
Rayhan melangkah masuk ke dalam kantornya. Mendadak aura di sekitarnya menggelap, membuat
semua para karyawan yang tadinya bersuara, kini menundukkan kepalanya. Tanpa berani mendongak menatap atasannya.
Rayhan berjalan melewati mereka bersama dengan Glen. Dua pria yang sangat ditakuti di perusahaan
itu telah masuk ke dalam lift menuju ruangan paling atas.
"Tuan Muda, sepertinya berita mengenai Anda telah menikah, telah tersebar."
Rayhan menatap Glen datar. Glen membuka pintu ruangan, sehingga mereka kini masuk ke dalamnya.
"Carilah pelaku utamanya."
Rayhan tidak suka, berita mengenai dirinya tiba-tiba tersebar tanpa seizin darinya.
"Baik, Tuan Muda. Berikan saya waktu 24 jam untuk menghapus semua berita itu."
Rayhan membuka laptopnya, dan mengecek pekerjaannya saat ini.
"Alfredo sepertinya menentangku, Glen."
Rayhan tahu akal busuk pria tua dan serakah itu. Memanipulasi semua klien agar tidak bekerjasama dengan perusahaan Crowel Group.
"Hem, mengguncang kembali sahamnya, mungkin akan sangat menyenangkan."
Glen mengerti arah pembicaraan tuan muda. Dia segera mencatat tugas keduanya. Yakni bermain-main dengan saham yang dimiliki oleh Alfredo.
"Pembangunan di danau itu?"
"Seminggu lagi, akan terselesaikan Tuan Muda. Namun sepertinya ada yang menentang pembangunan itu."
"Siapa?"
"Tuan besar."
Tangan Rayhan mengepal. Ternyata papanya telah
mengetahui rencana dan maksud dari tujuan pembangunan itu.
"Tuan Besar, memerintahkan untuk menghancurkan proyek sebelum terselesaikan."
"Biarkan aku yang mengurusnya. Kau boleh pergi dari hadapanku!"
"Baik, Tuan Muda."
Setelah kepergian Glen. Rayhan mengambil ponselnya dan segera menelpon orang tua nya.
"Aku sudah menduganya, kau akan menelponku, Ray."
"Apa sebenarnya tujuan papa melakukannya?!" geram Rayhan.
"Lupakan dia Rayhan! Papa tidak menyukai kamu berhubungan dan mencintai seorang gadis yang tidak jelas asal-usulnya."
"Papa tidak berhak ikut campur. Dia telah menyelamatkan nyawa Rayhan."
"Itu sudah berlalu. Dia tidak menyelamatkan mu, Rayhan. Hanya memanggil pertolongan."
"Aku akan memilikinya, tanpa seizin dari kalian!!"
"Keras kepala!"
"Duplikat darimu!"
Terdengar suara tawa di seberang telepon. Rayhan mendengarnya dengan telinga memanas.
"Kau sudah memiliki Via. Hargailah istrimu!"
"Dia hanya seorang istri di atas kertas. Dan sampai kapanpun tidak akan pernah ada dia di hatiku."
"Papa menunggu penyesalan mu!!" Sambungan terputus sepihak.
Mengapa semua orang mengatakan dirinya seolah-olah akan takluk di tangan gadis bodoh seperti Via.
Rayhan langsung menghantam meja kerjanya dengan sangat keras. Sehingga berkas di atas meja
hampir terjatuh.
***
Alfredo tertawa angkuh ketika hampir sepuluh klien perusahaan Crowel group telah dikuasainya, dan sekarang telah sah menandatangani kontrak kerjasanma dengannya.
"Kau kira dirimu siapa? Hanya anak bau kencur yang ingin mencoba mempermainkanku."
"Tuan! Sekretaris tuan muda memaksa untuk masuk."
"Biarkan saja!"
Asisten Alfredo mengangguk. Glen masuk ke dalam ruangannya dengan wajah merah padam dan
melemparkan berkas-berkas ke wajahnya.
"Apa yang kau lakukan?!" bentak Alfredo.
Glen tersenyum miring. "Berani sekali kau bermain-main dengan tuan muda."
Alfredo terkekeh. "Sepertinya budak dari tuan muda sangat marah."
__ADS_1
Seperdetik. Glen sudah memberikan pukulan mentah ke wajah Alfredo sehingga pria itu merasakan pening dan menabrak ujung meja.
"Kau... budak tuan muda!" Alfredo terkekeh tanpa terbesit rasa takut menyelinap di hatinya.
Glen mengatur deru nafasnya dan langsung, keluar dari ruangan itu.
