
Mereka berdua menuruni anak tangga menuju ke meja makan. Via menghela nafas pelan,namun dia terkejut melihat kehadiran mertuanya yang telah berada di sana.
Seharian Via tak diizinkan keluar kamar kemarin. Sehingga tak bisa melihat keadaan luar kamar. Jadi,dia tidak menyadari mertuanya telah pulang.
Mereka duduk berdekatan. Dengan Rayhan yang memangku sebelah tangan Via dengan lembut. Paula hampir tersedak ketika melihat banyak tanda keunguan di leher menantunya, membuat dia meneguk air hingga tandas. Mereka sama saja. Keturunan Crowel memang ganas.
"Sayang"panggil Paula ketika melihat Via tak berani mengangkat.
"Iya, Tante."
Mereka saling memandang dan Paula berakhir tersenyum.Berbeda dengan Alfred yang menatap menantunya itu dengan wajah datar dan kembali melanjutkan sarapan.
"Loh, kok Tante? Mama, Sayang."
"Iya, Ma!" Via masih menunduk karena tidak percaya diri berhadapan dengan mertuanya untuk yang pertama kalinya.
"Angkat wajahmu, Sayang!"
Via mengangguk dan sejenak menoleh ke arah Rayhan untuk menguatkan diri dan menghilangkan gugup.Sebenarnya yang dia takutkan adalah papa mertuanya yang kini tak berniat memperhatikan nya sama sekali.
"Sudah diajarkan tata krama?" tanya Alfred dingin akhirnya membuka suara.
"Iya, Pa."Via mengubah panggilannya agar tak salah kembali.
"Terapkan!" tegasnya lantas kembali melanjutkan sarapan.
Paula menggelengkan kepalanya dan mencubit bahu suaminya membuat pria itu meringis. "Papa kenapa, sih? Kalau Papa berbicara seperti itu. Via takut ke kita."
"Maaf, Ma! Papa tidak bermaksud. Itu sudah aturan keluarga kita."
"Tidak dengan memaksa dan menakutkan?"
"Hem." Paula kembali memandang Via.
"Sudah, Sayang. Kamu jangan takut dengan kami. Kami sangat menantikan kehadiran kamu setelah hilang dua bulan."
Via kembali mengingatnya. Dia terlena tinggal di desa dengan semua pemikiran yang membuatnya terperangkap. Hingga mengecewakan semua orang.
"Maaf, Ma! Via tidak bermaksud melakukan itu semuanya. Via salah."
"Makan, Sayang. Sudah berlalu!"
Rayhan mengusap bahu istrinya dengan lembut. Membuat Via kembali rileks dan tenang.
"Makasih, Ray."
Rayhan mengangguk. "Rencana nya,Rayhan ingin pergi berbulan madu setelah Via selesai magang di kantor."
"Magang?" tanya Paula.
"Ya, sebentar lagi Via akan bekerja dengan Rayhan di kantor."
"Kamu cocok menjadi wakil direktur, Sayang. Atau kamu menjadi pimpinan perusahaan cabang saja? Bagaimana?"
Perusahaan Crowel Gruf tersebar di daerah itu, dengan perusahaan cabang yang begitu besar dan juga terkenal.
"Hem, Via ingin menjadi karyawan biasa. Kan, Via magang. Jadi, harus mulai dari bawah belajarnya."
"Baiklah, Sayang. Nanti lapor ke Mama kalau ada yang membuat kamu tidak nyaman di sana. Tinggal kita singkirkan."
"Rayhan setuju hingga ke akar-akarnya."
"Harus dilakukan!"
Mereka saling menyahut membuat Via bergidik negeri sendiri. Yang benar saja, hanya masalah sepele nantinya menghancurkan hidup mereka.
Mungkin di rumah ini, hanya dirinya yang waras dan juga memiliki belas kasihan.
Kapan memberikan kami cucu,Sayang?"
Via terkejut mendengarnya.
Namun dia langsung menetralkan detak jantungnya. Tidak sopan terbatuk-batuk di meja makan, karena itu melanggar buku tata krama keluarga ini.
"Secepatnya, Ma."
"Rayhan akan berusaha untuk saat ini, agar keturunan keluarga Crowel secepatnya hadir."
Rayhan mengelus perutnya, membuat Via menatap pria itu dengan pandangan sayu dan mengangguk.
"Tenang, Sayang. Cukup hanya satu keturunan saja."
Via mengernyitkan dahinya bingung. Maksudnya hanya satu putra? Sebenarnya Via ingin memiliki anak dua. Perempuan dan laki-laki,jadi hadapannya akan pupus.
"Baik, Ma."Akhirnya Via mengangguk dan mengulas senyum utuh.
