
"Lo kenapa melamun?" tanya Mira menyentuh bahu Via yang sekarang duduk di bawah pohon, taman kampus.
Via menatap Mira dan kembali menekuk wajahnya. "Gak ada! Gue mau jujur sama lo."
Mira mengernyitkan dahinya bingung dan mengangguk. Dia duduk condong menghadap ke arah sahabatnya itu.
"Gue takut."
"Takut kenapa? tanya Mira menatap sahabatnya itu. Kasihan juga Via dengan segala masalah yang dihadapi selama ini.
"Semalem, gue menguping pembicaraan mereka."
"Terus?"
"Kan, tuan muda diserang dan mendapatkan Tusukan di punggung . Nah, semua pelaku penyerangan yang terlibat dieksekusi semuanya."
"Eksekusi?" Mira jadi bergidik ngeri mendengarnya.
"Itu yang gue mau tahu, maksudnya bagaimana? Nggak mungkin tuan muda membunuh mereka semuanya, kan?"
"Menurut gue nggak, sih. Mungkin buat mereka babak belur dan masuk rumah sakit. Atau memanipulasi semua bisnis mereka agar tidak lagi beroperasi. "
Via mengangguk, yang dikatakan Mira ada benarnya juga.
"Serem, kan? Gue semalem gak berani tidur di dekat dia."
"Kenapa? Bukannya lo sudah diizinkan?"
"Tapi, kalau dia yang menyuruh. Semalam dia gak nyuruh, makanya gue tidur di sofa seperti biasanya."
"Oh, ya, gue ada kabar baik dari kampung
Via langsung menatap Mira dengan wajah yang sumringah.
"Sudah menemukan tempat yang cocok?"
Mira mengangguk dia memiliki kerabat jauh di kampung terpencil itu.
"Lo nanti tinggal sama nenek Imah. Beliau masih keluarga ayah gue."
"Tapi gak ngerepotin?" tanya Via tampak ragu dan tidak enak.
"Gak sama sekali. Gue bahkan,bahagia banget bisa nolongin lo. Kenapa juga, lo gak mau jadi saudara angkat gue dan tinggal satu atap?"
"Kan, gue masih ada papa, Mir."
"Ya, ya, papa lo yang gak sayang sama lo itu."
Via menghela nafas pelan, dan mengusap bahu Mira dengan sangat lembut.
"Gue mau beli sapi sama kerbau besok."
"Gue setuju, kalau lo mau bangun peternakan di sana. Atau memeras susu sapi. Bisa jadi pundi-pundi rupiah."
Via mengangguk dan itu memang rencananya, untuk membangun perekonomian.
"Sukses selalu buat lo Via." Mira memeluk Via dengan sangat erat.
Begitu pun dengan Via yang sekarang membalas pelukan sahabatnya.
"Lo sahabat terbaik gue, Vi."
***
Via baru saja masuk ke dalam rumah setelah dijemput oleh supir.
Dia menatap seseorang yang tak familiar bagi nya.
"Kamu sudah pulang, Via?" tanya sang papa, telah duduk di sana menunggunya.
Hati Via menghangat mendengarnya. Dia mengangguk dan mengulas senyum, lantas berjalan mendekati papa nya itu.
"Papa kapan kesini? Lama nunggunya?"
"Beberapa menit yang lalu."
Namun dia merasa aneh dengan papa nya, tiba-tiba terlihat baik kepadanya dan banyak bicara.
Biasanya hanya mengeluarkan kata-kata datar.
"Papa mencari Via?"
"Iya, Via. Papa ingin bicara sama kamu."
Via mengangguk dan menatap papa nya dengan intens. "Ada apa, Pa?"
"Perusahaan Papa sedang tidak baik-baik saja. Papa ingin meminjam uang ke kamu."
Via menghela nafas pelan. Jadi, karena papa nya ingin meminjam uang kepadanya? Walaupun
seperti itu, Via tidak merasa kecewa karena kewajibannya menjadi seorang anak.
"Papa butuh berapa?"
"Seratus juta."
Via sebenarnya terkejut mendengarnya. Namun uang di tabungannya lumayan banyak untuk membantu papa nya. Jadi dia mengangguk, membuat pria paruh baya itu mengulas senyum
tipis.
__ADS_1
Melihat papa nya tersenyum, membuat Via ingin meneteskan air mata. Dia merindukan senyum itu,
setelah bertahun-tahun lamanya tertuju padanya.
