Istri Kesayangan Tuan Muda Arrogant

Istri Kesayangan Tuan Muda Arrogant
14. Rahasia yang Disembunyikan


__ADS_3

"Pelan-pelan, Bik. Sakit!" Sedari tadi Via meracau karena pergelangan tangannya berdenyut nyeri.


Bibi tua tengah mengobatinya di ruang tengah. Via duduk berhadapan dengan wanita tua itu, yang kini dengan sangat hati-hati mengobatinya.


"Tuan Muda sangat jahat, Bibi Tua. Saya..."


"Nyonya, setiap kesalahan pasti ada sebabnya."


Via menghela nafas mendengarnya. Ya, memang dirinya pembangkang dan keras kepala.


"Tapi tidak dengan perlakukan kasar. Kan, sakit."


"Patuhi segala perintah tuan muda, Nyonya."


Via mengangguk dan memegang pergelangan tangannya ketika telah selesai di obati dan di urut sedikit.


"Makasih, Bibi Tua."


"Iya. Sekarang Nyonya mau Bibi buatkan sarapan apa?"


"Seperti biasa, Bi."


"Buatkan dia susu, Bi!!"


Via berbalik dan menatap datar kehadiran pria itu di samping mereka. Mau apa lagi dia?


Mengaturnya kembali, setelah menyakitinya semalam.


"Baik, Tuan Muda."


Bibi tua segera pergi menjalankan tugasnya membuatkan susu untuk Via.


"Saya bukan anak kecil!"


Rayhan tidak memperdulikan protesnya.Menyebalkan! Via hanya suka kalau dia sakit,kalau sehat seperti sekarang, dia tidak mau.


"Ini, Nyonya!" Bibi Tua menaruh segelas susu yang telah siap dan hangat di hadapan Via.


Via menatap nanar susu itu dan menggelengkan kepalanya.


"Biar saya bantu, Nyonya." Melihat Via yang meringis ketika hendak meminum susu, Bibi tua merasa iba melihatnya.


"Bibi, boleh pergi!" perintah Rayhan. Membuat pergerakan bibi tua berhenti.


"Saya pamit, Tuan Muda, Nyonya."


Via tersenyum dan mengangguk. Namun sekarang ia beringsut mundur ketika Rayhan mendekatinya. Ia tidak ingin Rayhan menyakitinya lagi.


Cukup rasa sakit yang semalam. Membuat Via belajar dari kesalahannya.


"Minum!" tegas Rayhan dingin.


Via mengangguk. Ketika ia ingin kembali minum susu itu, Rayhan lebih dulu menjangkaunya dan


menaruh ujung gelas di depan mulutnya.


Pandangan mereka begitu dekat. Namun Via tidak ingin terhanyut, ke dalam bola mata kelam yang


Rayhan pancarkan yang akan membuatnya terlena nantinya. Via menyeruput susu perlahan.


Namun lidahnya terasa aneh dengan rasa yang susu itu alirkan ke tenggorokannya.


"Habiskan, Via!" Suara dingin dan penuh penekanan itu kembali bersuara sembari memegang gelas di mulut Via.


Via mengangguk dan menghabiskan susu itu, hingga ia hampir kehilangan nafas. Karena Rayhan sangat memaksanya.


"Sudah."


Rayhan menaruh gelas yang telah kandas di atas meja. "Jadilah gadis yang penurut."


Via menganggukkan kepalanya.


"Terima kasih, Tuan Muda." Seperti biasa. Rayhan tidak menanggapinya. Via menundukkan kepalanya. Sebentar lagi ia akan berangkat kuliah.


Namun pria ini berada di samping nya. Bagaimana Via bisa pergi?


**


"Katanya tadi mau nganter gue kuliah. Tapi sekarang hilang." Via berjalan menuju ruang kerja Rayhan untuk memanggilnya. Via telah siap dengan tas berada di punggungnya. Kalau Via berangkat sendiri, nanti sepulang kuliah dia akan dihukum.


"Aku telah memberikan banyak waktu untukmu,menemukan peri kecilku, Glen. Apa yang kamu kerjakan selama ini?!"


Dapat Via dengar pembicaraan mereka dari luar ruangan yang tidak tertutup dengan rapat.


"Maafkan saya, Tuan Muda. Gadis kecil yang Tuan Muda cari. Sepertinya tidak berada di daerah ini."


"Apa yang kau katakan, Glen?!" bentak Rayhan.


"Peri kecil?" gumam Via terkejut mendengarnya. Jangan bilang, pria kejam itu mencari peri kecil


yang telah bertumbuh dewasa? Ini kesempatan untuk Via. Kalau Rayhan menemukan peri kecilnya.


Maka dia akan diceraikan dan segera dibuang. Pokoknya Via harus menemukannya.