****
Glen boleh berkata pada tuan muda nya, bahwa dia terlihat aneh ketika tersenyum memeriksa laporan.
"Tuan Muda?"
Rayhan menoleh dan menatap Glen yang kini menatap sekretarisnya itu, terlihat canggung memanggilnya.
"Kenapa?"
"Tidak ada!"
"Kau ingin diberikan hukuman, Glen?"
Pria itu langsung menggelengkan kepalanya. "Saya hanya ingin bertanya mengenai senyum, yang sedari tadi mengembang. Tuan Muda kenapa? Maaf! Kalau saya lancang."
"Saya bahagia. Jadi, kau harus ikut berbahagia juga."
"Iya, Tuan Muda."
Rayhan melepaskan berkas di tangan nya. "Bagaimana dengan gadis itu?"
Glen mengangkat wajahnya dan mengernyitkan dahinya bingung.
"Gadis itu siapa maksud, Tuan Muda?"
"Menikahlah, Glen! Kau ingin menua sendirian?"
Glen tidak bisa mengelak, karena dia tidak berani menolak perintah tuan mudanya.
"Kau ingin menikah?"
"Belum ada calon, Tuan Muda."
"Gadis itu, kau masih meragukannya?"
Sedari tadi tuan muda mengatakan gadis dan gadis. Siapa yang dia maksud? Apa sahabat dari nyonya
muda? Astaga! Tuan muda telah mengetahuinya.
"Sebelum kau menyesal, Glen!"
"Baik, Tuan Muda."
Rayhan melanjutkan aktivisnya, begitupun dengan Glen yang sekarang menetralkan detak jantungnya, karena dia telah menyetujui perintah dari tuan muda.
'Saya harus bagaimana? batin Glen dengan raut wajah datar.'
***
__ADS_1
Via mengulas senyum ketika mendengar cerita dari mertuanya, sambil mereka memasak dan bercanda.
"Jadi Ray jarang bermain dengan teman-temannya dulu."
"Iya, Ray itu cuek dan juga paling ditakuti oleh teman-temannya."
Via mengangguk dan mengerti. Jadi, sifat kaku dan keras Rayhan, dari kecil.
"Walaupun seperti itu Ray penyayang. Dia sangat menyayangi keluarga dan tidak pernah membantah ucapan kami."
"Argh!" Via menikmati cerita mertuanya membuatnya tak sengaja menyentuh panci panas,
hingga tangannya melepuh.
"Astaga, Sayang! Biar bibi yang lanjutin, ya? Nanti Ray marah kalau kamu sampai terluka."
Via mengangguk dan bernafas lesu karena tidak becus di dapur. Selalu saja dia menyusahkan semua
orang.
Paula mengernyitkan dahinya bingung, melihat raut wajah sedih menantunya.
"Kenapa sedih, Sayang?" tanya Paula mengusap bahu Via dengan lembut.
"Belum bisa masak, Ma."
"Astaga! Masalah itu?"
Via menghela nafas pelan dan mengangguk. "Iya, Ma. Beberapa hari Via belajar ke bibi, hanya menyusahkan saja dan berakhir seperti ini."
"Kamu gak usah masak, Sayang. Cukup duduk dan memerintah para pembantu untuk masak. Pasti
Rayhan akan marah besar kalau kamu seperti ini."
"Via ingin menjadi istri yang baik, untuk Ray."
Paula mengerti dia juga berpikir seperti itu dulu. Namun selalu saja suaminya melarangnya.
"Sekarang Mama obati."
"Iya, Ma."
****
Via menyembunyikan tangannya, yang terluka agar Rayhan tidak mengetahuinya.
Rayhan mengernyitkan dahinya bingung melihat tingkah Via yang terlihat aneh, dan juga gugu berhadapan dengannya.
"Masih canggung?" tanyanya.
"Tidak! Kenapa aku harus canggung?"
"Hem. Apa aktivitasmu hari ini, Sayang?"
"Masak sama mama."
"Kamu masak?"
Via mengangguk dan mengulas senyum. Rayhan langsung mendekatinya, dan tiba-tiba menjangkau tangannya yang telah diobati.
"Ini kenapa?"
Rayhan mengeram membuat Via ketakutan tak berani bersuara.
"Tidak sakit. Hanya terkena panci panas.
"Via!" Rayhan menekannya, membuat Via meringis dan melepaskan tangannya dari genggaman sang suami.
"Kamu gak berubah sampai sekarang! Selalu saja kasar. Aku mau tidur saja."
"Via!" Kembali Rayhan memanggil dan tak merasa bersalah.
"Maaf, Sayang. Aku hanya khawatir."
