
"Jauhi Via!" tegas Rayhan menatap tajam Raja.
"Dia sahabat saya. Dan Anda tidak berhak memerintah saya sesuka hati, Anda."
Rayhan menyeringai dengan tatapan yang kini perlahan menggelap. Dia memegang kerah
kemeja Raja sangat kasar, membuat Raja tidak bisa berkutik dan bergerak. "Kau menginginkan istriku?"
"Dia berhak bahagia dan tidak denganmu!" sentak Raja mendorong kasar Rayhan yang kini sudah melepaskannya.
"Kasihan sekali dirimu. Cinta tidak terbalas kan dan sekarang merebut istri dari Rayhan Crowel."
"Anda, selalu menyiksa batin dan fisik Via. Saya tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi."
Raja mulai menyerang Rayhan membabi buta, namun Rayhan bahkan sangat mudah menangkisnya dan berbalik menendang sebelah kaki Raja sehingga kini Raja tumbang di bawah kakinya.
"Bermain-main denganku, sama saja menghabiskan dunia mu dengan penderitaan."
***
"Papa sudah mengetahui semuanya, Raja. Jauhi Via mulai sekarang!!" bentak papa nya.
"Raja tidak akan melakukannya. Karena Via segalanya untuk Raja, Pa."
Sang mama tidak bisa membela putranya. Ini juga demi kebaikan mereka semuanya.
"Tuan Muda Rayhan Crowel bukan orang sembarangan. Jangan pernah berurusan dengannya, Raja."
"Raja tidak akan pernah menyerah merebut Via dari sisi pria kejam itu."
"Raja! Perusahan dalam keadaan kritis sejak kamu berani menyerang tuan muda."
"Dia yang membangkitkan sisi iblis di dalam diri Raja."
"Pokoknya, Papa tidak mau tahu. Kamu harus menjauhi Via dan jangan berurusan dengan istri dari tuan muda itu."
Raja menghembuskan nafas kasar. "Pa!"
"Kamu lebih memilih Via ketimbang keluarga mu?!
"Katakan!"
Jelas itu adalah pilihan yang sangat sulit. Mereka sangat berarti, namun Raja tidak ingin durhaka.
"Raja akan menjauhi Via selamanya."
Kedua orang tua nya saling memandang dan bernafas lega.
"Kamu akan Papa pindahkan ke luar negeri."
Raja tidak bisa menolaknya. Dia harus berpisah dengan Via dan Mira untuk sementara waktu.
"Baik, Pa. Apapun akan Raja lakukan untuk keluarga kita."
**
"Via! Kenapa bau bajuku seperti ini? Menjijikan."
Bagaimana Rayhan tidak marah. Aroma bunga menyerbak di pakaian kantornya. Dan Rayhan
tidak menyukainya.
"Ah? Tadi... saya tidak sengaja menumpahkan parfum yang biasa disemprotkan untuk pakaian Tuan Muda.
Makanya saya ganti dengan itu." Via menggigit bibir bawahnya karena gugup. Kau sengaja melakukannya?"
Via segera menggelengkan kepalanya. "Tidak, Tuan Muda. Membeli parfum juga kan butuh uang yang banyak."
"Dan bau parfum ini sangat murahan, seperti dirimu."
"Bisa tidak, Tuan Muda jangan mengatakan saya murahan? Saya tidak suka."
"Kau berani mengaturku?"
Via mengatupkan mulutnya dan menghela nafas kasar. "Maaf! Saya mengaku salah. Terus bagaimana? Kalau saya menyuruh bibi tua kembali mencucinya, bakalan lama."
"Diamlah!" bentak Rayhan marah.
Dia langsung memakai pakaiannya. Karena hari ini akan ada meeting yang sangat penting.
Via menyembunyikan senyumannya. Dia membungkukan tubuhnya dan mengambil sepatu
untuk Rayhan.
"Sudah, Tuan Muda."
"Hem." Rayhan keluar dari kamar mereka tanpa sepatah katapun. Membuat Via mendengus sangat kesal.
"Emang enak dikerjain heheh...."
Via sengaja menumpahkannya, karena kesal dengan pria kejam itu.
***
Terima kasih, atas kerjasamanya, Tuan Muda. Kami sangat bangga, Anda menerima kami menjadi
salah satu bagian dari proyek."
Dengan wajah datar. Rayhan mengangguk tanpa berekspresi apapun. Mereka tidak mempermasalahkannya, karena telah terbiasa.
"Tuan Muda, aroma parfum Anda sangat menyegarkan."
Semua anggota direksi menahan senyumannya. Pasti pilihan sang istri. Walaupun mereka belum
mengetahui bagaimana rupa istri dari Rayhan Crowel.
"Kami permisi!"
Karena tidak ingin Rayhan marah besar kepada mereka dan nantinya berakibat fatal. Mereka semuanya langsung berbondong-bondong untuk keluar dari ruangan luas itu.
