Istri Kesayangan Tuan Muda Arrogant

Istri Kesayangan Tuan Muda Arrogant
48. Dalam Pengawasan


__ADS_3

Suara riuh tepuk tangan terdengar ketika semua anggota keluarga Crowel telah datang dan sekarang,semua para wartawan langsung melihatnya dengan resmi.


Via tampak duduk di dekat Rayhan dengan wajah yang telah dipoles sangat cantik,hingga kamera tak ada hentinya mengambil gambar wanita itu sebanyak-banyaknya.


Melihat sang istri yang tak nyaman. Rayhan menggenggam sebelah tangan Via,membuat wanita itu menoleh ke arah nya.


"Tenang, Sayang! Jangan takut!"


Via mengangguk dan mengulas senyum tipis. "Makasih, Ray."


Rayhan menghela nafas pelan setelah itu kembali mendengarkan papa nya yang kini mengambil alih acara untuk penandatanganan saham kepada anggota keluarga baru keluarga Crowel.


"Nyonya Muda Crowel,kami persilahkan untuk menandatangani berkas secara langsung."


Via mengambil nafas panjang ketika Rayhan menuntunnya untuk menandatanganinya.


Wanita itu sempat gugup, namun dia langsung melakukannya hingga prosesnya terselesaikan.


Setelah acara penandatanganan selesai. Selanjutnya acara wawancara.Para wartawan di berikan masing-masing dua pertanyaan untuk diajukan dan langsung dijawab oleh keluarga Crowel.


"Kepada wartawan yang ingin mengajukan pertanyaan. Dipersilahkan!"


"Saya ingin mengajukan pertanyaan yang pertama. Kenapa Tuan Muda menyembunyikan Nyonya Muda setelah menikah?"


"Belum saat nya semua orang mengetahui keberadaan istri saya."


"Untuk pertanyaan yang kedua. Bukannya Anda adalah seorang pemimpin perusahaan? Namun


Nyonya Muda hanya seorang mahasiswa biasa yang belum memiliki gelar pendidikan apapun.


Apa alasan Anda memilih Nyonya Muda menjadi istri Anda?"


Kali ini, wartawan perempuan yang bertanya dengan lantang.


"Sedangkan terdapat banyak wanita yang jauh lebih segalanya dari Nyonya Muda."


Via yang mendengar itu semuanya merasakan dadanya bergemuruh karena tak nyaman. Benar yang dikatakan mereka, kenapa Rayhan memilihnya? Apa karena alasan hutang papa nya? Entahlah! Via tidak bisa berpikir dengan jernih.


"Anda telah melanggar! Dua pertanyaan cukup! Jadi saya akan menjawab untuk pertanyaan yang


kedua tidak yang ketiga."


Mereka mengangguk dan tak sabar mendengarnya.


Rayhan kembali menggenggam erat tangan Via dengan lembut, dan sekarang memandang sang


istri dengan penuh cinta di hadapan semua orang.


"Karena dia istimewa. Istriku telah menyelamatkan aku dari bahaya bahkan disaat nyawa ku hampir


menghilang. Dia tulus, tak memandang harta. Dan satu lagi, dia adalah mahasiswa terbaik di universitas itu. Jadi tak ada celah


m untuk menjatuhkannya."


Semua wartawan tertegun mendengarnya. Bahkan


perempuan yang melayangkan pertanyaan tampak malu dan rendah.


Mereka semuanya tak seberapa dari ketulusan Via, yang selalu ingin menjatuhkan seseorang yang jauh lebih beruntung dari mereka.


"Acara ditutup! Kepada semua wartawan. Dipersilahkan membubarkan diri."


Mereka membereskan semua perlengkapan kamera dan segera keluar dari ruangan itu.


Menyisakan keluarga Crowel yang sekarang mendiskusikan masalah yang belum terselesaikan secara keluarga.


"Perkenalkan nama saya Gita. Saya diutus Tuan Muda untuk membimbing Anda, dan sekaligus


menjadi asisten pribadi Nyonya Muda."


Via mengulurkan tangannya, membuat Gita tertegun. Dia langsung membalas uluran tangan dari nyonya muda dengan tak nyaman dan sangat sopan.


"Perkenalkan saya Via. Senang berkenalan denganmu, Gita."


Gita mengangguk dan merendahkan tubuhnya perlahan karena mendapatkan sambutan dari atasan nya.


"Nyonya Muda bisa langsung ke kantor untuk mengurus berkas-berkas."


"Kamu yang ke rumah. Istriku tak akan kemana-mana."


"Baik, Tuan Muda. Mohon maafkan saya!"


