Istri Kesayangan Tuan Muda Arrogant

Istri Kesayangan Tuan Muda Arrogant
62. Menyelesaikan Masalah dan Teror


__ADS_3

"Sudah sayang, jangan menangis. Aku berjanji akan selalu menjagamu."


Setelah bangun dari pingsannya seharian, istrinya akhirnya membuka matanya namun langsung histeris dan memeluk pria itu dengan sangat erat.


Via takut dan sungguh trauma dengan botol itu, yang berisi cairan kental berwarna merah dan berbau amis.Rayhan mengusap punggung sang istri dengan lembut.Dia menghela napas pelan dan mengecup pucuk kepala wanitanya dengan sayang agar Via yakin kepadanya,bahwa dirinya akan selalu ada di dekatnya.


"Ray! Sebenarnya ada apa?"tanya Via dengan tatapan polos dan juga penasaran dengan apa yang terjadi.


Tidak mungkin Rayhan menceritakan semua kekacauan ini. Dia tidak ingin Via banyak pikiran, dan juga nantinya semakin ketakutan karena penjelasannya.Bukan maksud dirinya untuk menyembunyikan apapun dalam pernikahan ini, namun ini demi kebaikan istrinya.


Melihat suaminya melamun dan terdiam, Via mengerenyitkan dahinya bingung, pasti ada sesuatu yang disembunyikan namun enggan untuk memberitahinya.


"Ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari aku, ya?" tanya Via memicingkan matanya curiga dan melepaskan pelukannya dari Rayhan.


"Semua itu teror dari rekan kerjaku, Via. Jadi, kamu jangan memikirkannya, semuanya telah diselesaikan dan tidak akan ada lagi hal yang perlu ditakuti,bahkan dikhawatirkan."


Via bernapas lega mendegarnya,dia menganggukan kepalanya dan tersenyum menatap suaminya itu.


"Maaf! Karena aku menyusahkanmu, Ray."


"Iya, Sayang. Kamu segalanya untukku, Via. Apabila terjadi sesuatu kepadamu, maka aku yang akan paling merasa bersalah dan sangat menyesal."


"Iya, Ray sayang"


***


Mafia. Satu hal yang ada di benak Rayhan sekarang. Bagaimana bisa,dia bergabung dengan komunitas itu,yang bahkan sangat kuat dan memiliki koneksi penjahat kejam di seluruh dunia.


Keluraga Rayhan, telah sejak dulu tidak ingin berurusan dengan mereka, walaupun memang sama cara mainnya dengan kekejaman.


"Tuan muda, kita tidak akan bisa dengan mudah untuk menemukannya, karena dia bahkan menduduki kursi penguasa sekarang di dunia bawah."


Rayhan butuh waktu untuk membalas perbuatan mereka, karena mereka buka orang sembarangan dan satu hal yang membuat pria itu tidak ingin berurusan dengan mafia, karena mereka sangat licik.


"Semua sistem keamanan hampir diretas dan dihancurkan.Saya sudah memanggil ahli teknologi perusahaan untuk mengatasinya," ucap Glen menjelaskan dengan menundukkan kepalanya.


"Apa yang sebenarnya mereka inginkan, Glen?" tanya Rayhan,karena keluarganya tidak memiliki urusan apapun dengan dunia bawah,sekalipun dari bertahun-tahun lamanya.


"Untuk informasi yang saya dapatkan, Tuan Muda. Mereka ingin mengirim botol ancaman tersebut, untuk menakuti dan agar Tuan Muda waspada terhadap kejadian besar yang akan terjadi selanjutnya."


Rayhan menggepalkan tangannya,mereka ingin melawannya.Walaupun, kekuatan mereka sekarang sebanding.Namun, Rayhan tidak yakin, kalau mereka tidak berbuat licik dengan tipu daya yang sangat berpengaruh itu.


"Tuan Muda, dilaporkan oleh salah satu ketua anak buah, bahwa jumlah mereka terlampau banyak untuk tahun ini, yang masuk ke dalam dunia bawah dan berlatih untuk menjadi yang terkuat."


"Kita akan bertindak, setelah ketuanya tidak menjadi pengecut yang bersembunyi dari kata anak buahnya yang banyak itu."


