Istri Kesayangan Tuan Muda Arrogant

Istri Kesayangan Tuan Muda Arrogant
18. Taman Untuk Peri Kecil


__ADS_3

Sejak kejadian kemarin. Via tidak pernah berbicara sepatah katapun. Dan Rayhan tidak peduli. Dia langsung keluar dari kamar itu meninggalkan Via yang kini menatap Rayhan datar setelah kepergiannya.


Entah esok, hukuman mengerikan apalagi yang pria kejam itu akan lakukan kepadanya.


"Tuan Muda, telah siap?"


Rayhan masuk ke dalam mobil tanpa menjawab pertanyaan Glen.


Memastikan tuan muda telah siap, Glen mengitari mobil dan masuk ke kursi pengemudi.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Keluar dari gerbang utama rumah besar itu.


"Maaf atas kelancangan saya, Tuan Muda. Alfredo saya berikan satu pukulan, untuk membayar


kesalahannya."


"Apakah masih kurang?"


"Lebih dari cukup, Tuan Muda."


Glen sudah merasa sedikit tenang karena memberikan bogeman mentah, yang membuat sudut bibirnya pria tua itu berdarah. Dan dokumen laporan pembatalan kerjasama.


"Bahkan sangat mudah menghancurkan pria tua itu."


"Tuan Muda, apakah proyek akan diselesaikan langsung?"


"Jangan dihentikan!"


"Tuan besar, masih menghalangi pekerja untuk menyelesaikan aktivitasnya."


"Kita ke sana, Glen!"


"Baik, Tuan Muda."


Mereka berbelok arah, menuju ke danau tempat proyek yang Rayhan bangun.


**


"Lo mau ajak gue kemana, sih?"


tanya Via. Hari ini, Mira tidak masuk dan hanya mereka berdua yang kini mengobrol di sebuah


danau, terlihat pembangunan di sana.


"Wah, indah banget," ujar Via.


"Suka, kan?"


Via mengangguk antusias untuk menenangkan pikirannya. Banyak para wisatawan yang berkunjung, karena danau sudah dibangun taman bunga di sekitarnya.


"Katanya, pembangunan di sekitar danau dibuat oleh seorang miliarder yang sangat menyayangi


pujaan hatinya."


"Beruntung banget."


Mereka memutuskan duduk di


bangku, dekat dengan taman. Udara menyejukkan dan sedikit keras, membuat rambut panjang Via terurai berterbangan.


"Lo tahu dari mana?" tanya Via mulai membuka tasnya dan mengambil buku bacaan.


"Dari sosial media. Lagi trend danau ini, namun nama si pemilik masih misterius katanya. Kalau


belum diresmikan, maka belum disebutkan."


"Iya," balas Via singkat.


"Lo baca apa itu?" tanya Raja.


"Metodologi penelitian," jawab Via. Kemarin Via ke toko buku dan membelinya.


"Rajin banget sih, lo. KKN aja belum."


"Ya, kan sebentar lagi, Ja. Gue mau secepatnya wisuda, makanya baca-baca sekarang."


"Kira-kira, kita KKN di mana, ya?"


Mendadak jantung Via berdetak sangat kencang. Via melupakan suatu hal! Kalau dirinya esok pergi KKN, apakah pria kejam itu akan mengizinkannya?


Kenapa Via baru kepikiran sekarang? Raja menatap Via bingung, mimik wajah gadis di depannya ini terlihat aneh.


"Lo kenapa?" tanya Raja.


"Lo udah sering lihat kakak angkatan kemarin, ngak? KKN dimana?"


"Sudah, katanya sekitaran Jakarta. Gak keluar daerah." Via bisa bernafas lega. Jadi dia bisa bolak-balik dari rumah tuan muda setelah selesai.


"Syukur, deh. Soalnya gue gak mau keluar daerah."


"Tapi..."


Via segera bersembunyi di samping Raja, ketika melihat Rayhan dan Glen berada di sini.


Astaga! Jangan bilang, suaminya itu yang membangun ini semuanya?


"Lo kenapa?" tanya Raja hendak berbalik. Namun Via langsung memegang kedua bahunya agar tidak menengok ke belakang.


"Please, jangan nengok ke belakang, ya?"


Raja akhirnya mengangguk dan pasrah. Apapun untuk Via. Namun gadis itu terlambat, karena Rayhan telah menyadari kehadirannya dan


sekarang tersenyum miring dari kejauhan.


"Nyonya bersama dengan sahabatnya itu lagi, Tuan Muda."


"Biarkan saja, Glen. Nanti kita akan bermain-main."


Rayhan berbalik dan tidak jadi menelusuri danau itu. Mereka kembali memeriksa sisi danau yang lain.

__ADS_1


Melihat mereka telah pergi. Via bernafas lega dan berhenti bersembunyi.


"Siapa?


"Ah?" Via terpaksa harus berbohong. "Papa gue tadi. Kan, bisa gawat kalau beliau tau gue di sini. Nggak dibayarin kuliah gue nanti."


