Istri Kesayangan Tuan Muda Arrogant

Istri Kesayangan Tuan Muda Arrogant
30. Kecemburuan Tuan Muda


__ADS_3

Inilah aktivitas Via ketika tengah bosan. Menyuruh bibi tua membeli bibit tanaman bunga dan buah.Nanti Via yang akan menanamnya. Walaupun sekarang, tangan Via sudah kotor karena lumpur.Namun Via tidak memperdulikannya. Semua itu tidak luput dari perhatian seorang pria yang kini melihatnya dari jendela ruangan kerja nya.


"Tuan Muda, masalah kemarin belum usai. Gadis itu ingin keluar dari penjara dengan menyewa pengacara."


Rayhan berbalik dan menatap Glen datar. "Pastikan dia merasakan penyesalan yang amat sangat menyakitkan setelah ini."


Rayhan sudah berbaik hati membiarkan gadis itu hidup di penjara. Dan sekarang dengan berani menggugat kembali.


"Tuan Muda, tidak hanya itu. Ini mengenai nyonya Nacita. Dia dilindungi oleh kekasihnya. Sehingga sampai saat ini tidak ada berita lokal mengenai dirinya."


"Biarkan saja, Glen. Kita lihat bagaimana kemampuan wanita itu melawanku."


"Baik, Tuan Muda."


Glen mundur perlahan dan berbalik keluar dari ruang kerja setelah berpamitan.


Rayhan kembali memandangi Via yang kini sudah mulai selesai bercocok tanam.Dia membasuh tangannya di keran dan tersenyum ketika memetik bunga mawar yang bermekaran.


"Kau sangat indah, namun berduri." Via menghela nafas dan mendongak memejamkan matanya karena silau matahari.Dia merasakan tubuhnya melayang diterpa angin yang cukup kencang.Udara di halaman sangatlah sejuk.


Rayhan memicingkan matanya ketika seseorang mengamati Via dari kejauhan. Sepertinya dia kedatangan tamu.Rayhan menyibak gorden,menutup kaca jendela dan bergegas untuk keluar dari ruangan nya. Via menyadari seseorangmemperhatikannya dari kejauhan.Via segera pergi dari sana.


***


"Istri, Tuan Muda?" tanya pria muda itu, seumuran dengan Rayhan.


Rayhan tidak menanggapi pertanyaan pria itu. Rayhan memeriksa semua berkas-berkas yang akan dia tanda tangani.


Perusahaan pria itu sekarang berada di posisi ketiga di daerah ini.


Rayhan kembali menatap datar pria itu. Sangat lancang memandangi Via, begitu dalam membuat tangan Rayhan terkepal. Via sekarang tengah berada di seberang mereka. Membuat segelas susu, untuk ia minum sesuai perintah dari Rayhan.


"Sayang"


Via yang merasa dirinya terpanggil, melangkah dan mendekati Rayhan yang sekarang mengobrol dengan pria itu.


"Bawa susunya, Sayang."


Via kembali mundur dan mengambil segelas susu dan nampan berada di bawahannya.Pria itu tidak melepaskan pandangannya dari Via yang menghampiri Rayhan.


"Sudah merasa baik kan?" tanya Rayhan mempersempit jarak mereka dan merangkul Via. Via mengangguk dan mengulas Senyuman nya.


"Perkenalkan istri saya, Vianna Ralista Crowel."


Pria itu mengulurkan tangannya.Namun Via ragu untuk membalasnya.


"Istri saya, tidak biasanya bersentuhan dengan seorang pria."


Pria itu mengangguk dan mengerti. "Istri Tuan Muda, ternyata sangatlah muda."


"Iya. Istri saya tengah dalam program hamil. Sehingga meminum susu setiap hari nya."


"Hem. Bagaimana dengan proyek yang akan dibangun di daerah ini, Tuan Muda?"


Tempatnya strategis untuk membangun sebuah hotel di sana.


"Ya, kan Sayang?"


Via memperhatikan berkas-berkas itu dan mengangguk. "Tapi, menurut aku jangan terlalu dekat dengan pantai."


Via mengubah cara biacaranya, agar Rayhan tidak malu ke pria itu.


Jujur, Via merasa risih, dengan tatapan pria itu sedari tadi memandanginya dengan wajah kagum.


"Kenapa, Sayang?" Rayhan mengecup kepala Via membuat Via berdeham pelan untuk menetralkan detak jantung nya.


"Terlalu beresiko bahaya. Coba beberapa meter dari bibir pantai. Nanti di sana lebih baik ada destinasi wisata seperti teman dan restoran lesehan."


Mereka cukup tertegun dengan ide berlian dari Via. Rayhan mengangguk begitu pula dengan pria itu.


"Minum susu nya, Sayang." Via melupakannya. Nanti keburu dingin. Via meminumnya sampai tidak tersisa.


"Sudah."


"Bagaimana?" tanya Rayhan.


"Saya setuju dengan ide berlian dari Nyonya Muda. Apakah Nyonya Muda boleh ikut dengan..."


