
Rayhan langsung mengendong Via, setelah Glen membuka pintu mobil untuk pria itu. Dengan tatapan kahwatir, ia memeluk erat sang istri takut mereka kenapa-kenapa. Namun, dirinya juga takut karena Via telah melihat keberutalan dirinya menghajar Raja.
Entah bagaimana nasib pria itu sekarang, namun ia harus fokus dengan Via terlebih dahulu.
Beberapa menit telah berlalu,mereka sudah sampai di rumah sakit. Dokter dan perawat sudah meyambut mereka di depan ruang UGD. Rayhan tidak diperbolehkan untuk masuk, dia menunggu istrinya di luar dengan perasaan yang sudah tidak karuan, karena hatinya sangat takut kehilangan istrinya itu.
Di dalam ruangan, dokter terlihat menangani pasien dengan sangat hati-hati, karena kalau sampai terjadi kesalahan sedikipun, maka dirinya yang akan mendapatkan masalah yang besar.
Via dipasangkan infus, dan kini dokter sudah memeriksa keadaan pasien, tidak terjadi apapun.
Pasien hanya stress dan juga shock, hingga merasakan tubuhnya lemas, lalu pingsan Suara pintu ruangan terbuka.Dokter langsung menghampiri rayhan yang kini menunggu sendirian di luar.
"Bagaimana keadaan istri saya?"tanya Rayhan, untuk pertama kalinya dan tidak biasanya.
Dokter tersebut sedikit terkejut,namun langsung menormalkan detak jantungnya. "Nyonya muda,dalam keadaan baik. Namun,sebaiknya jangan membiarkannya terlalu banyak pikiran. Hal tersebut, sangat bahaya untuk ibu hamil."
"Terima kasih."
Rayhan tidak terlalu banyak mendengarkan apa yang dikatakan oleh dokter tersebut. Dia langsung masuk ke dalam, dan kini melangkah mendekati istrinya yang. sekarang memejamkan matanya dengan rapat, bahkan wajah tersebut terlihat sangat pucat.
Rayhan mengambil napas panjang dan duduk di dekat sang istri. Dia menunduk dalam, karena merasa bersalah bahkan tidak becus menjadi seorang suami, yang hendak melindungi istrinya dari bahaya yang mengintai.
"Maaf, Sayang. Kehamilan yang justru membuatmu akan selalu bahagia. Namun, ujian itu terlihat,ketika kamu sedang mengandung anak kita."
Tiba-tiba, suara pintu terbuka.Rayhan, hendak memarahi orang yang berani sekali mengusiknya,namun ternyata itu mamanya sendiri yang sekarang sangat berisik bersama dengan papa nya.
"Astaga, Ray. Istri kamu kenapa?Bagaimana bisa, Via seperti ini?Ini semua pasti gara-gara kamu yang tidak becus menjadi suami,kan?" tanya Paula menatap galak putra semata wayangnya itu.
"Maafkan Rayhan,Ma. Via.."
"Sudah. Kamu selalu saja seperti ini. Katanya ingin menjaga Via,setelah dulu selalu menyiksanya.Namun, apa? Kamu menyiksa menantu Mama secara perlahan,Rayhan. Dengan hal yang berbeda."
"Sudah, Ma. Jangan selalu menyalahkan putra kita. Mungkin saja, dia yang selaluu membahayakan dirinya karena keras kepala."
Paula menatap suaminya dengan tajam. Bisa tidak, suaminya ini membela menantunya sekali saja?Selalu saja menyudutkan Via dengan semua hal yang telah terjadi.
"Ini semua salah Rayhan. Jadi,mama bebas marah kepada Rayhan."
"Memang kamu yang salah.Akhirnya kamu sadar diri. Siapa di balik semua ini? Jelaskan sekarang! Agar Mama menyuruh papa mu untuk memberikannya hukuman."
Alferd hanya bisa menghela napas mendegar kecerewetan istrinya itu. Terlihat sangat menyayangi menantunya itu.
"Mafia," ucap Rayhan, membuat mama nya melototkan matanya.Mereka tidak pernah berurusan dengan mafia selama ini, kenapa tiba-tiba orang itu datang ke keluarga mereka, dan membuat kerusuhan seperti ini.Tidak bisa dibiarkan.
__ADS_1
"Pa! maksud Rayhan bagaimana itu? Papa bergabung dengan mereka? Ada urusan?" tanya Paula menatap tajam suaminya.
"Tidak ada. Keluarga kita sudah sejak dulu tidak akan pernah berurusan dengan dunia bawah."
"Ketua mafia. Sahabat Via. Dia ingin merebut Via dari Rayhan,Ma. Hingga, membuat kekacauan.
"Terus kamu tidak menanganinya?Lemah begitu? Astaga Rayhan,selama ini kamu dilatih keras oleh papa mu, masih saja lemah. Kenapa tidak menembak kepalanya saja, huh?"
