Istri Kesayangan Tuan Muda Arrogant

Istri Kesayangan Tuan Muda Arrogant
28. Apakah Mencintai???


__ADS_3

Dengan rahang keras dan urat leher yang menonjol. Rayhan langsung mendobrak pintu rumah kediaman keluarga Chika membuat orang-orang yang berada di dalamnya terperanjat kaget.Banyak anak buah Rayhan menerobos masuk.Keluarga Chika yang geram langsung menghadang mereka.


"Siapa kalian?!" bentak sang papa.


Rayhan berdiri dengan kokoh dan melangkah ke hadapan mereka,dengan wajah merah padam dan sorot mata yang sangat tajam. Mereka mundur perlahan, seakan bertemu dengan malaikat pencabut nyawa.


"Tu-Tuan Muda Rayhan Crowel ." Mereka terkesiap dengan tubuh yang gemetar.


"Di mana gadis itu?"


"Siapa yang Anda maksud, Tuan Muda?" tanya papa Chika.


"Putri mu!"


Pria paruh baya itu melebarkan matanya, dengan detak jantung yang berdetak sangat kencang.


"Kenapa tuan muda mencari Chika?


"Geledah rumah ini!" perintah Rayhan.


Mereka tidak bisa berkutik.Karena hidup mereka akan sangat menyakitkan,apabila menentang perkataan tuan muda.Mereka bukan orang sembarangan.


"Lepaskan!" teriak Chika ketika dua anak buah Rayhan menyeretnya sangat kasar, dan menjambak rambut kepalanya hingga mendongak dan meringis.


"Kasihan Chika, Pa." Mama Chika menggoyang tangan suaminya karena khawatir.


Tubuh Chika dihempaskan ke bawah lantai, membuatnya meringis kesakitan kembali.Rayhan melangkah mendekatinya dan.


Plak!


Plak!


Plak!


Tidak bisa terhitung, jumlah tamparan yang Rayhan layangkan ke wajah Chika. Bahkan sudut bibir Chika telah berdarah, begitupun dengan kepalanya yang terasa pening.


"Tuan Muda! Apa yang Anda lakukan kepada putri saya?!"


Rayhan menyeringai. "Jelaskan!!"


"Putri Anda telah berani membuat istri dari Tuan Muda masuk ke rumah sakit.Terdapat banyak tamparan dan lecet di tubuh nyonya, karena ulah putri, Anda."


"Bahkan. Putri Anda kabur setelah melakukannya. Nyonya bisa kehilangan banyak darah."


Kedua orang tuanya terkesiap. Bahkan mama Chika pingsan mendengarnya. Chika berteriak ketika mama nya di bawa ke dalam kamar.Dia ingin mengejarnya namun tubuh Chika tersentak,ketika anak buah Rayhan mendorongnya kembali dengan kasar.


"Saya tidak melakukannya sendirian, Tuan Muda."


"Benarkah? Siapa temanmu? Ataukah mereka?" Rayhan menunjukkan sebuah tayangan video 15 detik. Memperlihatkan kedua temannya, yang sekarang sudah berada di rumah sakit.


"Mungkin ...sebentar lagi mereka akan sekarat dan mati karena tidak mendapatkan perawatan yang intensif Miskin!"


Jantung Chika berdetak sangat kencang. Bahkan dia bisa merasakan sakit, yang menghantam dadanya berulang kali.


"Mereka orang kaya."


"Oh ya? Setelah beberapa detik, mereka menjadi gelandangan."


Tubuh Chika membeku mendengarnya. "Nggak! Nggak!" teriak Chika meracau tidak jelas.


"Kau hanya bisa memilih dua pilihan. Mati di tangan anak buah saya atau... hidup tragis?" Rayhan tersenyum miring.


"Mereka sangat tragis bukan? Kabur dari hukuman dan ditabrak."


