
Setelah dokter menjelaskan semuanya,Rayhan sejak tadi tidak berhanti bersyukur kepada sang pencipta, karena sang istri yang positif hamil dan kandungannya sudah berumur dua minggu.
"Akhirnya, kamu hamil Sayang."
Via memaksakan senyumannya, dan menganggukan kepalanya. Walau bagaimanapun, dirinya tidak ingin mengecewakan suaminya, karena telah lama menantikan bayi dalam kandungannya ini.
"Iya, Ray. Kamu akan sebentar lagi menjadi seorang ayah."
Rayhan mengecup kening sang istri lama, dan memeluknya dengan erat. Bahkan, pria itu mengusap perut Via dengan lembut, dan tidak sabar untuk menantikan kehadiran buah hati mereka.
"Menantu Mama memang hebat. Cepat dan gesit hamilnya."
Tiba-tiba, kedua orang tuanya masuk ke dalam kamar mereka,dan menyaksikan secara langsung pasangan tersebut tengah berbahagia.
"Benih Rayhan, tidak bisa untuk diragukan lagi." Dengan bangganya Rayhan menatap mamanya itu tegas. Sedangkan papa nya, menatap mereka berdua sangat datar.
"Keturunan Papa!"
Keduanya menatap pria paruh baya itu, terlihat sangatlah sombong dan ingin diagungkan.
"Sebaiknya, Papa dan Mama keluar sekarang. Kami bertiga ingin istirahat."
"Terserah kamu saja, Rayhan. Mama, permisi."
Paula menarik tangan suaminya dan keluar dari kamar putra mereka. Sedangkan Rayhan, menatap penuh cinta istrinya yang sekarang perlahan terlelap, dan ikut serta tidur di sampingnya, sembari memeluk wanita kesayangannya itu.
***
"Papa kenapa sebenarnya?" tanya Paula menatap suaminya itu dengan raut wajah yang bingung.
Tiba-tiba memfitnh menantunya tidak benar seperti itu.
"Wanita itu, terlihat tidak ingin mengandung cucu kita."
Paula menghela napas pelan, karena sebenarnya dia juga menyadarinya namun tidak ingin mengungkapkan semua itu. Takut sang putra kecewa dan hal tersebut akan semakin membuat semuanya runyam.
"Mama mengerti keadaan Via yang sekarang. Umur menantu kita, jauh lebih muda dari Rayhan.
Apalagi Via masih berstatus mahasiswa semester enam. Yang artinya, menantu kita berpikir, bahwa kehamilannya akan menghambat cita-citanya."
"Dan, menyesal telah menikah dengan putra kita? Apa yang diinginkan wanita itu, pasti Rayhan akan memberikannya. Menantumu itu memang sangtlah
egois."
"Pa! mama nggak suka ya? Papa berkata seperti itu. Selama ini, hidup Via menderita. Bahkan, setelah menikah. Rayhan, selalu menyiksanya."
"Sudah!Jangan membela menantumu itu."
"Via, juga menantu Papa! Tolong Pa, jangan menjadi penghalang kebahagiaan Via lagi."
***
untuk kesekian kalinya, Mira menghembuskan napas kasar, ketika pria bernama Glen itu mengajaknya keluar untuk menikmati malam minggu bersama, seperti pasangan normal pada umumnya. Bagaimana Mira tidak berpikir seperti itu, dia sendiri pacaran dengan kulkas berjalan.
Selalu saja wajah Glen datar dan dingin. jarang tersenyum, bahkan tidak sama sekali kalau tidak
dirinya yang mengajarinya.
"Mira!"
"Iya, ada apa, Glen?" tanya Mira menatap pria yang kini berada di sampingnya. Kemana?"
"Maksudnya?"
"Kamu ingin kemana?" tanya Glen mencoba untuk romantis, namun tetap saja tidak bisa.
"Aku ingin makan bakso."
Glen menganggukkan kepalanya dan langsung mencari letak restoran yang menjual bakso, di
ponselnya.
