Istri Kesayangan Tuan Muda Arrogant

Istri Kesayangan Tuan Muda Arrogant
46. Semakin Mencintai


__ADS_3

Semua atensi mahasiswa tertuju kepada mobil mewah yang terlihat mengkilap dengan dua mobil pengawal di belakangnya. Ada yang menganga dan ada juga yang melirik sekilas,namun kembali masuk ke dalam kampus, walaupun sebenarnya terpukau, tapi mereka tak ingin memperlihatkannya.


"Kenapa?" tanya Rayhan ketika melihat Via menggigit bibi bawahnya karena malu menjadi tontonan gratis para mahasiswa yang belum mengetahui bahwa dirinya adalah nyonya muda keluarga Crowel.


Via menoleh ke arah Rayhan yang sekarang menatapnya datar.


"Tidak ada! Hanya tak enak saja mengangguk perjalanan mereka, karena kita membuat mereka tak bisa berkedip."


"Biasakan dirimu, Sayang. Itu adalah hal yang wajar mulai saat ini."


"Tapi aku.."


"Sebentar lagi aku ada meeting. Belajarlah dengan giat! Dua pengawal seperti biasa akan mengawasimu dari kejauhan, dan melapor kepadaku. kegiatanmu selama di kampus "


"Iya, aku sudah terbiasa adanya pengawal di sisiku seperti dulu, kan?"


Rayhan perlahan mendekati Via dan mengecup kening nya. Membuat wanita itu mengulas senyum dan semangat untuk belajar.


"Aku pergi!" ucap Via. Rayhan mengangguk, lantas membuka kunci otomatis mobil itu.


Via akhirnya keluar dengan wajah yang terlihat sangat cantik seperti tuan putri.Membuat semua mahasiswa terperangah dan hampir menjatuhkan perlengkapan belajarnya yang sedang mereka bawa ditangannya.


Untung segera ditahan nya. Wanita itu melambaikan tangannya, ketika mobil Rayhan menutup kaca jendela dan pergi dari hadapannya.


"Bukannya.. itu mahasiswi jurusan ekonomi, kan?"


"Iya, gue pernah liat. Tapi pas dia gak dandan dulu."


"Ada hubungan apa sebenarnya mereka?"


"Lo ngak tahu, yang di dalam mobil itu tuan muda Rayhan, bodoh! Donatur terbesar di kampus ini."


"Iya, tuan muda yang sangat kaya raya itu, kan?"


"Mungkin dia istri nya."


Via tidak menggubris semua perkataan mahasiswa yang membicarakannya.Wanita itu mengambil langkah panjang dan segera meninggalkan mereka karena tak ingin mendengar lebih jauh pembicaraan mereka.


Tidak berselang lama. Via akhirnya sampai di kelas nya yakni lantai dua untuk mata kuliah bisnis hari ini.


Sudah Via duga, mereka juga akan menatapnya sama dengan mahasiswa yang berada di gerbang. Terkejut, tak habis pikir dan ekspresi aneh lainnya.


Wanita itu langsung menghampiri Mira yang juga menganga menatapnya.


"Lah, lo mahasiswi baru, ya? Kenalin gue Mira!"


Gadis itu mengulurkan tangan nya di depan Via, membuat wanita itu memukulnya dan menatap tajam sahabatnya itu.


"Jangan ikutan!" peringat Via tajam, dibalas tawa kecil oleh Mira.


"Ya, lo cantik banget, Vi. Seperti baru pulang dari Korea. Bukan dari kampung."


"Gue dandan."


"Ya, ya, suami lo kan, konglomerat nomor satu. Biasalah!"


"Hem, gue mau tanya sama lo."


"Nanya apa? Tentang sapi-sapi lo yang ada di desa, ya? Tenang saja!Mereka gak akan nangis nyari induknya yang sudah berada di kota."


"Gue serius!"


"Mau nanya apa, sih?"


"Bagaimana keadaan nenek disana? Beliau baik-baik saja, kan? Gue kepikiran dari semalam tahu."


"Alhamdulillah baik, gue juga ada kabar bahagia loh."


Via menatap Mira yang terlihat ceria kembali. "Kabar baik apa?" tanyanya tak sabaran.


"Kak Andi,kakak gue yang tampan dan sukses itu melamar seorang gadis yang sholehah anaknya pak kyai."


"Akhirnya, Andi telah mendapatkan tambatan hatinya. Kapan mereka akan menikah?"


"Seminggu lagi. Lo diundang katanya. Semalam kita telponan."


