Istri Kesayangan Tuan Muda Arrogant

Istri Kesayangan Tuan Muda Arrogant
74. Hati Yang Tenang


__ADS_3

"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Salsa ketika melihat Raja yang kini tampak sangatlah lemah dan juga tidak berdaya, dengan luka diwajahnya.


Salsa berani tidak hormat, karena pria itu sangat lemah dan tidak bisa diandalkan.Siapa juga yang memilihnya menjadi ketua mafia. Tidak bisa diandalkan sama sekali.


Salsa meneliti wajah Raja.Memang tampan dan masih muda, namun sangat bodoh sekali.


Raja menatap wanita di hadapannya itu dengan sangat tajam dan datar. "Pergi!" Tegas Raja menahan rasa sakitnya di wajahnya.


Salsa tertawa sinis. "Dasar lemah. Tidak berguna. Aku sangat kasihan sekali denganmu. Tidak bisa mendapatkan apa yang kamu minta. Padahal, anak buahmu sangatlah banyak, bukan?"


"Itu bukan urusanmu, wanita murahan."


Salsa mengerenyitkan dahinya bingung mendengar kata murahan keluar dari bibir pria itu. Dia menggepalkan tangannya karena tidak terima dengan semua itu.


"Memang Anda murahan, kan?Sayang sekali, kalau mengiginkan pria itu. Hanya wanita yang baik,pantas dengannya."


"Diam kamu, sialan!" Salsa mengamuk dengan memegang kepalanya dan membuang semua barang yang ia jangkau.


"Sepertinya kamu sudah gila." Raja memberikan instruksi kepada anak buahnya agar mengeluarkan wanita itu dari ruangannya.Menyusahkan saja!Salsa tetap memberontak dengan tangan yang telah dipegang. Dia di dorong dengan kasar, dan jatuh di bawah lantai.


"Aku tidak gila, argh!" Salsa berteriak kembali, dan kini menjadi pusat perhatian di rumah sakit.


"Mohon maaf, Nyonya. Anda mengaggu pasien yang lain.Silakan untuk secepatnya pergi dari sini."


Suster itu merasa risih dengan Salsa. Walaupun wanita itu terlihat cantik, namun tidak waras dan stres."Berani kamu mengusir saya?Kamu tidak tahu siapa saya, ah?" Bentak Salsa tidak terima.


Karena takut untuk diserang.Suster perempuan itu memanggil satpam dan akhirnya Salsa kembali digiring untuk keluar dari rumah sakit itu.


"Semua ini gara-gara, wanita itu.Aku bersumpah akan membuatnya sengsara."


"Tolong Anda jangan berteriak!Anda ini terlihat orang yang berpendidikan. Tapi tidak memiliki sopan santun."


"Itu terserah saya. Anda semua ini akan menyesal karena berani menyentuh saya."


"Kalau Anda berteriak kembali.Saya akan menelpon ambulance yang berada di rumah sakit jiwa."


Salsa terdiam dan bergetar ketakutan. Kepalanya pusing. Dia tidak gila!


***


Via tersenyum ketika suaminya menyendokkan makanan untuknya. la sangat bahagia, karena Rayhan begitu perhatian kepadanya.


Sungguh beruntung sekali dia menemukan pria tampan dan kaya raya seperti Rayhan. Namun kenapa harus ada musuh diantara mereka. Mungkin sebagai pemanis dalam bumbu cinta mereka.


Rayhan yang hendak menyendokkan makanan ke mulut istrinya terdiam, dan menatap Via dengan wajah serius.


"Kenapa, Sayang? Memikirkan apa?"


Via menggelengkan kepalanya. Tuh kan,kata-katanya saja sangat lembut dan juga penuh dengan kasih sayang.


Setelah mereka baikkan dengan kesalahpahaman yang dulu terjadi,Rayhan sangat perhatian kepadanya.


Bahkan tergores sedikitpun saja,pasti pria itu akan menyalahkan dirinya sendiri. Sangat romantis bukan?


"Via!" Panggil Rayhan menggunakan nama.

__ADS_1


"Iya, Ray. Kenapa?" Jawab Via kembali bertanya.


"Dari tadi kamu diam."


"Oh itu, hanya memikirkan kisah kita yang dulu, Ray. Romantis, ya?Dengan drama yang sangat natural sekali."


"Drama"


"Iya. Drama yang seperti berada di akhirnya menemukan bidadarinya."


"Kamu peri kecilku, Sayang."


"Seandainya aku bukan peri kecilmu. Pasti sampai saat inibkamu akan membenciku, Ray.


Bahkan, menyiksaku."


"Tapi kalau kamu memang takdirku, bagaimana?" Tanya Rayhan kembali bertanya.


Via menghela napas panjang. "Iya,Ray. Misalnya aku bukan peri kecil itu? Kamu akan menikah dengannya? Dan mencampakkan aku?"


"Memikirkan hal yang tidak perlu,jangan dijadikan beban, Via.Semua itu tidak akan terjadi."


