Istri Kesayangan Tuan Muda Arrogant

Istri Kesayangan Tuan Muda Arrogant
24. Tuan Muda Romantis


__ADS_3

"Sudah siap?" tanya Rayhan. Via mengulas senyum dan mengangguk.


Gadis itu menggunakan gaun bernama Dusty rose. Warnanya terlihat tegas dan sensual, memberi kesan berkelas dan misterius bagi pemakainya. Agar tak terkesan mencolok apalagi berlebihan.


"Cantik!"


Via merona mendengarnya. "Ayo, kita berangkat!" ujar Via mengalihkan pembicaraan mereka.


Rayhan merangkul Via membuat gadis itu terperangah dan mendongak. "Hem, Tuan Muda Harus, ya?"


"Harus!" tegas Rayhan membawa Via keluar dari rumah besar itu.


Via kembali terkejut ketika melihat mobil Lamborghini yang terlihat berkilat. Mereka akan mengenakan itu ke pesta?


"Hanya kita berdua."


"Silakan masuk, Nyonya. Saya dan beberapa pengawal akan mengiring dari belakang."


"Terima kasih, Glen."


Glen mengangguk dan menutup kembali pintu mobil, setelah Via masuk ke dalamnya. Dengan Rayhan yang sudah mulai menyalakan mesin mobil.


Via menahan napas ketika Rayhan terlihat seribu kali lipat, sangat tampan dan berwibawa. Apalagi


sedang mengendarai mobil mewah yang didesain sangat modern itu.


Via tahu, harga mobil Lamborgini ini, kisaran miliaran. Via tidak lepas memandangi Rayhan sedari tadi. Membuat Rayhan balas memandanginya. Via segera memutuskan pandangan mereka.


"Kenapa?"


"Tidak ada, Tuan Muda. Say-saya hanya kagum saja dengan Tuan Muda."


"Kagum?"


Bisa tidak, pria ini jangan menampilkan ekspresi cool di hadapannya. Kan, Via jadi salah tingkah sendiri.


Via mengulas senyum dan menggelengkan kepalanya. "Masih jauh?"


"Sebentar lagi."


Rayhan kembali fokus menyetir.


Via berbalik dan memperhatikan mobil yang dikendarai Glen dan beberapa anak buah berada di


belakang mereka.


"Hadap depan, Via. "


Via kembali menegakkan tubuhnya dan duduk rapi menghadap depan, belajar menjadi seorang wanita


dewasa yang elegan dan terhormat.


****


Selang beberapa menit. Mereka telah sampai di sebuah gedung mewah. Dengan desain pesta yang


sangat terlihat indah. Banyak wartawan yang meliput. Bahkan karpet merah terbentang, di pinggir mobil Lamborgini yang mereka gunakan.


Rayhan lebih dulu keluar dan membuka pintu untuk Via. Sungguh, Via sangat malu menjadi pusat perhatian seperti sekarang ini.


Rayhan memperlihatkan sifat posesifnya, dengan merangkul pinggang ramping Via, seakan Via terikat dengannya dan milik Rayhan seorang


Banyak wartawan dan fotografer yang mengambil gambar mereka sebanyak-banyaknya, untuk di dokumentasi.


"Jangan pernah menunduk!"


Via mengangguk. "Baik, Tuan Muda."


"Khusus malam ini. Panggil namaku."


"Iya, Rayhan."


Rayhan mengangguk dan membawa Via berkumpul dengan kolega bisnis dan sahabat papa nya.


"Apa kabar, Rayhan?"


"Saya dalam keadaan baik. Begitupun dengan kedua orang tua Saya."


Mereka saling memandang dan mengangguk. Penjelasan yang sangat singkat, sebelum dipertanyakan.


"Ternyata Tuan Muda, telah menemukan pujaan hati nya."


"Perkenalkan dirimu, Sayang."


Via sempat tertegun mendengar Rayhan memanggilnya dengan sebutan 'sayang Via menjabat tangan mereka bergantian.


"Perkenalkan saya, Vianna Ralista Crowel. Istri dari Tuan Muda Rayhan Crowel."


Mereka mengulas senyum. Memandangi wajah Via yang terlihat sangat manis dan juga tubuh mungil nya yang memikat.


"Tubuhmu sangat indah." Pujian terdengar dari salah satu istri miliader.


"Terimakasih, Nyonya. Anda, juga terlihat sangat awet muda."


"Untukmu!" Wanita itu menyodorkan minuman rendah alkohol untuk Via.


"Istri saya, tidak meminum alkohol berbagai jenis."


"Oh, sorry!" Mereka menaruhnya kembali di atas meja.


Rayhan membawanya kembali untuk berjalan menuju sofa, khusus untuk tamu penting untuk


mereka. Menggantikan posisi kedua orang tua Rayhan.


"Kita sambut kedatangan Tuan Muda Rayhan Crowel bersama dengan sang istri."