"Tak apa, Gita. Terima kasih telah menyampaikannya. Ray! Ke kantor untuk sekali dua kali, juga perlu. Benar yang dikatakan Gita."


"Baiklah, dengan pengawasan pengawal seperti biasa."


Via mengangguk dan mengulas senyum. Sedangkan mertua nya hanya dia memperhatikan interaksi mereka tanpa bersuara, pasti menantunya telah mengerti setelah semuanya dijelaskan perlahan.


***


"Via telah ditemukan."


Alfredo yang mendengarnya bernafas lega. Dia jadi bisa lebih rileks sekarang, dan tak merasa bersalah kembali karena putrinya telah kembali.


"Aku melihatnya tadi ketika dia menandatangani saham dengan semua anggota keluarga Crowel."


"Dia berhak mendapatkannya. Ada apa denganmu? Tak suka mendengarnya?"


Vanya mendengus kesal mendengar perkataan suaminya, seakan merendahkannya.


Siapa juga yang suka melihat anak tirinya itu hidup berkecukupan dan bahagia. Vanya sangat membenci Via selamanya. Tidak! Hanya terkejut saja.


"Bagaimana bisa, Via menaklukan hati tuan muda yang sangat kejam dan arrogant itu."


"Itu juga bukan urusanmu. Jadi kenapa kau memikirkannya?"


"Via juga anakku. Jadi, aku berhak bertanya tentang hidupnya. Apa itu salah?"


Alfredo merasa muak dengan wanita ini. Dulu dia tak pernah peduli kepada Via, bahkan sesekali


menyiksa putrinya itu, dengan laporan bibi yang melihatnya.


"Sebelum aku berubah pikiran untuk mengusirmu dari rumahku. Silahkan keluar sekarang!"


"Tapi....


"Keluar, Vanya!" bentak Alfredo lantang membuat wanita itu tersentak dan langsung keluar dari sana.


"Dasar istri tak berguna. Akan segera ku ceraikan dia bulan ini."


Hidup dengan Vanya selama ini, bukannya membuat beban hidupnya berkurang dengan kasih sayang. Namun membuat hidupnya semakin rumit dan


Alfredo telah terjebak ke dalam lingkaran hitam yang wanita itu perbuat, agar selalu mengabulkan semua keinginannya.


"Kali ini, aku akan memutuskan keputusan yang besar untuk hidupku dan juga putriku."

__ADS_1


***


"Kamu dekat dengan sekretaris tuan muda?" tanya ayah nya ketika melihat Mira murung di taman dekat rumah.


"Eh, Ayah! Sejak kapan di sini?" tanya Mira nyengir tak karuan karena tertangkap basah melamun.


Dia jadi malu karena galau memikirkan hidupnya


"Mira! Jawab pertanyaan Ayah!"


"Dari mana Ayah mengetahuinya? Mira tidak pernah cerita, kan?" tanya Mira mendadak bingung.


"Setiap saat mobil pria itu selalu berada di depan gerbang untuk mengawasi kamu. Kamu tidak menyadarinya?"


Mira melebarkan matanya? Jadi Glen setiap hari ke rumah nya? Astaga! Kenapa dia tidak sadar.


Kenapa harus ayahnya yang melihat itu semuanya.


"Kamu ada hubungan dengan dia?"


"Tidak, Ayah. Tenang saja. Mira tak ingin berhubungan dengan dia."


"Kenapa? Kamu tidak suka padanya?"


Mira menatap ayahnya dan menggelengkan kepalanya. "Tidak, Ayah. Tapi takut saja berhubungan dengan orang bagian dari mereka."


"Takut kenapa? Dia pernah kasar padamu?"


Sebelum Mira menjawab pertanyaan dari ayahnya. la tampak bingung, karena ayahnya sedari tadi seakan-akan mendukung hubungan mereka.


"Tidak pernah. Tapi wajahnya menyeramkan dan datar gitu. Mana cocok sama Mira yang petakilan seperti ini."


Sang ayah tertawa mendengarnya, membuat Mira menghela nafas lesu karena tak sama sekali lucu.


"Alasannya itu? Kamu pernah bertanya ke Via? Bagaimana kesan dia menikah dengan tuan muda."


"Sudah. Karena ya tuan muda sangatlah romantis. Berbeda kalau berhadapan dengan orang lain, tampak tajam dan mengintimidasi."


"Sudah jelas bukan?"


"Ayah!" panggil Mira.


"Kenapa?"


"Sebenarnya Ayah setuju atau tidak Mira ada hubungan dengan Glen?"


"Apapun yang terbaik untuk kamu. Ayah akan mendukungnya. Jadi, kamu berhak atas pilihanmu,


Mira."