"Apa yang kau tertawakan, Glen?"
__ADS_1
"Saya tidak pernah menggerakkan wajah untuk mengukir senyuman, Tuan Muda."
"Sekali lagi, aku melihatmutertawa. Akanku buat wajahmu tidak berbentuk."
Glen langsung menganggukkan kepalanya. Namun ancaman tuan muda tidak membuatnya takut
sama sekali bahkan gemetar seperti biasanya.
Gadis itu yang sengaja mempermalukan nya. "Awas saja nanti, akan aku berikan hukuman setimpal."
Rayhan mencium aroma bunga itu kembali di pakaian kantornya.
Menyebalkan! Membuat denyut kepala Rayhan merasakan nyeri secara tiba-tiba.
**
Via menatap malas kolam renang yang terlihat sangat luas dan juga dalam pastinya. Via jadi bergidik ngeri kalau jatuh ke kolam, soalnya dia tidak suka air dan berenang.
"Oke, Via. Kita bersihkan sekarang dan tugas akan segera selesai."
Via mengambil satu persatu daun kering yang berada di pinggir kolam menggunakan tongkat
panjang
"Gue takut, hiks."
Via menahan nafas, setiap kali melihat dasar kolam di bawahannya.
"Pasti ada buaya di sana? Tapi kan ini kolam? Ada-ada aja, gue."
Via menggelengkan kepalanya. Gadis itu bersenandung ria sembari mengambil beberapa daun yang juga berada di tengah kolam renang
"Perasaan sejak gue, tinggal di rumah ini, gak pernah tuh lihat orang berenang."
Kan kalau tidak digunakan. Lebih baik jangan dibuat. Soalnya bahaya, apalagi kalau ada anak kecil yang tenggelam.
Byuur!!
Via tersentak ketika tubuhnya linglung, berakhir jatuh ke dalam kolam renang. Sepertinya ada
orang yang sengaja mendorongnya. Sayup-sayup Via melihat bayangan seorang pria yang kini menatapnya datar dan penuh akan kepuasan di
wajah tampan itu.
"Tuan Muda! Tolong saya! Ahh, ahh, saya tidak bisa berenang."
Via sekuat tenaga mencoba menggerakkan kakinya agar tetap berada di dasar permukaan. Namun dia tidak bisa menahannya. Via sesak natas karena air masuk ke dalamm tenggorokannya sangat banyak.
Via telah tenggelam. Tubuhnya sangat lemas. Via memejamkan matanya dan jatuh ke dasar kolam.
"Menyusahkan!"
Byuur!!
Rayhan membuka jas kantornya dan menyusul Via masuk ke dasar kolam renang.
Sangat mudah, bagi Rayhan menjangkau tubuh Via dan membawanya ke permukaan kolam renang.
"Hei, jangan bercanda, gadis lemah?!" bentak Rayhan.
"Apa yang terjadi, Tuan Muda?" tanya bibi tua menghampiri mereka dengan perasaan khawatir.
Glen juga telah berada di sana dan memperhatikan mereka berdua yang basah kuyup.
Rayhan menekan dada Via, agar gadis itu memuntahkan air yang masuk ke dalam tenggorokannya.
Namun berulang kali, Rayhan melakukannya, Via tidak terpancing sama sekali.
Dengan wajah datar, Rayhan menyentuh bibir Via dan membukanya perlahan. Rayhan mendekatkan tubuhnya dan memberikan Via nafas buatan.
Selang beberapa detik, Via terbatuk-batuk dan memuntahkan banyak air.
Via terisak dan langsung bangkit memeluk Rayhan dengan sangat erat, karena dia takut dengan
kejadian barusan.
"Hiks." Hanya suara isakan yang Rayhan dengar dari Via, gadis itu meneteskan air matanya di pundak
pria itu.
Semua itu tidak luput dari perhatian Glen dan bibi tua. Mereka memilih mundur dan meninggalkan Rayhan dan Via.
"Saya takut, hiks."
"Tidak apa-apa."
Entah apa yang ada dibenak Rayhan dia menengkan Via dan langsung menggendongnya. Via bersembunyi di ceruk leher Rayhan. Sangat terasa nyaman.
"Bibi Tua! Ikut ke dalam kamar saya! Yang lainnya, siapkan makanan dan segelas susu."
"Baik, Tuan Muda."
Mereka serempak mengangguk dan mengerjakan perintah.
Sebenarnya mereka semuanya tersenyum melihat tuan muda terlihat sangat peduli kepada nyonya muda.
"Mereka sangatlah romantis."
**
Rayhan menghela nafas pelan, sedari tadi Via belum saja berhenti menangis. Bahkan gadis itu tidak
ingin makan dan minum susu. Membuat Rayhan tidak kuasa untuk memaksanya. Sepertinya,
tubuh Via terguncang karena dia masih mengingat kejadian yang tadi, hampir merenggut nyawanya.