__ADS_1


Dapat Via dengar. Suara tepuk tangan menggema di ruangan luas itu.


"Tuan Muda dipersilahkan menaiki panggung.


"Duduklah!"


Via mengangguk. Sedangkan Rayhan menaiki undakan panggung dan mulai berdiri di hadapan semua tamu.


"Saya Rayhan Crowel, perwakilan dari kedua orang tua saya. Mengucapkan selamat atas perusahaan Angkasa Grup yang berhasil menaiki rangking ke tiga tahun ini. Dan terima kasih atas sambutan yang spesial untuk Tuan Angkasa."


Suara tepuk tangan kembali menggema. Rayhan


membungkukkan tubuhnya dengan rendah untuk berpamitan.


"Bukannya dia Tuan Muda yang banyak sekali dibicarakan?"


"Sayangnya, telah memiliki seorang istri."


"Padahal aku ingin sekali mencalonkan diri menjadi istri tuan muda Rayhan."


"Istri kedua juga boleh."


"Bener, tuh. Dari pada jadi pelakor."


Kuping Via memanas mendengarnya. Mereka tidak tahu malu membicarakan dan mengagumi suami orang di belakang istrinya, secara terang-terangan.


Memang sangat gila. Demi harta, mencalonkan diri menjadi istri kedua.


"Kenapa?" Rayhan yang melihat wajah murung Via, menyentuh tangan Via dengan lembut. Membuat


wanita yang berada di belakang mereka mendegus kesal.


"Sudahlah, jangan menganggu mereka! Tuan Muda bukan pria sembarang."


Sekarang Rayhan tahu, penyebab wajah Via murung dan lesu. Ternyata hama-hama itu sangat bahagia membicarakan mereka di belakang secara langsung.


"Jangan mendegar perkataan mereka."


"lya, Rayhan."


"Kau tidak lapar?"


"Lapar."


Rayhan mengangguk dan mengajak Via untuk berdiri mencari makanan.


"Aduh! Maaf, Tante. Dita tidak sengaja."


"Kau bisa tidak melihat orang terlebih dahulu? Jangan berlarian!"


Gadis kecil itu menunduk, karena mendapatkan kemarahan dari Rayhan.


"Hei! Jangan sedih! Dimana mama mu?"


"Biarkan saja. Kau harus makan, Via. Jangan menghiraukan anak itu."


"Jangan seperti itu."


Rayhan menatap datar anak kecil itu yang kini mengerjabkan matang berulang kali melihat nya.


"Mama ada di sana, lagi mengobrol. Dita mencari makan tadi."


Astaga! Mama nya kenapa membiarkan anak kecil berkeliaran dan asik mengobrol dengan teman-teman nya.


"Mau ikut dengan Tante?"


"Via! Jangan mengurusi anak ini. Ayo kita pergi."


Dita hendak menjawab, namun Rayhan langsung tidak mengizinkannya, membuat Dita murung.


"Rayhan! Tidak boleh galak-galak. Ayo, Sayang. Kita cari kue untuk dimakan."


"Oke, Tante."


Mereka bergandengan dengan Rayhan yang menatap tajam anak kecil itu. Bukan karena apapun,


Rayhan tidak suka dengan anak kecil itu karena mengingatkannya kepada peri kecil.


"Wow, kue strawberry."


Via tersenyum dan mengangguk. Dia menikmati kue rasa anggur. Sedangkan Rayhan hanya menikmati minuman rendah alkohol di tangannya. Dia tidak ingin meminum alkohol terlalu banyak dan tinggi kadarnya, karena dapat membuatnya mabuk.


"Umur, Dita berapa?"


"Lima tahun, Tante."


"Ih, belepotan!" Via hendak membersihkan dengan tangannya.


Namun Rayhan langsung menghalanginya.


"Pakai tisu. Jangan mengotori tanganmu!"


Via menghela nafas dan mengangguk. Dia membersihkan belepotan di sudut bibir Dita.


"Makasih, Tante."


"Sama-sama."


"Astaga Dita. Kenapa kau bisa bersama dengan Tuan Muda Rayhan?"


Mamanya telah datang. Dita melepaskan kuenya dan turun dari kursi. Menghampiri mamanya.


"Tante cantik, Om galak. Dita pamit."


Mereka pergi dari hadapan Rayhan dan Via. Via menahan tawa ketika mendengar Rayhan di panggil om galak.

__ADS_1


"Om Galak." Via menahan tawanya, membuat matanya menyipit. Rayhan menatapnya sangat tajam.


"Bersikaplah layaknya wanita elegant, Via!"


"Ya, ya, kan saya masih gadis, jadi wajar heheh."


"Acara selanjutnya, yakni berdansa dengan pasangan masing-masing. Silahkan pasangan yang ingin ikut berdansa, maju ke depan panggung."


"Hem, Tuan Muda. Jangan ikut, ya? Gak bisa dansa soalnya."