"Bokap lo segitunya, ya?"


Via mengangguk. "Beliau berbeda, dengan semua orang tua pada umumnya. Tapi gue sayang banget


sama dia, Ja. Biarin gue aja yang kasih papa kasih sayang. Itu sudah cukup untuk gue."


Raja menghela nafas pelan. Ini yang Raja kagum dari Via. Dia tidak akan pernah membenci orang lain, bahkan yang pernah menyakitinya sejak kecil.


"Ayo kita pulang."


Via mengangguk dan memasukkan bukunya ke dalam tas. Mereka bangkit dan meninggalkan danau.


***


Raja berhenti ketika segerombolan orang menghadang laju mobilnya. Sebenarnya ia takut, karena jumlah mereka banyak. Namun Raja harus memastikan terlebih dahulu. Dia mengirim pesan ke


salah satu anak buah papa nya dan memutuskan untuk keluar.


"Ada apa?" tanya Raja.


Mereka semua berjumlah 10 orang. Seperdetik mereka semuanya menyerang Raja. Raja perlahan mundur dan menangkis pukulan mereka yang bertubi-tubi.


Namun karena sendirian. Raja berhasil lengah dan sekarang tubuhnya terasa remuk karena tendangan salah satu dari mereka mengenai punggungnya.


Mereka mengeroyok Raja, hingga kini Raja tidak kuasa melawan dan babak belur karena tendangan dan pukulan mereka. Setelah memastikan Raja telah pingsan.


Sang ketua dari mereka memberikan kode dengan tatapan mata dan garis wajah yang sekarang menyeringai meninggalkan Raja.


"Uhuk-uhuk, tolong!" lirih Raja, dan pada akhirnya dijemput oleh kegelapan. Bersamaan dengan


kedatangan anak buah papa nya.


"Tuan Muda," ujar salah satu anak buahnya, menepuk wajah Raja. Namun tidak ada pergerakan dari Raja membuat mereka terlihat sangat khawatir.


"Angkat ke mobil!" perintahnya dengan tegas.


Raja dimasukkan ke dalam mobil,dan dibawa ke rumah sakit.


"Siapa yang melakukannya? Selama ini tuan muda tidak memiliki musuh."


"Kita harus melapor ke tuan besar."


Mereka mengangguk dan melajukan mobil dengan


kecepatan penuh, menuju rumah sakit secepatnya, agar Raja langsung ditangani.


**


"Sudah pulang?"


Rayhan seperti biasanya membuatnya terkejut. Namun sekarang tubuh Via menegang karena Rayhan menatapnya seperti meremehkan. Pasti ada sesuatu di balik semua ini.


"Tuan Muda, kapan pulangnya?" tanya Via mengatur mimik wajahnya agar tidak berekspresi apapun.


"Sejam yang lalu. Setelah dia mengantarmu ke rumah Alfredo."


Memang benar. Raja mengantarnya ke rumah papa nya, dan Via menaiki taksi ke rumah tuan muda, suaminya.


"Murahan!" tekan Rayhan.


Tangan Via terkepal. "Dia sahabat saya."


"Oh ya, hingga bermesraan seperti itu?"


"Itu bukan urusan, Tuan Muda!"


"Saya sudah memperingatkan kepadamu, Via. Agar menjauhi mereka. Tapi, kau malah tidak mematuhi nya."


"Saya tidak bisa, Tuan Muda. Mereka berdua sangat berarti di hidup saya."


"Kau pikir, aku bermain-main dengan ucapan ku?"


Rayhan mendorong Via menyingkir dan mengunci pintu kamar itu. Via tersentak kala tangan Rayhan kembali menariknya dengan kasar dan sekarang menghempaskan tubuh nya jatuh di atas tempat tidur.


Via ingin bangkit. Namun Rayhan langsung menaiki tempat tidur dan mengunci pergerakannya.


"Sudah berapa pria yang menyentuh tubuhmu?"


"Jaga ucapan, Anda!!"


Via ingin menampar wajah Rayhan namun tangannya tidak bisa digerakkan karena pria itu


telah mencengkramnya. Bahkan rasa nyeri yang kemarin, masih tersisa.


"Lepaskan!"


Tubuh mungil Via tidak ada artinya dibandingkan dengan Rayhan. Bahkan Via merasa sesak nafas diperlakukan seperti ini.


"Kau tahu, tanda yang berada di sini." Rayhan meraba leher jenjang Via yang terlihat terawat. Tiga


tanda kepemilikan itu telah hilang.


"Aku yang melakukannya." Rayhan menyeringai, namun Via melototkan matanya tidak habis pikir.


"Nyatanya, Tuan Muda ... bisa takluk di tangan saya, bukan?" ucap Via menatap Rayhan meremehkan, membuat pria itu menggeram. Dia juga masih bingung mengapa dia melakukannya.


"Jangan berharap terlalu tinggi!"


