Istri Kesayangan Tuan Muda Arrogant

Istri Kesayangan Tuan Muda Arrogant
36. Pergi dan Keras Kepala


__ADS_3

Via menghela nafas pelan,ketika dia melewati ruangan yang biasa digunakan untuk suaminya bekerja, dan memerintah Glen seenaknya. Via memposisikan dirinya menyelipkan sedikit telinganya di ujung pintu yang tertutup.


"Kamu sudah menyiapkan semuanya?"


"Sudah,'Tuan Muda. Saya sudah menyiapkan hotel tempat Tuan Muda akan mengadakan kejutan."


"Baiklah. Saya akan segera memeriksanya nanti malam."


"Semoga semuanya lancar, Tuan muda."


"Aku tidak sabar untuk semuanya, Glen. Aku sangat mencintainya."


Semua itu tidak luput dari pendengaran Via, yang sekarang menatap nanar pintu di depannya.


Jantung nya berdetak sangat kencang, dengan tubuh yang perlahan mundur gadis itu segera melangkah masuk ke dalam kamar nya. Dia tidak akan membawa pakaian, agar semua orang tidak mencarinya.


Selang beberapa menit. Via mengendap-endap keluar dari kamar itu dengan perasaan yang berat, untuk meninggalkan rumah tersebut. Namun, dia harus melakukannya. Dia tidak ingin menjadi perusak dalam hubungan mereka.


Via mengerti, Rayhan sangat menantikan gadis itu. Bagaimana bisa,Via menghancurkan semua impian suaminya. Rayhan juga tidak mencintai nya. Jadi, Via tidak akan berat meninggalkan mereka bersama.


Via menuruni anak tangga. Di bawah, dirinya hampir menabrak bibi tua, yang kini menatap nya dengan wajah bingung.


"Hati-hati, Nyonya. Anda bisa saja jatuh dari tangga."


"Iya, Bi. Maaf karena saya hampir menabrak Bibi."


"Yang terpenting, Nyonya tidak apa-apa."


Ada rasa nyeri di hati Via, mendengar penuturan bibi tua yang terlihat sangat tulus menjaganya.


"Ada apa dengan, Nyonya?"


"Ah? Tidak ada. Saya akan kembali ke kampus, hanya sebentar saja."


"Hati-hati, Nyonya. Tapi para pengawal Anda sedang beristirahat. Tidak apa-apa sendiri?"


Via mengangguk dan mengulas senyum. Dia bernafas lega,karena hari ini sudah mulai siang dan para pekerjaan sedang istirahat.


"Saya pergi dulu."


Via segera pergi dari sana, setelah menatap bibi tua untuk yang terakhir kalinya. Sedangkan bibi tua melanjutkan langkahnya menuju ke dapur.


Dia luar rumah besar itu. Via sudah keluar dari gerbang utama.


Namun dia sempat menarik nafas panjang,dan berbalik ketika menatap kembali rumah suaminya untuk yang terakhir kalinya. Via menguatkan diri dan menyetop taksi. Setelahnya masuk ke dalam taksi itu.Via segera menutup jendela mobil, agar dirinya tidak mengurungkan niatnya untuk pergi secepatnya.


"Mau kemana, Mbak?"


"Terminal, Pak."


"Baik."


Mobil taksi melaju dengan kecepatan sedang. Via merogoh tas nya,dan mengambil ponsel untuk mengabari Mira.


"Mira!"


"Iya, lo sudah sampai rumah?" tanya Mira diujung telepon.


Membuat Via menghembuskan nafas kasar.

__ADS_1


"Sudah tadi. Tapi gue mau pergi hari ini juga, Mir."


Mira yang mendengarnya sontak terkejut. Sehingga suara di ujung telpon terdengar rusuh.


"Sekarang lo di mana?"


"Menuju terminal."


"Oke langsung ke sana, ya? Nanti gue yang beliin tiket."


"Iya, Mir. Gue tunggu kedatangan lo."


Sambungan terputus. Via memasukkan ponselnya kembali dan menatap jalan yang akan membawanya menuju terminal, serta memisahkan mereka untuk sementara waktu.


Untuk papa nya. Via sudah mentransfer uang ke rekening pria paruh baya itu, dan tidak menghiraukan larangan dari Rayhan. Itu adalah hadiah terakhir dari Via,setelah pergi dari hidup papa nya dan tak lagi menyusahkan nya.


'Semoga papa bahagia tanpa, Via,' batin Via merasakan sesak di dalam hatinya. Selama ini, Alfredo sangat membencinya. Mungkin saja beliau ingin Via jauh dari nya, sehingga tak lagi dapat dilihat.


