
Sedari tadi, Rayhan dan Glen berkeliling di toko kue, yang menyediakan kue bolu berbagai macam rasa. Keduanya sibuk menatap semua orang dengan datar, karena terlalu penasaran dengan urusan orang lain.
Memang, terlihat sangat lucu keduanya sekarang berkeliling, di dekat ibu-ibu yang sekarang juga sibuk memilih kue bolu yang berada di kaca.
"Anda, ingin membeli semuanya,Tuan Muda?" tanya Glen karena sedari tadi, tuan muda nya tidak pernah menunjuk kue bolu pilihannya.
Walaupun membeli semuanya,pasti tuan muda akan sangat mampu.
Bahkan toko kue ini sekalipun,namun ingat posisi tuan muda sekarang, sedang tidak berdaya karena istrinya tidak suka dengan suami yang boros.
Memang serba salah menjadi tuan muda.
"Kita ke belakang. Aku ingin melihat cara pembuatan kue bolu secara langsung."
"Baik, Tuan Muda."
Siapa yang berani menghalangi tuan muda, walaupun yang memiliki toko sekalipun.
Mereka semua bahkan terlihat sangat senang karena toko kuenya dikunjungi oleh tuan muda,pengusaha kaya raya di daerah itu dan sangatlah terkenal di kalangan semua orang.
"Selamat datang, Tuan Muda.Mohon maaf, kalau kami tidak menyambut anda dengan baik.Kami tidak mengetahui kedatangan anda yang tiba-tiba."
Rayhan tidak menjawabnya, danfokus melihat cara pembuatan kue yang dilakukan oleh chef yang terlihat sangat handal. Bahkan,mereka yang berisik tidak diperdulikan oleh Rayhan, karena terlalu membanggakan produk mereka kepadanya.
"Ini adalah kue bolu spesial yang berada di toko kue kami, Tuan Muda. Silakan dinikmati."
Rayhan tidak menyentuhnya sedikitpun, dia tidak suka memakan makanan yang manis.
Hingga, akhirnya glen yang sekarang mengambilnya dan membawanya.
"Kita pulang Glen," ucap Rayhan dengan tegas.
Mereka berdua akhrinya keluar dari sana, tidak lupa rayhan membayarnya dan menyuruh glen untuk hal tersebut.
"Habiskan kuenya, setelah itu kau lapor kepadaku bagaimana penilaiannya."
Glen menunduk dan menatap kue di tangannya dan akhirnya menganggukkan kepala. "Baik, tuan muda. Saya akan menghabiskannya."
Via sedari tadi mengecek jam yang berada di atas kepalanya, sudah sore begini suaminya belum pulang juga, mana tidak mengabari sama sekali.
Huh! Awas saja kalau macam-macam diluar sana. Dia akan kabur dari rumah besar ini berasa dengan bayi dalam kandungannya.
Biarkan saja nanti, Rayhan sibuk mencarinya dan ketakutan dirinya kenapa-kenapa. Siapa suruh telat pulang.
Namun, suara mesin mobil langsung menyadarkan lamunan wanita hamil itu. Dia segera mendekati jendela dan melihat suaminya sudah pulang.
Dengan menyemprotkan parfum ke tubuhnya, Via tersenyum manis dan segera keluar dari kamar mereka, siap untuk menyambut tuan muda yang tampan.
Via menuruni anak tangga dengan hati-hati, suaminya dari bawah sana terlihat sudah masuk kedalam rumah.
Bau tubuh rayhan yang wangi tercium dari kejauhan, entah mengapa sejak hamil penciuman via bertambah kali lipat jauh lebih tajam.
Via berlari dan memeluk rayhan dengan cukup kuat, membuat pria itu dengan sigap membalas pelukan istrinya itu.
"Hati-hati, Sayang. Kalau kamu jatuh dan kenapa-kenapa,bagaimana? Aku yang akan menyalahkan diriku sendiri."
Via mendongak dan melepaskan pelukannya dari Rayhan. Pria itu mengusap kepala sang istri dengan sayang dan sangat cinta.
__ADS_1
Segala kelelahannya yang tadi telah sirna, digantikan dengan hati yang tenang, karena istrinya telah berada di sisinya.
Glen masuk tiba-tiba membawa kue bolu yang belum tersentuh sedikitpun, membuat Via yang menyaksikan hal itu langsung menghalangi glen untuk lewat didepannya.
"Siapa yang punya kue bolu, Glen?Terlihat enak sekali. Saya minta boleh? ucap Via penuh harap.
"Atau tidak boleh, ya? Kamu sedang berulang tahun? Kenapa tidak memberitahu kami? Pasti kami akan mengundang Mira untuk tiup lilin."
Glen terlihat pasrah, dan tidak bisa berbicara. Nyonya muda jujur sangat cerewet sekali. Hingga kata-kata nya hilang begitu saja.
"Saya tidak sedang memiliki acara, Nyonya Muda."Via menganggukkan kepalanya,dan kembali memeluk suaminya dengan erat.
"Ray! Kok pulangnya telat?" Tanya Via dengan suara yang pelan,namun tatapannya terlihat curiga.
"Kamu main-main, ya? Sebelum pulang?" Sambung Via menyelidik.
Dalam hati Glen, andaikan nyonya muda mengetahuinya, pasti dia akan sangat merasa terharu, karena tuan muda yang sangatlah berusaha untuk membahagiakannya.