Ini yang paling Via takutkan kalau menghadiri pesta. Berdansa dengan seseorang, sedangkan dirinya sama sekali tidak bakat.


Rayhan menarik tangannya, membuat Via melebarkan matanya, pasti Rayhan akan mengajaknya berdansa. Via mengatur nafasnya dan berusaha rileks.


'Kalau gue injak kaki tuan muda, gak apa-apakan?' batin Via khawatir.


"Ikuti gerakanku!" Rayhan memegang pinggang Via. "Taruh kedua tangan mu di pundakku."


Via dengan ragu mematuhi perintah Rayhan. Walaupun sedikit gugup. Namun ia benar-benar melakukannya.


Kini suara alunan musik mengalun indah di gedung itu. Bahkan dari beberapa pasangan yang berdansa,


Rayhan dan Via menjadi sorotan utama, sehingga membuat semua tamu iri dan kagum. Pandangan mereka begitu dekat. Hingga Via sesak nafas dibuatnya.


"Atur nafasmu!" lirih Rayhan dengan suara khas serak nan basah, menembus pendengaran Via.


Via mengangguk. Namun Rayhan semakin mengeratkan pelukannya, membuat Via memandangi Rayhan dari jarak yang sangat dekat. Pandangan mereka terkunci. Hingga Rayhan telah memiringkan kepalanya, membuat Via panik luar biasa.


"Rayhan! Jangan!" larang Via dengan suara yang sangat kecil.


"Jangan kenapa?"


Ya ampun! Via tahu, Rayhan akan menciumnya di hadapan semua orang. Via malu dan tidak mau.


"Jangan melakukannya."


"Jadi?" gumam Rayhan terdengar sangat seksi.


"Ya, pokoknya jangan!" pinta Via.


"Iya, Sayang."


Rona wajah Via terlihat jelas di bawah sinar lampu yang terlihat tenang. Rayhan mengukir senyuman sangat tipis.


Mereka berdansa bersama dengan iringan lagu yang sangat romantis.


Bersama dengan pansangan lainnya.


"Aku menyayangimu, Via."


Via terpaku mendengarnya. Dia tidak salah dengar? Rayhan menyayanginya?


"Jangan bercanda, Rayhan. Saya tahu, kamu hanya terbawa suasana." Via tersenyum getir, menguatkan hatinya.


Andai Via bisa bersama dengan Rayhan dan membangun rumah tangga seperti kebanyakan orang lain, namun semua itu hanya mimpi belaka.


"Sebenarnya saya juga mulai menyayangimu. Namun ... saya sadar diri posisi saya di hati kamu."


"Via!"


"Jangan membahasnya, Rayhan. Saya tahu, cepat atau lambat. Saya akan terbuang."


"Aku tidak suka kau berkata seperti itu, Via."


Via memandangi wajah Rayhan lama. Seakan merekamnya di dalam benaknya, hingga nanti. Via


menunduk dan mengambil nafas panjang.


"Saya hanya figuran di hidup kamu."


Suara alunan musik berhenti. Semua pasangan menepi, begitupun dengan Rayhan dan Via. Rayhan masih tidak percaya bahwa Via mengatakan sayang kepadanya. Namun tatapan gadis itu sungguh terluka.


"Kita pulang sekarang!"


"Acaranya telah selesai?"


Tanpa sepatah katapun. Rayhan menarik tangan Via dengan lembut, dan membawanya keluar dari gedung itu. Meninggalkan pesta yang masih berlangsung.


"Rayhan, sepertinya belum selesai."


"Masuk, Via!" Rayhan membuka pintu mobil. Via hendak bersuara, namun melihat tatapan tajam darii Rayhan, membuat nya mengurungkan niatnya.


"Rayhan!"


"Ubah cara memanggil mu, Via."


"Tuan Muda."


Rayhan melajukan mobil dengan kecepatan penuh, membuat Via mengeratkan peregangannya di ujung gaun yang ia kenakan.


Di belakang mobil mereka. Glen memperhatikan gerak-gerik tuan muda mereka. Sepertinya akan


terjadi sesuatu besar.


"Tuan Glen! Apakah tuan muda dalam keadaan baik?"


"Kita tunggu saja apa yang terjadi." Glen tersenyum miring. Membuat anak buah lainnya menganggukkan kepalanya.


"Huh, baru saja merasa senang karena tuan muda romantis. Sekarang suasananya telah berbeda."


Mohon ingatkan Via agar tidak terlena dan menganggalkan rencana pelariannya.


"Hanya tipu daya sementara waktu. Jadi gue harus tetap ninggalin tuan muda. Apapun yang terjadi."


"Jadi nggak sabar kabur. Tapi tuan muda sedih nggak ya? Kehilangan gue? Soalnya gue kan paling ribut di rumah dia. Pasti sepi."

__ADS_1


__ADS_2