
Udara pedesaan terlihat sangat menyejukkan, seiring dengan bus yang perlahan berhenti dan orang-orang mulai menuruni kendaraan tersebut.Begitupun dengan Via, yang kini bangkit dan menggerakkan tubuhnya karena terasa kaku.
Via mengulas senyum setelah keluar dari sana. Dia menyapu pandangannya, ke sekeliling perkebunan teh yang terlihat sangat indah.
"Non Via?" tanya seorang wanita tua mendekatinya. Via segera mengangguk.
"Perkenalkan saya nenek Imah, neneknya Mira."
Via segera memeluk wanita tua itu dengan erat, membuat nenek Imah merasa tidak enak.
"Maaf, Non."
"Jangan panggil Non, Nek. Panggil Via saja."
"Tidak apa-apa, Non Via."
Via itu akhirnya mengangguk danmencium tangan nenek Imah, dengan sopan selayaknya orang tua.
"Biar Nenek bantu." Nenek Imah hendak mengambil tas Via yang tidak terlalu besar, namun dia langsung menolaknya.
"Biar Via saja, Nek."
"Baiklah. Bagaimana perjalanan nya?"
Mereka berjalan sembari menuju ke rumah nenek Imah, yang lumayan jauh dari tempat itu.
"Hem, capek, Nek."
"Nanti, Nenek pijitin kalau Non Via mau."
"Jangan, Nek. Via mau istirahat saja dan bersih-bersih. Itu saja, boleh, kan?"
"Boleh, Non Via."
Mereka melemparkan senyuman ramah dan berjalan, sembari nenek Imah menyapa orang-orang yang melewatinya dengan sopan.
Selang beberapa menit,mereka akhirnya telah sampai di rumah yang terlihat luas namun cukup sederhana.
Banyak kandang, di samping rumah itu dan juga perkebunan di belakang rumah.
Rumah itu juga berada paling pinggir, dengan rumah penduduk lainnya.
Ceklek!
Pintu kayu itu terbuka. Vi sempat tertegun karena isi dalam rumah itu terlihat rapi dan terawat.
"Nenek, sudah menyiapkan sarapan untuk Non Via. Kita ke meja makan dulu, ya?"
Via mengangguk sembari memperhatikan keadaan rumah itu. Dia yakin, akan nyaman apabila tinggal di sini, dalam waktu yang lama. Semoga saja.
"Nenek yang masak sendirí?"
"Iya, Nenek tinggal sendirian. Nenek bahagia Mira mengabari Non Via akan tinggal dengan Nenek di sini."
Via terharu mendengarnya. Banyak berbagai macam makanan khas desa yang nenek Imah
sediakan untuk nya. Membuat hati Via menghangat.Keluarga Mira ternyata baik semuanya,tanpa terkecuali.
"Sapi Non Via sudah datang kemarin. Ada sepuluh ekor, kan?"
Via mengangguk. "Iya, Nek.
Makasih, ya?"
"Sama-sama. Non Via mau makanbapa?" tanya nya sembari menyendokkan nasi ke piring Via yang berada di hadapan gadis itu.
"Hem, kalau semuanya boleh? Enak banget soalnya, Nek."
__ADS_1
"Boleh, ini semua untuk Non Via. Nenek bahagia Non Via suka masakan Nenek."
Via mengangguk dan mulai menyantap semua makanan itu bersama dengan nenek Imah, yang Sengaja menunda sarapan agar bisa bersama dengan Via menikmati hidangan makanan itu.
"Katanya, Mira mau ke sini juga besok liburan."
"Iya, biar rumah Nenek ramai juga."
"Anak-anak Nenek di mana?"
Soalnya nenek Imah bukan nenek kandung dari Mira. Namun bersaudara dengan nenek gadis itu.
"Ada, tapi nikah ke kampung sebelah. Mengunjungi Nenek sekali seminggu sama cucu."
"Maaf, Nek kalau Via merepotkan Nenek."
"Iya, Tidak apa-apa. Cucu Nenek bertambah."
Via mengangguk dan mengulas senyum. "Tempat beli sepeda motor di sini di mana, Nek?"
"Ada. Nanti Nenek suruh Andi mengantar, Non Via ke sana."
"Baiklah. Makasih Nenek baik."
"Sama-sama."
Mereka melanjutkan acara makan yang sempat tertunda karena asyik mengobrol. Nenek Imah terlalu senang, dengan kedatangan Via yang akan menemaninya di rumah itu.