"Nanti Via akan transfer."
"Terimakasih, Via."
"Via akan membantu kalau Via mampu."
***
"Apa yang ingin kau sampaikan, Glen?" Rayhan menatap datar sekretaris nya itu, yang sekarang
tertunduk dengan wajah yang terlibat ragu untuk mengatakan nya.
"Nyonya Via memberikan sejumlah uang untuk papa nya."
"Berani sekali Alfredo menginjakkan kakinya di rumahku dan bertemu dengan Via, setelah dia memberikan hak penuh Via kepadaku."
"Apa tanggapan gadis itu?"
"Saya sudah memeriksa cctv. Tuan Alfredo meminta uang dengan jumlah yang banyak yakni seratus juta. Dan nyonya Via menyanggupinya."
Rayhan mengepalkan tangannya. Gadis itu sangat haus akan kasih sayang, sehingga buta bahwa pria
tua itu telah menjualnya kepadanya.
"Jangan biarkan itu terjadi."
Glen mengangguk mematuhi perintah dari tuan muda nya.
"Baik, Tuan Muda."
Rayhan menyeringai dengan rencana yang sudah rapi tersusun di kepalanya. Ternyata, Alfredo ingin bermain-main dengannya.
***
Peluh membanjiri pelipis, seorang gadis yang kini berjongkok, di depan makam sang mama yang telah lama meninggal.
"Ma! Via mau curhat sama mama. Papa sudah mulai berubah. Tadi, papa ke rumah dan senyum ke Via.
Via rindu senyuman papa."
Via mengambil nafas panjang sembari melipat bibir nya. Dia meraba batu nisan itu dengan gemetar. Mama nya telah lama meninggalkan mereka.
"Ma! Via merindukan mama. Mungkin untuk bulan ke depannya, Via akan jarang mengunjungi mama, karena Via akan pergi jauh dari daerah ini. Maafkan Via!"
Keputusan Via telah bulat. Masa depan nya terlihat suram dan gelap, ketika masih tinggal di rumah itu. Sebentar lagi, pasti suaminya akan menikah lagi,
dengan gadis pilihan nya. Gadis yang sedari dulu ia nantikan kehadirannya.
untuk membuat nya menderita.
"Via tidak boleh terlena, Ma. Via.. akan tetap pergi dari sana. Semoga mama juga mengiringi langkah Via dan menerima keputusan ini."
Gadis itu menghela nafas pelan.
Dia menatap matahari yang sudah condong ke arah barat. Udara sore sangat menyejukkan di pemakaman ini. Hanya dirinya yang tersisa, karena sebentar lagi matahari akan tenggelam.
"Via sayang mama. Via pamit dulu."
Via memperbaiki hijab nya dan bangkit dari sana. Dia menoleh sejenak, dan kembali berjalan keluar dari pemakaman.
"Ayo, Pak!"
Supir yang menunggu Via, di samping mobil yang terparkir mengangguk dan segera ikut masuk ke dalam mobil.
"Sudah, Nyonya?"
Via mengangguk tanpa menoleh. Hatinya sangat berat untuk meninggalkan sang mama. Kedua netra itu mengembun, seiring dengan laju mobil yang perlahan meninggal area pemakaman.
Via menutup kaca mobil dan menghapus air matanya. Dadanya terasa sesak, kenapa hidup dan
takdirnya harus sekejam ini? Dari kecil Via ditinggalkan oleh mama nya, dan sekarang dia harus berpisah kembali karena akan pergi jauh dari daerah ini.
Semua itu tidak luput, dari perhatian pria paruh baya yang sekarang melirik sekilas majikannya yang sedang terpukul.
Dia merasa kasihan dengannya. Namun apapun yang nyonya lakukan, akan dilaporkan olehnya
kepada tuan muda. Termasuk keadaan nyonya, yang seperti sekarang ini.
****
"Via!"
Setelah Via pulang. Dia menemukan sang suami sudah berada di kamar mereka. Via menoleh dengan wajah yang masih tersisa air mata. Sebelum mereka pulang, Rayhan sudah mengetahuinya dari sang supir yang melapor.
"Ada apa denganmu?"
Via menggelengkan kepalanya tanpa mengeluarkan suara. Dia berlalu meninggalkan Rayhan yang
kini menatap nya datar.
