Istri Kesayangan Tuan Muda Arrogant

Istri Kesayangan Tuan Muda Arrogant
21. Siapa Anna??


__ADS_3

Mendorong Via tercebur ke dalam kolam renang. Tidak semata membuat Rayhan puas. Gadis itu harus menerima hukuman selanjutnya, karena berani membuatnya malu dengan parfum bunga milik gadis itu.


"Biarkan dia masuk!" perintah Rayhan.


Nacita tersenyum miring dan langsung menghalau beberapa anak buah Rayhan yang sekarang menghalanginya.


Rayhan berjalan menuju ruang tamu. Nacita membuntutinya dari belakang dengan senang hati.


Mereka duduk di sofa, Nacita berada di sampingnya.


"Saya dengar, Tuan Muda telah menikah? Dimana istri Tuan Muda?"


Hati Nacita memanas mendengarnya. Pokoknya dia tidak mau ada yang merebut posisinya.


Hanya dia yang berhak menyandang gelar nyonya muda Crowel.


"Ada masalah dengan, Anda?"


Nacita segera menggelengkan kepalanya. Dia menaruh berkas yang tadi dia bawa berisi kontrak


kerjasama.


"Tuan Muda, kontrak kerjasanma kita akan secepatnya berakhir. Jadi, saya ingin memperpanjang."


Bibi tua terlihat menatap datar Nacita yang kini duduk berdekatan dengan Rayhan. Nacita tidak


menghiraukannya, bahkan dia mengejek pembantu tua itu.


"Ini kopinya, Tuan Muda."


"Iya."


"Nyonya, ingin saya buatkan sesuatu?" tanya bibi tua.


"Ya, kau buatkan saya jus mangga saja. Soalnya saya dalam program diet ketat."


Kenapa tidak air putih saja? Kan, sedang diet. Bibi tua mengangguk dan langsung pergi dari hadapan


mereka.


Menyisakan Rayhan dan Nacita yang menatap kagum wajah Rayhan sedari tadi.


"Tuan Muda, sangatlah tampan."


Rayhan tidak menghiraukan perkataan Nacita. Dia sibuk dengan kertas yang ia pegang. Dan semua itu, tidak luput dari perhatian Via yang sekarang memicingkan matanya menatap mereka dari lantai atas.


"Pagi-pagi, sudah ada nenek lampir. Mana pakaian yang digunakan kekurangan bahan lagi. Dasar wanita penggoda."


Via menghela nafas dan membawa keranjang pakaian kotor menuruni anak tangga.


"Gadis itu masih bekerja di sini? Jelas-jelas dia sudah berani mengerjai saya."


"Bukan urusan, Anda!"


Nacita melototkan matanya mendengarnya. Via yang merasa dijunjung tinggi, mengejek kembali


Nacita ketika melewati mereka.


"Tuan Muda, pembantu Anda tidak sopan dengan saya!" Dia merengek membuat Rayhan


memandangi Via yang kini memperhatikan mereka.


"Pergilah! Jangan menganggu waktu kami!" perintah Rayhan tegas. Membuat Nacita tersenyum kemenangan dan Via merasakan sesak di dadanya.


Tuan muda membela wanita itu dan mengusirnya. Via segera pergi dari sana.


Via menghampiri bibi tua yang tengah membuatkan jus untuk wanita itu.


"Bibi, ini cuciannya."


"Iya, Nyonya. Bentar, saya akan segera kembali."


Bibi tua mengantarkan jus mangga untuk wanita itu. Via entah mengapa merasakan hatinya berdenyut nyeri ketika melihat mereka bersama. Apalagi Nacita sangatlah genit kepada Rayhan. Walaupun Rayhan tidak menanggapinya. Namun tetap saja dia kesal.


"Mana cuciannya, Nyonya?"


"Ini, Bibi." Via memberikan keranjang pakaian kepada bibi tua.


Namun wanita tua itu mengerenyitkan dahinya bingung ketika melihat cucian yang hanya berisi pakaian tuan muda saja.


"Pakaian Anda, Nyonya?"


"Biarkan saya sendiri yang mencucinya. Saya tidak enak."


"Nyonya, semuanya tugas saya. Lain waktu, Nyonya jangan merasa tidak enak, ya?"


Via akhirnya mengangguk. Sebenarnya dia bisa saja mencuci pakaian untuk tuan muda. Namun itu bukan tugasnya, karena tugasnya pasti berpotensi bahaya.


