Istri Kesayangan Tuan Muda Arrogant

Istri Kesayangan Tuan Muda Arrogant
33. Tertusuk dan Luka


__ADS_3

Via tidak menampilkan ekspresi apapun, ketika Rayhan memasukkan jarinya ke dalam mulut pria itu. Biasanya Via akan salah tingkah atau merona.


Namun sekarang berbeda, Via menatap meja makan dengan pandangan kosong.


Melihat tidak ada pergerakan dari Via. Rayhan sengaja, semakin menekan luka Via yang cukup menganga lebar.


"Argh! Tuan Muda!"


Rayhan tersenyum miring. "Kenapa? Baru menyadari rasa sakit nya?"


Via menggelengkan kepalanya.Lebih sakit yang berada di dalam sana, batin Via.


"Apa yang kau pikirkan, Via? Sehingga seceroboh ini."


"Tidak ada."


"Sudah berapa kali, kau terluka? Tidak sekalian kau loncat dari balkon seperti dulu, ketika kau mengancam tidak mau menikah denganku."


"Ide yang bagus."


"Via, jangan coba-coba!" peringat Rayhan tajam. Bahkan dia sudah mencengkram pergelangan tangan Via, membuat gadis itu mendongak memandangnya, ingin dilepaskan.


"Lepaskan!"


"Kau ingin melakukannya? Katakan kepadaku?!" bentak Rayhan.


"Bukannya, Tuan Muda yang menginginkan saya melakukannya.Kalau saya mati,Tuan Muda tidak susah berpoligami."


Rayhan sudah tahu akar permasalahannya. "Kau seperti ini, karena memikirkan hal itu? Jawab!"


"Ya, saya memikirkannya. Dan saya akan pergi sejauh mungkin kalau Anda sudah menemukan peri kecil itu."


Rayhan mengeram dan mendorong Via sehingga terbentur punggung sofa. "Jangan bermimpi,


kau bisa meninggalkan ku, Via. Sebelum aku yang mengizinkannya."


Tidak ada raut ketakutan yang Via tampilan seperti biasanya. Membuat Rayhan frustasi. Gadis ini sangat keras kepala, dan akan melakukan semua yang ada di otak bodoh nya itu.


"Saya tidak ingin dipoligami. Untuk itu, setelah saya, mendengar dia telah kembali. Maka, saya akan pergi dari kehidupan, Anda."


"Via!" desis Rayhan tajam.


Karena melihat Via yang keras kepala.Rayhan meraup wajahnya kasar.Dia mengambil kotak obat,dan segera membalut jari telunjuk Via yang terluka.


"Sampai kapanpun, kau tidak akan bisa lepas dariku, Via."


Via tidak lagi membalas penuturan Rayhan. Dia memilih diam, dan membuang pandangannya ke arah lain.


"Kita makan."


Bibi tua menaruh nasi dan lauk di piring Via dan Rayhan. Namun Via enggan untuk memakannya.


"Kau ingin aku menyuapimu dengan mulutku?"


Via masih tidak menghiraukan perkataannya. Bibi tua mundur perlahan, karena tahu apa yang tuan muda akan lakukan.


Rayhan menyendok makanan sebanyak mungkin. Via terperangah melihatnya. Ketika Rayhan hendak mendekatinya, Via mundur perlahan dan memalingkan wajahnya.


"Saya bisa sendiri!"


"Baguslah!" tekan Rayhan. "Habiskan!"


Via mengangguk dan segera menghabiskan makanannya, sembari melirik ke arah Rayhan.


Dia pun merinding, karena membayangkan dirinya akan diperlakukan seperti yang tadi. Via menggelengkan kepalanya.


"Kau boleh bekerja di kantorku."


Pergerakan tangan Via terhenti. Dia mengernyitkan dahinya bingung


"Terima kasih, Tuan Muda. Akhirnya, saya bisa magang di perusahaan besar." Via tersenyum lega dan merasa senang. Kalau Via berhasil magang di sana. Pasti nilai nya akan naik.Huh,Via jadi tidak sabar untuk magang di sana.


"Menjadi sekretaris ku."


Via melongok, pandangannya berubah, dan senyumnya kembali surut. Menjadi sekretaris nya,sama saja bunuh diri secara perlahan.


"Saya kan magang, Tuan Muda. Masih belajar untuk mengelola sebuah data perusahaan yang sangat sulit. Saya juga tidak terlatih untuk menjadi sekretaris. Jadi, saya lebih baik menjadi karyawan biasa."


"Kau membantahku?" Rayhan menatapnya tajam, membuat Via mengangguk.