***


Mira memperhatikan ponselnya yang sekarang tidak nyala sedikitpun. Apakah Glen lupa,akan mengabarinya selalu setiap hari, ini tidak sama sekali untuk kemarian maupun hari ini.


"Dasar laki-laki tidak menepati janji, katanya ingin berjuang dalam hubungan ini, namun dia sendiri yang mengingkari janjinya."


Ketika Mira hendak berbaring untuk tidur, ponselnya bergetar namun ketika dicek bukan Glen yang menelpon, akan tetapi nomor asing entah dari negara mana.


Dia mengigit bibir bawahnya,karena enggan untuk mengangkatnya,namun naluri hatinya berkata harus diangkat.Mira menarik napas panjang ketika ponsel telah berada di telinganya.


"Siapa?" tanya Mira hati-hati.


"Lo Mira, kan?" tanya orang asing itu.


Mira langsung terdiam sejenak dan akhirnya sadar dengan suara di seberang sana. Itu suara sahabatnya yang lama menghilang,yakni Raja. Siapa lagi kalau bukan bocah tengil itu.


"Astaga, Raja. Setelah sekian purnama, lo akhirnya menelpon gue. Lo hilang kemana aja, sih? Mentang-mentang kuliah di luar negeri jadi lupa sahabat. Oh ya,terima kasih lo kasih gue sama Via kalung waktu itu."


"Lo memang nggak pernah berubah, Mir. Selalu saja cerewet."


Mira terkekeh mendegarnya, ia hanya senang saja karena sahabatnya, akhirnya kembali berbicara dengannya, walaupun lewat ponsel karena berada di kejauahan.


"Gimana keadaan lo dengan Via? Baik, nggak?"


"Baik dong, semenjak nggak ada lo semakin baik."


"Gue penganggu gitu?" tanya Raja di seberang sana, karena tidak suka dengan perkataan Mira.


Namun karena mendengar suara Mira yang tertawa, membuatnya mengurungkan niatnya untuk marah ke gadis itu. Raja harus sabar, dengan kelakukan sahabatnya itu.


"Bukan alasan itu, Ja. Kita berdua kan sudah punya pasangan masing-masing. Dan lo jomblo, jadi pastinya pasangan kita akan setiap saat cemburu sama lo."


"Lo udah punya pacar?" tanya Raja, karena sejak dulu katanya Mira tidak ingin pacaran sebelum sukses, ternyata menyerah juga dengan kisah asmara yang sangat manis.


Mira menghela napas pelan, walaupun ia terpaksa sebenarnya pacaran dengan Glen, namun memang pria itu sekarang kekasihnya. Dan Mira, sudah mulai nyaman dengan Glen yang super sibuk dan cuek itu.


"Iya, sekretaris tuan muda yang tampan dan kaya raya itu, loh."

__ADS_1


Lama Raja terdiam di sana, hingga terdengar hembusan napas kasarnya.Mira juga menunggu reaksi Raja, namun laki-laki itu tidak terkejut sedikitpun.


"Mir! Gue akan secepatnya pulang ke Indonesia. Hanya itu dari gue. Jaga diri baik-baik begipun dengan Via. Gue tutup dulu."Sambungan telepon terputus.


"Akhirnya Raja kembali. Pasti Via seneng mendengarnya. Kita bisa kumpul bareng lagi."


"Gue doakan lo nggak jomblo lagi, Ja."


Suara ketukan pintu kamarnya terdengar. Mira langsung bangkit dan mendekati pintu.


"Ada Glen di depan."


Mira menghela napas pelan dan tersenyum. Dia berjalan menuju ke ruang tamu, di sana sudah ada


Glen yang kini menatapnya datar dan juga terlihat marah.


Bukannya, dirinya yang harus marah? Kenapa dia. Aneh sekali Glen ini.


"Maaf! Tadi aku di dalam kamar sedang....


"Sibuk telponan dengan pria lain?"Ungkap Glen tiba-tiba, membuat Mira mengerenyitkan dahinya


bingung dengan penuturan pria itu.


"Maksud kamu apa, Glen? Ya! Memang benar aku habis telponan tadi dengan...


"Kamu tidak pandai berbohong, Mira. Jadi, jangan


menyembunyikan sesuatu dariku. Aku tidak menyukainya."