"Ini tiket untuk lo. Sebentar lagi bus akan datang."


Via mengangguk dan tiba-tiba merengkuh Mira ke dalam pelukannya membuat gadis itu tersentak, namun kembali membalas pelukan sahabat nya itu.


"Lo gak apa-apa, kan, Vi?" tanya Mira khawatir, ketika mereka telah melepaskan pelukan itu dan saling menatap satu sama lain.


Via menggelengkan kepalanya.


"Gue gak mau jadi obat nyamuk di rumah itu."


"Ya, ya, situasi seperti ini lo masih saja bercanda."


"Ini keputusan gue, Mir. Sudah saatnya."


"Gue sudah telepon nenek Imah. Nenek akan nungguin lo nanti kalau sudah turun bus."


"Makasih, Mir. Lo selalu saja bahagia kalau gue merepotkan."


"Gue sahabat lo, sekaligus saudara angkat yang ditolak keberadaannya."


Via mengulas senyum dan mencubit kedua pipi Mira dengan gemas, membuat gadis itu cemberut.


"Tenang! lo gak akan kesepian nanti di sana. Sapi-sapi kan, ada."


"Lo pikir gue mau temenan sama mereka?"


"Tapi lo membutuhkan mereka, kan?"


Bus telah berada di depan mata. Banyak orang yang berbondong-bondong masuk ke dalamnya.


"Tadi bunda titip jajan untuk lo." Mira memberikan bungkusan kresek untuk Via, agar tidak kelaparan di jalan.


"Makasih, lo besok harus nyusul gue kalau liburan."


"Oke!" Mira mengangkat kedua jempol ya, membuat Via mengangguk dan berbalik.


"Gue pergi!" Via langsung masuk ke dalam bus.


Setelah berada di dekat kaca.


Mereka saling melambaikan tangan hingga bus perlahan memisahkan mereka berdua.

__ADS_1


"Semoga lo bahagia setelah ini, Vi."


****


Malam menjelang, Rayhan menatap datar semua para anak buah nya, yang di tugas kan untuk menjaga Via kemanapun gadis itu pergi.


"Jelaskan!"


Mereka dengan tubuh bergetar, lantas mengangkat kepala dan menatap Rayhan yang kini tampak terlihat menyeramkan.


"Kami sudah mengantar nyonya muda dengan selamat. Setelah itu, kami beristirahat."


"Dan membiarkan istriku hilang?!" bentak Rayhan, membuat semua orang ketakutan mendengar


kemarahan di wajahnya.


"Kami tidak mengetahui bahwa nyonya muda kembali ke kampus."


"Bodoh!"


"Ampuni kesalahan dan kelalaian kami, Tuan Muda." Mereka bahkan berjongkok dan bersujud agar dimaafkan.


"Glen! Beri mereka hukuman yang setimpal."


"Baik, Tuan Muda."


Glen bergerak dengan anak buah lainnya menyeret mereka ke tempat penghukuman.


"Gadis yang nakal." Rayhan dengan wajah tenang mengepalkan tangannya, dan keluar dari rumah


itu untuk melacak keberadaan Via.


***


Via menguap ketika langit perlahan telah berubah gelap.


Banyak orang-orang yang sudah memejamkan matanya dengan sangat nyaman.


Via menatap kresek yang Mira berikan kepadanya. Dia tidak sadar mengulas senyum dan mengambil


cemilan untuk dimakan, karena dia sangat lapar dan tidak membawa apapun. Syukur ada sahabatnya itu.


Walaupun hampir semua orang terdekatnya tidak peduli dengan Via. Namun, dia memiliki Mira yang sangat menyayangi nya seperti saudara kandung,


membuat Via tidak lagi terpuruk dan merasa sendirian di dunia ini.


Via menatap jalan di tengah hutan, yang terlihat sunyi dan di dikelilingi oleh pohon-pohon yang lebat, membuat Via merinding.


Untuk pertama kali nya, Via pergi ke luar kota selama hidupnya.


Jadi, dia lumayan takut, dan harus menguatkan diri nya untuk mengambil langkah yang pasti dalam hidup nya.


"Pasti besok pagi, tuan muda akan langsung menikah dengan gadis itu dan melupakan semuanya tentang gue."


Via sadar diri dan dia harus pergi sejauh mungkin, walaupun dia tahu sekarang di rumah itu orang-orang tidak menyadari kepergiannya, karena sibuk dengan kedatangan nyonya muda yang sebenarnya.


Tbc


Jan lupa ritual, hari minggu vote Abang Rayhan masih kosong astaga 💔💔

__ADS_1


__ADS_2