
Mira menghela napa pelan, ketika melihat sahabatnya yang sekarang enggan untuk bertemu dengan suaminya. Kasihan juga,tuan muda yang berada di lua sana menunggu sang istri tidak marah lagi kepadanya.
"Jujur, Vi. Semenjak lo hamil, sikap dan sifat lo berubah banget.Lo yang dulu nggak berani dengan tuan muda,sekarang bikin dia kesusahan."
"Itu hukuman untuk dia. Masih saja menerima klien wanita gila seperti itu."
Via telah menceritakan semuanya. Mira menjemput sahabatnya ini kabur dari rumahnya dan tuan muda tidak kuasa untuk melarang Via, atau wanita itu akan nekad untuk menyakiti dirinya.
"Tapi kalau dipikir-pikir, anggap saja pas kehamilan lo ini jadi ajang balas dendam sama tuan muda."
"Gua sayang sama suami gue dengan tulus. Kejadian yang dulu, sudah berlalu. Ini hanya hukuman ringan saja. Melihat, sejauh mana Rayhan sabar menghadapi gue pastinya."
Mira menganggukan kepalanya, gadis itu kembali menatap jendela kamarnya. Tuan muda masih berdiri di luar, walaupun perlahan cuaca berubah dan angin kencang terlihat menghampiri pepohonan.
Gadis itu bangkit dari duduknya dan keluar dari kamar, meninggalkan Via merenung dengan apa yang sekarang tengah dilakukan olehnya.
Sedangkan Via, mulai berani berdiri di dekat jendela dan mempehatikan sang suami, yang kini tersenyum kepadanya dengan raut wajah yang khawatir, namun tetap terlihat lembut.
Via tahu, Rayhan tipe suami yang tidak bisa mengontrol emosinya, memang seperti itu dari
keturunannya. Namun, sekarang lihatlah! Pria itu tampak tidak berdaya sama sekali.
Sedangkan di luar ruangan, Mira dan Glen asyik mengobrol seperti pasangan kekasih yang romantis, walaupun pria itu masih sulit untuk tersenyum dan terbiasa dengannya.
"Mereka sangat romantis," ucap Glen. Mira mengerenyitkan dahinya bingung, karena perkataan Glen yang terdengar aneh. Yang benar saja, atasannya sedang bertengkar dibilang sangat romantis.
"Kalau kita menikah. Aku, tidak akan membuatmu cemburu."
Mira menganggukkan kepalanya, walaupun tidak percaya sama sekali. Sungguh manis sekali perkataan Glen, seperti buaya yang sedang menargetkan mangsanya.
Dimana juga pria itu, mendapatkan kalimat manis yang sudah pasaran dikalangan anak muda itu. Pasti menjiplak dari buku, sungguh tidak alami sama sekali.
"Iya, Glen. Semoga saja."
Tiba-tiba, mereka mengalihkan pandangannya ketika suara pintu terbuka dan menampilkan Via yang kini, berjalan dengan cepat dan keluar dari rumah. Mira ingin menyusul sahabatnya itu,namun langsung dihalangi oleh Glen.
"Biarkan nyonya muda dan tuan muda menyelesaikan masalah mereka."
Mira menganganggukan kepalanya dan mengerti. Mereka memilih untuk memperhatikan pasangan suami istri itu, dari kaca jendela.
Mira mendongak dan tersenyum kepada Glen karena kini jarak mereka sangatlah dekat. Via memeluk Rayhan dengan erat, membuat pria itu tersenyum miring, dan membalas pelukan sang istri lebih erat lagi.
"Sudah selesai, Sayang?" tanya Rayhan mengusap bahu sang istri dengan lembut dan sayang.
Via menatap Rayhan dan menganggukkan kepalanya. Dirinya juga takut kehilangan sang suami, karena tadi Rayhan mengancam dirinya akan bunuh diri dari luar, hingga membuat Via
takut dan segera menyudahi semuanya.
"Aku tadi ingin ke danau. Kenapa ketakutan, hmm?"
"Kamu ingin tenggelam di sana."
"Aku akan selalu hidup, Via. Selamanya ...
"Kita bisa mati bersama, kalau sudah waktunya tiba."
Rayhan mengangguk dan setuju dengan perkataan sang istri. "Aku akan selalu mengigat janjimu. Jangan pernah mengingkarinya."
Sedangkan Mira yang mendegar hal itu, merasa ngeri dan juga merinding.
__ADS_1
Pantas saja mereka berdua berjodoh, kelakuannya seperti itu. Untuk pertama kalinya, gadis itu mendegar pasangan yang berjanji mati bersama. Sungguh sangat gila, bukan!
Jangan diragukan lagi. Pasti mereka akan berjodoh hingga akhir hayat.
"Ingin seperti tuan muda dan nyonya muda?" tanya Glen yang berada di belakangnya. Ini juga, sama-sama gila dengan tuan nya. Mira, langsung kabur masuk ke dalam kamarnya.
Sedangkan Glen tersenyum miring melihat kelakukan calon istrinya itu.
"Aku tidak sabar, untuk memilikinya. Seutuhnya...."
****
Setelah memastikan Via telah tertidur dengan lelap. Rayhan, perlahan melepaskan pelukannya dan pergi dari kamar mereka, namun tidak lupa mengecup
pucuk kepala sang istri dengan lembut.
Rayhan dan Glen masuk ke dalam sebuah ruangan bawah tanah yang berada di rumah itu. Tidak boleh
sembarangan orang yang masuk, termasuk istrinya sekalipun bahkan mama nya sendiri. Kecuali papa nya,yang mewarisinya kepada Rayhan.
