Istri Kesayangan Tuan Muda Arrogant

Istri Kesayangan Tuan Muda Arrogant
8. Orang Tua Jahat Bruk!


__ADS_3

Tubuh mungil Via terhempas kan di atas tempat tidur. Kepala Via tiba-tiba pusing karena Rayhan


melemparnya sangat kasar membuatnya terkejut dan juga gemetar.


"Tuan Muda! Saya salah apa?" tanya Via ketakutan dan perlahan meringkuk.


Rayhan membuang jasnya ke sembarang arah. Membuat Via semakin gemetar dengan tubuh yang lemas.


"Kau berani bermain denganku?!" bentak Rayhan dengan rahang yang mengeras.


"Tuan Muda marah karena saya menyakiti dia?" tanya Via dengan berani.


"Kau berani menentangku?!"


"Cukup selama ini saya sabar dengan Anda.Kalau memang Tuan Muda hanya menikahi saya karena hutang. Maka saya akan melunasinya."


Rayhan menegakkan tubuhnya dan menatap Via dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Seumur hidupmu. Kau tidak akan pernah bisa melunasinya."


"Bisa! Saya bahkan sangat bisa. Saya lebih baik hidup miskin ketimbang menjadi istri yang tidak


dianggap Via memiliki warisan yang akan ia urus secepatnya. Dan harganya kisaran miliaran dan itu sangat cukup untuk membayar semua jasa Rayhan.


"Kau berharap aku menganggapmu menjadi seorang istri?"


Via mendadak bungkam. Dia hanya ingin diperlakukan dengan baik. Tidak seperti sekarang ini.


Tubuh Via sakit begitupun dengan isi hatinya yang merasakan sesak tiada hentinya.


"Layani aku!"


Deg!


Via segera menggelengkan kepalanya. la masih muda dan tidak ingin disentuh oleh siapapun. Via akan segera bercerai dengan Rayhan. Via tidak ingin


jeratan rantai di lehernya di pasangkan juga di kakinya. Sehingga nantinya membuat Via sulit melangkah dan dilema.


"Bagaimana?" tanya Rayhan menawarkan nya.


"Aku telah mengeluarkan uang cukup banyak untuk mu, bukan? Jadi sekarang turuti semua perintahku."


"Saya bukan istri bayaran yang seenaknya kau gunakan."


"Alfredo telah menyerahkan mu kepadaku."


Rayhan perlahan naik ke atas ranjang membuat Via mundur karena ketakutan. Tubuhnya mendadak kaku dan tidak bisa bergerak. Ketika Rayhan mulai


menyentuh wajahnya.


"Jangan lakukan itu!" pinta Via memelas. Via tidak mau.


"Aku tanyakan sekali lagi kepadamu, Via!! Kau menyukai Glen?!" bentak Rayhan dengan nafas memburu menerpa wajah Via.


Via segera menggelengkan kepalanya. "Tidak!" balas Via secepatnya.


Pandangan mereka semakin dekat. Ketika Rayhan telah berada satu senti di hadapannya. Via pasrah


dan mulai memejamkan matanya.


Bugh!


Rayhan memukul kasar kepala ranjang yang terbuat dari kayu jati sangat kuat. Via tidak bisa


membayangkan bagaimana rasa sakit yang Rayhan peroleh.


"Hukumanmu menanti. Dua hari kau akan aku kurung di kamar ini. Tanpa berinteraksi dengan


Siapapun dan juga alat elektronik."


"Tuan Muda, saya harus keluar dari sini!" sentak Via dan segera bangkit dari sana menerjang kasur dan melompat ke arah pintu.


"Renungi kesalahan mu!" sentak Rayhan menjangkau sebelah tangan Via dan mendorong Via


kembali dengan kasar ke atas tempat tidur. Via tersentak dan frustasi ketika melihat Rayhan telah keluar dan mengunci pintu kamar.


"Untuk terakhir kalinya." Via menghela nafas pelan dan menganggukkan kepalanya. Ponsel Via telah Rayhan sita. Via janji, akan segera pergi dari kehidupan Rayhan selamanya.


Namun apakah bisa semudah itu?


***


"Lo coba telpon Via, deh. Gue khawatir sama tuh, anak," ujar Mira menggigit jarinya sambil mondar-mandir di depan kelas.


Raja berulang kali menelpon Via, namun tidak diangkat. Tidak biasanya Via seperti ini, pasti kalau Via tidak masuk. Maka akan mengabari salah satu dari mereka.


"Gak diangkat."