***
Udara pagi membangunkan mereka berdua. Via masih mara dengan Rayhan. Sikap kasarnya tak berubah sama sekali.
"Sayang, hei!" panggil Rayhan menyentuh punggung Via, hingga wanita itu berbalik menatapnya.
"Kenapa?" tanya Via dengan wajah datar dan tak bersahabat.
Rayhan menghela nafas pelan.
"Maaf, Sayang. Aku gak sengaja. Mana tangan kamu? Masih sakit?"
Ketika Rayhan hendak menjangkau tangannya. Via
langsung menyembunyikannya.
"Kita ke rumah sakit."
Wanita itu tidak bergeming, membuat Rayhan menghembuskan nafas kasar.
"Maaf, Sayang. Aku harus apa asal kamu memaafkan aku, hem?"
"Kamu kasar! Aku gak suka. Sifat kamu gak ada bedanya."
"Aku gak sengaja Sayang. Aku juga kasih kamu pelajaran, agar tidak menyakiti tubuhmu lagi."
Via tahu dirinya salah, dia menatap Rayhan yang kini memandangnya dengan wajah yang sendu. Hati wanita itu berdenyut nyeri mendengarnya.
"Aku maafkan!"
Rayhan mengangkat wajahnya,
dan langsung meraup tubuh sang istri ke dalam pelukannya.
"Makasih, Sayang. Sekarang kamu siap-siap, aku antar ke kampus."
Via mengangguk dan menyibak selimut mereka. Lantas masuk ke dalam kamar mandi. Sedangkan
Rayhan menunggu sang istri selesai membersihkan diri.
Rayhan mengambil ponselnya dan menelpon salah satu karyawan salon kepercayaan mama nya.
"Saya tunggu kedatangan kamu lima belas menit."
"Baik, tuan muda. Apa perlu saya membawa dress untuk nyonya muda?"
"Terserah."
Rayhan menutup telepon setelahnya. Dia akan melakukan apapun untuk istrinya, agar Via nyaman bersama nya di rumah ini.
Selang beberapa menit, Via telah keluar dari kamar mandi dan mengenakan handuk membuat Rayhan menahan nafas.
"Aku langsung mandi."
Via mengernyitkan dahinya bingung melihat tingkah aneh suaminya yang tampak berkeringat dingin, dan menahan sesuatu. Mungkin sakit perut.
"Ada yang salah?" ujar Via segera membuka lemari dan mencari pakaiannya.
Tok! Tok!
Via menoleh karena mendengar suara ketukan pintu. Dia segera memakai pakaian dan mendekati
__ADS_1
pintu kamar nya.
"Siapa?" tanya Via ketika melihat seorang wanita memakai seragam memandangnya dengan hormat.
"Kami diutus tuan muda untuk menyiapkan segala keperluan, Anda. Dari make-up dan pakaian."
"Bentar!"
Via segera meninggalkan mereka dan masuk kembali untuk bertanya ke suaminya.
"Ray! Kamu yang kirim mereka ke sini?!"
"Iya, kamu dandan yang cantik, Sayang."
"Di mana?"
"Di kamar sebelah."
Via akhirnya menghela nafas pelan dan menatap mereka yang kini berada di ambang pintu menunggunya.
"Baiklah!"
Via melangkah mendekati mereka dan menutup pintu. Berjalan ke kamar sebelah dan masuk ke dalam nya.
"Kami membawa lima dress untuk Anda pilih, Nyonya Muda."
Via mengangguk, mereka lantas memperlihatkannya kepada wanita itu. Pilihannya jatuh kepada dress dengan model sederhana dan juga warna merah maroon untuk ia kenakan ke kampus. Tidak terlalu menonjol, namun siapapun yang melihatnya pasti akan mengetahui betapa mahalnya pakaian itu.
Sebenarnya Via tidak terlalu memperdulikan penampilannya ke kampus. Namun ia tidak enak
menolak usaha suaminya agar nyaman bersamanya.
Akhirnya Via dandani dengan make-up natural, membuatnya terlihat sangat cantik dan wanita itu senang melihat nya. Tidak terlalu buruk seperti apa yang dia tengah bayangkan.
"Kalian sangat hebat!"
"Terima kasih, Nyonya Muda. Kami sangat senang Anda memuji hasil pekerjaan kami."
Via mengulas senyum lantas berdiri dan mereka membantunya mengenakan dress itu.
"Kami sudah menyiapkan tas dan Juga sepatu untuk Nyonya Muda. Untuk menyempurnakan penampilan Anda."
"Apa tas itu bisa muat untuk buku ku?"
"Kami sudah memprediksi terlebih dahulu, Nyonya Muda. Jadi, Anda jangan khawatir."
"Baiklah," balas Via tidak enak karena meragukan pekerjaan mereka.
