Istri Kesayangan Tuan Muda Arrogant

Istri Kesayangan Tuan Muda Arrogant
75. Beberapa Bulan


__ADS_3

Beberapa bulan telah berlalu. Kini kandungan Via sudah beranjak tujuh bulan. Wanita itu sangat senang sekali, dengan perutnya yang kini sudah membuncit,terlihat besar.


Mengenai kabar dari Raja dan juga Salsa. Entah mengapa tiba-tiba menghilang dengan sendirinya.


Apakah Rayhan sudah mengurus mereka? Hingga tidak berani menampakkan dirinya kembali.


Tok! Tok!


Suara pintu utama terdengar diketuk. Via menyuruh bibi tua untuk membukanya, karena gerakannya sangat lambat disebabkan kehamilan yang akan sebentar lagi melahirkan. Via tidak sabar dengan hal itu.


"Pagi, Bumil cantik!" Teriak seorang gadis dengan senyum cerah tiba-tiba memeluknya,membuat Via cukup terkejut dan langsung berbalik, dan ternyata sahabat nya yang kini telah berada di dekatnya.


Selama ini, Mira sangat jarang dihubungi, hingga Via tidak dapat berkomunikasi dengan sahabatnya itu.


"Lo kemana aja sih?" Tanya Via,menyentil hidung Mira yang mancung. Gadis itu terkekeh sembari tangannya menyentuh dan mengusap perut Via.


"Gue kan dikurung sama, Glen.Sekretaris dari suami lo itu, Vi."


Mira terlihat menghela napas panjang. Namun tatapan Via malah mengejek, menmbuatnya salah tingkah.


"Lo udah jatuh hati sama, Glen?"Tanya Via memicingkan matanya dan meminta penjelasan.Mira berpikir sejenak. "Nggak ada alasan untuk tidak mencintainya,Vi."


Via begitu terkejut mendengarnya.Akhirnya, Mira mengakuinya juga.Walaupun terlihat masih ragu,karena sahabat nya itu sebenarnya menyukai pria yang humoris,bukan kaku dan juga kejam.


"Lo nggak curiga Vi, sama Glen?"Ujar Mira mencoba mempengaruhi sahabat nya itu.


"Curiga kenapa? Glen, adalah pria yang baik dan juga setia.Maksudnya curiga yang bagaimana?"


Mira menghela napas panjang.


"Glen, sebenarnya orang kaya juga,Vi. Mansion nya juga besar. Tapi kenapa ya? Mau gitu jadi asisten suami lo?"


Via mencoba memahami ucapan Mira. Benar juga yang dikatakan sahabat nya itu. Walaupun memang suaminya lebih kaya, tapi Glen terlihat juga kaya. Perlu dipertanyakan.


"Lo penasaran, kan? Gue juga penasaran. Makanya?"


"Memangnya kenapa kalau Glen jadi asisten suami gue? Lo keberatan?"


"Bukan masalah itu, Vi. Tapi sikap Glen itu mencurigakan. Memang mengabdikan dirinya kepada tuan muda. Tapi berlebihan banget.Pasti ada hutang budi."


"Kalau memang ada. Berarti suami lo baik banget sih."


"Semoga saja. Suami gue memang baik. Tapi seperti itu, wajahnya tidak mendukung. Datar sejak lahir."


Mira tertawa mendengarnya dan dia menganggukkan kepalanya.


"Sekarang, kita jangan membahas hal tersebut. Lo mau rujakan,nggak?" Tanya Mira sambil membuka buah yang dibawanya.


"Ini loh, gue ada buah-buahan dari rumah. Mangga gue yang di belakang itu, sekarang sedang berbuah. Enak banget buahnya Juga."


"Gue mau, kok. Tapi gue maunya yang buat rujaknya suami gue sendiri."

__ADS_1


Mira melototkan matanya. Kakinya lemas mendengarnya. "Lo jangan bercanda, Vi. Yang benar saja seorang tuan muda yang berwibawa membuat rujak."


"Dia pasti mau. Aku telpon dulu.Dia ada di ruang kerjanya sekarang"


"Kirain suami lo nggak ada di sini,Vi. Tapi, semoga tidak mendengar apa yang gue ceritain tadi. Kan gosip itu."


Via tersenyum tenang menatap sahabatnya yang khawatir.


"Tenang aja. Glen juga nanti ikutan."


Via ini memang ada-ada saja.Itulah yang sekarang ada di benak Mira. Sangat menyesal dirinya tadi jauh-jauh dari rumah membawa mangga dan memanjat pohon itu walaupun licin.


"Jangan bilang, lo naik ke atas pohon, Mir?" Tanya Via curiga,karena melihat bekas goresan di tangan sahabat nya itu,pasti tergores ranting Mira tertawa ringan dan menghalau kemarahan Via.


"Hahah, jangan khawatir. Gue sudah terbiasa."


"Oke. Semoga saja Glen tidak mengurung lo lagi setelah ini."


"Via!" Mira merengek agar Via tidak memberitahu Glen. Bisa marah besar pria itu mengetahuinya luka.