"Budak tuan muda kau Glen!!" Alfredo menghapus sudut bibirnya yang sekarang mengeluarkan darah segar, akibat pukulan keras dari Glen.
Alfredo mengambil berkas-berkas yang Glen lemparkan ke wajahnya yang sekarang tergeletak lemah di bawahnya.
Alfredo membungkuk dan memungutnya. Dia membuka map tersebut dan membukanya perlahan.
Jantung Alfredo berdetak sangat kencang. Dimana semua pembatalan kerja sama telah dicantumkan di sana. Alfredo mengeram ketika mengetahui alasan mereka membatalkan nya adalah, saham perusahaan yang dilaporkan melemah. Dan mereka
tidak ingin mengambil resiko besar.
"Sialan!" Alfredo menyobek semua berkas itu dengan emosi yang bergejolak. Sehingga urat-urat
lehernya terlihat menonjol.
"Aku tidak akan pernah menyerah untuk menjatuhkan tuan muda. Dia telah berani memperlalukanku sedari awal kesepakatan ini. Seakan aku adalah bawahannya dan pengemis."
***
"Saya mohon tuan Glen! Katakan kepada tuan muda agar tidak membuat perusahaan saya bangkrut."
Pria itu hendak bersujud di kaki Glen. Namun Glen langsung mendorongnya sangat kasar dan semua itu menjadi pusat perhatian semua para karyawan yang kini bekerja di dunia infotaintment.
"Kau telah lancang menyebarkan berita itu."
"Sa-saya akan segera menghapusnya!"
"Jejak digital sangat kejam. Begitupun dengan tuan muda."
Mereka semuanya sangat menyesal. Mereka kira, tuan muda tidak akan mempermasalahkannya. Bahkan pihak kampus saja tidak berani membuka suara sebelum ada perintah.
"Maaf, Tuan Glen yang terhormat. Kau sudah sangat keterlaluan. Ini sudah menjadi pekerjaan kami."
"Dengan menyebarkan privasi seseorang untuk memakan sesuap nasi?"
Tangan perempuan itu tergepal mendengarnya. "Kau saja yang berlebihan. Hingga berlagak menghancurkan perusahaan tempat kami bekerja karena perintah tuan muda yang sangat diagungkan itu."
Glen menatap tajam perempuan yang telah berani dengannya. Bahkan menjelekkan tuan muda.
"Larasati! Jangan lagi kau bersuara! Maafkan kelancangan karyawan saya, Tuan Glen."
Larasati nama perempuan itu. Bekerja di luar ruangan dan langsung menginput berita-berita
yang perlu untuk diketahui oleh khalayak ramai.
"Saya akan membatalkannya. Asalkan... perempuan itu meminta maaf dan bersujud di kaki saya."
"Larasati! Kau mendengarnya?!
"Maaf, Pak. Saya memang karyawan Bapak. Namun saya tidak mau melakukannya!" tegas Larasati. Dia lebih baik berhenti bekerja.
"Saya akan menghitungnya!"
Sang direktur mendekati Larasati dan membisikkan sesuatu ke telinga perempuan itu, sehingga terlihat Larasati melunak.
"Maafkan saya, Tuan Glen. Saya mengakui kelancangan saya."
Glen menatapnya sangat datar. Larasati perlahan berjongkok hendak bersujud di bawahannya.
Namun Glen langsung mundur perlahan dan meninggalkan mereka semuanya.
Direktur itu bisa bernafas lega. Sedangkan Larasati mengepalkan tangannya masih berjongkok di bawah.
"Berdirilah!"
Dia mengangguk dan membersihkan lututnya yang
kotor.
"Terima kasih, jabatanmu akan saya naikkan."
Larasati berdehem dan mengangguk. Dia memang haus akan jabatan karena gaji yang tinggi dan tidak akan lelah berkeliling mencari berita seperti dulu.
"Tuan Glen."
***
"Nyonya!"
Via tersentak ketika dirinya hendak menukar bubuk susu hamil dengan bubuk susu pelangsing yang telah ia beli.
"Biarkan saya yang membuatkannya."
"Ah? Tidak perlu Bibi Tua. Saya saja yang melakukannya."
"Baiklah."
Bibi tua kembali melanjutkan aktivitasnya memasak makan siang. Namun sekarang Via yang kelimpungan, bagaimana ini? Dia gagal melakukannya.
Via kembali memasukkan bubuk susu pelangsing ke dalam bajunya dan perlahan mundur untuk segera pergi.
"Nyonya, Anda tidak jadi membuatnya?"