***
"Mohon maaf, Tuan Muda! Kami belum menemukan jejak nyonya muda."
"Bodoh!"
Mereka tersentak dan menundukkan kepalanya dengan wajah yang ketakutan serta bergetar.
Sehingga mereka sulit menemukannya.
"Tidak becus. Belum cukup upah yang aku keluarkan untuk kalian, ah?!"
"Maafkan kami, Tuan Muda."
"Glen! Hukum mereka. Begitupun dengan yang lainnya, tidak menemukan istriku."
"Ampun, Tuan Muda."
Glen menyeret mereka keluar dari sana dengan wajah yang ketakutan dan pucat pasi.
Begitu ruangan tertutup. Rayhan langsung menghancurkan semua barang-barang yang berada di depannya tanpa tersisa. Bahkan dia meninju kaca berulang kali, tidak memperdulikan rasa sakit dan darah yang menetes dari luka akibat pukulan itu.
"Kamu di mana Via, argh!!"
Rayhan terduduk dengan tangan yang ia letakkan di kepalanya, untuk menjambak rambutnya berulang kali. Via harus ditemukan. Peri kecilnya tidak boleh hilang lagi.
"Kamu telah salah paham sayang."
Ceklek!
Bibi tua masuk ke dalam ruangan itu dengan wajah yang terkejut. Dia menghampiri Rayhan, yang kini tampak terpukul dengan kehilangan sang istri.
"Tuan Muda, tidak boleh seperti ini."
Bibi Tua memerintah pembantu lainnya untuk membersihkan semua kekacauan. Dan dia menyuruh pak supir, untuk mengangkat Rayhan yang terlihat lemas dan tak bertenaga.
"Bawa ke kamar. "
"Baik."
__ADS_1
Rayhan dipindahkan ke kamar dan bibi tua langsung menelpon dokter pribadi, untuk memeriksa keadaan
tuan muda mereka.
"Kasihan, Tuan Muda. Nyonya muda kemana?"
"Jangan ikut campur. Sekarang kamu keluar saja!" usir bibi tua.
"Maaf kalau saya lancang. Saya permisi."
Bibi tua menghela nafas pelan. Dia ingin mengabari tuan besar, namun ini belum waktu nya. Dia akan mengabari nya kalau memang nyonya muda tak dapat di temukan untuk hari kedepannya. Kasihan tuan muda akan terpuruk, dan akan mengganggu kesehatan nya.
****
Via mengusap sapi-sapi yang dibeli untuk usaha nya esok.
"Gemuk ya sapinya, Nek?"
"Iya, Non Via. Andi paling jago kalau soal seperti ini."
Via mengangguk, lantas menatap nenek Imah dengan wajah yang penasaran.
"Nek! Hem, Andi itu siapa?"
"Cucu Nenek, masih muda seperti Non Via."
Via megangguk dan mengerti.
Mungkin Andi, cucu nenek Imah yang selalu mengunjungi nenek nya.
"Nanti kalau Non mau jalan-jalan. Bersama Andi saja, dia juga menjadi pemandu wisata di daerah
ini."
Via segera mengangguk dan senang mendengarnya. Pasti banyak yang mengunjungi desa ini, karena asri dan juga terdapat villa yang dilihatnya ketika masih di dalam bus.
Via menghela nafas pelan. "Hebat ya cucu, Nenek."
"Andi juga anaknya mandiri dan baik. Tapi itu, belum mau menikah karena belum siap katanya."
Via tertawa mendengarnya. Ada-ada saja kelakuan pria itu.
"Di sini ada ATM, Nek"
"Ada, di toko besar pinggir jalan."
"Besok Via mau ambil uang dan kasih Nenek untuk masak. Mau, ya, Nek?" Via memohon karena dia
tidak enak hati kalau tidak menerima uang bulanan untuk nenek Imah, sedangkan dia akan makan setiap hari.
"Tidak perlu, Non Via. Nenek ikhlas melakukannya."
"Tidak apa-apa, Nek. Gini saja, biar Via yang belanja kebutuhan dapur."
Nenek Imah tidak kuasa menolak dan mengangguk. Gadis ini sangat baik hati.
"Baiklah. Nenek setuju."
"Makasih, Nek." Via kembali berbalik dan menatap
pemandangan yang terlihat indah, dengan pegunungan di seberang sawah.
"Huh! Akhirnya gue bebas, dari semua beban hidup di kota."
Tbc
Jan lupa ritual, hari minggu vote Abang Rayhan masih kosong astaga 💔💔
__ADS_1