Via tersenyum miring. "Cepat atau lambat Tuan Muda akan mencintai saya. Jangan menyangkalnya," tandas Via.


Bukannya merasa takut. Via tidak akan gentar melawan Rayhan berdebat.


"Kau merasa telah menang?"

__ADS_1


Rayhan terkekeh menyeramkan.


"Iya."


"Aku hitung hingga lima detik.


Satu, dua, tiga, empat ..."


Drrtt! Drtt!


Ponsel Via berdering. Rayhan mengangkatnya dan mengaktifkan speaker.


"Via, hiks." Suara di ujung telepon, terdengar sunyi hanya suara tangisan yang mendominasi.


Jantung Via mendadak berpacu dengan cepat mendengar Mira menangis.


"Lo kenapa, Mir?!"


Masih dengan Rayhan berada di atasnya. Via berteriak dengan nada khawatir. Namun bukannya


menjawab, Mira semakin menangis sesenggukan.


"Raja kritis, dia dikeroyok sama orang yang tidak dikenal. Sekarang Raja tengah ditangani oleh dokter."


"Raja," gumam Via.


Rayhan tersenyum miring dan mematikan ponsel Via. Gadis itu memberontak ingin bertanya kembali ke Mira. Namun Rayhan dengan senang hati melempar ponsel Via ke sembarang arah, mungkin sekarang telah retak karena berbenturan dengan lantai.


"Masih ingin bermain-main denganku?"


"Brengsek, iblis. Kau jahat-jahat. Kenapa kau melakukannya ke Raja, hiks."


"Orang-orang terdekatmu, berhak mendapatkannya."


Via menatap kosong wajah Raja yang kini memejamkan matanya, dari balik jendela. Mereka


semuanya belum diizinkan masuk ke dalam.


'Anak pembawa sial.


Kenapa kamu lahir ke dunia ini?


Kamu penyebab istri saya meninggal.


Kenapa tidak, kamu saja yang mati?


Jauh-jauh dari saya. Saya tidak sudi mengakuimu menjadi putri saya.


Via memejamkan matanya, ketika bayangan itu kembali muncul dibenaknya.


Apakah memang benar, gue pembawa sial?' batin Via dengan pandangan menerawang.


Raja sakit karena Via. Via penyebab ini semuanya. Kalau sampai kedua orang tua Raja mengetahuinya, maka Via akan dibenci oleh mereka.


"Raja, sudah mulai membaik."


"Beberapa jam yang lalu gue bersama dan ngobrol sama Raja, dan sekarang Raja sakit, Mir."


Dan penyebabnya adalah suaminya sendiri karena Via pembangkang.


"Udah, Vi. Kita sama-sama berdoa saja."


"Keluarga pasien diizinkan masuk."


Mereka semuanya masuk ke dalam. Dokter menjelaskan sebentar lagi pasien akan membuka matanya. Membuat mereka bernafas lega.


"Maafin gue, Ja." Setelah berada di dalam sana. Via berulang kali meminta maaf.


Via menghela nafas pelan. "Mir," panggil Via.


"lya," jawab Mira.


"Setelah Raja sembuh. Gua akan ceritakan semuanya ke kalian berdua. Tentang rahasia yang gue sembunyikan selama ini."


Via mengangguk, sudah waktunya mereka mengetahui semuanya.


Esok kalau mereka memilih menjauh, maka Via akan menuruti kemauan mereka.


Mira terpaksa menarik Via keluar dari ruangan itu.


"Rahasia apa, Vi? Lo selama ini menyembunyikan rahasia dari kita?!" sentak Mira.


Via mengangguk. "Maafin gue, tapi gue akan jujur. Dan itu pilihan lo berdua, akan ninggalin gue atau


tetap berada di samping gue menjadi sahabat."


Mira menghela nafas pelan dan memeluk Via dengan sangat erat.


"Jangan bilang gitu, Vi. Gue dan Raja sayang sama lo. Kita tahu, lo butuh privasi dan akan kasih tahu


kita di saat lo sudah siap." Via tertegun mendengarnya.


"Makasih, Mir. Gue gak akan menyisakan sedikitpun kalimat disembunyikan dari kalian lagi."


Mira mengangguk dan meneteskan air matanya. Mereka telah lama bersahabat. Bahkan Mira telah


menganggap Via menjadi saudaranya.


"Kalau lo capek. Lo pulang, ya? Ke rumah gue. Kedua orang tua gue, seneng banget kalau Lo tinggal di


rumah."


'Gue capek, Mir. Tapi, suatu hari nanti mungkin gue akan pergi jauh dari kalian. Maafin gue, batin Via menatap Mira dengan perasaan yang sakit.


Via akan kabur dari kediaman tuan muda. Dan memilih untuk memulai hidup baru, walaupun


sendiri. Hanya tinggal menunggu waktu yang tepat untuk melakukannya.


"Mir! Makasih udah sayang sama gue."

__ADS_1


__ADS_2