Via akhirnya selesai di dandani oleh mereka. Sekarang wanita itu memandang dirinya di cermin
dengan wajah puas dan aura bangsawan, nyonya muda keluarga Crowel.
'Astaga! Pasti Mira akan ketawain gue, nih.'
***
"Kamu sangat cantik, Sayang."
Pujian terdengar dari Paula, menatap Via dengan wajah yang memukau. Ternyata menantunya itu sangat cocok menjadi nyonya muda keluarga konglomerat seperti mereka.
"Makasih, Ma."
Rayhan juga gugup berada di samping wanitanya. Via terlihat hampir sempurna dengan dandanan yang seperti sekarang ini.
"Jaga pandangan di kampus!" tegas Rayhan datar.
Via mengangguk, dia sudah tahu bagaimana posesif nya Rayhan kepadanya selama ini.
"Aku akan jaga pandangan. Jadi, tenang saja."
"Bagus!" ujar Rayhan, walaupun terdengar rileks namun mampu membuat Via tak bisa mengelak,
bahwa tubuhnya merinding mendengarnya.
"Rayhan! Jangan membuat Via ketakutan, dong. Kamu ini sama saja dengan Papa mu."
"Sudah kewajiban, Ma. Jadi Rayhan berhak untuk melarang istrinya dekat dengan siapapun itu."
Paula menghela nafas pelan. "Iya, Pa. Tapi Via butuh sedikit kebebasan untuk nya mengejar mimpi seperti Mama."
Paula sekarang memiliki butik terkenal yang menciptakan rancangan busana yang tak dapat diragukan lagi kualitas dan juga harga nya. Namun, sejak ke luar negeri dia jarang mengurus nya karena perlahan Alfred melarangnya. Jadi dia
mempercayakan karyawannya, untuk menyelesaikan semua masalah itu.
"Oh ya, Via cita-citanya apa, Sayang?"
Sebelum Via menjawab pertanyaan dari mertuanya. Dia melirik Rayhan yang kini fokus
menyantap sarapan. Paula tahu, sepertinya menantunya ragu untuk mengatakannya.
"Via hanya ingin menjadi wanita karir dan juga bisa menjadi pemimpin perusahaan."
"Besok akan aku berikan salah satu cabang perusahaan Crowel, untuk kau pimpin, bagaimana?"
"Tidak!" Astaga, Via telah salah bicara membuat semua atensi mereka menatapnya dengan berbagai ekspresi.
"Maksudnya, aku ingin menjadi pegawai biasa, terus ikut promosi jabatan setelah itu mendapatkan apa yang ku inginkan dengan usahaku sendiri."
"Ide yang bagus, Sayang".
"Kami tidak akan mengizinkannya! Sama saja membuang banyak waktu. Tidak mudah mendapatkan promosi jabatan seperti apa yang kau inginkan, Via!"
"Yang dikatakan Papa benar! Jangan mempersulit dirimu. Laksanakan perintah ku sebelum aku berubah pikiran Sayang..."
Via tak bisa berkutik. Dia ingin bekerja dan berkarir. Jadi, dia harus mengikuti alur permainan keluarga Crowel. Walaupun sebenarnya hatinya ingin sekali
merasakan yang namanya usaha, tidak mendapatkan secara instan.
"Apa yang kamu pikirkan? Habiskan sarapanmu. Kita akan segera berangkat."
Via bergegas menghabiskan roti yang berada di atas piringnya, beserta segelas susu yang ia teguk
hingga tak tersisa.
"Sudah selesai?"
"Sudah," jawab Via mengusap mulutnya dengan tisu, lantas meraih uluran tangan dari Rayhan.
"Kami berangkat dulu, Pa, Ma."
"Hati-hati, Sayang!" ujar Paula menatap punggung mereka yang terlihat menjauh dan keluar dari pintu utama.
Setelah mereka pergi. Paula lantas menatap suaminya yang kini juga memandangnya.
"Mama tidak suka, Papa bersikap dingin ke menantu kita. Papa Jangan egois!"
"Kenapa?" tanya Alfred datar, membuat Paula menghembuskan napas pelan.
"Papa tidak pernah merasakan berada di posisi Via. Apa salahnya, dia memiliki impian seperti itu?
Semua itu menunjukkan bahwa menantu kita adalah wanita yang hebat. Kenapa Papa malah menekan dia?"
"Papa tidak pernah menekannya. Namun, semua itu tak ada gunanya, karena Via dilahirkan menjadi milik putra kita. Jadi, dia harus menuruti semua apa yang
Rayhan kayakan. Mama pasti mengerti."
__ADS_1
"Papa dan anak sama-sama egois!"