"Di pinggir jalan. Kamu mau,kan?" Tanya Mira dengan lembut.
Glen menatap gadisnya itu dan terpaksa menyetujuinya. Apapun keinginan Mira, ia akan turuti agar gadis itu tidak meninggalkannya.
__ADS_1
Mobil melaju dengan kencang Beberapa menit kemudian mereka telah berada di depan gerobak bakso pinggir jalan raya. Terlihat, banyak orang yang kini memenuhi warung sederhana itu.Untuk pertama kalinya, dalam hidup seorang Glen makan di pinggir jalan dan itu semua demi kekasihnya itu.
Melihat terdiaman Glen. Mira jadi takut, pria itu akan marah kepadanya. Ia tidak ingin bernasib sama dengan gadis yang pernah membully sahabat nya itu.
Tiba-tiba, Mira merasakan tangannya digenggam dengan erat. Dia mendongak dan kini Glen mencoba untuk tersenyum, seperti yang pernah diajarinya.
"Kita makan. Jangan memikirkan sesuatu yang menakutkan, Mira."
"Iya."
"Karena aku akan selalu melindunginya."
Tapi, aku bahkan lebih takut disakiti olehmu, ketimbang orang lain,' batin Mira mencoba mengontrol ekspresi wajah nya, agar pria itu tidak mencurigai nya.
Via memperhatikan Mira yang kini banyak melamun dan tidak cerewet seperti biasanya.
"Lo kenapa, Mir? Bukannya Lo lagi bahagia ya? Karena sekarang udah jadian sama Glen."
"Iya, Bumil cantik."
Mira sudah mengetahui sahabatnya ini hamil, setelah Via memberitahu nya semalam dan curhat lewat aplikasi hijau dengannya.
Via semakin curiga dengan segala sikap Mira. Mungkin saja, ada sesuatu yang disembunyikan oleh
sahabat nya ini, namun tidak diceritakan kepadanya.
"Gue mau tahu, mengenai peristiwa kemarin."
"Peristiwa yang mana?" Tanya Mira menatap Via. Perasaan tidak ada peristiwa apapun minggu ini. "Kasus bullying."
Deg!
Jantung Mira berdetak kencang mendengarnya. Tiba-tiba, wajahnya menjadi pucat, karena kembali mengingat semua itu.
Membuat Via semakin curiga dengan perubahan sikap sahabatnya itu.
"Gue tahu, mereka udah dikeluarkan dari sekolah ini, kan? Tapi, kok agak berbeda, ya? Biasanya seperti yang lain, kan? Misalnya.."
"Gini, Vi! Lo kan sedang hamil sekarang. Jadi, gue mohon! Lo jangan membahas hal-hal yang seperti itu. Kasihan bayi lo."
Via tidak bisa berkutik. Dia akhirnya terdiam lama, dan menatap Mira yakin bahwa semuanya disembunyikan oleh mereka.
****
Jam mata kuliahnya, tinggal satu lagi pada hari ini. Via duduk menunggu Mira yang membelikannya roti di kantin dan juga susu. Dia duduk bersandar di bawah pohon taman fakultas nya.
Tempat itu terlihat sangat lah sepi dan sunyi.
Pandangannya terusik, ketika melihat seekor kucing yang terluka. Via mendekatinya, namun bukannya membantu wanita ituu menatap datar hewan menggemaskan itu, lalu kembali duduk di tempatnya.
Via biasanya selalu merasa iba kepada sesuatu, kini tampak berbeda dan tidak ingin ikut campur.
"Ini roti dan susu lo, Vi."
Via tersenyum dan mengambilnya. Mira duduk di sebelahnya dan meminum es teh yang dibelinya.
"Lo tadi habis dari mana? Gue lihat dari jauh."
"Nggak ada."
Mira percaya dan menganggukkan kepalanya. Dan pandangannya tidak sengaja melihat, seekor kucing yang kini tergeletak tak berdaya tak jauh dari mereka.
