
Ketika Mira hendak berbalik. Glen langsung menjangkau sebelah tangannya, hingga gadis itu tersentak dan berakhir berada satu senti di depan pria itu. Nafas Glen berhembus,hingga Mira dapat merasakannya di permukaan wajahnya. Lama mereka saling menukar tatapan yang berbeda,hingga Mira melepaskan tangannya menjauh dari pria itu.
"Biarkan saya pergi!"
"Saya akan mengantarmu ke kampus. Untuk mengambil motor."
"Tidak!" balas Mira menolak.
Membuat Glen mengernyitkan dahinya bingung. Dia tidak bisa membaca ekspresi seorang gadis, dan langsung peka apa yang mereka pikirkan.
"Saya tidak bisa membaca isi kepala seorang gadis. Jadi, bisa diperjelas apa keinginanmu?"
"Saya...
"Glen!" panggil seorang wanita cantik berdiri di depan pintu. Kedua insan itu berbalik dan menatap ke arah sumber suara.
Hati Mira mendadak sakit melihatnya,apa Glen ingin mempermainkan hatinya?Jelas saja,di sana ada seorang wanita cantik yang sedang memanggilnya.
"Ikuti saya!" Glen menarik sebelah tangan Mira, dan mendekati wanita itu.
"Langsung masuk saja!"
Mereka semua akhirnya masuk ke dalam, dengan Mira yang kini menatap wanita itu dengan pandangan menyelidiki. Mereka duduk di meja makan, yang sudah tersedia berbagai macam makanan.
"Ini gadis yang kamu maksud, Glen?"
"Iya, Ma."
DEG!
Tubuh Mira menegang. Dia tidak salah dengan, kan? Barusan ...
Glen memanggil wanita cantik yang berada di hadapannya dengan sebutan 'mama' jadi dia orang tua nya?
"Cantik sekali gadismu, Glen. Sepertinya dia masih sekolah, ya?"
"Mama ingin berkenalan denganmu," ucap Glen dingin, membuat Mira mengangguk karena takut membantah.
"Perkenalkan sama saya Mira, Tante." Gadis itu menjulurkan tangan nya, dibalas oleh mama Glen dengan senyuman ramah.
"Panggil Mama, Sayang."
"Iya, Ma. Saya masih kuliah, Ma. Bukan gadis SMA."
"Mama ingin marah tadi dengan Glen karena umurnya sudah matang, memiliki kekasih gadis SMA."
"Mama tidak setuju?"
"Bukan, Sayang. Tapi terlihat tidak sebaya. Kalau sama kamu, Glen sangat cocok. Dia terlalu fokus
bekerja, hingga melupakan usinya yang terus bertambah."
"Makasih, Ma. Tapi saya dan Glen tidak..."
"Jangan berpikir terlalu jauh, Ma! Kami dalam masa pendekatan."
Mamanya mengernyitkan dahinya bingung. "Ternyata kau sudah membaca tips dari buku itu, ya? Kau sudah mulai serius ternyata untuk menjalin kasih."
"Maksudnya buku apa, ya?' batin Mira tak mengerti.
"Papa?" tanya Glen datar.
"Papa di kantor ada urusan. Jadi Mama sendiri yang menyambut calon menantu. Kamu jangan marah!"
'Jadi, kedua orang tuanya kaya? Tapi kenapa mau jadi sekretaris tuan muda?'
"Apa yang kau pikirkan, Mira?"
Nada suara rendah nan menusuk itu membuat Mira menggelengkan kepalanya. Dia mengulas senyum
dan menatap Glen tak apa.
"Ayo, kita makan. Mama jadi lupa,kan."
Mereka semuanya mengangguk. Namun ada satu di benak Mira yang harus diketahui dari Glen. Pengabdian pria itu kepada tuan muda Rayhan, hingga hidup dan mati.
Kenapa Glen sangat mengabdi kepadanya?
"Makan, Mira! Jangan memikirkan apapun!"
"Iya.
"Panggil Glen saja! Jangan mengubahnya kembali!"
Mama Glen yang melihat raut wajah ketakutan dari calon menantu nya membuat wanita itu yakin, bahwa Mira ingin bertanya lebih jauh mengenai putranya.
"Apapun yang ingin kamu tanyakan. Nanti setelah kita menghabiskan makan siang."
"Iya, Glen. Maaf!"
Sebenarnya, Mira ingin pulang secepatnya karena dia tidak suka berada di sini. Aura di rumah ini
tidak baik untuknya, dan selalu membuatnya ketakutan.
