Istri Kesayangan Tuan Muda Arrogant

Istri Kesayangan Tuan Muda Arrogant
65. Kecurigaan Via


__ADS_3

Via mengusap perutnya yang sedikit membuncit. Tidak terasa,dirinya sudah hampir dua bulan mengandung. Jadi,melahirkan masih lumayan lama. Dirinya harus bersabar.


"Nyonya! Sebaiknya, Anda jangan terlalu banyak pikiran dan stress.Hal tersebut,akan berpengaruh terhadap janin, Anda."


Seorang dokter kandungan wanita paruh baya, memberikan nasihat kepadanya. Via menatap suaminya dan ibu dokter tersebut, lantas menganggukkan kepalanya.


Hari ini Rayhan dan Via pergi memeriksa kandungan ke rumah sakit, karena akhir-akhir ini terlalu banyak cobaan dan masalah yang mereka hadapi.


Sehingga membuat keduanya khawatir, terhadap tumbuh kembang dari bayi mereka.


"Apakah, ada yag menganggu pikiran Anda, selama kehamilan,Nyonya?" Tanya dokter tersebut.


"Tidak ada, Dok. Hmm, bagaimana dengan keadaan janin, saya?"


Dokter tersenyum dan menganggukkan kepalanya, "Tidak ada yang perlu dikhawatirkan,Nyonya. Semuanya dalam keadaan baik. Namun, hal tersebut, bukan berarti Nyonya lengah.Harus tetap berjaga-jaga. "


"Janin dalam kandungan Anda sangat hebat dan kuat. Semoga,besok menjadi anak yang hebat dan berbakti kepada kedua orang tua."


"Terima kasih, doanya, Dok."


"Sama-sama, Nyonya. Ini resep untuk, Anda."


Rayhan yang sedari tadi, tidak berbicara langsung mengambil kertas tersebut, dan mengandeng istrinya untuk keluar dari sana karena telah selesai diperiksa.


"Sayang! Mau aku gendong?"Tanya Rayhan hendak mengambil ancang-ancang untuk mengangkat tubuhnya.


Via memperhatikan sekitarnya dan langsung menggelengkan kepalanya. "Nggak, Ray. Makasih.


Aku lebih baik jalan, sambil olahraga. Biar sehat dan banyak tenaga."


Rayhan mengusap wajah sang istri dan mengecupnya singkat. "Maaf, Sayang! Kalau aku membuatmu kesusahan."


Via hamil karenanya, dan kesusahan sendirian membawa calon anak mereka kemana-mana sebelum lahir.


Via mengerenyitkan dahinya bingung dengan perkataan suaminya. "Minta maaf untuk apa, hmm? Kamu selingkuh, ya?" Ucap Via menggoyang lengan suaminya.


"Tidak, Via. Aku tidak pernah selingkuh. Bahkan, untuk berpaling darimu saja sangat sulit bagiku. Jadi, jangan pernah berpikir aku akan melakukannya."


"Kalau kamu melakukannya bagaimana?" Ujar Via memicingkan matanya.


"Kamu boleh menusuk jantungku."


Via terkejut mendengarnya. Jawaban yang tidak pernah ia duga, keluar dari mulut suaminya.Rayhan ini memang ada-ada saja.


Dirinya jadi merinding membayangkan itu semua.


"Kamu serem, Ray. Nggak ada hal gituan. Mana mungkin aku tega melakukannya."


Yang benar saja, dirinya yang takut darah itu menyakiti suaminya. Menyakiti semut saja, dia hampir tidak pernah melakukannya.

__ADS_1


Disebabkan kasihan yang berlebihan, soalnya semut dan manusia sama-sama makhluk Tuhan.


"Ray! Aku ingin bertanya mengenai sahabatku. Aneh nggak sih, Mira tidak pernah bisa mengangkat telponnya."


"Memang kenapa? Dia dalam keadaan baik. Seperti yang dikabarinya."


"Kan, aku belum selesai cerita. Kok, kamu seakan-akan mengetahui keberadaan Mira dimana dan keadaannya seperti apa."


"Kamu selalu cerita, Sayang. Tanpa sadar."


Via mencoba mengingatnya, namun mungkin saja ia lupa. Wanita itu akhirnya menganggukkan kepalanya.


Mereka berjalan menuju ke apotik, untuk menebus obat.


Hingga Via memicingkan matanya, ketika melihat seorang wanita yang ia kenal, sedang bersama dengan pria yang kini mendorong kursi roda.


"Ray! Bukannya itu bu Salsa, ya? Dia sakit? Tapi sakit apa?" Gumam Via dengan raut wajah yang penasaran.


Ketika wanita itu hendak mendekati mereka, dan akan bertanya ke Salsa. Rayhan langsung menghalanginya dan meraih tangannya dengan erat,agar Via tidak bisa kemana-mana.


"Dia terjebak dalam lift."


Via menatap suaminya kembali,karena kasihan dengan wanita itu. Pasti sekarang dia sedang sakit dan shock, dengan musibah yang menghampirinya.


"Ray! Sebenarnya bukan itu yang membuatku penasaran. Namun, pria yang bersama dengan Bu Salsa. Seperti tidak asing."