Mira menarik napas panjang dan meredam emosinya. Dua kali, pria itu memotong pembicaraannya.Dasar laki-laki emosian dan posesif. "Aku telponan dengan Raja, sahabatku. Kamu pasti mengingatnya, kan? Jadi, jangan


pernah memfitnahku yang tidak-tidak. Salah kamu sendiri juga, yang hilang tidak ada kabar."


"Sudahlah! Berbicara denganmu hanya membuatku emosi. Kalau kamu tidak percaya, terserah padamu saja. Aku lebih baik pergi."


Mira hendak bangkit dari tempatnya, namun Glen langsung memegang tangannya dengan erat,dan memberikan kode agar duduk kembali.


Karena tidak berani dengan Glen, akhirnya Mira mematuhinya.


Wajah pria itu juga terlihat sangat menyeramkan, dan berhasil membungkamnya yang keras kepala.


"Apa yang kalian bicarakan? Jelaskan semuanya kepadaku, Mira."


"Jangan pernah berdekatan dengannya kembali, Mira. Aku tidak menyukainya."


Sudah Mira duga akan seperti ini. Selain prosesif, memang Glen itu tukang ngatur dan tidak bisa dibantah, namun kali ini ia tidak ingin diatur-atur. Cukup sudah! Dia ingin bebas.


"Terdiam, hmm? Rencana apa yang kamu pikirkan di kepala cantikmu itu?"


"Aku ingin mengakhiri hubungan ini saja. .Jangan menganggu hidupku lagi, Glen."


"Coba katakan sekali lagi, Sayang?"ucap Glen dengan nada tenang namun menusuk, dan mampu membuat Mira menahan napas dan ketakutan dengan raut wajah Glen yang menyeramkan.


"Ak-aku ingin kamu menjauh dariku. Sudah, kan? Sekarang pergi dari rumahku!"


"Siapa yang membuatmu seperti ini, Mira? Karena sahabat mu itu? Raja?"


"Tidak! Memang sejak awal hubungan kita tidak sehat. Aku tertekan berada di dekatmu. Dibalik kesombongan mu itu, juga tersimpan kekejaman yang tidak manusiawi."


Mira telah melihat semuanya. Bagaimana, Glen menyiksa perempuan yang membuli Via hingga gadis itu sekarat dan sekarang masih terbaring di rumah sakit, mungkin hanya menunggu ajalnya saja.


Mereka tidak memandang siapapun itu. Baik perempuan maupun laki-laki. Yang terpenting hukuman harus dilaksanakan.


"Cukup Via, sahabatku yang menikah dengan tuan muda. Tidak denganku! Aku tidak sekuat Via. Dan kalian juga, menyembunyikan rahasia kekejaman kalian ke Via.Bahkan, hingga detik ini, Via tidak mengetahui betapa kejamnya tuan muda, kan?"


"Mira...


"Sudah cukup, Glen! Aku takut kepadamu karena kau bisa saja membunuhku. Tapi, tidak untuk sekarang. Aku lebih menikmati hidupku tanpa aturan darimu."


Glen menggepalkan tangannya.


"Dan memilih membela Raja, hmm? Bagus sekali pemikiran otak cantikmu itu. Kau belum tahu siapa Raja sebenarnya, Mira.


Hingga aku ingin menjauhkanmu darinya untuk saat ini. Dia bahaya, Mira!!"


"Sahabatmu itu terlihat sangat polos dan penurut. Namun, tidak sampai di sana. Sesuatu besar yang


tidak bisa dibayangkan oleh otakmu itu, terjadi dibelakang kalian berdua."


"Maksud kamu apa, Glen?"


"Sahabatmu yang kau bela mati-matian itu adalah orang yang berbahaya, Mira."

__ADS_1


"Dia pulang bukan untuk bertemu kalian. Namun lebih tepatnya membuat kalian dalam bahaya."


Tubuh Mira tampak linglung mendengarnya. Bagaimana bisa,Glen memiftnah Raja sekejam itu.


Gadis itu menggelengkan kepalanya, dan menghempaskan tangan Glen yang menghalanginya


jalannya.


"Jangan bertemu denganku lagi!"


