
"Sudah bisa memeras susu sapi?"
Via menatap Andi yang kini berdiri di belakangnya. Via mengangkat kepalanya dan kembali mengangguk. Dia pun berdiri dengan ember yang telah terisi di tangannya.
"Sebenarnya lo punya kerjaan atau gak, sih?" tanya Via.
Andi tertawa mendengarnya membuat Via tertegun. "Punya kan aku pemandu wisata dan juga pemilik villa di sekitar sini."
Wow! Via menganga dan segera menjepit bibirnya dengan rapat,karena terkejut dan malu dengan ekspresinya sendiri.
Ternyata dia memiliki villa? Gadis itu sempat terperangah sebentar,lantas menatap Andi dengan memicingkan matanya.
"Beneran kamu punya villa?" tanya nya kembali.
"Kamu ingin ke sana?"
"Boleh! Tapi kenapa tiba-tiba? Kemarin kemana saja? Kenapa kamu tidak kasih tahu aku."
"Kamu tidak bertanya."
Via memutar bola matanya malas. Ya, memang benar tapi dia bisa mengatakannya, kan? Dasar Andi menyebalkan.
"Bentar! Aku mau ke dalam dulu, ganti baju dan izin sama nenek."
Andi mengangguk. Dia sudah menganggap Via seperti adiknya sendiri,sama dengan Mira kalau berkunjung ke desa ketika hari libur.
Di dalam rumah. Via menaruh susu di atas meja makan. Dia pun mencari keberadaan nenek Imah.
"Nenek! Via izin ke villa bersama dengan Andi, ya?"
"Kamu sudah mengetahui Andi memiliki villa?"
Tuh kan, nenek padahal tahu namun tidak menceritakan nya.
Mungkin tidak ingin dikatai sombong. Via mengerti, dan juga tidak memperbesar kan nya.
"Sudah, Nek. Tapi Andi sendiri yang cerita pas Via telah selesai memeras susu sapi."
"Hati-hati kalau ke sana."
Via mengangguk, dan permisi menuju ke kamarnya untuk mengganti baju.
Sedangkan nenek Imah tersenyum, melihat Via kembali ceria dan bahagia.Sungguh malang nasib gadis itu.
Tak lama kemudian, Via memberikan kunci motor kepada Andi, setelah dia keluar dari rumah.
"Pakai motor?"
"Ya, malas kalau jalan kaki."
Andi menghela nafas pelan dan mengangguk. "Lebih sehat jalan kaki sekali olahraga."
"Jangan dijelaskan. Aku mengerti."
Mereka meninggalkan rumah dengan mengendarai motor, menuju villa yang tak jauh dari rumah itu.
"Aku mau cerita."
"Cerita apa?" tanpa Andi sembari memperhatikan jalan.
"Kemarin aku jalan-jalan sendirian. Nah, terus hampir nabrak anak kecil."
Andi sempat tertegun mendengarnya. Dia kembali
mendengar kelanjutan cerita dari Via.
"Terus, gak luka kok. Tapi aku turun dari motor dan bantuin dia."
Sebenarnya Via paling tidak suka menceritakan kesialan yang dia hadapi dalam hidup nya. Namun,
asik saja bercerita dengan Andi seperti seorang teman.
"Eh! Ibunya marah-marah gak jelas, dan bahkan menghempaskan tangan aku dengan kasar."
"Hem."
"Dan dia minta ganti rugi. Aku kasih dua ratus ribu. Pas aku kasih, sifatnya berubah tahu. Dia tiba-tiba senyum, dan baik ke aku. Bahkan berterimakasih."
Andi ingin tertawa mendengarnya. Namun tatapan tajam dari Via, dari spion motor membuatnya mengurungkan niatnya.
"Sedekah. Biasanya ibu-ibu seperti itu sangat membutuhkan uang itu."
"Tapi aku curiga mereka menjebakku."
"Kenapa memangnya?"
"Ya, gak boleh! Walaupun kita membutuhkan uang. Kalau menipu orang lain kan, dosa."
Motor berbelok membuat Via hampir menyentuh Andi.
"Pelan-pelan, dong! Kamu sengaja, Jap"
"Astagfirullah, tidak Non Via. Maaf kalau aku membuatmu terkejut, dan tak nyaman."
"Ya, ya, jangan berlebihan. Kapan sampai nya, kalau kamu pakai motor seperti siput."
***
Bugh!
Berulang kali Rayhan menghantam wajah pria tua itu, membuat Vanya berteriak nyaring karena suaminya telah tidak berdaya, disebabkan pukulan dari Rayhan.