Gadis itu membayangkan mungkin seperti ini, rasa nya berada di posisi Via. Apalagi tuan muda itu
sangat kejam. Lebih kejam dan datar dari Glen pasti nya. Pokoknya! Mira tidak ingin mengikuti jejak Via, sahabatnya itu. Dia harus menjauhi Glen.
"Tipe suami gue itu yang humoris. Bukan menyeramkan."
***
Perlahan mata cantik itu terbuka. Rayhan menatap Via dari kejauhan, sehingga wanita itu sudah terbangun dari tidurnya.
"Ray!" gumam Via, membuat Rayhan bangkit dari duduknya lantas mendekati sang istri.
"Kenapa, hem?"
Via menggelengkan kepalanya.
"Kamu yang gendong aku ke ruangan ini?"
"Iya, Sayang. Aku tidak tegaa melihatmu hingga kelelahan dan berakhir tertidur di mobil. Jadi, aku tidak membangunkan mu."
Wanita itu mengangguk dan mengulas senyum sangat tipis.
Ternyata Rayhan sangat peduli kepadanya, dan juga membuatnya semakin berada di puncak dalam
mencintai.
"Kamu pasti lapar. Aku sudah membeli makanan beberapa menit yang lalu."
"Makasih, Ray."
"Sama-sama, Sayang. Kamu cuci muka dulu sana."
Via bangkit dan segera masuk ke dalam kamar mandi. Sedangkan pria itu mendekati meja tempatnya menaruh makanan. Wanitanya, menghabiskan waktu hanya dua jam untuk mengistirahatkan tubuhnya. Jadi tidak terlalu lama.
__ADS_1
Tidak berselang lama. Via terlihat sudah keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar, lantas segera mendekati Rayhan yang sudah menunggunya.
"Maaf, lama."
"Tidak apa-apa, Sayang. Langsung dimakan."
Mereka menghabiskan makanan bersama. Sebenarnya Rayhan tidak ingin ikut makan, namun Via memaksa nya membuatnya tak kuasa untuk menolak.
"Kamu sudah datang bulan?"
"Belum, memangnya kenapa?" tanya Via menatap suaminya itu karena tak mengerti.
"Aku berharap! Kamu secepatnya hamil, Sayang."
Via menghela nafas pelan. "Kita baru melakukannya hingga dua kali. Memangnya bisa? Belum juga sebulan."
"Iya, Sayang. Aku harus lebih giat lagi kalau seperti itu."
"Jangan membahasnya di depan makanan, Ray. Rezeki loh ini."
"Maaf, Sayang.
Via asik mengunyah makanan, hingga dia teringat sesuatu mengenai sahabat nya. "Aku mau tanya tentang Glen. Boleh?"
"Kenapa dengan Glen?"
"Dia beneran suka sama sahabat aku?" tanya Via menatap suaminya.
"Iya, dia memang menginginkan gadis itu."
"Aku takut, Glen mempermainkan perasaan Mira. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi."
"Kamu tahu, kenapa Glen tak terlihat bersamaku hari ini, Sayang?" tanya Rayhan membuat Via menggelengkan kepalanya, dengan jantung yang berdetak sangat kencang.
"Dia membawa Mira ke rumahnya."
"Kamu gak bercanda kan, Ray? Kenapa Glen membawa sahabatku ke sana? Dia mau berniat buruk ke Mira, Iya?"
"Tidak, Sayang. Mengklaim sahabatmu untuk menjadi miliknya secepatnya."
"Maksud kamu apa? Aku tidak mengerti, Ray. Tolong diperjelas!"
"Kamu takut sekali sepertinya, Sayang."
"Dia sahabatku satu-satunya, Ray."
"Tapi dia yang membantumu kabur dariku, Sayang. Apa hukuman terbaik untuknya."
Via segera menggelengkan kepalanya. "Bukan salah Mira. Semuanya salahku, dan keinginanku pergi waktu itu karena salah paham."
"Glen akan memberikan hukuman untuk nya di rumah pria itu."
Via tidak bisa membiarkan itu terjadi. Dia melepaskan makanannya dan hendak bangkit.
Namun Rayhan sontak menariknya dengan lembut, dan sekarang duduk di pangkuannya.
"Aku ingin menyelamatkan Mira. Jangan menghalangi ku! Kamu jahat gak berubah sama sekali!"
"Coba jelaskan padaku, Sayang. Apa aku jahat menyatukan mereka berdua, hmm?"
Via menatap manik mata Rayhan dengan lekat. "Maksudnya?"
"Glen mencintai Mira dan sekarang mereka sedang
menikmati makan siang bersama dengan mama dari Glen."
"Kamu tidak bercanda, kan?"
menyembunyikannya dariwanitaku."