"Tuan Muda!Saya mohon, jangan menghukum putri saya.Say-saya akan melakukan berbagai macam cara,agar Chika tidak dihukum."


Papa Chika bersujud di kaki Rayhan. Namun Rayhan tidak akan semudah itu, untuk diajak bernegosiasi.


"Namun saya ingin melihat kalian hancur hingga keturunan yang ketujuh."


Anak buah Rayhan yang diberikan kode. Menghempaskan berkas-berkas penting penanaman saham, dan modal di depan mereka berdua.


"Miskin!" Rayhan menyeringai.


"Tuan Muda, saya mohon jangan melakukan ini. Semua ini tidak ada sangkut pautnya dengan perusahaan."


"Tidak ada?" desis Rayhan.


"Dengan menyakiti istri saya, sama saja mengusik ketenangan saya."


Chika tidak ingin hidup miskin. Dia bangkit dan segera berlari dengan tertatih keluar dari rumahnya. Anak buah yang hendak mengejar, dihalangi oleh Rayhan. Mereka sama saja.


"CHIKA! KEMBALI, NAK!" teriak papa nya.Namun Chika seperti gelap mata,dan tidak menggubris panggilan papa nya.


Bruk!!


Chika tidak sengaja menabrak Via, yang kini bersama dengan Glen dan Mira. Chika menatap tajam Via yang terlihat masih sakit.


"Chika! Lo kenapa?" tanya Mira.


"Mirip seperti zombie." Mira terkekeh membuat Chika geram.


Dia hendak menyerang Via, namun Glen menghalanginya.


"Jangan coba-coba!"


Chika mundur dua langkah.


"Sekarang lo puas buat hidup gue hancur?! Suami kejam lo itu udah ambil segalanya dari gue. Sekarang gue hidup miskin karena masalah sepele, dan lo yang terlalu manja."


Mira yang merasa geram, maju dan mendorong Chika yang sekarang menunjuk wajah Via.

__ADS_1


"Sepele lo bilang? Sampai buat sahabat gue hampir kehabisan darah. Lo... pantas mendapatkannya. Karena lo, jahat."


"Chika! Gue mohon, sebaiknya lo jangan kabur. Bahaya! Terima semua hukuman lo. Jangan membuat tuan muda marah." Via memohon kepada Chika.


Namun gadis itu menggelengkan kepalanya, dan menatap Via nyalang dengan kilatan dendam yang membara.


Rayhan dan anak buahnya keluar dari sana. Rayhan menghampiri Via yang kini berada di bawah perlindungan Glen. Melihat tuan muda yang tidak suka, Glen mundur perlahan.


"Sudah sadar?" tanya Rayhan.


Via mengangguk. "Tuan Muda, jangan seperti ini. Maafkan Chika!"


"Jangan berani memerintahku Via, untuk menghukum gadis rendahan ini."


"Tapi, tidak dengan menyiksa seumur hidup."


Rayhan ingin membentak Via.Namun ia sadar,Via tidak dalam keadaan baik. Wajah gadis itu pucat dengan bibir bergetar.Bahkan ketika bersuara,tampak linglung.


"Glen! Pastikan gadis ini membusuk di penjara dalam jangka waktu yang sangat lama."


"Tuan Muda!" lirih Via karena tidak setuju.


"Untuk pertama kalinya, aku melepaskan mangsa untuk seseorang yang ku anggap sangat berarti dalam hidupku."


Via tertegun mendengarnya. Tidak ada kebohongan dalam tatapan pria itu. Namun Via segera memutuskan pandangan mereka. Via tidak akan luluh hanya dengan semua ini.


Perusahaan keluarga Chika tetap dalam keadaan tidak baik. Chika di paksa masuk ke dalam mobil anak buah Rayhan, untuk mengantarkan dia ke penjara.Papa Chika bisa bernafas lega.Walaupun perusahaan krisis.Dia akan berusaha untuk memperbaikinya kembali.Ini hukuman yang cukup ringan dari tuan muda.


