Istri Kesayangan Tuan Muda Arrogant

Istri Kesayangan Tuan Muda Arrogant
44. Bertemu Kembali


__ADS_3

Dua bulan telah berlalu. Rayhan masih belum menemukan sang istri membuatnya sangat terpuruk hingga tubuhnya kurus dan pekerjaannya, yang semakin berantakan. Untung ada Alfred yang sekarang mengelola perusahaan pusat dan Rayhan tinggal beristirahat.


"Papa akan membawa Via padamu."


Sontak Rayhan mengangkat wajahnya, ketika dia berada di bawah tempat tidur. Ada rasa lega dan terkejut mendengarnya. Selama ini, papa nya lepas tangan tak ingin membantu karena Rayhan akan berusaha untuk berubah dan menemukan cinta nya.


"Kamu masih harus banyak belajar Rayhan! Masalah sekecil ini kamu tidak bisa selesaikan sendiri."


"Iya, Pa. Bawa Via untuk Rayhan."


Alfred mengangguk. "Besok pagi, Via telah berada di rumah ini."


Rayhan menatap papa nya dengan wajah yang terlihat masih datar,seakan papa nya mengejeknya tidak becus mencari Via, hingga hanya membutuhkan waktu sehari.


"Besok kita buktikan."


Alfred tersenyum miring dan keluar dari kamar putranya itu. Di luar,dia menemukan sang istri yang sekarang telah menunggunya.


"Bagaimana keadaan putra kita, Pa?"


"Dia baik hanya butuh gadisnya. Besok pagi,Papa akan membawa Via ke rumah ini dan tak akan bisa keluar kembali."


Paula mengernyitkan dahinya bingung. "Yang dikatakan Papa benar?Rayhan telah mencari Via selama dua bulan. Namun hasilnya tidak ditemukan."


"Rayhan harus lebih banyak belajar, untuk menjadi pewaris keluarga. Dan Papa akan mengembalikan gadis itu padanya."


Paula menatap suaminya dengan pandangan berbinar dan bernafas lega.


"Papa memang terbaik."


"Suamimu."


"Iya, iya, Pa." Paula menghembuskan napas kasar,lantas menarik tangan suaminya masuk ke dalam kamar. Sebelum Rayhan marah karena dia tak memiliki pasangan.


****


Tok! Tok!


Nenek Imah mendengar ketukan pintu dari luar, membuatnya beranjak dari duduknya dan mendekati pintu terbuat dari kayu itu.


Ketika dia membukanya, betapa terkejutnya nenek Imah menemukan segerombolan pria memakai jas hitam dengan tubuh kekar, serta pandangan tajam. "Dimana nyonya muda Via?"


Nenek Imah menetralkan detak Jantung nya.Dia bernafas lega ketika mengingat Via keluar untuk berdagang kembali, setelah tidak berani keluar karena dirasa telah aman.


"Via siapa, Nak? Nenek tidak mengenalnya."


"Anda jangan berbohong. Kami masih menghormati Anda menjadi orang tua. Jadi serahkan nyonya muda kepada kami."


"Silahkan periksa rumah ini. Tidak ada seseorang selain saya tinggal di Sini."


Segerombolan pria itu saling memandang dan mengangguk.


Nenek Imah menyingkir dan memberikan mereka akses untuk menggeledah rumah nya.


Dua pria menjaganya di depan pintu dan mengancam.


"Kalau sampai Anda berbohong. Maka Anda akan mendapatkan akibatnya."


Sekarang yang dilakukan nenek Imah berdoa,semoga Via lama diperjalanan dan tak langsung pulang.


"Tidak ada nyonya muda di rumah ini. Kita harus menunggu gadis itu kembali."


Mereka memang menunggunya di sana, membuat nenek Imah tak bisa berbuat banyak.


"Saya akan membuat kopi untuk kalian."


Mereka menerima tawaran itu dan nenek Imah dikawal menuju ke dapur untuk membuat kopi.


Di sisi lain. Via kembali mengendarai motor nya menuju ke rumah nenek Imah. Dia mengulas senyum namun mendadak perasaannya tidak enak, ketika dia menemukan rumah terlihat ramai dan terbuka. Mungkin perasaannya saja.


Via mematikan motornya dan melangkah mendekati pintu terbuat dari kayu itu.


"Akhirnya! Setelah dua bulan lamanya. Anda ditemukan."


DEG!


Tubuh Via menegang. Dia menjatuhkan perlengkapan dagangnya dan menemukan Glen telah berada di hadapannya, dengan wajah yang sialnya sangat menyebalkan.


"Tuan muda ... menanti kehadiran, Nyonya Muda."