***
Via memeluk tubuh kekar suaminya sangat erat. Dengan senang hati, Rayhan membalas pelukan sang istri yang sekarang berada di pangkuannya.
"Kenapa, Sayang? Aku ingin berlama-lama memelukmu."
Ketika Rayhan hendak kembali merengkuh tubuh mungilnya, Via menggelengkan kepalanya. Membuat pria itu mengernyitkan dahinya bingung.
"Nanti ada karyawan masuk untuk menemuimu. Aku malu tahu."
"Tidak ada yang berani masuk tanpa izin dariku."
"lya, iya, kamu kan pemilik perusahaan ini. Bos besar dan tuan muda yang sangat ditakuti."
Rayhan menghela nafas pelan dan tiba-tiba memiringkan wajahnya, lantas mengecup bibir Via dengan sangat lembut, dan segera melepaskannya.
Wajah Via merona, dia segera menyembunyikannya di dada bidang pria itu.
"Wajah kamu merah? Kamu sakit, Sayang?" tanya Rayhan khawatir.
"Ray! Gak lucu tau. Wajahku merah karena malu."
Rayhan menyungging senyum tipis, membuat Via selalu suka dengan senyuman itu. Wanita itu
berharap, suatu hari nanti, suaminya bisa tertawa
bersamanya. Tidak bersikap datar dan dingin lagi.
"Apa kabar dengan wanita itu?"
Alis pria itu terangkat, membuat Via mendengus kesal. "Wanita Siapa?"
"Yang sering menempel seperti cicak ke kamu."
"Dia telah pergi jauh."
"Tidak ke alam lain, kan?" tanya Via memicingkan matanya karena curiga.
"Kamu ingin dia seperti itu?" tanya Rayhan balik. Membuat wanita itu langsung menggelengkan kepalanya.
"Untunglah kalau dia sudah tak lagi menggodamu. Aku nggak suka saja."
"Cemburu, hem?" Rayhan mengusap kepala Via hingga wanita itu mendongak, dan kembali mensejajarkan pandangannya dengan suaminya.
"Aku tidak cemburu. Tapi kesal, karena aku adalah seorang istri."
"Sama saja, Sayang
"Beda, huh." Via menyangkal, karena Rayhan pasti akan memojokkannya.
"Ada sesuatu yang harus aku sampaikan."
Via mengangguk dan tak lagi berada di pangkuan Rayhan. Dia duduk dengan rapi dekat dengan suaminya.
"Apa itu?" tanya Via penasaran.
Wajah Rayhan terlihat tak lagi bercanda, namun kembali dingin dan datar. Menandakan bahwa pria itu akan menyampaikan sesuatu yang serius.
__ADS_1
"Kamu harus menandatangani pembagian saham bagianmu."
Tunggu dulu! Via masih mencerna semuanya. Maksudnya bagaimana? Bukannya papa nya tak pernah menyinggung tentang saham? Karena perusahaan itu bagian dari Alfredo.
Dan Via telah mengambil bagiannya, yakni sejumlah
tabungan dan lainnya.
"Apa yang kamu pikirkan, Sayang?Alfredo?"
Via memandang Rayhan dengan lekat, lantas mengangguk karena yang dikatakan suaminya benar.
"Aku masih tidak mengerti, Ray. Saham siapa yang kamu maksud? Tidak saham papa, kan?"
"Jangan membahas harta kekayaan Alfredo yang tak seberapa itu. Saham itu adalah bagian untuk nyonya muda Crowel."
"Aku tidak menginginkannya, Ray. Ini sudah lebih dari cukup."
Bahkan Via tidak pernah mengeluarkan uang sepeserpun untuk berbelanja. Semuanya telah suaminya sediakaan.
Jadi, kartu yang Rayhan berikan tak pernah disentuh. Namun kalau tabungan almarhumah mama nya, Via sudah menggunakannya setengah untuk beli sapi dan motor di desa. Itupun sisanya
masih banyak.
"Tidak ada bantahan, Sayang! Itu bukan penawaran tapi kewajiban!"
"Kapan?" tanya Via ragu.
"Besok pagi dan semua itu akan diliput langsung oleh wartawan."
"Oke!" Via menghela nafas pelan.
Rayhan akan memperkenalkannya ke publik. Di kampus saja, semua mahasiswa takut memandangnya, apalagi kalau semua orang mengetahuinya. Via bisa stres memikirkan semua itu.
"Jangan khawatir, Sayang! Itu semuanya dilakukan turun temurun oleh keluarga Crowel."
"Iya, Ray. Aku memahaminya."