__ADS_1


Sebelum Rayhan keluar dari ruangan. Via segera berlari masuk kembali ke dalam kamarnya seperti tidak terjadi apapun.


Tak lama kemudian. Rayhan berteriak memanggilnya. Via jadi bingung, apa urat leher pria itu tidak sakit? Berteriak sepanjang hari.


Via keluar dari kamar mereka dan sekarang memperhatikan Glen dan Rayhan telah menunggunya.


Untung wajah Glen tidak babak belur seperti kemarin. Kan, terlihat menyeramkan.' Bukan karena Via suka dan peduli dengan Glen.


Namun hanya kasihan dan iba saja.


Via membuntuti Rayhan menuruni anak tangga keluar dari pintu utama. Namun sepanjang melangkah, Via merasa gelisah dan khawatir. Kalau Rayhan mengantarkan nya ke kampus.


Nanti masyarakat kampus akan membuat berita trending topik mengenai dirinya.


"Masuk!" perintah Rayhan dingin.


Via segera masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Rayhan.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Rayhan sibuk dengan ponselnya dan Via hanya memperhatikan jalanan yang mereka lalui.


"Tuan Muda."


"Ada apa denganmu?" tanya Rayhan.


"Hem, jangan turun di depan kampus, ya?" pinta Via memelas.


"Glen! Turunkan gadis ini di depan fakultasnya!!"


Mata Via melebar sempurna. Dia bilang di depan fakultasnya? Jadi, masuk dong ke dalam gerbang


kampus.


Via ingin protes. Namun ia tidak ingin menanggung akibatnya semakin dalam. Pasti Rayhan akan semakin mempermalukan nya.


***


Via bernafas lega ketika Rayhan tidak menurunkannya di depan kampus. Namun membuangnya berjarak hampir 1 kilometer dari


tempatnya menuntut ilmu.


"Gak apa-apa, gue jalan kaki sejauh ini. Tapi gak jadi bahan trending topik."


Via segera mempercepat langkahnya sembari memegang tas punggungnya, karena bergoyang


ketika dia hendak berlari.


Via menghabiskan beberapa menit sehingga telah tiba di kampus. Nafasnya tersengal karena berlari.


Namun matanya kembali melotot dengan jantung yang berdetak sangat kencang ketika di depan nya telah berkumpul banyak mahasiswa mengerubungi sebuah mobil, yang Via tahu itu adalah mobil yang mengantarkannya. Jangan bilang. Pria itu sengaja


membuangnya dan membuatnya lelah. Berakhir memalukannya.


"VIA!" teriak Mira menghampiri Via bersama dengan Raja.


Aduh! Ada mereka. Kan Via sudah berjanji untuk menjauhi mereka berdua. Tapi ia tidak tega melakukan nya dan tidak bisa. Ah! Via tidak mau diperintah.


"Lo nggak ke sana?" Mira menunjuk kerumunan itu.


"Kenapa emangnya?" tanya Via polos.


"Kan hari ini akan diadakan stadium general. Nah pengisi acaranya adalah donatur terbesar kampus ini."


Bentar! Jangan bilang yang mereka masud adalah Rayhan Crowel.


"Lo tahu tuan muda, yang tampan dan kaya raya itu? Ya, kalau gak salah sempat kita melacak keberadaan ponsel lo di sana. Sekarang ada di kampus." Mira berteriak histeris.


Via langsung membekap mulut Mira agar tidak memancing semua orang memperhatikan mereka.


"Jangan malu-maluin!"


"Hem, papa sita ponsel gue. Jadi, mungkin papa kesana untuk membicarakan kerjasama."


Mereka mengangguk dan percaya seperti biasanya.


"Tapi, ketika lo dikejar itu siapa? Kan dekat sama rumah besar tuan muda Rayhan Crowel."


"Gue kan larinya ke sana. Karena sepi. Jadi gak ada sangkut pautnya dengan dia."


"Kenapa bahas ini? Kita langsung masuk aja ke dalam auditorium."


Mereka berdua mengangguk. Dan mengikuti segerombolan mahasiswa yang sekarang memenuhi auditorium.


***


Sedari tadi Via menunduk ketika pandangan tajam Rayhan menghunus indra penglihatan nya.


Berbeda dengan para mahasiswa yang bersorak dan bertepuk tangan ketika mendengarkan motivasi


dari Rayhan.


Mereka belum tahu saja. Pria itu sangat kejam dan juga jahat. Via menyembunyikan pergelangan tangannya agar kedua sahabatnya tidak curiga.


"Ada yang ingin ditanyakan kepada Tuan Muda Rayhan?" Suara pembawa acara terdengar antusias.