Via menggelengkan kepalanya. Detak jantungnya seakan berhenti.


Dia mundur beberapa langkah,namun mereka telah mengepungnya.


"Kamu jangan macam-macam Glen! Aku tidak ingin kembali ke rumah itu lagi."


Via menatap tajam Glen dengan gelengan keras untuk menolaknya.Glen diperintahkan oleh Alfred untuk menyusul anak buahnya ke desa itu. Dan ternyata,mereka selama ini sangat bodoh tidak menemukan Via di tempat terpencil itu.


Semua pria itu memegang kedua tangan Via, dan memasukkannya ke dalam mobil.


"Nenek! Tolong Via Nek!" teriak Via berontak tak ingin masuk ke dalam mobil.


"Non Via!" lirih nenek Imah tak bisa berbuat banyak dengan usia nya yang telah renta. Membiarkan Via dibawa oleh mobil itu kembali ke suaminya.


"Pasti Nenek akan merindukan Non Via setelah ini."


***


"Glen! Perintahkan mereka untuk melepaskan saya!"


"Tidak bisa Nyonya! Mereka harus menjalankan perintah yang tak bisa dibantah."


Via menghembuskan nafas kasar ketika jalanan desa telah terlewati,dengan hutan-hutan yang akan menembus kota.


Via telah pasrah dengan hidupnya. Via dibawa oleh mobil itu kembali ke suaminya.


"Pasti Nenek akan merindukan Non Via setelah ini."


Namun dia juga takut melihat kemarahan Rayhan. Pasti tuan muda akan memberikan hukuman yang sangat menyakitkan untuknya.Misalnya di kurung contohnya.


'Ya ampun! Kok gue merinding,ya? Semoga saja mobil ini mogok. Tapi nggak mungkin lah,mobilnya aja kinclong dan baru.'


"Tuan muda telah lama menantikan Anda, Nyonya."


"Tuan muda kan akan menikah. Kenapa menunggu saya?"


Glen tahu nyonya muda telah salah paham. Jadi dia tak berhak menjelaskannya. Membiarkan saja nyonya muda terjebak dengan perasaan dan isi kepalanya.


"Tolong jangan sentuh tangan saya! Sakit tahu!"


Mereka sontak melepaskan nya dan menatap memar di kedua tangan gadis itu.Membuat mereka terkejut dan ketakutan.


"Tuh, kan, tangan saya merah."


"Obati, Nyonya Muda. Dan beri dia obat bius."


Via melototkan matanya, ketika mendengar perintah Glen yang sangat kejam.


"Jangan mengada-ada, Glen! Saya tidak mau!"

__ADS_1


"Sesuai perintah tuan besar. Atau kami akan kehilangan Nyonya Muda kembali."


Salah satu anak buah di samping Via tiba-tiba mengeluarkan suntikan bius tanpa diketahui oleh gadis itu,karena sibuk protes kepada Glen.


"Argh!" Via merasakan sesuatu menusuk permukaan kulitnya.


Mereka telah melakukannya, membuat pandangan Via mengabur dan berakhir memejamkan matanya. "Maaf, Nyonya Muda."


Mobil melaju dengan kecepatan penuh agar sampai ke kota dengan secepatnya.


Andi masuk ke dalam rumah nenek nya membawa makanan masakan ibu nya seperti biasa. Namun suasana di dalam sana tampak aneh.Bahkan neneknya terlihat termenung di meja makan.


"Apa yang terjadi, Nek?" tanya Andi tampak merasakan firasat yang buruk.


"Non Via telah ditangkap oleh orang-orang itu."


Andi terkejut mendengarnya. Detak jantungnya berpacu dengan cepat.Bukannya mereka telah pergi dari dua bulan yang lalu dari desa? Kenapa sekarang tiba-tiba kembali.


"Bagaimana bisa, Nek?"


"Mereka membawa non Via dengan paksa dan mengancam Nenek agar tak ikut campur."


Astaga! Bagaimana nasib Via selanjutnya? Pasti setelah ditemukan dan pulang ke rumah suaminya. Dia akan disiksa dan juga dipoligami.


"Nanti Andi akan menelepon Mira, bertanya kabar mengenai non Via. Nenek jangan sedih. Insyaallah!Non Via gadis yang kuat."


Nenek Imah menatap cucunya yang bijaksana dan mengangguk.


"Semoga non Via tak lagi merasakan pahitnya kehidupan setelah apa yang dia jalani selama Ini."


"Amin!" Andi menghela nafas pelan dan mengulas senyum untuk menguatkan nenek nya.


***


"Eugh!" Via perlahan membuka kelopak matanya.