"Kita pulang!"


Rayhan membawa Via masuk ke dalam mobilnya. Mira bersama dengan Glen dalam mobil yang berbeda.


"Makan!"


Via tidak ingin kembali ke rumah sakit. Dia langsung dibawa pulang ke rumah besar.


Via mengangguk dan menerima suapan bubur dari Rayhan.


Namun karena memang Via datang bulan, tubuh dan perutnya terasa nyeri membuat Rayhan khawatir.


"Kenapa?"


Via menggelengkan kepalanya. "Tidak ada."


"Kau sudah biasa merasakannya setiap bulan?"


Via mengangguk dan menyentuh perutnya yang nyeri. "Semua perempuan merasakannya.


Bahkan ada yang sampai pingsan.


"Sangat sakit?"


"Tidak! Ini adalah anugrah untuk setiap perempuan karena bisa merasakannya."


Via mengangguk dan mengulas senyumannya. Rayhan memperhatikan wajah Via yang terlihat sendu, dan juga mengandung kesedihan yang mendalam.


"Kenapa?"


Via mendongak dan menatap Rayhan. "Merindukan papa."


Rayhan menghela napas.


Sedangkan Via sudah menunduk kembali, takut Rayhan akan marah kepadanya. Karena menyebut pria paruh baya itu.


"Kenapa tidak di telepon?"


Via terpaku mendengarnya.Dia menatap Rayhan lama.Pria itu mengangguk,membuat Via segera menelpon papa nya.


"Pa! panggil Via dengan wajah yang kembali ceria, sembari melirik Rayhan yang kini mengamatinya.


Wajah Rayhan terlihat dingin dan datar. Menunggu balasan dari Alfredo.


"Ada apa?!" Suara bentakan yang Via dapatkan. Via tahu, papa nya pasti sibuk bekerja dan dia telah mengganggunya.


"Via sakit."


"Terus?"


Via menunduk, dengan menggigit bibir bawahnya menahan sesak, yang menyerang. Papanya tidak


akan pernah peduli, kepadanya sampai kapanpun.


"Hanya itu yang ingin Via sampaikan. Via merindukan papa.


"Semangat kerjanya, pa."


Sambungan terputus. Bukan Via yang melakukannya. Namun Alfredo. Via menaruh kembali ponselnya dan mengulas senyum ketika Rayhan menatapnya.


"Sudah?"


Via mengangguk. "Sudah.


"Terimakasih, Tuan Muda."


Rayhan mengangguk. Mendengar seorang ayah memperlakukan putrinya sangat buruk mungkin


dulu Rayhan tidak peduli. Namun sekarang, Via yang merasakannya.


Membuat Rayhan mengepalkan tangannya, sedari awal Via menelpon dan mendapatkan tanggapan dingin dari Alfredo.


Sepertinya Alfredo belum mengenal lebih dalam lagi, siapa suami dari putrinya.

__ADS_1


"Tuan Muda, kenapa?" tanya Via dengan suara parau.


"Tidurlah! Aku akan meninggalkanmu untuk mengurus sebuah pekerjaan."


Via mengangguk. Dia mulai berbaring. Rayhan menarik selimut hingga dada Via. Gadis itu mulai memejamkan matanya.


Rayhan sempat memandangi wajah damai Via yang tertidur sebelum keluar kamar. Dia berbalik dan menutup pintu.


"Glen! Bagaimana dengan hasilnya?"


"Saya sudah menyelesaikan semuanya. Sebentar lagi, cepat atau lambat akan menyadarinya."


"Rahasiakan untuk sementara waktu."


"Baik, Tuan Muda. Maafkan saya, yang kemarin teledor dan tidak menyadarinya."


"Peri kecilku hanya satu, Glen sejak awal."


Dibalik pintu. Via menguping semuanya. Via beranjak bangun ketika Rayhan sudah pergi dan


mendengar semuanya.