Seperti menyetrika, mengambil dedaunan di kolam renang dan lainnya.


"Nyonya," panggil Glen menghampiri mereka.


"Saya pamit, Nyonya." Via mengulas senyum dan


mengangguk.

__ADS_1


"Ada apa, Glen?"


"Boleh saya bertanya sesuatu dengan, Anda?"


"Bertanya apa?" tanya Via.


"Mengapa Anda berkunjung ke rumah wanita itu?"


Deg! Jadi Glen telah mengetahuinya. Jangan bilang, dia ada di sana juga waktu itu.


"Nyonya, sudah mengetahui rahasia besar itu?"


Via menganggukan kepalanya.


"Tuan muda yang sudah mencertikannya. Ketika saya mengetahui pasword brankas dan mengambil hak milik saya di sana."


Jadi, Glen tidak ada hak untuk marah kepadanya.


"Anda, terlihat sangat aneh, Nyonya. Wanita itu menatap Anda seakan mengenalnya. Apakah


Anda memang memiliki hubungan rahasia dengan dia?"


"Apa yang kau katakan, Glen?


"Jelas saya tidak memiliki hubungan apapun dengan dia. Bahkan saya takut berkunjung kembali. Dia menyebut saya dengan nama Anna dan menatap


saya sangat misterius."


"Saya permisi, Nyonya!" Glen tiba-tiba berpamitan. Itulah contoh sekertaris tidak memiliki akhlak.


"Dasar aneh. Semoga masa depan Glen suram."


**


Tuan Muda!" panggil Via.


"Ya," balas Rayhan.


"Boleh minta bantuan?"


"Bantuan apa?"


"Hem, angkatkan galon."


Rayhan menatap datar Via yang kini mengigit bibir bawahnya karena takut Rayhan akan marah kepadanya.


"Kalau Tuan Muda tidak mau, saya panggil Glen saja."


"Berani kau bersuara. Maka ... aku akan membuat mu kehilangan suara selamanya."


Via mengatupkan mulutnya dengan sangat rapat. Maksudnya apa coba? Dasar tidak punya perasaan.


"Jangan bilang ... Tuan Muda tidak pernah menyentuh galon sejak lahir?"


Via menatap Rayhan dengan mulut menganga lebar. Ternyata spesias manusia seperti Rayhan


memang ada di dunia. Sudah menjadi sultan sejak lahir.


"Siapa yang memberikanmu uang selama ini?" tanya Rayhan.


"Papa. Memangnya kenapa?"


Walaupun sekarang dirinya memakai tabungan mamanya. Dan tidak lagi meminta ke Alfredo.


Rayhan menghela nafas dan mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya. Sebuah kartu yang terlihat bersinar di mata Via.


"Kau boleh menggunakannya."


"Tidak! Saya sudah memiliki uang banyak dari warisan almarhumah mama saya."


"Kau berani menentangku?!"


Via berpikir sejenak dan terpaksa mengambilnya. Lumayanlah, dia bisa berhemat dan tidak lagi menggunakan tabungan almarhumah mama nya.


"Terima kasih, Tuan Muda. Tapi, Tuan Muda memberikan saya jatah berapa perbulan?"


"Terserah kamu. Sekarang kartu itu di tangan mu. Kamu bebas menggunakan nya."


"Kalau beli Villa di Bali dan Lombok, bagaimana?"


"Hem."


"Memangnya cukup? Kan harga Villa ratusan juta bahkan 1 miliar."


"Hem."


"Ishh, saya serius Tuan Muda."


"Wajahku terlihat bercanda?!"


Via memicingkan matanya meneliti mimik wajah Rayhan.


Tidak ada tanda-tanda dia sedang bercanda.


"Ya, Maaf! Ngak usah ngegas, dong. Kan, saya hanya bertanya saja."

__ADS_1


"Kau sangat cerewet gadis pembangkang."


"Oh ya, kenapa Tuan Muda tidak mengakui status saya di depan nenek lampir itu?"


Siapa yang kau maksud?"


Via memutar bola matanya malas. "Nyonya Nacita."


"Kau ingin diakui?" tanya Rayhan tersenyum miring.


"Ya, kan harus! Karena dia sangat genit ke Anda, Tuan Muda."


"Genit?"


"Gatal gitu."


"Gatal?"


"Ya, ampun. Tuan Muda lulusan mana, sih?" kesal Via. Sedari tadi dia berbicara tidak ada yang dimengerti.