"Apa gue diizinkan ke desa itu lagi?" gumam Via kepada Mira yang kini mengedikkan bahunya acuh.


"Lo jelasin ajha pelan-pelan! Pasti suami lo ngerti, kok."


Akhirnya Via mengangguk dan memutuskan akan pergi ke desa itu lagi. Apapun yang terjadi, dia harus mendapatkan izin dari suaminya.


"Selamat pagi!" Dosen pun tiba, membuat mereka yang asik mengobrol, langsung menghadap ke dosen dengan wajah yang sopan dan memperhatikannya.


"Sebelum kita kembali ke materi selanjutnya. Saya ingin bertanya dengan salah satu dari kalian."


"Ya, Bu."


"Via!" panggil dosen wanita itu,membuat mereka semuanya memandang Via yang mengangkat wajahnya menatap dosen itu.


"Silahkan jelaskan! Keributan apa yang kamu buat di depan gerbang kampus."


"Maksudnya bagaimana, Bu? Saya tidak pernah membuat keributan."


"Mengenai kamu yang diantar oleh tuan muda Rayhan. Investor terbesar di universitas ini. Jangan


sampai mencemarkan nama kampus kita."


Bukan tanpa sebab, dosen wanita memiliki dua putri itu, mendengar berbagai macam fitnah tertuju untuk mahasiswanya itu. Dari pada ada kesalahpahaman, dia harus segera menyelesaikannya.


Via mengangguk dan mengerti. Semua mahasiswa di kelas ini juga tampak penasaran dengannya.


"Hem, saya sebenarnya telah menikah. Dengan tuan muda Rayhan selama ini."


Mereka semua saling berbisik dan memfitnah Via membual dan berbohong untuk mendapatkan


ketenaran.


"Kamu tidak mengarang?"


Via menggelengkan kepalanya.


Tiba-tiba, dua pengawal Via masuk ke dalam ruangan itu membuat mereka terkejut.


"Ada yang bisa kami bantu, Nyonya Muda?

__ADS_1


"Tidak ada! Terimakasih! Kalian sebaiknya keluar dulu. Saya harus belajar"


"Baik, Nyonya Muda. Kami akan mengawasi Anda di luar ruangan ini."


Via mengulas senyum, bertepatan dengan kepergian mereka. Semua itu di dengar dan bahkan dicerna oleh semua orang yang berada satu


ruangan dengannya. Mereka akhirnya bungkam tak berani mengeluarkan suara, karena akan sangat berbahaya dengan hidup mereka nanti nya.


"Sahabat saya memang Nyonya Muda Crowel. Jadi sebaiknya jaga ucapan di depannya, atau kalian akan mendapatkan akibatnya. Itu saja dari saya Bu, selaku sahabat Via." Mira kembali diam dan bersikap sopan kepada dosen nya itu.


"Terima kasih atas penyampaiannya Via dan Mira.


Kita langsung melanjutkan materi kuliah hari ini."


***


Banyak pasang mata yang melihat Via dengan wajah ketakutan dan merinding. Berita bahwa Via


adalah nyonya muda keluarga Crowel membuat mereka tak berani bersuara di depan nya walaupun tak menyinggung.


"Lo gak merasa risih? mereka menatap lo takut seperti itu?" tanya Mira duduk bersama dengan Via di salah satu meja di kantin.


"Kenapa memang nya? Itu adalah hak mereka."


"Gila gak, sih? Bahkan, gak ada yang berani dekat dengan meja kita. Mereka langsung membubarkan diri."


Via melirik tiga meja di sampingnya. Benar kata Mira! Mereka mengambil tindakan untuk pindah.


"Tuan muda memang semenyeramkan itu, ya?"


"Yang gue dengar seperti itu. Mungkin orang tua mereka ada hubungan bisnis sama suami lo.


Jadi, takut aja kalau tuan muda bertindak kalau sampai istri kesayangan nya kenapa-kenapa."


"Jadi itu. Mereka tidak harus bersikap berlebihan. Gue bukan istri yang suka mengadu."


"Lo lupa pengawal lo."


"Iya, untung lo mengingatnya."


"Hem. Oh ya, bagaimana bisa lo adalah peri kecil yang tuan muda cari selama ini."


"Takdir! Dan karena kebodohan gue. Jadi salah paham sehingga memperumit keadaan."


"Takdir lo indah banget. Menikah sama tuan muda Rayhan yang sekarang cinta banget sama lo."