__ADS_1


"Apakah Tuan Muda telah memiliki seorang kekasih?" tanya mahasiswi itu.


Via menatap Rayhan dalam karena ingin mendengarkan jawabannya.


"Sudah!"


Via sontak menganga mendengarnya. Bukannya Rayhan merahasiakan pernikahan itu?


Jangan-jangan Rayhan akan mempermalukannya.


"Sayangnya telah memiliki seorang Istri."


"Beruntung banget yang menjadi istri tuan muda. Pasti dia gadis yang sangat cantik dan juga cerdas."


"Iya, jadi penasaran."


"Pernikahan yang dirahasiakan Sepertinya."


"Keluarga Crowel sangat berkuasa."


"Bahkan bokap gue aja, memberikan peringatan agar tidak membuat masalah dengan tuan muda Rayhan."


Mungkin mereka nanti tidak sengaja menabraknya ketika keluar dan lainnya. Pokoknya harus dihindari karena bahaya.


"Dia sangat cantik dan juga cinta pertama saya."


Dan bukan Via yang Rayhan maksud. Via sadar diri. Karena yang Rayhan harapkan kembali kepadanya hingga saat ini adalah peri kecilnya.


Suara sorakan terdengar memenubhi auditorium. Berbeda dengan Suasana hati Via yang merasa sendiri di ruangan luas ini. Seakan dia tidak dikelilingi oleh suara nyaring mereka.


Via tersentak dan membekap kedua telinganya, membuat Mira dan Raja cemas melihatnya.


"Vi! Lo kenapa?" tanya Mira.


Via mengangkat wajahnya dan menggelengkan kepalanya.


"Gak ada. Hanya nggak nyangka aja tuan muda yang digemari semua mahasiswa telah memiliki istri."


Mira mengangguk. "Via! Sebenarnya sedari tadi gue mau bertanya mengenai hal ini."


"Kenapa?"


Mira menatap Raja sekilas dan mulai berbicara. "Kita berdua lihat. Dari tadi, tuan muda Rayhan


natap lo begitu dalam hingga beliau menuruni panggung."


Tubuh Via menegang. Jadi semua itu tidak luput dari perhatian mereka? Sekarang bagaimana Via menjelaskan nya kembali.


***


"Tuan Muda, telah mengakui nyonya menjadi bagian hidup,


Tuan Muda?" tanya Glen.


Glen juga begitu terkejut ketika mendengar tuan muda mengatakan telah memiliki seorang istri. Pasti ini akan trending topik dan menjadi incaran paparazi di luar sana.


"Kau mengerti apa yang dimaksud, Glen."


Glen menghela nafas pelan. Mendadak terbesit rasa kasihan dengan Via. Gadis itu bahkan tidak dianggap apapun di hidup tuan muda.


"Dia bukan siapapun di hidupku!"


"Semoga tuan muda bisa memegang ucapannya, suatu hari nanti!' batin Glen.


"Gadis kecil yang kau cari. Sangat berarti dalam hidupku, Glen."


"Tuan Muda, akan menceraikan nyonya setelah gadis kecil Tuan Muda ditemukan ?"


Lama Glen menunggu jawaban dari Rayhan. Namun ketika melihat Rayhan mengangguk, membuat Glen tidak bisa menentangnya.


"Apapun akan ku lakukan. Termasuk menentang keputusan orang tua ku."


**


"Vi! Lo belum jawab pertanyaan kita dari tadi. Lo punya hubungan gitu sama tuan muda Rayhan? Atau lo kenal gitu?" tanya Mira masih penasaran hubungan Via dengan pria itu.


"Mungkin dia pernah lihat gue sama papa. Kan mereka kerjasama. Makanya di natap gue seperti itu."


"Via! Gue tahu lo menyembunyikan sesuatu dari kita berdua. Lo gak pandai bohong, Vi."


"Kalian ada hubungan spesial, kan?"


'Dia suami gue. Dia hanya mempermainkan gue. Dia banyak nyakitin gue dan dia ngancem gue buat jauhi kalian.'


Sayangnya, Via belum siap bersuara. Via belum sanggup menceritakan semuanya. Cukup dari dulu dia menyusahkan mereka berdua karena masalahnya. Dibenci oleh Alfredo. Dipaksa menikah. Alfredo lebih memilih perusahaannya dan sekarang Via hidup menderita disiksa setiap hari oleh suaminya sendiri. Dan sialnya! Orang yang mereka


katakan malaikat itu adalah iblis yang menyamar untuk memanipulasi mereka semuanya.


"Gue akan cerita diwaktu yang tepat." Via pergi dari hadapan mereka.


"VIA!" teriak Mira memanggil Via.


Namun Via tidak menoleh sedikitpun ke arah mereka.

__ADS_1


__ADS_2