"Kan, saya menjelaskan sesuai faktanya. Saya tidak memiliki kemampuan khusus."


"Berapa IPK mu?"


Gawat! Kalau dia jujur, pasti Via tidak memiliki alasan untuk menolaknya.Via tidak ingin selalu terjebak dengan pria menyebalkan ini Via ingin bebas.


"Via!" desis Rayhan.


"Pokoknya sedikit, Tuan Muda. Makanya saya lewat jalur orang dalam untuk bekerja."


Rayhan menghela nafas berat, membuat Via menunduk. "Baiklah,kau bekerja menjadi cleaning service.

__ADS_1


"Tu-Tuan Muda jangan bercanda. Gak lucu sama sekali. Saya calon sarjana, apa kata rektor, kalau saya menjadi cleaning service. Tercoreng nama universitas saya, Tuan Muda."


Yang benar saja. Ternyata selain kejam dan menyebalkan,pria ini memiliki bakat untuk menjadi pelawak.


"Kau bisa memilih nya!"


Sungguh pilihan yang sangat rumit. Via menghela nafas pelan.


"Ya, ya, jadi sekretaris."


Rayhan menyeringai. "Pilihan yang tepat. Sekarang kembali ke kamarmu! Jangan keluar, sebelum


aku yang memerintah."


"Tap-tapi kenapa?" gumam Via.


Dia bosan dikamar terus. Rencana nya, dia ingin keluar untuk pergi jalan-jalan.


"Jangan membantahku, Via!"


Dengan malas, Via mengangguk patuh. Percuma memberontak hanya menghabiskan waktu saja.


Via beranjak dan segera menuju kamar nya. Rayhan menatap punggung gadis itu lama setelah ditelan oleh jarak.


"Glen!"


Rayhan menelpon Glen untuk mempersiapkan diri.


"Baik, tuan muda."


Mobil Rayhan yang di kendarai oleh Glen melaju dengan kecepatan penuh. Dua mobil jeep di belakangnya dari beberapa menit yang lalu mengejarnya tanpa henti. Membuat Rayhan


tersenyum miring, ternyata para hama itu ingin bermain-main dengannya.


Tiga buah mobil itu menguasai jalan yang berada di hutan kota. Untung tidak ada kendaraan yang melewati jalan itu, mobil Rayhan bisa leluasa untuk melawan mereka.


"Keluar!" bentak lima pria berbadan besar dan juga bertubuh tinggi tersebut. Mereka menghadang mobil Rayhan, membuat dua pria yang berada di dalam nya langsung keluar.


Begitu keluar, mereka langsung diserang membuat Rayhan dengan mudah menangkis pukulan


mereka berulang kali. Rayhan tersenyum miring dan langsung mengeluarkan sedikit tenaganya,


memberikan pelajaran kepada mereka.


Begitu mereka terkapar di bawah. Rayhan dan Glen masuk ke dalam mobil. Namun sebelum itu terjadi,


salah satu dari mereka bangkit dan menusuk punggung Rayhan, membuat Rayhan merasakan


Rayhan berbalik dan langsung memberikan bokeman mentah kepada si pelaku. Begitupun


dengan Glen membabi buta memukul mereka, sehingga babak belur, bahkan pingsan.


"Tuan Muda, kita ke rumah sakit."


Rayhan menegakkan tubuhnya dan langsung masuk ke dalam mobil itu. Darah mengalir deras, pisau tidak ia lepaskan untuk membantu darah tidak mengalir lebih banyak.


"Bertahan, Tuan Muda!"


Rayhan tidak menampilkan ekspresi apapun. Glem tahu, luka di bahu tuan muda tidak akan membuat tuan muda kesakitan bahkan meringis. Namun Glen


sangat khawatir, sehingga melaju kan mobil dengan kecepatan penuh. Dia berjanji, akan membalas perbuatan mereka.


"Saya berjanji akan, membuat mereka menderita, Tuan Muda."


"Sesuai dengan tugasmu, Glen!"


***


Tok! Tok!


"Nyonya!" Bibi tua mengetuk pintu kamar berulang kali.


"Iya, Bi." Dia segera membukanya.


Dia mengerenyitkan dahinya bingung, melihat raut wajah bibi tua terlihat berat mengatakan sesuatu kepadanya.


"Tu-tuan muda ... sekarang berada di rumah sakit karena musuhnya menusuk punggungnya."


Deg!


Tubuh Via menegang. Jantungnya berpacu sangat cepat. Entah mengapa reaksi tubuh nya sangat berlebihan, dia segera meninggalkan bibi tua dan masuk ke dalam kamar kembali meraih tas nya. Lalu menutup pintu, bibi tua mengejar Via menuruni anak tangga.