Mira semakin cemas mendengarnya. Bagaimana kalau terjadi sesuatu kepada sahabatnya itu. Membayangkan saja, Mira ingin menangis rasanya.


"Kita langsung ke rumah Via, saja."

__ADS_1


"Gue setuju. Nanti sehabis pulang kuliah kita langsung ke sana."


Mira mengangguk. "Gue takut, Ja. Gak ada yang Via punya selain kita. Gak ada yang peduli sama dia," ujar Mira parau.


Raja menghela nafas pelan. "Lo jangan sedih. Ayo kita masuk."


Mereka memutus kan masuk ke dalam kelas, walaupun kebimbangan sedari tadi mereka rasakan.


****


Bibi tua memperhatikan Via yang sekarang menatap ke arah luar,melalui jendela kamar itu.


"Nyonya, ini makan siangnya." Bibi tua menaruh makanan di atas nakas. Namun Via tidak menoleh


sama sekali. Membuat bibi tua menghela nafas pelan.


Wanita tua itu tahu. Hidup Via semakin menderita setelah menjadi istri tuan muda Rayhan.


Gadis itu tertekan apalagi sekarang usianya masih muda dan labil.


"Nyonya! Tuan muda akan marah besar kembali apabila Nyonya mengabaikan makanan."


"Nanti saya akan memakannya."


"Nyonya!" Dengan tubuh lemah, Via berbalik dan mendapati bibi tua mengulas senyuman untuk nya.


"Iya, Bi."


"Jangan sedih. Dimana Nyonya yang ceria dan pantang menyerah itu?"


Mendadak Via merasakan sesak di dadanya. Sebisa mungkin dirinya mengatur deru nafasnya yang


berat agar tidak menangis mendengar ucapan bibi tua.


Bibi tua perlahan duduk di pinggir tempat tidur. Via mendekati nya,sekarang Rayhan telah mengizinkannya menyentuh tempat itu.


"Sini!" ujar bibi tua. Dengan ragu,


Via mengangguk.


"Tidak lama, Nyonya. Hanya butuh waktu sedikit saja untuk meluluhkan hati tuan muda."


Wanita tua itu mengelus bahu Via dengan lembut. "Tuan muda Rayhan tidak seperti yang nyonya


bayangkan."


Via telah sering mendengarnya.


"Bibi yang merawat tuan muda sedari kecil. Karena orang tuanya sibuk bekerja."


"Kedua orang tua, tuan muda kemana sekarang?" tanya Via penasaran.


"Ada. Tapi akan sangat lancang apabila Bibi menyebut tempatnya."


Via mengerti dan mengangguk. Peraturan keluarga Crowel pasti telah dipelajari semuanya oleh para pekerja.


"Menikah dengan Nyonya. Telah mendapatkan restu dari tuan besar dan nyonya besar."


Deg!


Jadi, dirinya dikasih restu terlebih dahulu. Via mengira Rayhan hanya akan menjadikannya istri


simpanan tanpa diketahui oleh siapapun. Selain pekerja di rumah ini.


"Keluarga Crowel tidak pernah menikah untuk kedua kalinya, Nyonya. Nyonya telah lulus seleksi


dan akan selamanya menjadi istri tuan muda Rayhan."


Via bingung dengan ucapan wanita tua di depan nya ini. Kalau ceritanya seperti itu, jadi selamanya Via akan menderita di rumah ini? Menjadi istri dari tuan


muda Rayhan yang tidak memiliki hati itu?


Pikiran Via semakin buntu.


Tiba-tiba ia ragu bisa lepas dari jeratan tuan muda, yang adalah suaminya sendiri.


"Bibi Tua, boleh saya meminta bantuan?"


Wanita tua itu mengangguk. Apapun akan ia lakukan untuk gadis di depan nya ini.


"Tolong saya, agar terlepas dari jeratan tuan muda selamanya. Saya akan melakukan berbagai macam cara. Bibi Tua, mau membantu saya?"


"Saya permisi, Nyonya." Tiba-tiba bibi tua bangkit dan menjauh darinya. Membuat Via semakin


bingung dan juga curiga.


"Iya."


Setelah nya pintu ditutup kembali dengan sangat rapat. Menyisakan Via yang sekarang kembali memandang jendela yang menampakkan dinding menjulang tinggi di luar sana.


Wajah Glen telah babak belur. Pria itu tersungkur di bawah pria yang kini menatapnya dengan wajah

__ADS_1


beringas dan juga tangan terkepal kuat.


"Kau berani menyentuhnya, Glen?!" Glen menundukkan kepalanya. Ia tahu akan mendapatkan hukuman dari Rayhan karena telah berani menyentuh milik tuan muda nya.