Semua itu tidak berlangsung lama,ketika dengan cepat tangan Glen berhasil memeluk pinggang Mira


dengan paksa, dan memberikannya obat bius hingga


gadis itu tidak bisa berontak dan menutup matanya."Pekerjaanku tidak bisa selesai, sebelum aku mengamankanmu, Mira. Kita pergi sekarang!"


Glen menggendong Mira dan membawa gadisnya itu pergi jauh dari rumahnya, sebelum orang tuanya mengetahuinya.


"Gadisku memang kerasa kepala. Hingga terpaksa aku bermain aman, membuatmu pingsan selama dua hari. Ide yang bagus,bukan?"


***


Via menghela napas berat, setelah melihat ponselnya berulang kali karena tidak ada balasan chat dari Mira, sahabat nya itu. Dia kan ingin curhat dengan keadaannya selama beberapa hari ini.


Rayhan menyita ponselnya selama sakit, jadi hari ini dirinya akan menyampaikan sesuatu kepada


Mira.


Tapi, sejak tadi tidak ada balasan apapun dari Mira. Bahkan, Via menelpon Mira namun tidak diangkat dan sekarang tidak aktif.


"Huh! Kemana Mira? Apakah tertidur? Nggak mungkin selama ini. Perasaan dari tadi siang,hingga malam hari."


Pintu kamarnya terbuka lebar, Rayhan masuk ke dalam dan kini mendekatinya yang tampak bersedih.


"Kenapa, Sayang?" Tanya Rayhan mengusap lembut tangan sang istri.


"Dari tadi aku menelpon Mira, tapi tidak diangkat. Apa Mira baik-baik saja, ya? Soalnya, tumben dia


hilang gini."


"Ray! Coba tanya Glen. Apakah dia mengetahui keberadaan sahabatku itu."


Rayhan menghela napas pelan,dan menuruti kemauan istrinya itu. Walaupun sebenarnya, ia mengetahui apa yang telah terjadi,bahwa Glen menyembunyikan gadisnya itu untuk sementara


waktu, selama berhadapan dengan orang berbahaya itu.


Namun, untuk saat ini Rayhan belum mengamankan Via, karena tidak ingin wanitanya itu curiga dan mengetahui betapa kejamnya seorang Rayhan yang dijuluki tuan muda penguasa itu.


"Kok melamun, Ray? Panggilkan Glen sekarang


"Iya, Sayang.


"Glen! Masuklah!" Perintah Rayhan dengan tegas. Pria itu masuk ke dalam kamar tuan muda dengan tubuh yang kokoh dan juga terlihat sangat tegas.


"Glen! Kau tahu dimana Mira? Tadi, kerumahnya, kan?"


"Iya, Nyonya. Mira dalam keadaan baik, dia sekarang sedang beristirahat di rumahnya."


Via merasa lega mendengarnya. Glen pun diizinkan untuk melanjutkan pekerjaannya.


"Sudah, Sayang. Sekarang istirahat yang cukup. Jangan memikirkan sesuatu."


"Mira sahabatku, Ray. Aku hanya tidak ingin dia dalam bahaya. Mira sudah ku anggap seperti saudara kandungku."


"Dia akan selalu aman dalam genggaman Glen, Sayang." Bahkan kurungan yang dibuat asistennya itu, lanjut Rayhan dalam hatinya. Memang kedua pria itu tidak ada bedanya. Hanya saja, Mira telah


mengetahui betapa kejamnya Glen hingga ketakutan setiap kali ditatap oleh pria itu.


Namun tidak dengan Rayhan.Hingga saat ini masih


merahasiakan semuanya kepada Via, agar wanitanya selalu nyaman dengannya.


"Ray! Kamu tidak menyembunyikan apapun kan,


dariku? Entah mengapa perasaanku beda saja."


"Tidak ada, Sayang. Mungkin hanya perasaanmu saja yang terlalu khawatir."


"Tapi, kamu tidak pernah membunuh orang, kan? Atau menyiksa orang dengan kejam gitu."


"Tidak! Hanya memberikan hukuman sesuai dengan prosedur negara, Sayang. Misalnya masuk penjara dan lainnya."


Via menganggukkan kepalanya dan sangat percaya kepada suaminya. "Jangan kejam-kejam, Ray. Nanti aku takut kepadamu."

__ADS_1


__ADS_2