
Via menghembuskan nafas pelan, ketika dia menemukan lingerie di lemarinya. Secara tiba-tiba, dan entah siapa yang punya. Terus maksudnya apa coba, meletakkan benda itu di lemarinya. Mana lemari itu juga milik mereka berdua lagi, bukan hanya dirinya.
Kalau suaminya melihat benda itu, pasti nanti menatapnya aneh dan menggelikan. Huh! Menyebalkan sekali.
Via segera meraih lingerie tersebut dan menatapnya lama. Kalau dilihat, memang perpaduan warnanya bagus. Dan terlihat sangat mahal. Ketika wanita itu hendak menyembunyikannya di laci, suara ketukan pintu kamarnya terdengar. Via melepaskannya di atas tempat tidurnya. Dan segera mendekati pintu.
Ceklek!
"Hai, Sayang."
Ternyata mama mertuanya, yang terlihat sangatlah ceria dan kini menatapnya gembira.
Via mempersilahkan mama nya untuk masuk ke dalam kamar itu. Kini mereka duduk di tepi ranjang,
dan mertuanya melihat lingerie itu berada di sana.
"Mama, yang membelikannya untuk Via, ya?" Tanya wanita itu, karena tatapan mama nya terlihat sangat berbeda. Kalau bukan mertuanya, siapa lagi kan yang melakukannya. Tidak mungkin suaminya. Kemungkinan hal tersebut hanya satu persen dari
dugaannya.
"Iya, Sayang. Mama memang yang membelikannya untuk menantu kesayangan, Mama."
Via menghembuskan nafas pelan mendengarnya. Dia tidak bisa menolaknya, karena tidak sopan kepada orang tua.
"Kamu suka kan, Sayang?"
"Iy-iya, Ma. Via sangat menyukainya, Via juga tidak
memilikinya satupun."
Sontak hal itu membuat mertuanya terkejut mendengarnya. Menantunya ini terlalu hemat atau bagaimana? Tidak memiliki lingerie seperti
pengantin baru pada umumnya. Mereka kan baru-baru menikah, walaupun sudah beberapa bulan lamanya. "Besok Mama akan membelikannya lagi, sepertinya warna kesukaan kita sama."
Bagaimana cara Via menolaknya, ya? Kalau dia menyetujuinya, maka mama mertuanya akan
membelikannya banyak sekali.
"Tidak memberatkan, Mama?" Tanya Via pelan takut
menyinggung.
"Tidak sama sekali, Sayang. Justru Mama senang. Dengan begitu, akan segera mendapatkan cucu."
Wanita paruh baya itu membayangkan dirinya
menggendong bayi, anak dari Rayhan dan Via, sungguh dia tidak sabar untuk hal itu.
"Makasih, Ma."
"Sama-sama, Sayang."
"Mama intinya saja, ya? Biar kamu mempersiapkan semuanya malam ini."
Via semakin bingung dibuatnya. Namun dia menatap mertuanya dan menganggukkan kepalanya, hanya untuk menurut saja. Mungkin demi kebaikannya juga.
"Akhir-akhir ini, perusahaan sedang ada masalah serius. Saingan perusahaan banyak yang memberontak karena kalah dalam proyek. Jadi baik Rayhan dan papamu, akan sedikit kelelahan untuk
mengurusnya."
__ADS_1
"Mereka, bukan orang sembarangan, walaupun berada di bawah kita satu tingkat. Dalam dunia kerja, hal apapun akaan dilakukan demi kekuasaan."
"Semua itu dilakukan untuk menaikkan reputasi dalam dunia bisnis, walaupun dengan cara yang paling tidak masuk akal."
Sebenarnya, Via masih belum paham akar pembicaraan mertuanya. Seakan-akan dunia bisnis itu sangat kejam, dan semua itu harus dikerjakan oleh suami dan papa mertuanya yang memiliki otak cerdas.
"Jadi, kita sebagai seorang istri harus berusaha untuk melepas penat suami masing-masing. Dengan cara .... Mertuanya menggantung ucapannya.
Wanita paruh baya itu tersenyum dan mengusap bahu Via dengan lembut. "Memberikan kenyamanan
dan kenikmatan."
Via sudah mengetahui kesimpulan dari semuanya. Mama nyaa menyuruhnya dengan sebaiknya
mungkin melayani suaminya. "Mama, pamit dulu ya? Sebentar lagi sepertinya papa mu akan lebih dulu pulang. Nanti ngamuk, Mama tidak ada di kamar. Kan minta jatah.."
Mertuanya segera keluar dari kamar itu, meninggalkan Via yang sekarang menarik napas panjang, dan menggelengkan kepalanya karena mama mertuanya tidak ada filter sama sekali, dalam menyampaikan sesuatu yang sensitif kepada menantunya.
"Terus gue harus bagaimana?" Gumam Via dengan napas panjang
Dia menarik lingerie itu lebih dekat dengannya. "Siapa juga yang menciptakan baju ini, sungguh
indah dipandang namun dapat membuat tubuh remuk pastinya."
Via mengunci pintu terlebih dahulu, sekitar dua jam lagi pasti suaminya akan pulang. Jadi, wanita itu harus mempersiapkan diri terlebih dahulu.