"Istri saya masih kurang sehat."


"Biarkan saya yang memeriksanya."


"Baik, Tuan Muda."


"Untuk pertama kalinya, saya peringatkan kepada Anda. Jangan pernah, memandang istri saya dengan raut wajah terpikat dan kagummu itu."


Via tertegun mendengarnya.Memang benar yang dikatakan Rayhan. Semua itu tidak sopan,ndan membuat seseorang tidak nyaman.


"Maaf! Atas kelancangan saya Tuan Muda, Nyonya Muda. Saya tidak akan mengulanginya." Dia menunduk hormat dan merasa bersalah.


"Saya maafkan."


Via bernafas lega. Untung Rayhan berbaik hati, untuk memaafkan pria ini.


"Saya permisi, Tuan Muda, Nyonya Muda."


Rayhan mengangguk. Pria itu bangkit dan keluar langsung dari rumah besar Rayhan. Diikuti oleh Glen yang mengantarnya dari belakang.

__ADS_1


"Tampan?"


"Ah?" Via refleks menatap Rayhan yang sekarang menatapnya tajam.


Maksudnya apa cobak? Ya, masih tampanan suami gue, batin Via menahan senyum.


"Kenapa?"


Via menggelengkan kepalanya.


"Tidak ada. Memangnya saya kenapa?"


Rayhan hendak bangkit, namun Via menghela nafas pelan dan menarik tangan Rayhan untuk kembali duduk. Kalau Via tidak mengalah. Masalahnya pasti akan mengakar, atau tuan muda bisa membatalkan kontrak kerjasama itu.


"Maaf! Kalau saya ada salah."


"Jangan terpikat padanya, karena hanya aku yang paling tampan. Kau mengerti?"


Via menganggukkan kepalanya. "Ya!"


Setelahnya,Rayhan kembali bangkit dan meninggalkan Via sendirian di ruang tamu.Namun ia masih memikirkan perkataan Rayhan semalam. Mengenai ingatannya yang lemah.


"Sebenarnya apa yang disembunyikan oleh hati tuan muda?"


"Ah! Kenapa gue memikirkan nya."


Via menepuk kepalanya berulang kali untuk, menghalau segala pikiran buruknya.


***


"Mau kemana, Mas?" tanya Vanya melihat suaminya, sudah bersiap untuk keluar rumah. Tidak biasanya Alfredo meninggalkannya pada malam hari.


"Tuan muda."


"Malam ini?" tanya wanita itu. Alfredo mengangguk.


"Mas, mulai peduli dengan Via? Ingat, Mas! Via penyebab Anjani meninggalkan kamu."


Alfredo menghela nafas kasar.


"Mas sudah mulai melupakannya."


'Gawat, kalau seperti ini ceritanya. Mas Alfredo akan berdamai dengan Via.'


"Tapi, Mas ..."


"Sudahlah, Mas pamit. Tuan muda bisa marah besar dengan Mas, kalau sampai terlambat."


"Aku ikut, Mas."


Vanya menganggukkan kepalanya dan segera bersiap. Dia tidak akan membiarkan suaminya berbicara sendirian dengan Via. Bisa dipengaruhi nanti otak suaminya.


***


Mobil Alfredo telah masuk ke dalam gerbang. Mereka keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah besar itu. Glen menemui nya di ujung pintu, menyambut kedatangan mereka. Tidak biasanya mereka diperlakukanbseperti ini, batin Alfredo.


"Selamat malam, Tuan Alfredo dan Nyonya Vanya."


"Selamat malam, Glen." Mereka menyahut.


"Tuan muda dan nyonya menunggu Anda di dalam."


Mereka mengangguk dan langsung menghampiri Rayhan dan Via.


"Papa!" Sontak Via tertegun melihat kedatangan papa nya. Via menoleh ke arah Rayhan. Pria itu


mengangguk pelan, membuat Via mengulas senyuman nya.


"Makasih!"


"Silahkan duduk, Pa."


Alfredo mengangguk. Berbeda dengan Vanya yang menatap Via sinis. Semua itu tidak luput dari perhatian Rayhan. Sepertinya wanita itu sangat membenci Via.


"Saya menyuruh Glen menelpon Anda, karena istri saya, membutuhkan kasih sayang papa nya."


Alfredo sangat tersindir mendengar penuturan Rayhan.


Memang dia bukan papa yang baik untuk Via selama ini. Dan Via, tidak pernah membencinya. Namun dia memiliki alasan tersendiri, melakukan semua ini.


"Papa! Apa kabar? Via jarang ke rumah, maaf!"


"Baik." Alfredo seperti biasanya, menjawab pertanyaan Via dengan wajah dingin.


"Syukurlah."


"Istri saya tidak dalam keadaan baik. Anda tidak bertanya keadaanya?"


Via menunduk, mendengar Rayhan memojokkan Alfredo.


"Maaf! Saya sedang sibuk waktu itu. Sekarang kamu sudah sehat, Via?"