"Amerika, Jerman, Australia ..."


"Ya, ya, Tuan Muda memang sangat cerdas dan tampan."


"Kau memang selalu benar."


"Namanya juga perempuan. Selalu benar! Jadi, bagaimana ini, Tuan Muda? Saya harus memakainya


hingga berapa nominalnya sebulan?"


"Kau ingin membeli Villa, kan?


"Beli saja."


Ah! Via melongo mendengarnya. Kan Via hanya bercanda tadi. Kenapa di seriusin? Tapi kalau


benar, tidak apa-apa. Via mau jugak.


"Minimal seratus juta perbulan."


"Apa? Saya tidak salah dengar, Tuan Muda? Uang sebanyak itu saya mau pakai kemana? Bentar!"


Via berpikir sejenak. Pertama, dia harus membeli kebutuhan makanan dan stok kulkas di rumah. Kedua, dia harus membiayai kuliahnya sehari-hari.


Ketiga, dia membeli baju di toko online yang terkenal murah meriah.


"Jangan memikirkan bahan pokok rumah ini. Jelas itu adalah tugas bibi tua."


"Kau gunakan untuk kebutuhanmu. Jangan banyak bertanya, atau aku akan menghukummu kembali!"


Rayhan pergi dari hadapan Via dengan wajah datar seperti biasanya. Pria itu keluar dari pintu utama di ikuti oleh Glen di belakangnya. Sepertinya mereka


akan kembali ke kantor.


Via masih termenung di depanblaptopnya. Dia meraba kartu yang terlihat bersinar itu, dengan


perasaan bimbang.


"Gimana kalau gue ambil 100 juta perbulan tapi gue gak pakai. Gue transfer ke tabungan gue. Buat bekal kabur besok."


"Tapi, kalau gue ngak beli baju mahal dan tuan muda


mengetahuinya, matilah gue. Ya, harus ada buktinya. Kalau dia mau menghabiskan uang. Tapi kan, harga baju bermerek dan tas itu ngak murah. Gue lihat deh, di internet."


Via menghela nafas pelan dan menatap layar ponselnya yang menyala.


"Tuh kan, masak harga tas aja 10 juta. Terus harga dress itu 30 juta. Boros banget hidup gue kalau seperti itu."


"Wih, sandal jepit yang gue beli di olshop harga 1 juta. Gila! Mahal banget. Wah, ngak bener ini."


Via mengangkat kedua kaki jenjangnya yang kini memakai sendal jepit bermotif kelinci. Via


membelinya kemarin 20 ribu dan di gambar tadi harganya membuat jatah makan sebulan habis setengahnya.


Via mengangkat wajahnya mendongak ke atas. "Ternyata jadi orang kaya juga susah. Kalau gakbeli perlengkapan mahal, dikatakan kampungan."


Via menepuk kepalanya. Dia berhenti mendongak dan kembali memperhatikan ponselnya.


"Gue beli skincare aja, deh. Lumayan wajah glowing, seperti nenek lampir itu."


Kembali mata Via melotot melihatnya. Yang benar saja, sekali perawatan 30 juta. Terus harga satu skincarenya kisaran puluhan juta. Via membuang ponselnya. Bisa gila dia lama-lama kalau melihatnya.


Dulu Alfredo hanya memberikannya jatah bulanan 5


juta setiap bulannya. Etss! Kan Via


Hidup di Jakarta, hampir semua harga produk lebih mahal dari daerah lainnya. Mana Via bolak-balik menaiki taksi setiap hari.


"Bentar! Gue mau absen kebutuhan gue bulan ini. Beli paket kuota sebulan 200 ribu, beli skincare 500 ribu. Keperluan kuliah 2 juta. Itu aja, deh dulu. Nanti gue pikirin lagi."


Via bangkit dari duduknya dan menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Sehingga tubuhnya terasa


kebas dan terangkat karena kasur yang empuk. Tapi Via suka.


"Apa tuan muda, sudah mulai luluh sama gue? Kenapa, ya? Kisah gue beda banget sama di novel.

__ADS_1


Kalau di novel, beberapa bulan aja, pasti suami yang membenci istrinya sudah luluh. Tapi gue . jatuh bangun hampir sekarat, belum juga dia luluh."


Bukan sebenarnya sulit luluh. Namun hati Rayhan sudah ada pemiliknya sejak lama. Dan Via harus menerima kenyataan pahit itu.


__ADS_2