"Tidak mudah, Ma. Rayhan tidak ingin gegabah. Semuanya ada waktunya, namun sekarang dia sedang sekarat di rumah sakit,karena Rayhan telah membuatnya babak belur hingga hampir wajahnya tidak berbentuk."
"Semoga dia mati," ucap Paula,berdoa dengan setulus hati.
Baik Rayhan dan Alfred hanya menatap Paula dengan helaan napas kasar.
"Huh!" Suara seseorang membuat atensi mereka sekarang beralih menatap ke sumber suara.
Mata itu perlahan terbuka. Rayhan terus menganggam tangan sang istri dengan lembut.
Akhirnya Via sadar dari pingsannya. Dan kini beralih menatap Rayhan yang berada di dekatnya. Dan juga kedua mertuanya, yang telah berada di sini untuk menjenguknya.
"Sayang....
"Aku haus."
"Menantu Mama akhirnya sadar.Mama sangat khawatir dengan kamu, Sayang.
Paula menyuruh Rayhan untuk sedikit menjauh. Sepertinya, Via memberikan kode kepadanya untuk mendekat.
Rayhan yang mengerti, akhirnya mengalah dan memberikan mamanya ruang untuk mengambil alih.
"Kamu tahu, Sayang. Rayhan sangat talkut kehilangan kamu."
Via menatap suaminya sekilas.Namun ketika mengingat bagaimana kejamnya Rayhan, dan juga dulu sering menyiksanya membuatnya merasa pusing kembali.
"Jangan dipikirkan, Sayang Sekarang kamu ceritakan semuanya ke Mama. Hanya ke Mama."
Baik Rayhan dan Alfred akhirnya memutuskannya untuk keluar.
Rayhan tahu, Via sedikit takut kepadanya. Hingga, akhirnya pria itu pun memberikan waktu Via untuk menenangkan diri.
"Percaya sama Mama kamu, Boy,"ucap sang papa menepuk punggung Rayhan yang terlihat bersabar.
"Semua yang aku lakukan, demi kebaikan kita, Pa."
__ADS_1
"Iya. Dia yang harus mengerti.Karena apapun itu demi kebaikan kita semua. Tolong ajarkan istrimu jangan bersikap egois kepada semua orang, Rayhan."
"Tidak selamanya. Kamu akan menurutinya, kan? Walaupun ingin menebus kesalahanmu yang dulu."
"Istrimu itu jangan selalu dimanjakan. Mama mu saja tidak pernah seperti itu."
Rayhan menghela napas panjang,mendengar penuturan dari papanya itu. Dia tidak memanjakan Via, namun sangat menyayangi istrinya itu.
"Urusan Via. Biarkan Rayhan yang menanganinya karena Via istri Rayhan, Pa. Jangan pernah membandingkan mama dan Via.Mereka memiliki karakter yang berbeda."
Mamanya sejak dulu terlihat lebih tegas dan juga tidak segan-segan untuk memerintahkan anak buah papanya menghancurkan orang yang menganggu keluarga mereka.
Berbeda dengan Via. Wanita itu memang tegas, namun lemah dan juga tidak bisa berpendirian dengan apa yang berada di dalam hatinya, karena terlalu baik. Dan selalu kasihan dengan orang terdekatnya.
"Semoga istri mu tidak menyusahkanmu, Boy. Untuk apa menikah, kalau hanya menambah beban."
Setelahnya Alfred pergi meninggalkannya. Entahlah,pemikiran seperti apa yang selalu papanya katakan kepadanya.
Seakan-akan, pria paruh baya itu sangat membenci istrinya.
Namun Rayhan selalu mencoba berpikir positif. Memang pembawaan papa nya seperti itu.
Kurang akrab dengan orang baru.Via masih baru di keluarga mereka. Cepat atau lambat, papanya tidak akan seperti itu lagi kepada istrinya.
Rayhan memperhatikan istrinya dari jendela ruangan itu. Dia bernapas lega, melihat istrinya makan bersama dengan mama nya.
"Mohon maaf, Tuan Muda. Anda memiliki waktu untuk membahasnya?" Ucap Glen menunduk dan sekarang menatap Rayhan.
"Ya." Rayhan hanya membalas singkat.
"Izin melapor, Tuan Muda.
Mengenai tembakan yang tiba-tiba menyasar. Ternyata, orang itu telah menargetkan nyonya muda sejak awal."
Rayhan menggepalkan tangannya.Istrinya selamat dari maut yang hendak mencelakainya.
Tangkap pelakunya, Glen. Aku akan memberikan dia hukuman yang bahkan, lebih menyakitkan dari kematian."
"Baik, Tuan Muda."
"Satu jam dari sekarang."
Rayhan sudah lelah dengan semua ini. Dia harus mengakhirinya. Dan hal itu, dengan cara menghilangkan mereka semuanya dari kehidupan.
__ADS_1