Malam menjelang. Keluarga Crowel sedang menikmati makan malam tanpa suara. Namun Paula
tak nyaman ketika mereka dalam keadaan sunyi seperti ini. Dia mengangkat wajah dan menoleh ke arah Via.
"Via!" panggil mertuanya.
"Iya, Ma," balas Via setelah meneguk air putih dan menatap mertuanya itu.
"Rayhan sudah menjelaskannya?"
"Sudah, Ma." Pasti tentang saham yang siang tadi, dibahas oleh suaminya.
"Bagaimana? Kamu sudah siap?"
Via memandang kedua mertuanya dan mengangguk. "Itu harus ya, Ma? Sebenarnya, Via tidak terlalu memikirkan itu."
"Harus, Sayang!" tegas Paula tanpa ada bantahan, membuat Via tertegun.
"Kamu ingin menolak lagi?" tanya Alfred.
"Tidak, Pa. Via akan menyetujuinya."
"Bagus! Jangan menyusahkan kami."
Via segera mengangguk, dia jadi merasa bersalah dan kembali melanjutkan makannya. Papa mertuanya tidak pernah suka orang yang terlalu basa basi, jadi apapun itu harus dipatuhi tanpa
bantahan.
Rayhan tak bersuara. Benar yang dikatakan papa nya. Tidak ada penolakan apapun yang bersangkutan dengan perintah keluarga Crowel.
****
"Saya ingin bicara denganmu, Glen!" Ketika Via keluar sebelum tidur dengan izin Rayhan menuju ke
dapur. Dia menemukan Glen yang berjaga di sana.
"Ada yang bisa saya bantu, Nyonya Muda?"
"Tidak! Hanya ingin membahas perasaanmu ke sahabat saya."
Glen menatap Via sekilas dan segera menundukkan
pandangannya. "Saya tertarik dengannya. Jadi apa yang Anda permasalahankan, Nyonya Muda?"
"Hanya tertarik atau mencintai? Dua hal itu sangat berbeda bukan?"
"Iya, Nyonya Muda. Saya perlahan mencintai Mira. Jadi Anda tenang saja."
"Saya tidak akan pernah melepaskan pengawasan saya darimu, Glen. Awas saja, kau berani menyakiti Mira. Kamu akan menghadapi saya lebih dulu."
Setelahnya, Via pergi dari hadapan Glen. Menyisakan pria itu yang masih mengingat jelas penolakan Mira untuknya.
"Ada apa denganmu?" tanya Glen setelah mengantarkan Mira ke kampus kembali.
Gadis itu seperti ragu mengatakannya. "Maaf, Glen.
Semua ini tak bisa dilanjutkan lagi."
"Kenapa?" tanya Glen dengan nada penasaran dan juga datar.
"Semuanya tak perlu alasan, bukan? Seperti jatuh cinta contohnya. Saya permisi!"
Semua itu masih berputar di kepalanya. Tidak! Glen telah terjatuh ke dalam pesona gadis itu.
Dia tak mungkin melupakannya begitu saja. Pria itu tak yakin, bahwa dia tidak akan mencintai wanita lain setelah ini.
***
"Kenapa, Sayang?" tanya Rayhan menatap istrinya yang terlihat murung.
"Tak ada, Ray. Hanya kesal saja dengan Glen. Dia katanya hanya tertarik dengan Mira, belum mencintainya. Apa itu tidak gila?"
"Itu adalah hal yang wajar, Sayang. Jangan mengganggu kisah mereka. Kisah kita saja belum tentu dapat terselesaikan."
Via mengernyitkan dahinya bingung. "Kisah apalagi?
Bukannya semua telah usai?"
"Belum, Sayang. Tidak semudah itu juga. Ini bukan akhir, namun awal dari kisah kita yang sebenarnya."
"Jadi, sebelumnya kisah kita tak di anggap?"
"Bukan! Namun pada saat itu, kita tidak saling mencintai. Jadi, tidak ada kenangan di dalamnya."
"Hem, tapi kamu sering menyiksaku. Pas malam pertama kita menikah, aku disuruh tidur di kamar pembantu. Dan lainnya juga, lebih mengerikan."
"Itu sepenggal kisah yang tak perlu diingatkan kembali. Aku sungguh menyesalinya."
Via memandang manik mata Rayhan dengan lekat. "Namun kisah itu harus ada dalam memori cinta kita. Semuanya begitu penting, Ray. Bukan hanya tentang kisah cinta kita yang sekarang saja."
__ADS_1
"Ya, aku mengerti! Namun jangan mengingat bagaimana aku menyiksamu. Karena itu dapat
membuatku menyesal dan malu."