
Rayhan menatap Glen yang sekarang fokus dengan kerjaan yang diberikan olehnya. Pria itu menghela napas pelan, karena hari ini istrinya membatalkan rencananya untuk membuat kue bolu. Namun masalahnya bukan disana, akan tetapi ia tidak ingin hal apapun yang berkaitan dengan istrinya itu dibatalkan atau diundur.
Via berkata, ingin istirahat hari ini,dan mereka membuat kue bolu besok pagi. Jadi, ia bisa mengikuti meeting dengan anggota direksi pada hari ini. Apa mungkin karena kesibukannya? Hingga membuat istrinya berubah pikiran. Rayhan terasa ingin gila rasanya memikirkan hal itu.
Meeting telah selesai satu jam yang lalu,sekarang dirinya mengecek beberapa berkas yang akan ditanda tanganinya, namun pikirannya tidak bisa fokus, karena takut istrinya menyembunyikan rasa kecewa kepadanya.
"Tuan Muda, semuanya telah diperiksa. Ini berkasnya, tidak ada yang mencurigakan, sejauh ini pekerjaan dilakukan dengan baik,oleh orang kepercayaan, Anda."
Glen terdiam, ketika tidak mendapatkan respon dari atasannya itu. Sepertinya, tuan muda sedang banyak pikiran.
Perasaan kemarin, juga ada janji dengan nyonya muda membuat bolu, tapi sekarang kenapa tidak jadi? Mungkin itu masalahnya.
Glen mencoba mengerti, walaupun sebenarnya ia ingin juga memiliki seorang istri, namun gadis bernama mira itu, hingga saat ini jual mahal kepadanya. Walaupun dia terpesona namun tetap saja tidak pernah mengakuinya.
"Kenapa kau ikut melamun, Glen?"tanya Rayhan tiba-tiba, membuat Glen langsung tersadar.
"Mohon maaf, Tuan Muda. Saya hanya terbawa suasana."
Rayhan menatapnya datar, dan mengambil berkas ditangan Glen,lantas memeriksanya. Glen hanya bisa menghela napas pelan dan kembali berjalan menuju ke kursinya, yang tidak jauh dari tuan muda.
"Glen! Kau masih mencatat apa kekurangaku, kemarin?" tanya Rayhan.
Glen langsung menganggukan kepalanya. dia membuka buku sakunya dan membacanya, hingga Rayhan kembali mengingatnya.
"Kita pergi sekarang!" ucap Rayhan dengan tegas dan merapikan jas kerjanya yang sempat terlipat karena duduk.
Glen mengikuti Rayhan dari belakang dan masuk ke dalam lift,yang akan mengantarkan mereka menuju ke lantai dasar.
"Kamu mengetahui padagang rujak di mana?" tanya Rayhan keluar dari lift dan menatap Glen.
"Iya, Tuan Muda. Saya akan mengantarkan Anda ke sana. Sebuah restoran yang.."
Rayhan menghela napas kasar."Tukang rujak yang membawa gerobak atau sejenisnya. Kamu mengetahuinya,kan?"
"Iya, Tuan Muda. Biasanya ada di pusat keramaian."
"Tapi kamu mengetahui tempatnya?"tanya Rayhan kembali untuk memastikan bahwa Glen akan membawanya kesana.
Mereka masuk ke dalam mobil mewah, dengan Glen yang sekarang mengendarai mobil,namun anehnya tidak biasanya tuan muda duduk disampingnya, biasanya berada di belakang dirinya memang sopir kan? Jadi,ya seperti itu aturannya.
"Kenapa?" tanya Rayhan datar dan menatap tajam Glen karena terlihat heran.
Karena tidak ingin membuat tuan muda marah, akhirnya Glen hanya bisa menganggukkan kepalanya dengan hormat dan menyalakan mesin mobil perlahan.
__ADS_1
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, dan sekarang terlihat banyak pedagang dipusat keramaian.
Glen memberhentikan mobil tersebut di pinggir jalan, karena telah menemukan pedagang rujak berada di sana sedang dikerumuni banyak orang.
"Tuan Muda, itu pedagangnya,pasti paling enak makanya ramai."
Glen hendak turun sendiri, dan meminta izin kepada Rayhan untuk membeli rujak dan mengantri.
Walaupun mereka orang berada,namun Glen selalu menjaga etika dan sopan santun.
"Aku ikut, Glen." Rayhan tidak ingin nantinya Via bertanya, dan yang membeli rujak Glen bukan dirinya. Jadi, dia harus berusaha apapun yang terjadi. Walaupun harus kepanasan di luar sana,demi istrinya tercinta.
Walaupun sempat terkejut, namun akhirnya Glen mengaggukan kepalanya, karena tidak berani membantah. Dikarenakan, diluar terlihat sangat panas, dengan terik matahari yang sekarang berada diatas kepala.