"Saya akan pergi ke rumah sakit. Jaga rumah ya, Bi."


"Iya, Nyonya."


Via megangguk dan masuk ke dalam mobil. "Cepetan ya, Pak."


"Baik, Nyonya."


Mobil melaju dengan kecepatan penuh. Dia menelpon Glen, namun pria itu tidak mengangkatnya.

__ADS_1


"Kenapa juga, dia tidak mengangkatnya. Awas kau, Glen!"


Via menggepalkan tangannya.


Drtt! Drtt!


Tiba-tiba ponsel Via berdering kembali. Via segera


mengangkatnya.


"Tuan muda mencari anda, nyonya. Bergegaslah."


Glen memutuskan sepihak, setelah mengatakannya.


"Kan gue mau tanya bagaimana keadaan tuan muda. Dasar sekretaris laknat." Via mendegus kesal dengan kelakukan Glen. Dia yang mengajarkan tata Krama, dia sendiri yang tidak memiliki sopan santun.


***


Via bergegas masuk ke dalam ruang inap tuan muda. Banyak anak buah yang berjaga di sana.


Membuat Via yakin, bahwa keadaan tidak aman.


"Silahkan masuk, Nyonya."


Via mengulas senyum dan mengangguk. Dia membuka pintu ruang inap. Dapat ia lihat, suasana di dalam sana, tenang dan sunyi. Jantung Via berdebar. "Tuan Muda!"


"Kemari lah!"


Via mengangguk dan mendekati Rayhan. Dia duduk di sampingnya.


"Kau sudah datang?"


"Iya, Tuan Muda. Bagaimana keadaan, Tuan Muda? Kenapa bisa sampai terkena tusukan? Pasti


sakit, kan? Terkena pisau sedikit saja pedihnya minta ampun. Bagaimana kalau tertusuk."


"Sebaiknya Anda jangan banyak bertanya, Nyonya. Jangan berisik, Tuan Muda bisa sangat terganggu."


Ternyata pria tidak memiliki sopan santun itu telah berada di sana.


Via memicingkan matanya. "Hei, Glen! Kau memang sangat menyebalkan!"


Glen tidak menampilkan ekspresi apapun. Dia bahkan masih mempertahan wajahnya, yang datar dan dingin.


"Sudahlah, berbicara dengan patung tidak ada gunanya.


"Via!" desis Rayhan merasa terlupakan.


"Maaf, Tuan Muda. Saya kesal dengan dia. Tuan Muda sudah makan?"


Rayhan tidak mengeluarkan suara, membuat Via meringis. Via memperhatikan semangkuk bubur di atas nakas. Pasti tidak ada dokter yang berani memaksa tuan muda minum obat.


"Saya suapi, ya?


Tanpa Via duga, Rayhan mengangguk membuat Via


mengulas senyum. Jadilah suami yang patuh.


Via memyendokkan sedikit demi sedikit bubur yang ia pegang di tangannya. Rayhan menerima suapan darinya dan menelannya, walaupun terlihat terpaksa.


'Andai, peri kecil gak ada. Pasti gua akan menjadi istri tuan muda selamanya, batin Via menghela


nafas berat. Kenapa ia memikirkan itu? Namun Via memang sudah jatuh ke dalam pesona suaminya.


Biarkan Rayhan menertawakannya. Kebenarannya memang seperti itu.'


"Kenapa?"


Via mengulas senyum, dan menggelengkan kepalanya.


"Via?" Kembali Rayhan memanggilnya.


"Iya, Tuan Muda."


"Jaga dirimu baik-baik. Kau adalah istri dari tuan muda Rayhan Crowel. Banyak musuh yang mengincarmu."


"Baik, Tuan Muda. Tuan Muda, juga harus secepatnya sembuh."


Rayhan tidak membalas ucapannya. Pria itu menghabiskan makanannya dan langsung meminum obat.


Semua itu tidak luput dari perhatian Glen berada di ujung ruangan.


Ternyata tuan muda hanya ingin nyonya yang menyuapi makanannya. Tuan muda, telah jatuh ke dalam pesona sang nyonya muda.


"Saya permisi!" Glen memutuskan untuk pergi dari ruangan itu.


"Hei, Glen! Kau kenapa tiba-tiba ingin keluar? Dasar aneh!"


"Iya, Nyonya."


Via mendegus karena Glen tidak menjawab pertanyaan nya. Via kembali memperhatikan Rayhan yang kini menatapnya datar, sehingga Via meringis karena telah berbuat kesalahan.

__ADS_1


"Maaf, Tuan Muda." Via menunduk.


__ADS_2