"Tuan Muda! Ampuni kesalahan suami saya." Vanya duduk bersimpuh, dengan air mata yang mengalir di bawah kaki pria itu.
Rayhan tak peduli dan kembalinmenendang tubuh pria tua itu, untuk meluapkan semuanemosinya.
"Alfredo! Kau telah puas?!" bentak Rayhan menyeringai, membuat Alfredo semakin bergetar
ketakutan dengan wajah yang lebam.
Pria itu merangkak dan ingin kabur. Namun, Rayhan langsung mendekatinya dan meraih kerah bajunya dengan sangat kasar.
"Bodoh! Karena mu, Via meninggalkan aku."
DEG!
Alfredo terpaku mendengarnya?
Dia menatap Rayhan dengan wajah yang terkejut, dan juga tampak tak percaya mendengarnya.
"Via...
"Dia telah pergi jauh dariku. Semuanya karenamu manusia tua seperti mu.'
"Bagaimana bisa?" tanyanya lirih, tak bertenaga.
Selama ini Via tidak pernah pergi jauh darinya. Ada rasa ketakutan besar dalam benak Alfredo, mendengarnya.
Tiba-tiba rasa itu muncul, setelah mati sekian lama.
"Kau telah puas, huh?!" Rayhan semakin mencekik leher Alfredo, membuat wajah pria tua itu merah padam karena kesulitan bernafas.
"Tuan Muda! Kami berjanji akan membantu Anda, membawa Via kembali."
Rayhan tersenyum miring dan menghempaskan tubuh Alfredo hingga tersungkur ke bawah lantai.
__ADS_1
Vanya langsung mendekati suaminya dan memapahnya untuk berdiri.
Alfredo tidak ingin Vanya menyentuhnya. Dia kembali memegang sebelah kaki Rayhan, menghentikan pria itu pergi sebelum menjelaskan semuanya.
"Saya mohon! Apa yang telah terjadi, Tuan Muda?"
Rayhan menghentak kakinya hingga pegangan itu terlepas. Para satpam tak berani ikut campur dan
hanya memperhatikan dari kejauhan, nasib tragis majikan mereka.
"Biarkan saja Via pergi, Pa. Ituu kan, yang kamu mau?"
Alfredo mengepalkan tangannya dan menatap sang istri. "Diam kamu wanita sialan! Gara-gara kamu semua ini terjadi."
Vanya tertegun mendengar penuturan suaminya. "Maksud Papa apa?! Papa menyalah kan Mama begitu?"
Alfredo mengusap darah di bibirnya. "Kamu yang memintaku untuk Via mengirimkan uang itu."
Memang benar apa yang dikatakan pria tua itu. Uang itu untuk Vanya berfoya-foya dan juga membeli
pakaian bermerk.
Alfredo segera bangkit dan meninggalkan sang istri.
Menyuruh salah satu pembantu untuk menelpon dokter pribadi keluarga mereka.
"Mas! Aku bisa jelasin! Mas!" teriak Vanya mengepalkan tangannya.
***
"Wow! Sungguh indah dan besar sekali villa yang kamu miliki."
"Hem, biasanya hanya disewa kalau ada pengantin baru berlibur."
"Makanya cepat menikah. Keburu tua baru tahu rasa, huh."
"Kenapa dari pertama kamu ke desa ini selalu saja menyuruhku menikah? Kamu ingin diundang?"
"Kalau tak diundang juga gak apa-apa. Aku kan harus mendampingi nenek, jadi harus ikut ke pesta kamu."
Andi mengangguk dan menghela nafas pelan. Mereka mulai mengelilingi villa itu. Sebenarnya
ada beberapa villa juga di desa itu dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Namun pemiliknya berbeda.
"Kapan kamu membangun villa ini?" tanya Via penasaran menatap Andi.
"Tidak terlalu lama. Hem, sekitar lima tahun yang lalu."
Via memperhatikan sejenak bangunan besar itu. Terlihat terawat dan juga banyak para pembantu dan tukang kebun di dalam sana.
"Kamu sebenarnya kaya, kan?" tanya Via memicingkan matanya curiga.
"Tidak! Hanya saja ayah aku kepala desa di sini."
"Tuh, kan, berarti putri dari nenek menikah dengan kepala desa dong?"
"Mulai dari nol. Belum jadi kepala desa."
"Tapi biasanya kalau orang desa kaya itu pasti banyak tanahnya."
Andi dengan berat hati mengangguk. Membuat Via
melongo. Dia salah mengira Andi selama ini. Ternyata pria ini sangat sukses namun penampilannya sangat sederhana.
"Coba kalau kamu merubah penampilanmu lebih rapi gitu. Pasti banyak yang mau sama kamu."