"Tuan muda masih mengharapkan gadis itu kembali? Dan semua sikap manisnya selama ini, hanya kebohongan belaka?"


***


Via sekarang sibuk berkutat dengan laptopnya. Tugas individu harus ia kerjakan. Walaupun


tubuhnya lemas, Via mencoba mengerjapkan mata berulang kali melirik tumpukan buku dan mengetik.


Ceklek!


Rayhan masuk ke dalam kamar. Sepertinya sudah pulang bekerja. Via segera bangkit dan melaksanakan tugasnya.


Namun tiba-tiba Rayhan menyentuh keningnya, yang masih terasa hangat. Membuat Via mendongak karena sedikit terperangah, dengan apa yang


dilakukan tuan muda.


"Masih sakit?"


Via menggelengkan kepalanya dan membuka dasi suaminya. Ketika Via hendak menjauh. Rayhan merangkul pinggang Via semakin menempel dengan tubuhnya.


Mungkin dulu, Via mengikhlaskan Rayhan bersama dengan dia.


Namun sekarang, Via merasakan beban di pundaknya, karena sulit dan berat melepaskan Rayhan.


"Ada apa?"


Pandangan mereka sangat dekat. Via mengulas senyum dan menggelengkan kepalanya. "Tidak


ada. Hem, dia sangat berarti untuk Tuan Muda?"


"Ya, dia cinta pertamaku. Kenapa?"


Via tersenyum kecut. "Semoga kalian secepatnya bertemu."


"Aku menantikan pertemuan itu setelah sekian lama."


"Ya. Semoga saja. Bukannya waktu sangat terlalu cepat berlalu."


Rayhan menggerakkan tubuhnya. Namun tidak ingin melepaskan Via dari kurungannya.


"Bertahun-tahun aku mencarinya, Via."


"Hingga mengabadikan pertemuan kalian, dengan membangun sebuah taman yang indah di sana."


Rayhan memandangi Via yang kini menatapnya dalam. Rayhan dapat mengamati mata indah itu,


menyiratkan luka mendalam.


"Apakah kamu mencintaiku, Via?"


Sontak Via melepaskan tubuhnya dari Rayhan. Entah mengapa, reaksi Via sangat berlebihan hingga berani dengan Rayhan.


"Maaf! Saya tidak sengaja melakukannya."


Rayhan memandang Via lebih dalam. "Mengapa kamu begitu kuat, Via. Bahkan, kamu hanya hidup sendiri di dunia ini, sebelum kedatanganku?"


"Maksud Tuan Muda, bagaimana? Aku memiliki papa. Hanya mama yang pergi."


Rayhan menarik napas panjang.


"Sampai kapan kamu akan menyadari semuanya? Alfredo tidak akan pernah peduli kepadamu."


Memang benar, apa yang dikatakan oleh tuan muda. Namun sejak dulu, Via selalu menyangkalnya.


"Apakah kamu tidak mengingat kenangan indah, yang pernah kamu lewati sebelumnya?"


Via semakin dibuat bingung dengan perkataan tuan muda. Kenangan yang bagaimana? Sejak dulu dirinya pasti mengingatnya.


Prang!!


Tiba-tiba Rayhan menghempaskan vas bunga dengan kasar, sehingga menimbulkan suara nyaring, membuat Via terkejut dengan jantung berdetak sangat kencang.


Dapat Rayhan perhatikan, sang istri mulai menyentuh kepalanya dan terlihat trauma.


"Sakit! Kepala aku sakit!" Via menggelengkan kepalanya menghalau rasa sakit, yang terasa sangat menusuk.


"Maaf, Sayang. Sekarang, apakah kamu telah mengingatnya?" gumam Rayhan, menatap Via yang


kini menatapnya dalam dan merasa tubuhnya semakin lemas.

__ADS_1


"Kamu memangnya siapa yang harus aku ingat?" Ucap Via sebelum kesadarannya hilang.


__ADS_2