Tidurnya terusik ketika melihat seorang pria yang kini tidak diharapkan telah berada di hadapannya. Rayhan mengusap kepalanya,dengan lembut dan menunggunya bangun.


"Sudah bangun?" tanyanya dengaan suara lembut nan serak. Membuat Via langsung mundur perlahan,hingga kepalanya hampir terbentur.


"Kenapa?"


Via menggelengkan kepalanya dengan suara yang tercekat di tenggorokan nya. Gadis itu sangat takut melihat raut wajah yang Rayhan tampilkan kepadanya.


"Sudah puas bermain-main, Sayang?"


DEG!


Via masih menatap Rayhan dengan pandangan membaca, isi pikiran kejam pria itu untuk menghukumnya.


"Nanti malam. Aku akan menghukummu. Sekarang kamu makan!"


Via menggelengkan kepalanya.


"Tidak!" Dengan suara yang bergetar Via menolaknya. Dia ingin kembali ke desa tak mau tinggal di sini.


"Kenapa?" tanya Rayhan dengan suara rendah.


"Say-saya tidak ingin bertemu dengan Anda..."


"Aku dan kamu, Sayang. Jangan memanggilku dengan sebutan tuan muda lagi.Kamu istriku dan panggil aku Ray!"


Via mengernyitkan dahinya bingung. Dia menatap pintu kamar itu. Siapa tahu peri kecil akan menjemput kekasihnya.


"Tua-tuan Muda ..."


"Ray! Atau aku akan menghukummu!" ancam nya


"Aku ingin kita bercerai Ray! Aku mohon kepadamu!"


Tatapan Rayhan menggelap. Seketika aura di dalam ruangan itu mencengkam, membuat Via memejamkan matanya karena ketakutan.


Melihat Via ketakutan hingga tubuhnya bergetar, membuat Rayhan mengatur emosi nya.


"Buka matamu Via!"


'Lah, tumben. Biasanya gue dibentak atau di kasarin gitu?' batin Via mengangguk dan membuka matanya perlahan.


"Makan, ya?"


Via akhirnya mengangguk dan menerima suapan dari Rayhan.


Sebenarnya gadis itu bingung dengan sikap suaminya yang tiba-tiba aneh. Atau jangan-jangan, sebentar lagi, dia akan dihukum.


"Jangan berpikir aneh-aneh!"


"lya, tapi kamu aneh."


"Aneh kenapa?"


"Tiba-tiba baik ke aku. Biasanya marah-marah."


Rayhan meletakkan piring berisi makanan itu di atas nakas, dan menatap Via dengan pandangan sayu.


"Aku merindukan kamu, Via."


DEG!


Jantung Via berdebar dengan kencang ketika mendengarnya.Dia menatap Rayhan dengan wajah


yang menampilkan raut yang kecewa karena Rayhan telah mempermainkan nya.


"Maksud kamu apa?"


"Aku sayang kamu. Aku akan menjelaskan semuanya."


"Aku gak mau!"


Sepertinya belum saatnya. Rayhan akhirnya mengangguk dan bangkit, lantas meninggalkan Via yang kini membuang pandangannya ke arah jendela.


"Aku benci kamu!"


Begitu Rayhan keluar dari sana. Via mengatakan hal itu. Dadanya sesak dan juga hatinya terasa sangat sakit.


Di sisi lain. Rayhan menuruni anak tangga dan bergabung dengan kedua orang tua nya di ruang tengah.


"Bagaimana? Via sudah sadar?"


"Sudah, Ma," balas Rayhan menatap mama nya.


"Wajah kamu kenapa? Terlihat tidak senang gitu?"


Rayhan menghembuskan nafas kasar dan mengusap kepalanya lantas mendongak menatap Paula.


"Via ingin bercerai dari aku, Ma."


"Apa yang sebenarnya diinginkan gadis itu?!" ujar Alfred merasa geram dengan Via. Berani sekali


gadis itu mempermainkan putranya.

__ADS_1


"Kamu belum menjelaskan semuanya?"


Rayhan menggelengkan kepalanya.


"Belum, Ma. Waktunya belum tepat."


"Wajar kalau Via mau cerai sama kamu. Kamu belum menjelaskan semuanya. Mungkin Via berpikir


kamu akan berpoligami."


"Iya, Ma. Rayhan memang salah di sini. Dulu Via tidak berani mengatakan hal itu. Namun semua ini karena kesalahpahaman itu."


"Jangan kasar lagi, Sayang. Kalau kamu ingin Via luluh dan membalas cinta kamu."


"Rayhan janji, Ma."


***


Malam menjelang. Via masih termenung di dalam kamar itu, ingin merencanakan cara nya untuk kabur lagi.