"Maafkan kesalahan besar saya, Tuan Muda. Saya tidak akan mengulanginya kembali."


Deru nafas kasar Rayhan terdengar. Semakin membuat suasana di ruangan itu mencengkam. Bahkan Glen yang merupakan pria dingin dan berwibawa tertunduk karena aura yang Rayhan keluarkan.


"Obati luka mu! Dan berikan aku berkas yang kau dapatkan minggu ini."


Setelah nya, Rayhan pergi dari ruangan itu. Menyisakan Glen yang hampir tumbang karena luka


di wajahnya. Tubuhnya terasa remuk karena tendangan kasar dari Rayhan. Walaupun hanya satu kali, namun tubuh Rayhan bahkan beribu kali lebih kuat dari nya.


****


Raja dan Mira memperhatikan bangunan besar di depannya. Mereka saling memandang dan mengangguk.


Tok! Tok!


"Via!" panggil Mira dengan suara sedikit tinggi.


Tidak ada sahutan dari dalam sana. Membuat mereka saling memandang kembali. Raja perlahan maju dengan Mira yang mundur berada di belakang Raja.


"Via!" teriak Raja mengetuk pintu kembali.


Ceklek!


Suara pintu terbuka. Menampilkan seorang wanita dengan dandanan menor dan juga elegan. Mira tahu


wanita itu adalah mama tiri Via.


"Tante Vanya," gumam Mira.


"Ada apa? Mencari Via?" tanyanya dengan nada merendahkan.


Raja mengepalkan tangannya mendengar nada sombong dari wanita di depan mereka.


"Iya, Tante. Via ada?" tanya Mira dengan sopan.


Tidak ada. Cari saja di kamar nya. Tapi, jangan, deh. Nanti kalian merusak barang di rumah saya."


Mira dan Raja tertegun mendengarnya.


"Maksud Tante bagaimana?" tanya Raja tajam.


"Via, anak sialan itu tidak ada di sini. Mana saya tahu dia di mana. Kalian kan teman nya. Kenapa bertanya ke saya?"


"Kami mencari Via ke sini, karena ini rumah Via," ujar Raja dengan wajah merah padam.


"Dan ini rumah suami saya. Sebaiknya kalian pergi dari sini!" usir Vanya.


Vanya mendorong kasar kedua anak manusia itu. Menutup pintu nya kembali dengan sangat rapat.


"Ja! Kemana lagi kita harus mencari Via? Sepertinya memang gak ada Via di sini." Mira menggigit bibir bawahnya karena khawatir dan juga ketakutan.


"Gue akan telepon anak buah papa, gue. Untuk mencari keberadaan Via hingga dapat. Lo jangan sedih, Mir."


Mira menatap Raja yang sekarang balik memandang dengan mimik wajah meyakinkan.


"Semoga Via ketemua, Ja."


Sedangkan di dalam rumah besar itu. Vanya berbalik dan menemukan suaminya tengah mendekatinya. Vanya segera menghampiri Alfredo dengan mengulas senyumannya.


Vanya menjangkau sebelah tangan Alfredo dan mengelusnya. "Mau kemana, Mas?" tanyanya dengan nada selembut mungkin.


"Bertemu dengan anak kurang ajar itu," jawab Alfredo dengan mata yang tajam.


"Ke rumah tuan muda Rayhan?"


"Iya."


"Ada apa dengan, Via?"


"Anak itu telah berani melawan, Mas. Dia tidak mau mengangkat telepon dari Mas. Sejak dua hari yang lalu. Karena Mas membujuknya untuk menyuruh


tuan muda memberikan kuasa sepenuhnya untuk Mas."


"Kuasa?" gumam Vanya, masih tidak mengerti.


Alfredo menghela nafas pelan dan mengelus wajah Vanya dengan sayang. "Kuasa perusahaan, Sayang. Mas ingin perusahaan itu atas milik Mas lagi."


'Jadi, perusahaan itu tidak lagi atas nama Mas Alfredo? Aku tidak ingin hidup miskin lagi.'


"Kenapa, Sayang?"


Vanya segera menggelengkanbkepalanya. "Tidak ada, Mas. Aku setuju kalau Mas menekan dan memaksa Via bagaimanapun caranya."


"Iya, Sayang. Mas akan memberikan anak itu pelajaran setelah ini."


Vanya tersenyum miring dan memeluk suaminya dengan lembut. Sampai kapanpun. Hidup putri dari Anjani itu akan menderita.

__ADS_1


__ADS_2