
"Tuan Muda! Alfredo berada di ruang tamu bersama dengan istrinya." Glen merendahkan tubuhnya dan menghampiri Rayhan yang tengah berada di ruang kerja.
Dengan tatapan datar. Rayhan berhenti dengan aktivitasnya dan bangkit. Glen mengikuti Rayhan dari belakang. Mereka menuruni anak tangga menuju ruang tamu.
Betapa terkejutnya Alfredo ketika melihat luka parah di wajah Glen yang biasanya tidak ada sejengkal kotoran di sana. Dan sekarang wajah pria itu memang terlihat sangat sakit.
Mendadak suara Alfredo tercekat. Melihat tuan muda telah duduk berhadapan dengan mereka. Vanya memegang sebelah tangannya dan menggenggamnya dengan erat.
Karena hawa ruang tamu mendadak kelam dan juga gelap.
"Say-saya ingin bertemu dengan Via, Tuan Muda," ujar Alfredo.
Dengan wajah yang tadinya angkuh dan sombong mendadak tertunduk lemah.
"Glen! Keluarkan gadis itu dari kamar, untuk bertemu dengan papa nya."
Glen mengangguk. "Baik, Tuan Muda." Dia segera kembali berbalik menuju kamar yang ditunjuk.
Setelah kepergian Glen. Mendadak susana kembali hening.
"Kenapa kau melihat Glen seperti itu? Ada yang aneh dengannya?"
Alfredo dan Vanya menggeleng kepalanya. Namun Vanya tidak bisa diam kalau melihat sesuatu yang membuatnya penasaran. Jiwa angkuh dan sombong nya meronta.
"Sekretaris Anda tengah dalam keadaan sakit, Tuan Muda?"
"Tidak! Kau memiliki dua penglihatan untuk melihatnya bukan?"
Jantung Vanya berdetak sangat kencang. "Iya, Tuan Muda. Maafkan atas kelancangan saya. Namun apa yang membuat sekertaris Anda dengan wajah
lebam seperti tadi?"
"Hukuman ringan!"
'Hukuman ringan? Dengan wajah lebam dan parah seperti itu? Terus hukuman beratnya bagaimana?
Menghilangkan nyawa seseorang?' Sepertinya Vanya tidak akan berani bermain-main dengan pria
di depan mereka ini.
Namun setahu Vanya. Rayhan sangat membenci Via. Kalau dia mencari simpati di hadapan Rayhan dengan menyiksa dan memojokkan Via, pasti Rayhan akan memberikannya perhatian khusus karena telah membantunya menyiksa gadis sialan itu.
Beberapa menit mereka menunggu akhirnya Via bersama dengan Glen telah berdiri di hadapan mereka. Tatapan Alfredo menajam kala melihat putrinya itu dengan wajah tertunduk.
"Duduk di dekatku!" tegas Rayhan menggeser diri di single sofa.
Membuat semua orang terkesiap, namun kecuali Glen masih dengan wajah tertunduk dan datar.
Via mengangguk dan mematuhi perintah Rayhan. Tubuh mereka begitu dekat. Namun Via tidak bereaksi apapun seperti biasanya.
Karena di hadapannya ada Alfredo yang pastinya akan marah besar kepadanya.
"Via telah berada di hadapan, Anda. Silahkan bersuara," ujar Rayhan dengan suara khasnya yang berat dan membuat semua orang selalu merasa diinterogasi.
"Via!" panggil Alfredo.
Via mengangkat wajahnya menatap papa nya. Melihat ketakutan di mata Via, Rayhan tidak menyukainya.
"Nyonya Muda Crowel tidak akan takut dengan orang yang lebih rendah darinya." Rayhan mengelus kepala Via dengan lembut. Membuat Vanya merasa aneh dengan sikap Rayhan.
Bukannya anak dirinya diperlakukan buruk di rumah besar ini? Namun kenapa sebaliknya. Mereka tampak bahagia.
"Iya, Pa."
"Apa yang kau lakukan, Via?! Tidak mengangkat telepon dari Papa? Kau mulai membangkang?!"
Via sontak terkejut mendengarnya.
"Pa, bukan seperti itu. Tapi...
__ADS_1
"Kamu memang terlihat angkuh dan sombong. Gara-gara telah menjadi nyonya di rumah besar
ini?" sambung Vanya lebih memanasi.
Via bungkam dan memilih diam. Kalau Via semakin membela diri. Maka keadaan akan memanas.
"Kau berani memerintah istriku?!"
Deg!
Alfredo yang sekarang bungkam dan tidak bisa berkutik. Kenapa dia sampai bisa kelepasan marah
di hadapan Rayhan dan sekretaris nya.
"Via!" panggil Rayhan.
Via memandang Rayhan dalam.
"Papa, memerintah agar kuasa perusahaan kembali kepadanya."
"Apa yang kau katakan, Via?!" sentak Alfredo tidak terima.
Walaupun itu sebenarnya memang benar.
"Kau berani membentak istriku, Alfredo?!"
"Dia telah memfitnah orang tua nya sendiri."