"Via, makanlah!"
"Tuan Muda mengambil ciuman pertama saya?" tanya Via.
"Aku menolongmu, memangnya kenapa? Aku pun bisa mengambil keperawananmu."
__ADS_1
Jujur, Rayhan merasa geramn sedari tadi dengan tingkah Via yang seperti bocah. Namun hatinya Menghangat kala mendengar gadis itu berkata ciuman pertama.
"Itu kan hanya untuk suami saya."
"Aku suamimu.
"Saya sempat melupakannya. Maaf!"
"Kau melupakanku?!"
"Tidak!" Bantah Via langsung.
"Sekarang makan!"
"Belum nafsu," balas Via menggelengkan kepalanya.
"Kau baru saja tenggelam, dan butuh asupan. Jangan membuatku memaksamu."
"Gak mau."
Melihat gerak gerik Rayhan yang akan memasukkan makanan ke mulutnya. Via langsung menganggukkan kepalanya. Rayhan tersenyum miring melihatnya.
"Padahal kalau kau menolak. Aku akan dengan senang hati mengunyah untukmu."
Jantung Via bertalu-talu mendengarnya. Dasar pria mesum.
Ini nih, contoh suami kurang belaian dan kasih sayang. Setiap ada kesempatan pasti berkata melantur.
"Saya ingin makan sendiri."
"Silahkan!" Rayhan memberikannya kepada Via.
"Itu susu mempercepat kehamilan?"
"Kau keberatan?!"
"Tidak, tapi saya tidak menyukainya. Mungkin karena saya tidak suka susu."
"Itu terserah kamu dan deritamu."
Via mendengus kesal sambil mengunyah makanannya.
"Kenapa Tuan Muda tega mendorong saya?"
"Kenapa memangnya, kau keberatan?"
Rayhan tidak sengaja melintas dan langsung mendorong Via tercebur ke dalam kolam renang.
Dan Rayhan melakukannya, karena dasar kesenangannya.
"Tuan Muda bertanya saya keberatan? Kalau saya mau, Anda bisa saya tuntut." Via benar-benar kesal dengan Rayhan. Malaikat maut diajak bernegosiasi. Kalau Via mati bagaimana? Kan dosa nya masih banyak.
"Sebelum kau melakukannya, maka sebelah kakimu tidak akan bisa bergerak."
"Apa?!" Via melongo mendengarnya. "Jangan lakukan itu!" sentak Via ketakutan.
"Jangan mencoba bermain-main denganku, Via. Aku bisa melakukan apapun itu, di luar dugaanmu."
"lya."
Via menjangkau segelas susu, namun tidak bisa. Membuat Rayhan membantunya dan memberikannya ke Via.
"Tuan Muda, tidak mau mencobanya?"
"Mencoba apa maksudmu?"
"Susu, hem, minum susu seperti saya.
"Kau saja. Tidak enak."
"Bagaimana kalau saya membuangnya. Kan, tidak enak." Via tersenyum manis sambil mengedipkan matanya berulang kali, seperti boneka.
"Kau terlihat seperti boneka hantu."
Sialan! Cantik seperti ini dikatakan boneka hantu. Via langsung meneguk susu itu hingga kandas dan menaruhnya kembali di atas nakas, dengan bantuan Rayhan pastinya.
"Tuan Muda, tahu tidak. Dulu pas SMA, saya menjadi primadona sekolah."
"Aku tidak pernah bertanya."
"Saya mau menceritakannya, agar hidup Tuan Muda tidak suram."
"Hidupmu yang suram."
Sebenarnya, ada benarnya juga. Hidup Via suram karena menikah dengan Rayhan. Intinya di sini,
Rayhan sumber masalah dalam hidup Via.
"Kan, saya cantik dan setiap semester mendapatkan juara kelas. Memiliki body goals, dan juga mantan anak karate."
Tubuhmu seperti papan tripleks. Rayhan mulai berkutat dengan ponselnya. Namun Via ingin
berbicara saja dengan Rayhan. Sepertinya seru menjahili suaminya.
"Tuan Muda, saya boleh bertanya?"
"Hem."
"Kenapa Tuan Muda dilahirkan sangat tampan?"
Rayhan menatap Via datar dan berhenti dengan ponselnya. Sebenarnya Rayhan mengaku dirinya tampan, karena banyak wanita yang ingin dikencani
olehnya. Namun Rayhan entah mengapa muak melihat mereka semuanya.
"Dan kenapa, kau dilahirkan menderita hidup di dunia ini?"
Rayhan tersenyum miring. Membuat Via mengepalkan tangannya.
"Hidup saya menderita juga karena Tuan Muda."
"Itu memang niat awalku menikah denganmu. Kau ingin membahagiakan Alfredo, kan?
__ADS_1
Maka berkorbanlah dengan tubuhmu itu, setiap hari harus tahan banting menerima segala penderitaan."