"Lo juga beruntung karena yang gue dengar. Glen! manusia es itu suka sama lo."


Via sudah menyiapkan berkas perlengkapan nya untuk menyelesaikan masalah kuliah yang dia tinggal kemarin selama dua bulan. Kalau nilai nya kurang dari standar, dia akan mengambil semester pendek besok ketika libur kuliah.


"Pak! Saya mohon maaf karena ...


"Pihak rektorat telah mengurusnya. Jadi, nyonya muda tak usah khawatir untuk menyelesaikan masalah ini."


Via mengernyitkan dahinya bingung, dengan dosen wali nya.


Yang benar saja, beliau memanggilnya dengan kata


'nyonya muda' seperti mereka semuanya.


"Nyonya! Kami memakluminya. Saya sudah mengurus semua masalah Anda di ketua jurusan."


Akhirnya Via tak bisa banyak bersuara, lantas mengangguk dan setuju. Jadi, dia tidak akan mendapatkan nilai kurang dari standar dan tidak akan mengambil semester pendek besok?


"Tapi, bukannya tak adil bagi semua mahasiswa, Pak?"


"Tidak! Selama ini nilai kamu memuaskan. Jadi, tidak mungkin kamu akan mendapatkan nilai yang kurang. Kamu bisa mengejarnya."


"Terima kasih Banyak, Pak."


"Sama-sama, Nyonya Muda. Kalau ada kendala langsung hubungi saya!"


"Baiklah, Pak. Saya permisi."


Pria paruh baya itu mengangguk dan mengulas senyum. Via bangkit dan keluar dari ruangan itu,


namun dengan pikiran yang tak menentu. Betapa mudah nya dia mengurus semuanya karena


Via adalah istri dari tuan muda Rayhan.


"Pasti besok, kalau gue bimbingan gak akan dipersulit. Semoga saja!"


"Via! Gue mau tanya sama lo yang di kelas tadi."


Via memutar tubuhnya dan menemukan Mira yang kini menatap nya dengan wajah bingung namun penasaran.


"Yang mana?" tanya Via mensejajarkan langkah mereka. Tentang Glen itu."


"Gue dengernya seperti itu. Tapi memang benar kok. Glen naksir sama lo sejak lo berurusan sama dia."


Degupan jantung Mira berdetak kencang, hingga ia sedikit sulit untuk bernafas, bahkan melangkah


lebih cepat ke Via.


"Lo kenapa? Jangan-jangan, lo suka juga sama Glen? Astaga! Cocok sih menurut gue."


"Apaan, sih? Gak ada!" kilah Mira membuang pandangannya, karena wajah Via terlihat menyelidik.


"Kenapa harus malu? Glen tampan, pekerja keras dan juga banyak uang. Pasti semua wanita suka sama dia. Tapi dia nya suka sama lo."


"Berhenti membuat otak gue, nggak berfungsi memikirkan nya!"


Via tertawa kecil sepanjang perjalanan keluar dari kampus.


Wajah Mira cemberut mengikutinya dari belakang.


"Gue pulang dulu. Lo mau ikut,nggak ke rumah?"


"Nggak, Via cantik!" tolak Mira dengan halus, dia malu bertemu dengan Glen di sana.


"Baiklah, lo masih bawa motor, kan?"


Mira mengangguk. "Iya, gue kan suka pakai motor."


"Ya, ya, gue duluan dulu!" Via menyentuh punggung Mira sekilas, dan melambaikan tangannya.

__ADS_1


Mobil jemputan nya telah berada di luar gerbang. Mira menghela nafas pelan dan berbelok menuju


ke parkiran motornya. Ketika Mira telah berada di sana. Dia meneliti semua motor, soalnya


merk kendaraan nya banyak yang sama, jadi Mira harus mengingat di mana dia menaruhnya.


"Motor gue di sana ternyata. Astaga! Helm gue kembar juga. Wah! Fans rahasia gue pasti."


"Mira!" panggil seseorang tak jauh dari tempat gadis itu berdiri.


Tubuh gadis itu membeku dan memutar tubuhnya ke arah sumber suara.


"Kenapa?" tanya Mira dengan suara yang sangat kecil.


"Ikut saya! Kita harus menyelesaikan semuanya!"


Belum sempat Mira menolak. Pria itu menariknya langsung masuk ke dalam mobil. Gadis itu sempat


terkejut dengan mulut yang terkunci karena tak bisa berkata apapun.