"Tidak, Sayang. Tapi ada urusan bersama dengan Glen."
"Benar itu, Glen?" Tanya Via menatap Glen dengan serius.
Glen yang terlihat ingin menceritakan semuanya, namun langsung mendapatkan kode dari tuan muda.
Akhirnya ia menganggukkan kepalanya.
"Kami, tadi ada pertemuan Nyonya Muda di restoran. Jadi,kami telat."
Glen terlihat sangat menyakinkan,wajahnya tidak terlihat bohong sama sekali. Akhirnya Via menganggukkan kepalanya dan tersenyum ke arah suaminya.
"Glen! Tolong jaga Tuan Mudamu yang tampan, ya? Soalnya pasti banyak yang suka."
"Kamu mendengarnya, Glen?"Tanya Via kembali.
Glen menganggukkan kepalanya. "Iya, Nyonya Muda. Saya mendengarnya. Anda tenang saja.
Tuan Muda akan selalu saya lindungi semampu saya, sekali asisten dan sekretarisnya."
"Kesepakatan yang bagus."Via menarik Rayhan menuju ke sofa dan sekarang mereka duduk berdua di sana.
"Glen! Buka tutup kuenya dan potong kecil-kecil. Aku ingin memakannya."
"Baik, Nyonya Muda."
"Biarkan aku yang melakukannya,"ucap Rayhan dan mengambil alih pisau kue dari tangan Glen yang terlihat pasrah.
"Kamu tidak capek, Ray? Di kantor mengurus karyawan. Di rumah mengurus istri."
"Tidak sama sekali, Sayang.Kewajiban ku untuk selalu mengurus istri ku."
Percuma kalau berdebat dengan Rayhan. Akhirnya Via memilih mengalah saja, soalnya tadi dikiranya suaminya lelah dan Via ingin Rayhan istirahat saja bersamanya.
"Ini, Sayang. Buah ini juga kamu suka, kan?"
"Iya, aku suka buah merah ini.Terlihat lucu dan ada bintik-bintiknya,"
Via menerima suapan dari Rayhan. Pria itu menghela napas pelan dan tersenyum perlahan melihat istrinya yang sekarang bergitu dekat dengannya.
__ADS_1
Via sibuk mengunyah kue yang sangat enak, hingga mengabaikan Rayhan yang memperhatikannya sedari tadi.
"Belepotan, hmm?"
Via hendak mengambil tisu untuk membersihkan mulutnya, namun Rayhan langsung menghalanginya.
Pria itu dengan sigap menyeka bekas kue di sudut bibir sang istri.
"Wah! Suamiku sungguh sangatlah romantis. Kamu memang terbaik,Sayang. Aku mencintaimu."
Hati Rayhan sangatlah senang mendengar ungkapan cinta dari istrinya itu. Bahkan,seribu kali Via akan mengatakannya,tidak akan pernah ia bosan mendengarnya.
"Sayang, aku ingin satu permintaan?" Ucap Rayhan menatap dalam sang istri, hingga membuat Via menganggukkan kepalanya karena setuju, untuk mengabulkan permintaan Rayhan.
"Selalu katakan cinta kepadaku.Walaupun hanya sekali dalam sehari, Sayang."
"Kenapa?" Tanya Via polos.
"Sebagai penyemangat hidupku.Karena kamu yang sekarang wanita yang paling aku cinta. Aku bahagia mendengarnya. Tidak pernah aku sebahagia ini, dengan kalimat itu."
"Ray!" Panggil Via dengan pelan.
"Aku mencintaimu Sayang. Aku menyayangimu, Sayang. Aku ingin selamanya ada di sampingmu,Rayhan."
Rayhan tersenyum untuk kesekian kalinya. "Terima kasih, Sayang.Dan untuk yang tadi."
"Sama-sama, Ray"
Via menghela napas panjang dan mengigat sesuatu. "Besok jadi, ya?Buat kue bolu nya? Soalnya tadi aku udah nyuruh bibi tua beli bahannya."
"Iya, Sayang. Apapun untuk kamu.Kue bolu tereenak besok akan jadi."
"Buatan chief Via dan Rayhan,hehehehe ...
Via sangat manis. Tawanya menjadi candu. Istrinya yang cantik dan menggemaskan.
'Aku berharap. Tidak akan ada masalah apapun, yang dapat memisahkan kita, Sayang.'
"Aku tidak akan pernah sanggup kehilanganmu."
"Kenapa, Ray?" Tanya Via bingung
"Tidak ada, Sayang. Besok kita buat kue bolu nya. Sekarang kamu istirahat, ya?"
"Iya, Ray. Kamu yang paling lelah,Ray. Ayo kita istirahat."
Rayhan tiba-tiba menggendong Via, membuat wanita itu menjerit dan ketakutan.
"Ray, aku lagi hamil. Hati-hati!Berat juga."
"Tidak, Sayang. Kamu akan selalu ringan walaupun sekarang ada calon anak kita."
"Tapi kok aku curiga, kamu seperti ini ada maunya."
"Memangnya kenapa?" Tanya Rayhan mulai menaiki tangga.
"Tidak ada. Pelan-pelan, Sayang kan, lagi hamil."
__ADS_1
"Aku bahkan, lebih ahli, Sayang."