mengejek Via setiap saat.
Via telah terperangkap.
"Nyonya, kondisi rahim Anda baik dan juga telah siap untuk mengandung. Masa subur Anda pada pertengahan bulan."
Via menghela nafas dan mengangguk."Terima kasih,Dokter."
"Sama-sama, Nyonya. Mari saya bantu."
Via mengangguk dan turun dari brankar.Mereka kembali menemui Rayhan yang sekarang sibuk dengan ponselnya.
"Bagaimana?" tanya Rayhan datar.
"Kondisi rahim Nyonya Via, dalam keadaan sehat dan baik, Tuan Muda."
Rayhan tidak bereaksi apapun. Membuat Via tidak peduli. Dia masih kesal dengan pria jahat ini. Menipu nya habis-habisan hingga dirinya menangis.
"Terima kasih, Dok. Kami permisi!" Karena suasana tiba-tiba hening. Via memilih bersuara.
Sampai kapanpun, Rayhan tidak akan membuka mulutnya lebih lebar untuk berkata-kata.
Memang kesannya pria dingin ya seperti ini. Berbicara seperlunya kalau ada hal yang penting
Mereka berdua keluar dari ruangan itu. Menyisakan sekarang Via yang melirik tajam Rayhan dan mengepalkan tangannya.
"Tuan Muda, pembohong!" kesal Via.
"Kau ingin aku melakukannya?"
Tubuh Via menegang dan menggeleng cepat. Enak saja, tidak akan pernah mau Via memiliki seorang anak dari pria ini.
"Tidak! Saya masih harus sekolah tinggi-tinggi. Sebentar lagi saya juga akan semester 6. Jadi saya
harus ekstra belajar lebih giat lagi."
"Bocah."
"Terserah, Tuan Muda. Mulai besok pagi saya akan kuliah."
Kalau tidak karena takut dimarahi dengan suara yang membuat kuping Rayhan panas. Mungkin
sekarang Via telah ia kurung di gudang selama
berminggu-minggu. Namun seseorang telah melaporkan kelakuan kasarnya kepada mamanya dan wanita itu marah besar pada Rayhan.
Melihat Rayhan yang terdiam. Membuat Via menggerakkan diri sejajar dengan Rayhan dan
mendongak memperhatikan wajah tampan pria itu.
"Kau ingin memancingku?"
Via terperangah dan segera berbalik menghadap depan.
Kenapa juga ia memperhatikan wajah tampan Rayhan. Dasar Via bodoh.
Mereka berjalan keluar dari rumahbsakit. Via hendak masuk ke dalam mobil, setelah kendaraan itu berada di depan mereka.
"Kau naik taksi! Aku ada urusan."
__ADS_1
"Tapi, saya tidak membawa dompet, Tuan Muda," ujar Via memelas.
Via memang sangat ceroboh. Hanya membawa tas berisi ponselnya yang telah dikembalikan oleh Rayhan.
"Bukan urusanku!"
Brak!
Rayhan menutup pintu mobilnya dengan sangat kasar. Ada apa dengan pria itu? Mungkin memiliki kepribadian ganda. Tadi baik, sekarang marah-marah dan jahat.
Via menatap nanar mobil Rayhan telah pergi dari hadapan nya. Sekarang menyisakan Via yang kini berdiri seperti anak hilang mencari akal untuk pulang. Jarak rumah sakit dan rumah besar itu, bahkan sangat jauh.
Uhh! Dasar pria menyebalkan.
"Kalau gue kabur, baru tahu rasa. Tapi percuma juga gue kabur kalau gak ada duit." Sampai kolong jembatan pun, pria jahat itu akan menemukannya dalam waktu yang sangat singkat.
"Gue telepon Raja, aja." Via tersenyum miring dan langsung menelpon Raja dengan gaya angkuh.
Sedangkan di dalam mobil yang sekarang melaju dengan kecepatan sedang, terdapat dua pria yang kini tidak bersuara. Hingga Glen memilih untuk berbicara dengan tuan muda.
"Tuan Muda, kalau nyonya kabur dan pergi jauh bagaimana?" tanya Glen berhati-hati.
"Hukuman menantinya. Aku muak melihat wajah gadis pembangkang itu. Biarkan dia hilang selama-lamanya."
'Kalau nanti nyonya hilang. Pasti tuan sendiri yang kelimpungan mencari nya,' batin Glen fokus menyetir mobil.