****


"Kita mau kemana, Pak?" tanya Via karena mobil tidak menuju ke arah jalan kediaman keluarga


Crowel, namun lebih tepatnya ke kantor.


"Tuan muda memerintahkan saya untuk mengantarkan Anda ke kantor, Nyonya Muda."


"Baiklah."


Akhirnya Via mengerti dan bersandar di sofa mobil. Perlahan dirinya terlelap hingga tertidur.


Sungguh! Tenaga wanita itu terkuras hingga siang karena, mata kuliahnya dua hari ini tanpa jeda.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju ke perusahaan Crowel Group. Tidak serta merta membuat Via terbangun, karena sangat lelah.


***


"Tuan muda! Kami telah sampai." Supir yang diperintahkan Rayhan itu segera menelpon, sesuai


dengan perintah pria itu.


"Suruh dia langsung ke ruangan saya!!"


"Tuan muda! Nyonya muda sepertinya sangat kelelahan. Nyonya muda terlelap selama perjalanan."


"Saya akan turun!" Sambungan terputus. Pria paruh


baya yang menjadi supir itu segera keluar dari mobil, untuk menyambut tuan muda.


Selang beberapa menit, Rayhan disertai pengawalnya menghampiri mobil itu, dengan dipakaikan payung karena sinar matahari sangat menyengat dan panas.


Rayhan membuka pintu mobil dan menemukan istrinya, memang terlelap dengan posisi tubuh yang


tidak enak dipandang nya.


"Astaga, Sayang! Tubuh kamu bisa sakit dengan posisi seperti itu."


Sangat mudah untuk mengambil alih tubuh mungil Via dan sekarang berada di gendongannya.


Pengawal nya dengan sigap langsung mengulurkan payung untuk Rayhan dan juga sang istri.


Mereka masuk ke dalam kantor. Dengan para karyawan, terlihat terkejut dengan wanita yang


berada di gendongannya. Wajah wanita itu tak terlihat. Mereka sebenarnya penasaran, namun tersentak ketika diperintahkan untuk tidak menoleh dan mengganggu.


Rayhan membawa Via ke dalam ruangan nya dan menidurinya dengan hati-hati di sofa. Bahkan


wanita itu tidak terganggu sedikitpun dan enggan untuk membuka matanya.


"Sayang! Kamu terlihat sangat lelah? Apa belajar membuat kepalamu pusing?"


Rayhan menyentuh rambut sang istri, dan mengecupnya.


"Eugh." Via melenguh. Membuat Rayhan menghela nafas pelan dan kembali mengusap kepalanya, agar


istrinya kembali tidur.


"Tidurlah! Kita makan siang setelah kamu bangun."


Akhirnya Rayhan bangkit, dan meninggalkan Via di sofa yang sekarang tengah berbaring.


Rayhan memandang Via sekilas dan menyungging senyum tipis.


Pemandangan yang sangat indah,melihat miliknya sedang terlelap dengan wajah yang sangat cantik.


"Aku harus segera menyelesaikan pekerjaan ini."


Kembali Rayhan berkutat dengan laptopnya, dan mengurus berkas-berkas proyek yang akan dibangunnya.


****


"Kenapa Anda membawa saya pergi sejauh ini?" tanya Mira merinding. Glen membawanya ke rumah pria itu yang tampak besar dan juga tak kalah mewah seperti rumah tuan muda. Walaupun


sebenarnya Mira tidak pernah masuk hanya melihatnya dari luar.


"Masuklah! Kita akan membicarakan semuanya dengan orang tua ku."


Sontak mata Mira melotot, dan ingin segera kabur. Namun Glen mencengkam tangannya agar tak lari.


"Saya ada urusan. Anda sangat aneh! Kenapa saya harus bertemu dengan orang tua, Anda?"


Walaupun pria ini sangat berani. Seperti impian semua wanita pada umumnya. Namun, Mira butuh


waktu untuk mencerna semua ini. Dia masih shock dan belum siap.


"Saya akan jujur agar kamu nyaman bertemu dengan kedua orang tua saya."


"Iya."


"Saya tertarik denganmu, sejak pertemuan pertama. Maaf! Saya tidak bisa mengekspresikannya. Soalnya saya bingung."


Glen merasa nyaman dengan gadis ini. Bahkan tuan muda sangat mendukungnya, untuk lebih serius


dengan sahabat dari nyonya muda itu.

__ADS_1


"Maaf! Saya masih perlu memikirkannya. Apakah semua yang Anda katakan itu benar atau tidak."


__ADS_2