Via mengangguk dan mengulas senyuman cerah karena papa nya khawatir dengan kondisinya. "Via,


sudah mendingan, Pa."


"Jadi, tidak ada yang perlu dipertanyakan lagi, kan?"

__ADS_1


Rayhan menatap datar Alfredo. Andai tidak ada Via di sini. Maka wajah Alfredo akan babak belur, karena hantaman tangannya yang bertubi-tubi.


"Via!"


"Ya," balas Via mengangkat wajahnya.


"Istirahat!" perintah Rayhan tegas.


Via sempat ingin menolak. Namun Glen sudah berada di belakangnya, menunggu Via bangkit. Gadis itu lalu mengangguk.


"Pa! Via pamit."


Alfredo tidak memperdulikan Via. Dia menatap Via sekilas, yang sekarang sudah menaiki anak tangga, dan sempat menoleh ke arahnya dengan wajah sendu.


Setelah Via diantarkan oleh Glen. Rayhan menatap mereka, dengan kilatan mata yang menyorotkan


tatapan tajam.


"Anda, memang tidak memiliki tanggung jawab kepada istri saya. Setelah Anda lebih memilih


perusahaan."


"Saya sudah mengetahuinya. Untuk itu, saya tidak ingin peduli kepada anak itu."


Rayhan bangkit dan mendekati Alfredo. Sontak Vanya melebarkan matanya, ketika Rayhan mencengkram kuat kerah kemeja suaminya, memaksa Alfredo untuk berdiri.


"Tuan Muda!" sentak Vanya.


"Orang tua tidak berguna. Saya juga bingung dengan Via. Kenapa istri saya yang sebaik malaikat itu, memiliki orang tua seperti, Anda. Pria tua bau tanah dan serakah."


Alfredo tercekik dan kesulitan bernafas. Rayhan melepaskan kerah kemeja nya sangat kasar.


Sehingga dia hampir terjungkal.


"Mas, tidak apa-apa?" tanya Vanya khawatir.


"Dan Anda, wanita tidak tahu diri." Rayhan beralih menatap tajam Vanya, membuat wanita itu


ketakutan.


"Kau berani menyentuh istriku. Maka, wanita sepertimu, akan ku kirim ke tempatnya. Kau bisa meraup untung banyak dengan tubuhmu."


"Kurang ajar!" Vanya hendak Melayangkan tamparan ke wajah Rayhan karena geram. Namun Rayhan mencengkram tangannya


kuat, hingga Vanya memberontak ingin dilepaskan.


"Mas, tolong! Ini sangat menyakitkan!" Mungkin tangan Vanya, akan terluka dan memar setelahnya.


"Lepaskan tangan istri saya, Tuan Muda!"


Rayhan mengangkat tangannya dan tersenyum miring. "Pasangan yang sangat romantis."


"Kau sudah kembali, Glen?"


"Nyonya, sudah masuk ke dalam kamar dan beristirahat."


"Pekerjaan yang bagus. Terakhir tugas malam ini. Mengusir mereka!"


Glen mengangguk dan langsung menjangkau tangan Alfredo, untuk menyeretnya keluar dari rumah itu.


"Saya bisa sendiri!" sentak Alfredo.


"Oke!" Glen melepaskan tangan Alfredo. "Pergilah sejauh mungkin."


Mereka keluar dari rumah itu. Glen kira mereka telah bertaubat. Namun sikap dan akhlaknya sangat nol. Tidak pantas menjadi orang tua, yang patut untuk di kasihani.


"Tanganku, Mas." Vanya meringis ketika melihat tangannya yang memar. Tenaga tuan muda sangat besar. Beruntung sekali, Via mendapatkan suami perkasa seperti dia. Vanya menghembus nafas kasar.


"Nanti kita obati."


'Sedangkan aku, terjebak dengan tua bangka ini. Dasar lemah dan tidak bertenaga.'


"Mas, tidak berniat membalas perlakukan tuan muda kepada kita?"


"Tidak! Dia sangat bahaya. Mas tidak ingin mengambil resiko, semuanya karena keinginan kamu. Dan Mas tidak mau mengabulkan segala keinginan kamu lagi."


'Sialan!' batin Vanya mengumpat dan mengepalkan tangannya.


***


"Aku ingin mengajakmu ke danau besok pagi," ucap Rayhan menatap Via yang kini, juga memandanginya dengan raut wajah yang kebingungan.


Tumben sekali pria ini ingin mengajaknya bertamasya, pada hari libur.


"Kita akan menyusuri danau dalam beberapa jam."


Karena tidak ingin tuan muda marah, akhirnya Via menganggukkan kepalanya setujuu. Lumayan refreshing otak dan tubuh, setelah tuan muda tobat


dan tidak lagi menyiksanya.


"Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat yang sangatlah berarti dalam kehidupan ku."


"Pasti Tuan Muda ingin mengajakku ke tempat, awal


pertemuan Tuan Muda dengan peri kecil, kan?"


"Dan aku akan menceritakan tentang dia, di tempat itu secara langsung."

__ADS_1


__ADS_2