Contohnya kemarin ketika Via kabur. Rayhan langsung meninggalkan pekerjaan nya untuk mencari gadis itu. Seakan kekasih hati yang sangat ia cintai.
"Bagaimana perkembangan pencarian mu, Glen?"
"Saya sudah menelusuri rumah gadis kecil itu, Tuan MudaNamun gadis kecil itu tidak lagi menetap di sana."
"Jangan sampai peri kecilku, dimiliki oleh seseorang Glen! Atau aku akan sangat marah."
"Baik, Tuan Muda. Namun saya ingin menyampaikan sesuatu yang menguatkan bukti mengenai kemiripan mereka."
"Katakan!"
"Gadis kecil itu telah kehilangan ibunya sejak kelahirannya, dan ayahnya sangat membenci gadis
kecil itu. Karena menyebabkan istrinya meninggalkan mereka berdua."
"Dia berbeda, Glen. Jangan samakan dengan seseorang yang sangat ku benci."
"Tuan Muda, andai itu semuanya benar. Anda tidak bisa menyangkalnya."
"Glen!" peringat Rayhan mengeram.
"Maafkan kelancangan saya, Tuan Muda. Ampuni saya!"
***
Sedari tadi Raja memperhatikan Via yang matanya tertuju memperhatikan jalanan kota yang sangat ramai.
"Kita mampir ke cafe dulu, ya?" ujar Raja dengan kikuk, membuat Via menatap Raja aneh.
"Lo kenapa lihatin gue terus dari tadi?"
Mungkin saja ada yang aneh dengan wajahnya kan? Karena tidak biasanya Raja menatapnya sangat dalam.
Raja langsung gelagapan dan segera menggelengkan kepalanya. Dia ketahuan.
"Lo kenapa ke rumah sakit, Vi? Lo sakit?" tanya Raja khawatir.
"Gak, gue hanya memeriksa diri saja."
"Lo menyembunyikan sesuatu dari kita, Vi. Semalam Mira terisak nyari lo telepon gue. Katanya lo tiba-tiba hilang dari kamarnya."
Via menghela nafas pelan. "Gue sudah kabarin Mira dan sebelum gue pergi. Gue pamitan sama kedua orang tua, Mira."
"Vi! Lo ada masalah besar, ya? tanya Raja.
"Masalah besar gue hanya satu, Ja. Papa gue benci dengan kehadiran gue."
"Lo yang sabar, Vi. Kita akan selalu ada untuk lo."
Via mengangguk dan tersenyum.
Hanya mereka yang Via miliki sekarang. Andai Via mau, akan menyuruh Raja membawa nya sejauh mungkin dari sini. Namun Via takut, Raja akan mendapatkan masalah besar karenanya.
Gue tahu, dia bukan pria baik dan akan membiarkan gue pergi begitu saja. Gue gak mau dia menyakiti
papa dan sahabat gue.'
Walaupun Alfredo telah membuatnya sangat kecewa. Via tidak bisa membohongi perasaannya, dia sangat menyayangi Alfredo.
'Andai papa tahu, bagaimana perasaan Via. Via sayang banget sama papa. Via bahkan rela melakukan apapun demi papa.'
"Lo kenapa, Vi?" Raja meminggirkan mobilnya ke
pinggir jalan. Karena ingin menenangkan Via yang sekarang meneteskan air matanya dan terisak pelan.
"Vi!" panggil Raja.
"Gue hanya punya kalian, hiks. Gue gak punya siapapun di dunia ini."
Kalau seperti ini, Raja menjadi kelimpungan. Raja memilih menelpon Mira untuk menenangkan Via. Karena Raja tidak mungkin memeluk gadis itu.
"Gue telpon, Mira." Via mengangguk dan menatap
__ADS_1
kosong jalanan yang berada di depan nya. Mungkin Via terlihat tegar dihadapan semua orang.
Tidak ketika bersama dengan kedua sahabatnya.
'Apapun akan gue lakukan Vi,' batin Raja memperhatikan wajah Via yang sembab. Ingin sekali Raja menyentuh wajah Via dan menghapus air matanya. Namun Raja tidak ingin hal itu membuatnya sangat jauh dengan Via nantinya.
***
"Lo bohongin gue, Ja?!" kesal Mira.