"Kau mendengar ku, Via?"
"Iya. Memangnya kenapa?"
"Siapa yang membuatmu seperti ini?"
__ADS_1
"Tidak ada." Via melepaskan hijab nya dan menaruh nya di dalam lemari. Berbicara tanpa menoleh
ke arah suaminya, membuat Rayhan geram.
"Kamu masih saja berurusan dengan Alfredo."
Via akhirnya menatap Rayhan dan mengangguk. "Beliau papa saya."
"Kau tahu, apa yang telah dia perbuat kepadamu? Dua kali dia menjualmu padaku."
Via mengetahuinya. Pernikahan mereka terjadi karena Rayhan menyuntikkan dana besar ke
perusahaan sang papa. Pernikahan berjalan hampir sebulan, papa nya menukar Via demi keselamatan
perusahaan lagi.
"Terakhir!"
"Jangan mencoba bermain-main denganku, Via."
"Iya. Tapi papa membutuhkannya untuk.."
"Dia hanya memanfaatkanmu. Jadilah istri yang penurut!!"
Via mendengus kesal. Dia sudah berjanji akan memberikan papanya uang itu. Sekarang, dilarang
oleh suaminya. Bagaimana ini?
"Kalau papa marah bagaimana?
"Biarkan saja dia marah. Tidak ada urusannya denganku."
"Tapi dengan gue ada, bahkan nanti papa pasti akan benci banget sama gue.
Via tidak bisa memanipulasi Rayhan. Dia mencoba
merahasiakan semuanya. Namun dia lebih dulu mengetahuinya, membuat Via tidak bisa berbuat
banyak untuk bergerak.
"Baiklah!" pasrah Via dengan wajah yang tertunduk.
"Kamu belum jujur padaku, Via."
"Tentang apa?"
"Kenapa menangis?"
"Sedih! Itu saja, karena saya merindukan mama."
Rayhan menatap Via dengan pandangan menelisik. Gadis itu terlihat tidak berbohong, membuatnya berhenti bertanya.
****
Brak!
Via menjatuhkan pisau yang berada di tangannya, ketika dia hendak memasak ikan.
"Astaga, Nyonya! Biar saya saja yang memasak. Nyonya duduk di meja makan, hanya sebentar saja.
Nanti saya akan mengantarkan nya."
"Tidak, Bibi Tua. Saya ingin memasak," imbuh Via segera mengambil pisau, yang terjatuh ke bawah mereka.
Bibi tua tidak bisa melawan perintah majikannya ini. "Biar saya bantu, Nyonya."
Via mengangguk. Dia kembali memotong sayuran dan tomat. Via ingin memasak sendiri, karena di
desa nanti siapa yang akan masak untuk nya? Jadi, Via harus berlatih dari sekarang.
"Bi! Kenapa, ya? Kalau ikan digoreng muncrat? Hampir kena kulit saya tadi."
Bibi tua yang sekarang sedang membalik ikan menoleh, "Itu adalah hal yang biasa, Nyonya. Jadi, hati-hati."
Via mengangguk dan memahaminya. Jadi, kalau dia
ingin menggoreng ikan, harus tenang dan tidak grogi. Soalnya gadis itu tidak pernah memasak ikan.
"Kalau Nyonya tidak ingin terciprat minyak panas, sebaiknya ketika digoreng ditutup hingga ikannya matang."
Via tidak menutupnya tadi, karena lupa dan dia juga tidak kepikiran.
"Makasih, Bi atas ilmu dapurnya."
Bibi tua mengangguk, dan melanjutkan mencuci piring di dekat Via.
***
"Siapa yang masak?" tanya Rayhan melihat makanan di depan Via terlihat tidak enak dan hancur.
"Saya, Tuan Muda. Jadi, Tuan Muda jangan makan masakan saya dulu yang ini. Belum enak."
Rayhan menatap kembali makanan itu, dan memandang Via yang kini menatap nya cengengesan.
Rayhan tidak peduli dan melanjutkan makan nya.
Sedangkan Via bernafas lega, dan harus makan masakannya sendiri.
"Nanti Glen akan menelpon dokter untuk mengecek keadaanmu. Apakah kau masih sehat atau sekarat, karena masakan hancur itu."
__ADS_1
'Menyebalkan!' batin Via menggenggam sendok, hingga hampir bengkok mendengarnya.