Aura Rayhan menggepal, pria itu melangkah mendekati sebuah jeruji besi yang terdapat seorang
wanita di dalam sana tengah merintih kesakitan, karena mendapatkan hukuman luka yang cukup serius dari anak buahnya.
"Lapor Tuan Muda, wanita itu tidak mati. Seperti yang Tuan Muda perintahkan."
Rayhan menyuruh anak buahnya itu pergi, mereka akhirnya menjauh segera karena tidak berani dengan pria kejam itu.
"Glen! Bawa dia ke rumah sakit. Seperti biasa, kau bebas untuk melakukan apapun kepadanya. Namun tidak dengan kematian, karena pnderitaan sebelum maut lebih menyakitkan."
"Baik, Tuan Muda." Glen segera bertindak dan memerintahkan beberapa anak buah untuk membawa wanita itu menuju ke rumah sakit.
Dengan otot-otot yang kekar dan semakin tumbuh, pria itu mengerahkan tenaganya untuk memukul benda itu dengan sangat kuat.
Bahkan, anak buahnya yang berada di sana menunduk ketakutan, karena mendegar pukulan-pukulan kasar tersebut.
Dan membayangkan bahwa, mereka yang dipukul, pasti langsung koma di rumah sakit.
Untuk saja, mereka tidak pernah membuat tuan muda marah dan tidak pernah melakukan kesalahan.
"Latihan yang sangat hebat. Ingin bertempur di ranjang?" tanya
Alfred tiba-tiba masuk ke dalam ruangan itu, dan menatap putranya yang kini membelakanginya.
"Istrimu memang hebat, bukan? Bisa menandingi kekuatan fisikmu, Rayhan."
"Dan sekarang, sudah hamil. Keturunan ku memang tidak bisa diragukan lagi."
Rayhan mengatur napasnya, dan berbalik menatap papanya dengan wajah datar dan menyeka keringat
yang berada di pelipisnya.
Anak buahnya, memberikannya handuk kecil kepada sang tuan muda.
"Apa yang papa inginkan?" tanya Rayhan, kepada papa nya itu. Pasti ada maunya, hingga sedari tadi
menganggunya.
Pria paruh baya itu terkekeh, dan mempersempit jarak diantara mereka. "Seperti biasa. Aku ingin,
__ADS_1
menikmati masa tua ku bersama mama mu.
Rayhan menatap papa nya sinis. "Tidak ada yang melarangmu, pria tua. Pergilah, sejauh yang kau
inginkan."
"Kau memang, putra terbaik."
Alfred meninggalkan Rayhan yang kini menggepalkan tangannya, dan kembali berlatih fisik. Pekerjaanya pasti akan bertambah, karena pria tua tidak tahu diri itu akan pergi bulan madu untuk kesekian kalinya.
"Tidak ingat umur. Dasar pria tua."
***
"Ray!" Seorang wanita kini membuka perlahan kelopak matanya, karena telah lama tertidur. Namun, wajahnya berubah ketika tidak menemukan
suaminya berada disana.
Tak lama kemudian, Rayhan tampak terburu-buru membuka pintu, dan sekarang menemukan istrinya dengan wajah yang tekuk.
"Hilang aja terus. Tebar pesona kemana aja?"
Rayhan menghela napas pelan, dan mendekati istrinya. "Tidak ada, Sayang. Latihan fisik."
"Di mana?" Tanya Via penasaran.
"Di ruangan khusus."
Via mengerenyitkan dahinya bingung. Emang ada ruang khusus di rumah besar ini? Ternyata, ada
yang tersembunyi juga."Ayo makan, Sayang. Kita keluar."
"Iya. Tapi aku boleh, kan? Ikut ke ruang khusus besok, kalau kamu pergi ke sana?"
Rayhan tidak menjawabnya dan memapah Via, agar berdiri dan berjalan dengan didekapnya tubuh istrinya yang kecil.
"Tidak semuanya, harus kamnu ketahui di dunia ini, Via."
"Jadilah istri yang patuh dan menerima cinta dari suami. Contohnya, seperti mama yang tidak pernah keras kepala."
"Tapi, Ray.
"Rasa penasaran, terkadang membuat hidup kita tidak tenang,Via. Dan hal tersebut, dapat menyakiti mu, karena pemikiran yang mendominasi."
"Kamu bicara apa sebenarnya, Ray?"
"Lupakan! Dan sekarang kamu harus mengisi perutmu. Kasihan bayi kita kelaparan. Jangan hanya, mementingkan keegoisan mu saja, Via."
"Aku egois gitu?" Tanya Via tidak semangat lagi, karena Rayhan menyalahkannya. Pria itu mengatur emosi nya, dan
menggenggam tangan Via dengan lembut. "Jangan menguji kesabaran ku, Via."
"Terus, dari dulu kamu tidak menguji kesabaran ku gitu? Aku cerewet sedikit saja seperti ini, kamu marah-marah."
Via menghempaskan tangannya hingga telepas. Dia berjalan dengan cepat keluar dari kamar mereka dan menuruni anak tangga menuju ke lantai bawah. "Via! Jangan seperti ini lagi, Sayang."
Wanita itu tidak peduli da
mempercepat jalannya.
__ADS_1
"Kalau kamu tidak sabar menjadi seorang suami, makanya jangan punya istri. Jangan menikah sekalian."