"Boleh ya? Aku menghampiri mereka," ucap Via memohon.


'Mungkin hanya mirip saja Semoga dugaanku memang tidak benar.'


**


"Apa sebenarnya yang kamu inginkan, Glen? Aku juga memiliki kehidupan sendiri, tidak harus kamu kurung di tempat ini."


"Ini demi kebaikanmu."


Hanya penjelasan singkat dari pria itu, membuat Mira terkekeh sinis, karena dirinya merasa dipermainkan.


Bagaimana keadaan kedua orang tua nya setelah mengetahui putrinya menghilangkan. Dia tidak habis pikir dengan pria itu, tidak memiliki otak.


Mira sangatlah menyesal, telah memiliki hubungan dengan Glen. Kenapa Tuhan mempertemukan dirinya dengan pria gila itu.


"Apa yang kami pikirkan? Ingin kabur?"


"Iya, memangnya kenapa? T'idak ada masalah bagimu, kan? Kamu mengurungku, maka aku juga akan memberontak dan pergi jauh setelah ini."


"Jangan coba-coba, Mira. Kalau kamu tidak memikirkan dirimu.Maka pikiran nyonya muda."


Mira mencoba menetralkan detak jantungnya yang sedari tadi berdetak sangat cepat. Dirinya hanya ingin menyelamatkan hidupnya dari pria itu.Mantan kekasihnya!!

__ADS_1


"Untuk saat ini, aku tidak akan cerita banyak. Ini ponselmu! Kartunya juga ada di sana."


"Kamu boleh menelpon siapapun. Namun, tidak untuk pergi dari sini. Kalau hal itu terjadi, maka aku akan mengurung mu di lantai paling atas. Kamu mengerti, Mira?!"


Mira menatap kosong kepergian pria itu. Setelahnya, Mira langsung menelpon Via, untuk bercerita semua hal yang diketahuinya.


Kecuali tempatnya saat ini karena semua itu dilarang.


"Hallo, Mir. Astaga! Lo kemana saja? Gue dari kemarin telpon Lo tadi nggak diangkat. Hanya chatan aja yang dibalas."


Mira menarik napas panjang, agar dirinya tidak menangis untuk saat ini karena merasa Glen sangat menekannya untuk melakukan,semua hal yang dilakukan oleh pria itu. Tanpa, mengerti perasaannya.


"Gu-gue nggak kenapa-kenapa, Vi. Lo bagaimana?"


Hembusan napas terdengar dari seberang sana.Dipastikan sahabat nya itu memang benar-benar menghawatirkannya.


"Gue baik. Sekarang lo dimana? Gue mampir ke rumah lo, ya?" Ucap Via dengan antusias.


"Jangan, Vi! Besok aja, ya? Gue mau istirahat soalnya. Nggak enak badan."


"Gitu, ya? Biasanya kalau lo sakit,minta banyak sama gue."


"Nggak ada! Lo kan lagi hamil Mending, jangan kemana-mana dulu, kasihan dedeknya."


Lama Mira menunggu balasan dari Via, hingga wanita hamil itu menyetujuinya dan percaya kepadanya.


"Oke."


"Sebenarnya, gue mau cerita satu hal sama lo, Vi. Raja mau pulang ke Indonesia. Beberapa hari yang lalu, dia nelpon gue dan tanya kabar kita."


"Wah! Kita bisa kumpul bareng. Kapan?"


"Secepatnya. Iya dah, Vi. Gue istirahat dulu. Lo juga, ya? Gue tutup!"


Sebelum Via menjawabnya. Mira langsung menutup telponnya. Gadis itu memejamkan mata nya, dengan air mata yang sudah menetes.


"Andaikan lo tahu, Vi. Raja yang dulu kita kenal, sudah berubah. Entah itu bener atau tidak. Tadi hati gue membenarkan perkataan Glen."


Via menghela napas panjang,setelah Mira menutup telponnya secara tiba-tiba. Bahkan, dirinya belum saja selesai berbicara.


Mungkin Mira serius ingin istirahat. Namun, ia mengingat perkataan Mira tadi, bahwa Raja akan pulang ke Indonesia.


"Nggak sabar. Pasti Raja akan membawakan gue dan Mira oleh-oleh."


Via tersenyum senang, dan membayangkan dirinya akan berkumpul langsung dengan kedua sahabatnya. Dirinya jadi tidak sabar.


Wanita itu meraih obat yang dibawanya dari rumah sakit. Dia meneliti obat tersebut,namun sekelebat yang nya mengingat bu Salsa yang masuk rumah sakit dan duduk di atas roda.


"Siapa pria itu? Kenapa harus menggunakan masker wajah dan penutup kepala?" Gumam Via tanpa sadar, namun membayangkan seseorang yang dikenalnya mirip dengan pria itu.

__ADS_1


"Kalau diingat-ingat. Postur tubuhnya dan tingginya mirip seperti Raja. Huh! Mungkin hanya halusinasi gue aja.


"Kan, Raja belum pulang. Mana ada, dia berhubungan dengan wanita itu. Tidak masuk akal."


__ADS_2