Mereka turun dari mobil mewah tersebut, membuat semua perhatian orang-orang yang sedang mengantri sejumlah lima orang langsung mengarahkan pandangannya ke arah Rayhan dan Glen.
"Mereka sangat tampan. Astaga,bukannya itu tuan muda yang terkenal itu, ya? Akhirnya aku bisa melihatnya secara langsung."
Mereka berbisik-bisik, dan memberikan jalan kepada kedua pria itu. Walaupun antrian mereka akan diambil. Namun, mereka ikhlas lahir dan batin.
Bahkan, pedagang rujak itu langsung melongok karena melihat orang kaya yang ingin membeli dagangannya.
"Antri dulu ya, Pak?" ucap pedagang tersebut karena tidak ingin dikatai pedagang yang mandang harta.
Rayhan dan Glen hanya terdiam dan akhirnya menganggukkan kepalanya. Namun orang-orang yang mengantri langsung bersuara dengan heboh, tidak ingin ketinggalan berinteraksi dengan orang kaya.
Akhirnya mas pedagang rujak gerobak itu menganggukan kepalanya dan sekarang kembali menatap Rayhan dan Glen bergantian.
"Pedas atau manis, Pak?" tanyanya kembali dengan ramah, walaupun sebenarnya tidak terlalu berani mengangkat suara.
"Keduanya."
"Dua bungkus?" tanya masnya kembali dengan cerewet.
"Iya," balas Rayhan singkat dan memperhatikan mas pedaganf rujak itu mengulek sambal dengan lihai, dan juga sangat berpengalaman.
Sedangkan Glen sibuk memperhatika keamanan tuan muda, berada di luar mobil.
Musuh selalu mengintai mereka,apalagi masalah dengan mafia itu belum usai hingga saat ini.
Entah, apa rencana mereka hingga menghilang tiba-tiba. Pasti dalam waktu dekat akan kembali membuat gara-gara.
Rujak sudah dibuat dan sekarang diterima langsung oleh Rayhan.
__ADS_1
Pria itu mengeluarkan uang senilai seratus ribu.
"Keduanya dua puluh ribu, Pak Uang pas ada?" tanyanya kembali.
"Biarkan mereka yang mengambilnya," ucap Rayhan lalu pergi dari sana, karena sudah kepanasan dengan terik sinar matahari.
Mereka semua yang mendengar ditraktir, langsung bersorak gembira. "Terima kasih, tuan muda tampan."
Pasti sangat beruntung perempuan yang menjadi istri dari tuan muda,sudah tampan dan kaya, juga sangat cool serta berwibawa sekali.
Tatapannya saja sudah memikat,apalagi berbicara kata-kata manis.
Mereka semua sedang membayangkan menjadi istri tuan muda, namun hal itu mustahil karena tuan muda katanya telah memiliki seorang istri.
Rayhan dan Glen masuk ke dalam mobil, terlihat Rayhan yang sekarang mengambil beberapa tisu dan membersihkan wajahnya yang dibanjiri keringat.
Glen yang melihat itu kasihan dengan tuan mudanya, namun tidak berani bersuara. Semua ini juga dilakukan untuk nyonya muda, ratu di hati tuan muda.
"Buka, Glen!" ucap Rayhan menyuruh Glen untuk membuka bungkus rujak tersebut.
"Bukannya ini untuk ....?"
"Banyak sekali pertanyaanmu. Buka sekarang dan makan yang satunya."
Akhirnya Glen menganggukkan kepalanya dan membuka bungkus dari rujak itu, hanya menggunakan mika sederhana dan steples besi yang menempel sebagai penutupnya.
"Ini, Tuan Muda. Anda, akan menikmatinya?" tanya Glen kembali untuk memastikan.
Soalnya tuan muda kurang suka makanan seperti ini, apalagi pedas.
"Makan."
Mereka berdua memakannya,terlihat dari raut wajahnya yang sungguh sangat terpaksa dan tertekan. Rayhan mengambil air minum dan menghabiskannya.
"Lebih enak buatanku. Hanya terasa pedas saja."
Andaikan saja bukan istrinya yang merekomendasikannya untuk belajar dari pedagang rujak gerobak, pasti dia tidak akan melakukannya selama hidupnya .Ingat Semua ini demi istri cantiknya.Tapi menurut Glen, lebih enak ini ketimbang sambal rujak buatan tuan mudanya, akan tetapi dia tidak berani mengatakannya.
"Kita ke toko kue bolu selanjutnya."
Siksaan kedua dimulai, dalam hati Glen sudah menjerit, namun ia harus ikhlas lahir dan batin.
Hitung-hitung simulasi menjadi suami idaman istri, besok setelah menikah dengan Mira.
__ADS_1
"Aku tidak ingin, istriku memuji kue bolu buatan orang lain, ketimbang buatanku besok."
Tapi sejak kapan tuan muda pandai membuat kue bolu?' batin Glen bertanya-tanya.