"Janji makannya! Lo bisa jatuh kalau terjadi kesalahan, Mir.Bahaya! Kalau lo jatuh terus lupa ingatan gimana?"


"Bukannya, lo ya? Yang pernah mengalaminya. Bahkan, sampai sekarang belum pulih?"


"Gue nggak merasakan dan juga nggak ngerti dengan diri gue sendiri. Kalau masih, terus kenapa gue bisa mengigat semuanya perlahan. Kecuali memang masa lalu gue yang tidak terlalu penting."


"Entahlah! Gue juga nggak paham. Kita kan bukan dari jurusan dokter. Mana ada paham gituan."


"Kamu bertanya? Dan bertanya-tanya?" Ucap Mira sembari tertawa begitu pun dengan Via yang merasa senang dengan kedatangan sahabat itu.


Udara taman sangat sejuk. Kini mereka berempat duduk di sebuah karpet tebal dan juga keranjang buah di hadapan mereka dan peralatan rujak lainnya.


Via ingin Rayhan membuatkannya rujak buah beserta dengan Mira dan juga Glen yang menemani.


"Kalian bagi tugas. Glen mengupas mangga dan Ray membuat sambalnya."


Baik Rayhan dan Glen saling menatap sekilas dan menghela napas panjang. Ini memang terlalu berat, ketimbang melawan mafia di luar sana. Namun, harus dilaksanakan karena ibu negara sudah memberikan perintah.


"Apa tidak masalah kamu makan rujak, Sayang?" Tanya Rayhan mengusap perut buncit istrinya.


Via tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Sesekali, Sayang. Mau kan?"


Rayhan akhirnya menganggukkan kepalanya. "Apapun untuk kamu,Sayang. Glen! Cepat kupas mangganya."


Dalam hati Glen. Tuan muda saja belum mulai.


Mira sebenarnya ketakutan melihat tuan muda. Kan, semua ini berasal darinya.Mangga itu dan juga ide yang dibawanya dari rumah menuju ke kediaman sahabatnya.


"Glen! Bukan begitu cara mengusap mangga. Astaga! Aku capek manjat, kamu malah kupas sama isinya juga.Via memberikan kode kepada Mira,namun tidak dipedulikan oleh gadis itu.


"Kamu memanjat pohon mangga?" Tanya Glen menatap gadisnya itu.

__ADS_1


Mira terdiam lama dan tidak bisa menjawabnya karena sudah terjebak.


"Iya. Mira memang melakukannya. Dia hebat kan, Glen? Calon istrimu."


Mira sesak napas mendengarnya.


"Tidak apa-apa, kok."


"Nanti kita harus bicara. Sekarang bagaimana cara mengupasnya?"Tanya Glen kepada Mira.


Mira mengambil satu mangga dan juga pisau di depannya. Di memperagakannya di hadapan Glen.


"Gini kan enak. Kalau seperti tadi,kebanyakan mubazir. Tapi tunggu dulu, yang benar saja kamu tidak bisa mengupas mangga?"


Mira tertawa mendengarnya.


Rayhan yang melihat hal itu,hanya terdiam dan melanjutkan membuat sambal rujak untuk mereka semuanya.


"Suatu hal yang membosankan dan tidak memiliki faedah."


"Iya-iya. Kita yang miskin diam saja. Kamu memang kaya, Glen.Pasti pembantu yang mengupas buah untuk mu?"


"Aku tidak pernah mengupasnya.Langsung aku makan."


"Terserah kau saja. Coba aku lihat bagaimana hasilnya."


Mira mengambil alih mangga yang dikupas oleh Glen. "Masih terlalu banyak ini. Tipis-tipis caranya."


Mereka sangat dekat. Membuat Via berdehem sangat keras untuk menyadarkan mereka berdua.


"Dunia terasa milik berdua, ya?Yang lain numpang."


"Salahkan Glen yang tidak bisa mengupas mangga. Ototnya saja yang besar tapi lemah."


"Aku perkasa, Mira. Asal kamu mengetahuinya."


Mira menutupi telinganya.


"Telingaku ternodai."


"Berisik!" Ucap Rayhan tiba-tiba.Membuat mereka berdua terdiam dan tidak bisa berkutik, karena tuan muda telah marah kepada mereka.


"Kamu fokus aja, Ray buat sambal rujaknya. Biarkan saja Mira dan Glen romantis. Aku senang melihatnya. Aku terhibur."


"Iya, Sayang. Maaf! Suruh mereka kembali lanjutkan."


Via menganggukkan kepalanya.


"Ayo lanjut, Mir."


Dalam hati Mira. Bisa-bisanya,tuan muda selalu saja menuruti kemauan istrinya itu. "Gue bukan

__ADS_1


pemain sinetron, Vi. Lo aja, deh."


Melihat tatapan tuan muda kepadanya, membuat Mira pucat pasi. Berarti dia harus menghibur Via. "Glen! Ayo akting kembali.Seperti badut."


__ADS_2