Gadis itu langsung bangkit dan segera mengambil kuncing menggemaskan itu.
"Ya ampun, kamu kasihan sekali. Kakimu berdarah karena tersangkut tali."
Mira sibuk membersihkan luka kucing itu dengan telaten menggunakan tisu dan hati-hati melepaskan perangkap tersebut.
"Vi! Kasihan ya? Kucingnya."
"Hmm."
Setelah memastikan kucing itu kembali tenang. Mira tersenyum, dan meletakkannya di pahanya.
"Vi! Lo aneh banget. Bukannya, Lo suka banget ya? Sama kucing. Bahkan sekarang, lo nggak merasa
__ADS_1
terlihat iba sama sekali."
Pancaran mata sahabatnya berbeda. Bahkan terlihat sama dengan tatapan suaminya yang kejam itu
"Bukan urusan gue, Mir. Mendengar hal tersebut, membuat Mira menghela napas pelan dan menganggukkan kepalanya.
Mira harus memastikan sesuatu setelah ini.
**
Dari kejauhan, Mira dan Via melihat seorang juniornya yang kini tengah dibuli oleh seseorang.
Mira yang geram, langsung mendekati dan menghalangi semua itu.
Terlihat di sana, junior nya itu disiram dengan air kotor bekas lantai dan juga rambutnya sudah acak-acakan.
Mira berjalan dengan cepat dan mendorong mereka yang melakukan perundungan tersebut.
"Lo kira, diri Lo keren seperti ini? Dengan menindas junior?"
Karena sang pembully mengetahui siapa yang tengah di hadapinya saat ini, mereka langsung pucat
pasi dan segera kabur dari sana.
Mira menghela napas pelan dan membantu junior nya itu berdiri, dan menyuruhnya untuk membersihkan diri di toilet kampus.
"Ini ada pakaian yang gue bawa. Lo pakai dan jangan dikembalikan."
"Makasih, Kak."
Mira tersenyum setelah melihat kepergian juniornya itu. Dia mundur perlahan dan mendekati
Via yang kini tampak tersenyum miring melihat kejadian itu.
Mendadak perasaan Mira semakin tidak enak. "Lo kenapa, Vi?"
Via terlihat menghembuskan napas pelan. "Gue nggak suka dengan manusia lemah."
**
Malam telah menjelang. Via dan Rayhan duduk berdua di tepi ranjang. Rayhan mengusap wajah sang istri dengan lembut.
"Bagaimana, dengan kegiatan hari ini, Sayang? Tidak kelelahan, kan?" Tanya suaminya itu.
"Tidak, Ray. Bahkan sangatlah seru."
"Ayo ceritakan, Sayang."
Rayhan tidak sabar untuk mendengarkannya. Dia
menggenggam tangan sang istri.
"Aku melihat kucing ceroboh dan manusia lemah."
Rayhan mengerenyitkan dahinya bingung. Via menganggukkan kepalanya dan tampak gembira
menceritakan semua itu.
"Aku melihat kucing itu sangat ceroboh karena ingin melewati tempat, yang sudah terpasang perangkap di sana."
"Dan akujuga melihat junior di fakultas ku yang lemah, dan tidak bisa melawan ketika di rundung."
"Bagaimana? Apakah cerita ini terdengar menarik bukan, Ray?"
"Iya, Sayang. Bahkan, sangat menarik."
Rayhan tersenyum miring dan mengusap kepala sang istri dengan sayang
"Sepertinya, besok anak kita akan memiliki sifat seperti ku. Tidak merasa kasihan dengan orang lain."
"Ray! Aku tidak mengidam seperti orang lain?"
"Sekarang kamu sedang merasakannya, Sayang. Namun dengan cara yang berbeda pastinya. Kamu istimewa."
Mengidam, tanpa belas kasihan sepertinya. Bukannya hal tersebut sangatlah menarik.
__ADS_1
"Kecantikanmu semakin bertambah sayang, semenjak hamil."
"Kamu juga semakin tampan, Ray."