"Aku lebih percaya kepada istriku." Rayhan merangkul bahu Via dengan lembut. Membuat Alfredo geram begitupun dengan Vanya yang merasa terancam. Kalau Via diakui menjadi nyonya muda dikeluarga Crowel maka dirinya akan kalah dan direndahkan.
"Kau menginginkan perusahaan itu kembali atas namamu?"
Alfredo segera mengangguk, membuat Rayhan tersenyum licik.
"Baik!"
Terima kasih, Tuan Muda."
ulur lehernya.
"Perusahaan atau putrimu? Kau tinggal memilihnya?"
Tubuh Via menegang mendengarnya. Rayhan tahu pasti tua bangka itu akan meminta perusahaan saja dan membuang putrinya.
Dengan hati yang mantap, Afredo kembali bersuara. "Perusahaan."
Hati Via mencelos mendengarnya. Papa nya lebih memilih perusahaan ketimbang dirinya?
Via tidak bisa menyembunyikan raut wajah pucat ketika mendengarnya.
"Dengan menguasai perusahaan. Maka saya bisa memenuhi kebutuhan, Via."
"Kamu mendengarnya, bukan?" tanya Vanya menatap sinis ke arah Via.
"Bukan kebutuhan Via tapi wanita itu." Via menunjuk wajah menor Vanya.
"Jangan kurang ajar, Via. Dia istri Papa dan Mama kamu."
Via menggeleng kepalanya dan tersenyum getir. "Papa, lebih memilih perusahaan dan mengorbankan Via."
"Glen! Bawa Nyonya Muda masuk ke dalam kamar."
Via bangkit dan mengikuti langkah Glen. Via tidak menoleh sama sekali dan melewati Alfredo dan
Vanya.
Entahlah. Hatinya begitu sakit mendengar fakta yang langsung keluar dari mulut Alfredo, papa nya sediri.
"Besok pagi, aku langsung ke kantor. Menandatangani berkas pemindahan kekuasaan."
__ADS_1
"Baik, Tuan Muda."
"Setelahnya, kau tidak memiliki hak untuk mengatur bahkan bertemu dengan Via, istriku. Kau sudah memilih perusahaan dan nikmati pilihanmu itu."
****
"Glen! Bagaimana dengan perkembangan pencarian peri kecil ku?"
"Saya telah mendapatkan beberapa berkas penting, Tuan Muda. Dan foto masa kecil peri kecil, Tuan Muda."
Rayhan menghela nafas pelan. Kenapa begitu sulit menemukan gadis kecil itu. Mungkin sekarang telah bertumbuh dewasa.
"Dia sangat cantik!" ujar Rayhan meraba foto kecil yang terlihat muram itu.
Temukan dia secepatnya, Glen!!" tegas Rayhan tidak ingin terbantahkan.
"Baik, Tuan Muda. Namun saya mencurigai satu hal mengenai fakta dari foto itu, Tuan Muda."
Rayhan menatap tajam Glen.
"Katakan?!"
"Peri kecil yang Tuan Muda maksud. Terlihat mirip dengan seseorang.
**
Via mengatur nafasnya yag terasa berat dan juga sesak. Tiba-tiba pernafasannya tersendat-sendat,
membuat tubuhnya bergetar.
Ceklek!
Pintu kamar terbuka dengan lebar. Rayhan dapat melihat tubuh Via bergetar dengan tangan gadis itu
menekan dalam jantungnya.
"Ada apa denganmu?!" bentak Rayhan.
Bukannya menjawab. Via tiba-tiba linglung dan pingsan di atas tempat tidur membuat Rayhan
menatapnya datar dan tajam.
Rayhan menepuk wajah Via dengan tangan besarnya berulang kali. Namun yang Rayhan rasakan adalah wajah Via panas dan tubuhnya menggigil.
Tangan Rayhan mengepal ketika melihat makanan yang Rayhan tahu itu makan siang. Tidak pernah disentuh oleh Via dan sekarang sudah menjelang malam hari.
Rayhan menggendong Via dan membaringkan nya dengan nyaman.
Rayhan segera keluar dari kamar itu. Dengan langkah tegap dan memendam emosi yang membara. Langsung menyuruh semua pekerjaannya berkumpul.
"Glen! Telepon dokter Maria!"
Glen mengangguk, tanpa banyak bertanya dan meninggalkan ruang tengah yang sekarang terasa
mencengkam karena Rayhan mengeluarkan aura yang menyeramkan.
"APA YANG KALIAN KERJAKAN? SEHINGGA MEMBUAT ISTRI KU TIDAK MEMAKAN MAKANANNYA?!"
Mereka semuanya terkejut dengan tubuh yang bergetar.
Jangan-jangan nyonya sakit karena tidak menyantap makan siang yang telah mereka berikan.
"Maafkan kami, Tuan Muda."
"Keluar!" Tubuh mereka menegang hebat.
Mereka telah kehilangan pekerjaan nya karena kecerobohannya.
Kalau sampai gadis itu sampai kenapa-kenapa. Maka Rayhan akan marah ke semua orang.
__ADS_1
Karena hanya Rayhan yang berhak menyiksa dan menyakiti gadis itu.
"Aku belum puas membuatnya menderita."