Dia tertawa dan meneliti penampilannya. "Walaupun
seperti ini banyak wanita yang ingin melamarku."
****
"Sudah pulang?" tanya nenek Imah ketika sekarang melihat Via duduk dengan tenang di salah satu kursi kayu di dalam rumah itu. Via menoleh dan mengangguk.
"Sudah, Nek. Via mau tanya mengenai Andi. Boleh?"
Nenek Imah perlahan duduk di hadapan Via dan mengangguk.
"Silahkan Non Via."
"Hem, ternyata ayah Andi kepala desa di sini?"
"Andi sudah cerita?"
Via mengangguk. "Soalnya aku curiga dengan Andi orang kaya. Begitupun dengan Nenek."
Nenek Imah menyungging senyum simpul mendengarnya. "Memang benar apa yang Non Via pikirkan. Namun Andi memang berperilaku sederhana dari kecil."
Via mengangguk. "Andi adalah pria yang sangat hebat dan juga mandiri. Dia sukses sebelum menikah. Pasti semua wanita mengantri ingin menjadi istrinya."
"Sebenarnya banyak wanita yang melamar Andi dari dulu."
"Melamar? Pria dilamar?" Via mengernyitkan dahinya bingung.
"Ya, sudah biasa namun ditemani dengan kedua orang tua nya."
"Terus Andi menolak, Nek?"
"lya, sebelum Andi menerima mereka. Andi diberikan waktu seminggu untuk saling mengenal.
Namun mereka hanya mengincar harta."
Kasihan Andi. Ternyata itu alasannya. Sekarang Via mengerti.
"Jadi, itu ceritanya."
"Iya, Non Via. Jadi, Andi masih melajang hingga sekarang karena ingin memilih wanita yang benar-benar tepat untuk nya."
"Semoga ya, Nek. Pasti Andi akan menemukan jodohnya secepat nya."
"Amiin!"
***
Mira merasa aneh dengan mobil yang sedari tadi mengikutinya ketika dia ke parkiran kampus.
Ketika Mira hendak mengambil motornya, dia langsung ditarik kasar dan masuk ke dalam sebuah mobil.
"Aduh! Siapa sih, ini? Lepasin!" teriak Mira memberontak.
"Diam!" tegas Glen membuat Mira bungkam dan menatap tajam pria yang kini berada di sampingnya.
"Loh, ada apa, ya? Tuan menangkap saya?!"
"Dimana nyonya muda?"
"Saya tidak tahu. Jangan maksa, dong."
Glen meraih bahu gadis itu dan mencengkramnya dengan kuat, membuat Mira meringis karena terasa perih.
"Lepasin!" Mira bergerak tak karuan dan meronta.
"Dimana nyonya muda?!" bentak Glen.
"Gak jelas banget. Sudah saya jelaskan dari awal. Saya tidak tahu."
__ADS_1
Glen melepaskan cengkeraman nya dan menatap ke arah anak buahnya. "Kita buang gadis ini ke tengah hutan!"
Sontak Mira membelalak dengan wajah yang pucat pasi, namun dia langsung menggelengkan kepalanya. Dia tidak boleh takut dengan ancaman itu.
Mobil melaju dengan kecepatan penuh. Mira menengok ke arah jendela mobil, yang terlihat
kendaraan ini akan benar-benar menuju hutan belantara.
"Saya tidak takut. Kalau sampai saya kenapa-kenapa. Besok kalau sahabat saya pulang. Tuan muda kalian yang akan menanggung
akibatnya."
Glen tidak memperdulikan ocehan gadis ini. Dia harus diberi pelajaran agar mengakuinya.
"Turun!"
"Nggak! Antar gue kampus ambil motor baru gue mau turun."
Tenaga Mira tak sebanding membuat gadis itu dengan mudah dikeluarkan dari mobil itu.
"Ini kok sepi banget? Serem lagi? Tubuh Mira tersungkur ketika anak buah Glen mendorongnya ke
rerumputan hingga tubuhnya jatuh.
Mobil meninggalkan Mira yang kini meratapi nasibnya yang sekarang berada di tempat yang sangat sepi.
"Dasar sekretaris tidak berguna. Gue harus sembunyi. Biar nanti kalau mereka kembali gak nemuin gue,"
Mira yakin, sebentar lagi mereka akan menjemputnya. Bisa ngamuk Via kalau dia diperlakukan seperti ini. Sedangkan di dalam mobil anak buah Glen berkomentar dan membuka suara. "Bos! Kalau sampai gadis itu dimakan binatang buas pasti nyonya muda tidak akan kembali untuk selamanya."
"Itu tidak akan terjadi. Kita akan kembali dalam satu jam."