"Ngapain gue bohong? Tadi memang Via menangis. Ya, kan,
Vi?"
Via mengangguk membuat Mira menghela nafas berat. "Lo kenapa, Vi?" tanya Mira.
Mereka sekarang duduk di sebuah cafe. Dengan pengunjung tidak terlalu ramai karena hari menjelang siang.
"Gak ada, hanya sedih saja."
"Pasti gara-gara papa lo itu, kan?"
Via mengangguk membuat Mira merangkul tubuhnya.
"Lo kenapa ninggalin gue semalam? Tega banget lo."
"Hem, papa gue, Mir." Entah untuk kesekian kalinya, Via berbohong kepada sahabatnya.
Mira mengangguk. Mungkin Via melakukannya karena papanya mengancam gadis itu.
"Lo punya kita, Vi. Jangan sedih!"
Via menatap mereka bergantian dan mengangguk. Via perlahan mengulas senyuman nya.
Membuat mereka ketularan tersenyum juga.
"Kok gue mewek, sih?" kesal Via karena merasa dirinya sangat cengeng di hadapan mereka.
"Gak apa-apa, Vi. Lo menyembunyikan sesuatu. Itu
baru yang gak benar."
'Semoga kalian tidak membenci gue. Setelah mengetahui semuanya.
****
Malam menjelang. Via masuk ke dalam kamar. Namun Via tidak menemukan keberadaan Rayhan di sana.
"Sudah pulang?!"
Via sontak berbalik dan menemukan Rayhan berdiri
bersedekap dada di sampingnya. Membuat tubuh Via mundur beberapa langkah karena terkejut.
"Aku sudah memberikanmu peringatan."
"Peringatan apa? Bukannya Tuan Muda yang mengusir saya dari mobil itu dan menyuruh saya naik taksi."
"Dan kau tidak melakukannya."
"Karena saya tidak memiliki uang."
"Dan bertindak murahan!"
Tangan Via terkepal mendengarnya. "Dia sahabat saya. Dan hal itu tidak ada urusannya dengan Tuan Muda. Saya melihat Tuan Muda dekat dengan siapapun, tidak pernah protes. Kenapa Tuan Muda senang sekali mencampuri urusan saya?"
Hawa kamar tiba-tiba menggelap ketika dirinya berani bersuara dengan nada tinggi di hadapan pria itu. Via mundur kembali ketika Rayhan mendekatinya.
"Kau memang murahan bukan? Alfredo bahkan tidak menganggap mu ada. Dia menjual mu." Rayhan terkekeh menyeramkan.
Via meringis ketika Rayhan mencengkram kuat pergelangan tangan nya. Setelah ini pasti akan terlihat jelas cetakan tangan pria itu. Via meronta karena kesakitan, namun Rayhan semakin mengencangkan cengkraman nya.
"Aku bisa melakukan apapun yang tidak bisa kau bayangkan, gadis pembangkang. Bahkan melakukan
sesuatu kepada mereka." Via menggelengkan kepalanya.
"Jangan melakukan apapun kepada mereka. Saya mohon, Tuan Muda."
"Jauhi mereka!"
Deg! Pilihan yang sangat sulit. Tidak mungkin Via menjauhi sahabatnya demi memenuhi ego pria kejam ini.
"Sahabatmu Mira memiliki kedua orang tua yang sangat harmonis. Bagaimana kalau aku bermain-main sedikit dengan saham mereka."
"Tidak! Jangan lakukan hal itu!"
Rayhan tersenyum miring. Entah mengapa, dirinya sangat bahagia melihat Via tidak berdaya karenanya.
"Saya akan menjauhi mereka mulai sekarang."
"Dan patuhi segala perintahku, Via. Karena apapun yang ada pada dirimu hanya milikku."
Tubuh Via menegang hebat mendengarnya. Maksudnya bagaimana? Via menggelengkan kepalanya karena Via tidak mau Rayhan menguasai dirinya. Cengkraman Rayhan terlepas. Membuat Via bisa bergerak lebih leluasa.
"Semuanya berada di tanganmu. Patuhi perintahku, atau orang terdekatmu akan merasakan akibatnya."
Setelahnya, Rayhan melenggang pergi dari hadapan nya, menyisakan Via yang kini meniup pergelangan tangan nya karena memerah.
"Sakit!" cicit Via dengan air mata yang menetes.
__ADS_1