Namun semuanya harus dikubur dalam-dalam ketika bunyi pintu terbuka, menampilkan suaminya


yang kini membawa buket bunga untuk nya.


Rayhan mendekati nya hingga berjongkok di hadapannya. Via sempat tertegun menatap Rayhan


dan merasakan hatinya bergetar karena perilaku sang suami yang Seperti ini.


"Peri kecilku!"


"Maksud kamu apa?" gumam Via tak mengerti.


"Kamu peri kecilku, Via. Yang selama ini aku cari."


"Kamu jangan mengada-ada, Ray? Maksudnya bagaimana?"


"Semuanya telah terbukti, Sayang."


Akhir nya Rayhan menceritakan semuanya membuat Via meneteskan air mata.


Bagaimana bisa, dia kabur dan tak mendengarkan penjelasan Rayhan terlebih dahulu.


"Maaf!"


Rayhan bangkit dan duduk di pinggir tempat tidur, lantas memeluk Via dengan erat.


"Kamu sudah paham, kan?"


"Iya," balas Via menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Rayhan membuat pria itu menggeram.


"Kenapa?" tanya Via mengernyitkan dahinya bingung melihat tingkah Rayhan.


"Tidak ada, Sayang."


"Kamu mau?"


Rayhan menatap Via seakan mengerti dengan pertanyaan sang istri.


"Malam ini?"


Via mengulas senyum dan mengangguk. Akhirnya tanpa membuang banyak waktu, Rayhan membawa gadis itu lebih tengah di atas tempat tidur.


"Pelan-pelan, Ray!"


Rayhan mengangguk dan berjanji akan melakukannya selembut mungkin, karena ini yang pertama untuk Via, walaupun nanti dia akan melakukannya nanti, pasti akan sakit.


Rayhan menyeringai ketika melihat Via yang kini berada di bawah kurungannya tak berdaya. Via miliknya dan tidak akan pernah dilepaskan oleh pria itu hingga akhir hayat nya.


"Aku cinta kamu, Sayang.


Rayhan berhasil mengubah status Via menjadi seorang gadis, kini telah resmi menjadi wanita


kesayangan nya.


"Sakit!" Via meneteskan air matanya, membuat Rayhan menyekanya dengan lengan pria itu dengan lembut.


"Maaf, Sayang. Tapi aku tidak akan berhenti."


"Iya." Via memeluk leher suaminya dengan sangat erat, dan perlahan merasakan kehangatan di sana


karena Rayhan telah memutuskan untuk nya lebih cepat hamil.


***


Via menghembuskan nafas kasar ketika melihat banyak jejak keunguan di lehernya. Rayhan terlalu bersemangat melakukan nya membuat Via tidak bisa menyembunyikan tanda itu.


Via akhirnya keluar dari kamar mandi dan menemukan suaminya yang sekarang telah rapi dengan memakai pakaian kerja, untuk pergi ke kantor.


"Kenapa, Sayang?" tanya Rayhan mendekati istrinya.


"Gak ada. Hanya mau kasih kamu peringatan agar tidak membuat tanda ini lagi di leher aku."


"Loh, kenapa?" tanya Rayhan mengernyitkan dahinya bingung dan menyentuh ciptaannya itu,


hingga membuat Via meringis.


"Gak boleh. Katanya bahaya."


"Iya, Sayang. Terakhir. Kamu tidak marah, kan?"


Via mengulas senyum dan menggelengkan kepalanya.


"Kenapa harus marah? Kan, sudah kewajiban aku."


"Iya, Sayang."


"Hem, aku mau mengatakan Sesuatu."


"Katakan Sayang!"


"Kamu jadi izinin aku kerja di kantor kamu? Magang."


Rayhan memandang sang istri yang kini tampak berharap di bola mata cantik itu. Bagaimana bisa,Rayhan memupus impian itu.


"Iya, Sayang. Nanti Glen akan mengurus nya."


"Aku mau ikutan interview seperti karyawan lainnya. Enggak mau jalur orang dalam."


"Tidak ada penolakan Via!"


Akhirnya Via mengangguk dan mengulas senyum. "Aku bahagia bisa kamu izinkan kerja di sana."


"Aku pun bahagia bisa menjadi yang pertama untuk wanitaku."


"Aku magang nya mulai minggu depan!"


"Iya, dan jangan sampai kecapean.


Kalau sampai kamu kenapa-kenapa. Aku akan.

__ADS_1


"Aku gak suka kamu kejam, Ray!"


Sepertinya dia telah salah bicara di hadapan Via. "Iya, Sayang."


__ADS_2