Mereka bernafas lega. Bukan apapun, hanya kasihan saja dengan nasib gadis yang dekat dengan nyonya muda mereka. Pasti esok, mereka akan terdampak
imbasnya. Mendapatkan kemarahan besar dari tuan muda.
****
Dengan letih Mira bersembunyi di sebuah rerumputan tinggi agar tidak ketahuan. Dia segera
merogoh ponselnya dan menelpon Via.
"Lo kenapa?" tanya Via diujung telepon karena mendengar nafas Mira yang menandakan gadis itu
tidak dalam keadaan baik.
"Gue dibuang coba di pinggir jalan dekat hutan belantara sama Glen."
"Glen? Sekretaris tuan muda?"
"lya, jahat banget cobak."
"Astaga Mira. Sekarang lo gak kenapa-kenapa, kan? Gue khawatir tahu. Gini saja, lo kasih tahu mereka gue di mana. Gue gak mau lo seperti ini karena gue."
"Gak ada! Gue lagi main petak umpet sama mereka. Jadi, lo jangan mengada-ada."
"Tapi gue khawatir tahu."
"Gak apa-apa. Gue tutup dulu dan jangan cemas maupun khawati."
"Mira. gue belum selesai ngomong."
Mira tidak menggubris ucapan Via dan langsung mematikan sambungan telepon mereka. Dia membelah sedikit rerumputan untuk mengintip celah kembalinya mereka mencarinya.
Benar dugaan Mira. Dia menyungging senyum simpul dan kembali bersembunyi ketika mereka telah kembali. Mana berani mereka melakukannya.
"Semoga mereka gak nemuin gue dulu. Soalnya seru juga."
***
Andi menatap Via yang kini menatap ponselnya dengan cemas dan sejenak melepaskan pekerjaan nya.
"Kamu kenapa? Ada berita dari keluargamu."
Via menatap Andi dengan raut wajah bersalah. Pasti Andi akan marah kepadanya karena dirinya telah membahayakan Mira di kota.
"Mira."
"Mira kenapa?" tanya Andi khawatir.
"Dia diancam sama pesuruh anak buah suamiku untuk membahayakan Mira agar mengaku."
"Astaga! Dan kamu tampak tidak peduli sama sekali?!" sentak Andi menyalahkan Via membuat gadis itu mencengkram ponselnya.
"Bukan seperti itu. Aku telah menyuruh Mira untuk
mengakuinya namun dia menolak keras untuk melakukannya."
"Ini semua karena Non Via. Menyusahkan semua orang.
"Maaf, Andi. Aku telah menyusahkan kalian." Via menunduk.
"Ada apa ini?" tanya nenek Imah tiba-tiba telah berada di antara mereka karena mendengar keributan.
"Tidak ada, Nek. Kami hanya berbeda pendapat!" Andi menjelaskan membuat Via mengangkat wajah dan tertegun mendengar penuturan Andi yang tak mengakui kesalahannya.
"Jangan seperti itu, Andi! Kasihan Non Via ketakutan seperti itu."
"Iya, Nek. Nenek bisa melanjutkan masak di dapur."
Nenek Imah mengangguk dan kembali memasak di dapur, meninggalkan Via yang kini menatap Andi yang terlihat tak lagi ramah kepadanya.
"Mira itu adikku. Jadi, sebaiknya kamu mengerti. "
Andi meninggalkan Via yang kini merasakan hatinya dihantam oleh palu besi, yang membuatnya merasakan sakit yang luar biasa.
"Maaf, Ndi."
***
"Kemana gadis itu pergi?!" bentak Glen dengan tatapan menghunus seperti elang memindai semua
tempat yang berada depannya.
Mira merasakan detak jantungnya berpacu dengan sangat cepat. Ketika Glen perlahan mendekati semak-semak tempatnya menyembunyikan diri.
"Kenapa secepat itu dia menemukan gue?" gumam Mira menghentakkan kakinya. Namun ia segera sadar dan langsung membekap mulutnya.
"Keluar! Atau saya akan meninggalkan kamu selamanya di sini."
Mira mana mempan dengan ancaman itu. Dia kembali semakin meringkuk dan terkekeh, ketika
Glen dan anak buahnya melewatinya.
"Hem!"
DEG!
Tubuh Mira menegang ketika Glen telah menemukannya. Mira nyengir dan memutar tubuh nya langsung dan menemukan Glen yang sekarang mendekatinya seperti ingin menerkamnya.
"Sudah puas bersembunyi?!"
Tbc
Jan lupa ritual, hari senin vote Abang Rayhan masih kosong astaga đđ
__ADS_1