__ADS_1
"Kan jadwalnya tidak siang hari."
"Sebaiknya diminum dua kali sehari, Nyonya."
"Tapi..."
"Perintah tuan muda. Silahkan Anda istirahat! Saya akan menyiapkannya nanti sembari makan siang."
"Baiklah!" Via tidak bisa mengatakan apapun. Karena ini sebuah perintah. Entah apa maksud nya Rayhan
melakukannya.
Via menaiki anak tangga. Namun ingatannya kembali menerawang mengenai kejadian beberapa jam yang lalu.
"Gila! Kok gue merinding."
***
Via menggigit bibir bawahnya ketika menonton sebuah film horor di sore hari. Karena kalau malam hari, dia sangat penakut. Tuan muda juga paling pulangnya sehabis maghrib.
Via bersembunyi sambil memakan cemilan di atas meja, ketika seorang suami tega membunuh
istrinya dan sekarang istrinya ingin membalaskan dendam ke pria itu dan selingkuhannya.
"Rasain, tuh. Hajar aja sampai jadi hantu jugak." Via mengunyah semua makanan di dalam plastik, sembari matanya melotot ketika hantu memandangnya dan terkekeh menyeramkan.
"Jelek banget make-up nya. Gak cocok, ih."
Sebenarnya Via tidak takut ke hantu nya. Namun suasana menegangkan dan suara di film yang mengalun, terdengar sangat mencengkam. Itu yang
membuatnya merinding.
"Huaaa... ketemu saudaranya tuh, hantu."
Via memejamkan matanya karena suaranya sangat mengejutkan. Ternyata bertemu dengan Sesamanya.
"Cantik sih, sebenarnya."
Berbalik ke scene selanjutnya. Namun sekarang tubuh Via bukan merinding, namun memanas.
"Loh, kok ada adegan ciumannya sih."
Ternyata kau suka menonton seperti ini di belakang ku?"
Via menjangkau remot dan langsung mematikannya. Dia berbalik dan menemukan Rayhan telah berdiri di belakangnya dengan senyuman misterius nya.
"Kenapa? Hanya film, kok."
"Kau tidak ingin mempraktekkannya? Bukannya,
sudah tiga hari kau meminum susu mempercepat kehamilan bukan?"
Via segera menggelengkan kepalanya. Kenapa pria itu cepat sekali pulangnya? Mengganggu saja.
"Nyalakan kembali!" tegas Rayhan.
Via melongo mendengarnya. "Tapi, Tuan Muda. Sudah selesai kok filmnya ."
"Kau berani membantahku?!"
Via segera menyalakan kembali. Namun sekarang tidak lagi menampilkan scan itu. Namun terlihat jelas suasana yang kembali normal dan tidak gelap.
Rayhan duduk di sofa, namun sangat dekat dengannya. Bisa tidak jangan dekat-dekat? Kan, Via risih dan juga malu.
"Alfredo!"
Kenapa tiba-tiba menyebut nama papa Jangan-jangan, telah terjadi sesuatu dengan papa nya?
"Papa tidak kenapa-kenapa, kan?"
Rayhan menatapnya lekat. Guratan kebencian tercetak jelas di mata itu. Tangan Rayhan terangkat dan mengelus kepala Via. Namun tidak berlangsung
lama ketika pria itu menarik rambutnya sangat kasar.
"Argh! Tuan Muda! Sakit." Kulit kepala Via terasa ingin lepas rasanya. Kenapa Rayhan kembali kasar kepadanya?
"Alfredo berani menentangku kembali. Dan kamu, harus menerima akibatnya."
Via terpaksa berdiri ketika Rayhan melepaskan rambutnya dan mendorongnya sangat kasar,
masuk ke dalam kamar mandi.
Jantung Via berdetak sangat kencang ketika Rayhan
menyalakan air mengisi bak hingga penuh.
"Tuan Muda. Apa salah saya?
"Alfredo telah berani bermain-main denganku. Kau
memilih dihukum atau papa mu yang akan aku berikan pelajaran."
"Sa-saya, Tuan Muda."
Rayhan menyuruhnya berendam di sana. Via merasakan air itu sangat dingin dan langsung
menusuk kulitnya. Tidak hanya itu, Rayhan menyalakan shower dan menyiram wajahnya tanpa henti dan sekarang Via telah basah kuyup dan tersiksa.
__ADS_1
Rayhan tersenyum miring dan meninggalkan Via yang kini menangis sesegukan.
"Kapan gue akan terbebas?" gumam Via, menghapus air matanya dengan kasar dan beranjak turun dari bak.