"Maksudnya. Kalau aku bukan peri kecil kamu, Ray?" Tanya Via kembali dan ingin diberikan jawaban.


"Aku memang akan menceraikan kamu waktu itu, kalau kamu bukan peri kecilku. Aku hanya menginginkan gadis kecil yang menolongku. Bukan perempuan lain."


Sebenarnya, Via sakit hati mendengarnya. Namun, tidak ada alasan dirinya untuk marah. Dan dia juga peri kecil yang ditakdirkan Tuhan untuk Rayhan. Sungguh indah sekali kisah mereka berdua,walaupun banyak cobaan yang menghampirinya.


"Ingin marah? Coba bersuara?"


Via tertawa kecil, sambil mengatakan hal tersebut. Lantas,kembali menerima makanan dari suaminya.


"Ray! Seandainya kamu bisa mengalahkan Raja. Kamu akan memberikan hukuman apa kepadanya?"


"Sejak awal aku memang sudah mengalahkannya, Sayang."


"Tapi dia belum ingin berhenti,kan?" Ujar Via yakin, bahwa Raja adalah orang yang keras kepala.


"Iya. Istriku terlalu cantik, hingga dia ingin merebutnya dariku."


Wajah Via merona. Suaminya ini memang ada-ada saja. Namun,beneran kok dirinya cantik dan juga manis.


"Kamu memang cantik, Sayang."


"Kamu juga tampan, Ray."


Ceklek.


Suara pintu terbuka. Menampilkan Alfredo yang kini tiba-tiba datang sendirian untuk menjenguk putrinya itu, yang katanya sedang sakit dan ada kejadian yang membuatnya seperti ini.


"Maaf, kalau Papa menganggu.Papa akan tunggu di luar." Ketika hendak menutup pintu kembali,Via langsung menghalanginya,dengan memanggil papanya kembali.


"Masuk, Pa. Papa tidak menganggu Via sama sekali."


Alfredo dengan gugup menganggukkan kepalanya, dan langsung masuk ke dalam,walaupun ia sebenarnya sedikit risih dengan tatapan Rayhan yang tertuju kepadanya.

__ADS_1


"Papa bawa apa? Via mau dong."


Dengan senyum cerah, wanita itu mengambil kresek yang dibawa oleh papanya.


"Papa membawa buah apel, Via.Kamu suka kan dengan buah Apel?"


Via menganggukkan kepalanya.Dia mengambil Apel merah dan memberikannya kepada Rayhan untuk dikupas.


Via mencoba memperhatikan ke belakang papanya, namun tidak ada seorang pun yang menyusul.


"Pa! mama tiri kemana?" Tanya Via penasaran. Biasanya akan sangat senang bertemu dengannya.


Namun dalam konteks yang berbeda, senang melihatnya menderita dengan kata-katanya yang menyakitkan.


Alfredo terlihat menghela napas panjang. "Papa akan bercerai dengannya. Dia berselingkuh di belakang Papa."


Via menatap papa nya dalam yang kini terlihat lebih kurus dan juga tatapannya yang sayu tidak seperti dulu.


"Pa! Lebih dekat dengan Via."


Dengan berat hati pria paruh baya itu mendekat ke arah putrinya. Via tiba-tiba memeluk papanya dengan erat.


"Papa jangan sedih, ya? Kan, ada Via yang selalu sayang kepada Papa. Asal Papa tahu, Via nggak suka lihat Papa sedih."


Alfredo meneteskan air matanya. Bahkan sangat jarang ia melakukan hal itu, dirinya hanya malu kepada putrinya yang selalu berusaha menjadi anak terbaik untuknya.


Namun dirinya malu, karena tidak bisa menjadi sosok ayah yang baik untuk putrinya.


"Papa ingin mengembalikan perusahaan yang dulu Papa kuasai, dengan persyaratan pernikahan kamu dengan, Nak Rayhan."


Via menyeka air mata papanya dengan tisu dengan hati-hati.


"Pa! Semua itu milik Papa. Apapun yang terjadi dulu, biarlah berlalu."


"Semuanya ada hikmahnya, Pa.Dengan hal itu terjadi,ternyata membuat Via bertemu dengan cinta sejati Via."


"Maafkan Papa,Via. Hanya kamu yang Papa punya sekarang. "


"Papa jangan sedih. Papanya Via itu sangat kuat."


Rayhan hanya memperhatikan itu dalam diam. Dia juga bahagia melihat istrinya tersenyum dan berdamai dengan papanya.


"Nak Rayhan."


"Saya juga berterima kasih kepada Papa, yang mempertemukan saya dengan Via, istri kesayangan saya."


Via tidak salah dengar. Rayhan memanggil Papa kepada papanya dan untuk pertama kalinya.


"Ray," lirih Via dengan tatapan yang tertuju kepada suaminya.


"Papa kamu juga papa aku sayang.Jangan mempertanyakan hal tersebut."


"Makasih, Ray. Aku mencintaimu."


"Aku juga mencintaimu."

__ADS_1


__ADS_2