"Makasih, Ayah. Sudah menjadi orang tua terbaik untuk Mira selama ini."


"Sama-sama, Sayang."


***


Via menghela nafas pelan ketika melihat Rayhan yang sekarang sibuk bekerja di ruangannya. Dia


berdiri bersama Gita di luar ruangan.


"Nyonya Muda ingin bertemu dengan, Tuan Muda?" tanya Gita.


"Iya, Gita. Namun saya ragu untuk mengatakannya. Dia tidak sibuk, kan?"


"Tidak, Nyonya Muda. Saya akaan membukakan pintu apabila Anda ingin masuk."


Gita membuka pintu untuk Via. Wanita itu masuk setelah asistennya memberikannya ruang untuk melangkah.


"Kamu yang mengetuk pintu, Sayang?" tanya Rayhan ketika dia telah duduk di depan suaminya.


"Nggak! Tadi Gita yang mengetuk pintu dan sekarang berdiri di luar untuk menungguku."


"Iya, Sayang. Ada apa, hem?" tanya Rayhan, karena Via sangat jarang menemuinya ketika dia sedang sibuk bekerja. Biasanya sang istri akan berbincang


dengannya malam hari.


Via tampak ragu menatap suaminya. Namun dia harus mengatakannya hari ini, karena waktunya akan segera tiba.


"Katakan, Sayang"


"Aku ingin kita ke kampung. Tempatku kabur dulu, Ray."


"Aku tidak mengizinkannya."


"Ray! Mereka sangat baik padaku selama ini. Kamu tidak ingin membalas budi mereka telah menjaga istrimu?"


"Kapan?" tanya Rayhan pada akhirnya karena tak kuasa untuk menolaknya.


"Kalau bisa, besok pagi. Karena ada acara penting di sana. Kamu tidak keberatan, kan?"


"Acara apa? Sangat penting? Sehingga kamu ingin secepatnya ke sana?"


Via mengangguk dan mengulas senyum. "Namanya Andi, dia adalah cucu nenek Imah. Katanya mau menikah dua hari lagi. Jadi, kita masih bisa berangkat besok."


"Siapa Andi?"


"Cucunya, kan. Sudah aku jelaskan tadi."


"Bagi mu?" tanya Rayhan terlihat tak suka Via peduli kepada pria lain.


"Selama ini, dia dan nenek Imah yang menolong aku di sana. Kamu jangan cemburu! Kan, dia mau nikah besok."


"Baik, Glen akan mempersiapkan hotel di dekat sana untuk kita."


Via menggelengkan kepalanya, memuat alis Rayhan terangkat.


"Kenapa, Sayang?"


"Aku ingin kita tidur di rumah nenek. Tidak di hotel. Boleh, ya?" mohon Via dengan wajah yang sayu dan tampak menghipnotis suaminya.


"Baiklah, kita akan tinggal di sana untuk dua hari kedepannya."


Via mengangguk dan langsung bangkit, memutar meja lantas memeluk Rayhan dengan erat karena terlalu bahagia.


"Makasih, Sayang."


"Sama-sama, Sayang. Tapi aku ingin sekarang."


Via melepaskan pelukannya dan menatap suaminya bingung. "Kan, masih siang, Ray. Nanti malam saja hingga subuh tiba."


"Sekarang, Sayang. Kamu tidak keberatan, kan?" tanya Rayhan dengan suara yang maskulin dan


mengecup leher jenjang Via membuat gadis itu tak bisa menolak nya.


"Baiklah! Kita ke kamar sekarang!"

__ADS_1


Ketika Via hendak menarik Rayhan untuk keluar dari ruangan itu. Pria itu langsung menariknya hingga tubuh Via terbentur dada bidangnya.


"Di sini." Rayhan berucap rendah membuat sekujur tubuhnya merinding.


"Gak mau di kursi."


"Kita di sofa, Sayang. Agar kamu nyaman untuk melakukannya."


"Baiklah. Tapi kalau ada yang masuk bagaimana?" tanya Via tampak khawatir.


"Kamu tunggu aku di sofa. Akan aku berikan Gita perintah dari luar.


Via mengangguk dan mulai berbaring di sofa sembari memainkan ponselnya, menunggu Rayhan.


"Gita!" panggil Rayhan ketika dia membuka pintu ruangannya.


"Saya, Tuan Muda." Gita merendahkan tubuhnya dan


menghadap ke tuan muda dengan sangat sopan.


"Jaga ruangan ini, tanpa memberikan siapapun untuk masuk!"


"Baik, Tuan Muda."