"Kok gue jadi tiba-tiba merinding. Nggak pakai ini aja, suami gue brutalnya minta ampun. Dan gue
pakai pakaian ini, bagaimana kabar tubuh gue besok?"
Karena tidak ingin mengecewakan mertuanya. Via akhirnya membuka pakaiannya dan mencoba untuk melihat pantulan dirinya di cermin ketika lingerie
"Sebenarnya, gue suka jujur aja. Pasti lingerie ini sangat mahal. Bahannya halus. Semoga saja tidak
robek."
Via mencoba bergerak untuk memperhatikan tubuhnya itu. Dia menarik napas panjang dan mencoba berjalan disekitar ranjang untuk mempersiapkan semuanya.
"Serasa jadi model dewasa gue Seperti ini."
Via berpikir sejenak, dan membayangkan ekspresi wajah suaminya nanti setelah pulang, kalau melihatnya. Semoga saja Rayhan tidak tertawa melihatnya. Tapi kan, Ray nggak pernah tertawa lepas seperti orang lain.
"Gimana mau menertawakan gue."
"Ah! Gue harus duduk dengan manis di tepi ranjang dan mencoba untuk tetap tenang."
Via akhirnya berhenti berbicara sendiri. Namun tubuhnya saja yang tidak bisa diajak kompromi,
selalu saja ingin bergerak seperti penggoda.
"Baiklah, kita peragakan cara bergerak terlihat dahulu. Nantikan Ray akan muncul di depan pintu."
"Nah, terus gue samperin dan ambil tas kerjanya. Setelah itu dia mempersiapkan dirinya untuk mandi. Setelah itu..
"Mungkin saja, kan... Kok, gue jadi membayangkan hal itu, sih? Astaghfirullah." Karena terlalu banyak berbicara. Akhirnya, Via tiba-tiba mengantuk dan akhirnya terlelap.
Beberapa menit kemudian, suara ketukan pintu terdengar. Rayhan telah berada di luar sana dan
berniat untuk membuka pintu dengan kunci cadangan.
__ADS_1
Pria itu masuk ke dalam kamar mereka. Setelah menguncinya kembali. Rayhan langsung berbalik dan mendekati sang istri yang terlihat tertidur dengan lelap.
Via menutup mata dengan rapat dan tidurnya seperti sangat lah nyenyak. Rayhan tersenyum
melihat hal tersebut, pemandangan yang sangatlah
indah. Pulang bekerja, menemukan sang istri berada di kamar mereka dan terlihat sangatlah menggemaskan.
Ketika Rayhan hendak membuka dasinya, tiba-tiba selimut yang menutupi tubuh sang istri tersingkap, hingga terlihat jelas tubuh mungil Via yang kini
terbalut sesuatu, yang sangatlah asing dilihatnya.
Ya, sang istri tidak pernah memakai lingerie. Dan sekarang lihatlah! Bahkan hal tersebut membuat tubuh Rayhan bereaksi berlebihan.
Rayhan menghembuskan napas kasar. Bagaimana bisa, Via memakai benda itu di depannya dan sekarang tertidur dengan wajahnya yang begitu sangat cantik.
Rayhan bergegas menuju ke kamar mandi dan membersihkan dirinya terlihat dahulu. Setelah beberapa menit. Tubuh kekar Rayhan telah bersih dari keringat serta sangatlah wangi.
Pria itu membuka pintu kamar mandi. Namun, sekarang dia menemukan sang istri dengan wajah baru bangun tidur berdiri di hadapannya, untuk masuk ke dalam kamar mandi.
"Ray, aku ketiduran. Maaf!"
Rayhan tidak menjawabnya, namun menarik Via masuk ke dalam kamar mandi, membuat gadis itu menegang, dengan jantung berdetak kencang karena suaminya tampak sangatlah aneh.
Tubuh Via dihempaskan di tembok kamar mandi. Rayhan langsung mengurungnya, membuat Via
mendongak dan menatap suaminya dengan penasaran. "Kenapa, Ray? Kamu marah, ya?"
Rayhan mempersempit jarak diantara mereka. Via mundur perlahan, namun tidak bisa karena tembok juga menjadi penghalang.
"Ray!" Via merengek karena Rayhan tidak bersuara.
"Kenapa, hmm? Bukannya, ini yang kamu tunggu-tunggu?"
"Ya, aku menunggumu pulang, Ray."
"Hmm."
Rayhan hendak melancarkan aksinya. Namun Via
menghalanginya, membuat Rayhan mengeram karena ditolak.
"Kamu tergoda, ya?" Tanya Via dengan halus. Dirinya hanya ingin bertanya saja, apakah Rayhan
tergoda dengan lingerie yang dipakainya atau hal lain.
"Di kamar mandi atau ranjang?"
Via menghembuskan nafas kasar. Apakah semua suami seperti ini? Kalau sudah tidak tahan, pertanyaannya diabaikan.
Karena tidak mendapat jawaban dari sang istri. Rayhan menggendong Via keluar dari sana dan menghempaskan tubuh sang istri di ranjang.
"Mungkin aku tidak akan berhenti."
Via hanya bisa bersabar, karena kewajibannya sebagai seorang istri harus tahan banting dari serangan sang suami.
"Iya, Ray."
Rayhan menyeringai." Aku mencintaimu, Sayang...."
__ADS_1