Rayhan segera menutupnya kembali bahkan menguncinya dengan rapat. Tubuhnya yang kekar langsung mengambil langkah panjang menuju ke


istrinya.


"Sudah?" tanya Via.


"Kita bisa memulainya sekarang."


Via mengangguk dan mengulas senyum, walaupun sebenarnya dia gugup. Namun ketika Rayhan


merengkuhnya dengan sangat lembut, membuat wanita itu menikmatinya.


"Aku akan berusaha agar bulan ini kamu tak datang bulan, Sayang."


Malam menjelang. Via memasukkan pakaian seperlunya ke dalam koper. Sungguh dia merasa bahagia karena Rayhan akhirnya mengizinkannya untuk pergi ke desa dan bertemu dengan nenek kembali.


"Ray!" panggil Via dan memutar tubuhnya.


"Kenapa?" tanya Rayhan melepaskan pandangannya dari benda pipih yang beradadi tangannya, lantas menatap Via dengan tatapan lembut.


"Aku pernah beli sapi di sana."


"Untuk apa kamu membelinya, Sayang?"


"Sebagai penghasilan tambahan aku ketika di desa. Kan, aku tidak ingin menyusahkan nenek. Jadi,


aku keliling ke para penjual untuk titipkan ke mereka."


"Nanti aku akan mengganti uang mereka, selama kamu tinggal di sana. Jadi jangan khawatir Sayang."


"Bukan seperti itu maksudku, Ray. Tapi aku rencananya mau beli sapi banyak dan memproduksi susu di sana."


"Ide yang bagus. Kita juga bisa membangun pabrik. Keluarga Crowel tidak memiliki usaha peternakan. Nanti akan aku diskusikan dengan papa."


"Beneran?" tanya Via tak menyangka Rayhan akan


menyetujuinya.


"Iya, Sayang. Apapun yang kamu inginkan, akan aku kabulkan selama aku masih mampu untuk melakukannya."


Hati Via tersentuh mendengarnya. Rayhan adalah satu-satunya pria yang membuatnya menjadi ratu


dalam hidup pria itu. Kata orang, cinta pertama anak perempuan adalah ayahnya, namun nyatanya.


Semua itu tidak berlaku untuknya, papa nya tak pernah ingin menjadi pahlawanya.


"Kamu kenapa sedih, Sayang?Cerita padaku."


Via menggelengkan kepalanya.


"Tidak ada, Ray. Hanya memikirkan papa saja."


"Jangan memikirkan pria tua itu. Dia bahkan tak pernah mencarimu ketika kamu hilang."


"Kamu tidak berbohong, kan? Mungkin saja papa mencari ku."


"Bertanya berita tentangmu saja tidak pernah. Dia tidak mungkin mengeluarkan banyak uang untuk


mencari mu."


"Iya, Ray. Maaf karena waktu itu aku melanggar perintah mu. Memberikan papa sejumlah uang."


"Itu telah berlalu. Lupakan! Uang itu juga tak seberapa dengan harta kita."


"Terima kasih, Ray. Untuk semuanya."


"Sama-sama, Sayang.


"Oh ya, kita belum izin ke papa dan mama. Nanti mereka marah, Ray. Kita izin sekarang saja, ya?"


Ketika Via hendak bangkit. Rayhan langsung melarangnya. Mereka sedang menghabiskan malam


bersama sekarang, tidak baik mengangguk.


"Besok pagi! Papa tak suka malamnya diganggu oleh


siapapun. Termasuk kita."


Via mengernyitkan dahinya bingung. Karena dia belum sepenuhnya mengerti.


"Maksudnya bagaimana?" tanya Via bangkit dan menggeser kedua koper mereka di depan lemari agar terlihat rapi.


"Itu semua adalah sebuah aturan. Jangan mengganggu siapapun anggota keluarga pada malam hari. Karena itu waktu mereka dan privasi yang harus dinikmati."


"Baiklah aku mengerti."


"Sekarang tidur, Sayang. Kemari".


Via mengangguk dan berjalan mendekati tempat tidur. Rayhan dengan senang hati mengulur tangannya yang dijangkau Via, hingga mereka saling berpelukan dan menarik selimut berdua.


"Hangat dan nyaman."


"Iya, Sayang. Tubuhmu tak sakit dalam posisi seperti ini?" tanya Rayhan. Mereka saling berhadapan dengan Via yang berada di dada bidang suami nya.


"Tidak! Aku sangat menyukai posisi nya."


"Baiklah. Selamat tidur istriku."


"Selamat tidur suamiku."


Mereka memejamkan matanya, bersama dengan saling menyerap kehangatan dan energi di malam

__ADS_1


yang sunyi.


__ADS_2